Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mencari orang yang mencelakai Adel


__ADS_3

Budi membelokkan motornya menuju tempat kejadian. Dia sempat berbincang-bincang dengan saksi mata. Semakin merinding dia mendengar penuturan para saksi mata itu.


Tak tahan mendengar kesaksian itu, Budipun pamitan. Dia mengarahkan motornya menuju kampus Adel. Dengan perlahan dia menyisir bangunan tiga lantai yang berderet di baris terdepan. Dia melihat ada CCTV yang mengarah ke parkiran. Seharusnya motor Adel juga di parkir di situ. Dia mencoba mendekati pos keamanan.


“Permisi, selamat malam” sapanya pada salah seorang scurity.


“Malam, mas. Ada yang bisa saya bantu?” jawab scurity itu ramah.


“Pak maaf, saya ini Budi, keluarga dari mahasiswi di sini, yang bernama Adelia Fitri” kata Budi memperkenalkan diri.


“Oh, iya. Ada apa ya, mas?” respon scurity itu.


“Begini, pak. Saya mau nanya. Tadi siang motornya Adel diparkir di mana, ya?” tanya Bdi.


“Waduh. Kalo itu sih, saya kurang tahu persis. Saya baru datang, nih. Shift pagi yang tahu persis. Cuman tadi bilangnya, di bawah pohon itu, yang tengah-tengah” jawab si scurity.


“Oh. Pohon yang rindang itu, ya?”


“Betul, mas. Bilangnya gitu”


“Saya, boleh lihat rekaman CCTV kampus ini, mas? Utamanya yang ngarah ke parkiran ini”


“Waduh, kalo itu saya mesti ijin dulu, mas” jawab si scurity.


“Tolong tanyakan, mas! Saya butuh banget nih” pinta Budi setengah memohon.


“Sebentar ya, mas”


Scurity itu menelepon seseorang. Tak lama kemudian, terlihat seorang scurity lain datang mendekat. Tampangnya tidak ramah.


“Kenapa, mas?” tanya scurity itu tanpa basa-basi.


Scurity yang berjaga tadi menjelaskan lagi apa yang sudah dia sampaikan lewat telepon. Dan Budi juga ikut menjelaskan maksud serta tujuannya datang ke kampus ini. Scurity yang dipanggil komandan itu seperti tidak senang mendengar permintaan Budi.


“Nggak bisa” jawab komandan itu.


“Kamu bukan polisi, aku nggak bisa kasih ijin sama kamu buat liat rekaman CCTV. Dari mana aku tahu kalo kamu itu orang baik?” lanjut komandan itu. Merah wajah Budi mendapat jawaban seperti itu.


“Ndan” kata Budi. Dia masih mencoba menghormati komandan itu.


“Satu nyawa nyaris ilang gara-gara keteledoran anak buah anda. Anda masih bersikap sok gagah?” tanya Budi.


“Urusan kecelakaan,itu urusan polisi, bukan urusan kamu. Kamu siapa sok-sokan ngatain aku, ha?” sahut komandan itu.


“Aku keluarganya Adel. Adel kuliah di sini bayar, bukannya gratisan. Kamu digaji dari uang semesterannya mahasiswa. Jadi harusnya kamu hormat sama keluarga mahasiswa” kata Budi pelan penuh penekanan.


“Nggak ada urusan. Uang semesteran itu urusannya TU, bukan petugas keamanan” sergah komandan scurity itu semakin pongah.


*BEEEEERRRRRRMMMMMMM*


Terdengar ada banyak sekali motor mendekat. Terlihat konvoi puluhan motor dari arah yang sama dengan arah datangnya Budi. Dan mereka berhenti di depan kampus ini.


Dan ternyata, ada Sandi di antara orang-orang itu. Dia turun dari motornya, mendekat dengan tatapan mengarah ke komandan scurity di hadapan Budi.


“Ada yang sok jagoan, di sini” komentar Sandi. Dia tersenyum mengejek komandan itu.


“Kamu nggak tahu dia siapa?” tanya Sandi. Komandan itu diam saja.


“TAHU NGGAK, BOLOT?” bentak Sandi. Komandan itu terkejut. Raut wajahnya berubah.


“Kalo emang udah bosen kerja di sini, mending resign deh, baik-baik. Daripada gua pecat lo. Nggak cuman gua pecat dari kampus ini. Gua pecat juga lo dari badan kerempeng lo ini” lanjut Sandi.


“LO BISU APA?”


*DAAAKKK*

__ADS_1


Sandi berteriak sambil menendang tubuh komandan scurity itu. Praktis dia terjengkang beberapa meter ke belakang. Sandi mendekatinya.


*BAK BUK BAK BUK*


“AMPUUN”


Komandan scurity itu ternyata langsung minta ampun saat dihadiahi bogem mentah oleh Sandi. Sangat disayangkan kalau orang yang tidak punya keahlian seperti dia, dipekerjakan sebagai komandan tim keamanan.


“Baik, baik. Saya tunjukin rekaman CCTV itu” kata komandan scurity itu.


“Dari tadi, kek!” bentak Sandi.


Dia biarkan komandan itu berdiri. Masih dengan mata melotot, Sandi mengintimidasi lagi. Dia memerintahkan komandan itu untuk menunjukkan letak ruang operator CCTV. Budipun dia ajak masuk. Sephia ikut masuk mengiringi Budi.


“Awasi komandan scurity itu! Aku curiga dia terlibat” kata Budi langsung pada inti.


“Ya, mas” jawab Sephia.


Merekapun sampai di ruang operator CCTV. Komandan itu langsung memperlihatkan rekaman seharian ini. Dengan cermat Budi memainkan komputer tempat video rekaman itu diputar. Dan memang, terlihat tiga orang sedang mengerubungi sebuah motor. Motor yang dikerubungi, memang bukan motor Adel, melainkan yang di sebelahnya.


Tapi Budi masih cukup jeli untuk menemukan kejanggalan dalam video itu. Dia menghentikan laju video itu. Dan dia perbesar gambarnya.


Dari ketiga orang itu, ada satu yang memutar badannya. Dan dia mengotak-atik motor di belakangnya, motornya Adel. Cukup lama dia di situ. Kemudian mereka bertiga juga berpindah ke roda belakang. Dan sama, orang yang sama kembali berbalik arah, mengotak-atik motor Adel.


“Mereka siapa?” tanya Sandi kepada komandan scurity itu. tapi belum mendapat jawaban.


“Mereka siapa?” tanya Sandi Lagi. Tapi lagi-lagi, dia diacuhkan.


“BANG***”


*DUAAAKKKK*



*BRAAAKKK*


“Lo pikir gua takut sama polisi sini, ha? Lo pikir lo bisa nyari bala bantuan? Ayo duel kalo lo bisa kelahi“ tantang Sandi.


*BAK BAK BAK BAK*


Komandan scurity itu berusaha menangkis pukulan Sandi. Beberapa pukulan berhasil dia tangkis.


*BUAAAKKKK*



*DEEERRR*


Dia mental juga akhirnya. Gerakannya sangatlah lambat dibandingan Sandi. Satu pukulan sanggup melemparkan komandan itu sampai ke pintu. Dia masih bisa berdiri, walau terhuyung-huyung.


*BAK BAK BAK BAK BAK BAK*


Pukulan cepat bertubi-tubi ke perut komandan itu membuat si komandan terpental lagi. Mulutnya sudah mengeluarkan darah.


“Ampun, ampun” kata komandan scurity itu sambil memegangi perutnya.


“Hayo kalo masih kuat!” tantang Sandi.


“Ampun” jawab komandan itu.


“Bilang!” perintah Sandi.


Komandan scurity itu mengatakan nama-nama yang dia bilang ada dalam video rekaman tadi. Budi ikut mendengarkan dari ambang pintu. Sandi mempertanyakan kebenaran cerita itu. Dan komandan scurity itu bersumpah kalau ceritanya semuanya benar.


“Amanin dia, Phia!” perintah Sandi.

__ADS_1


“Nggak perlu. Aku udah tahu siapa dia. Gampang kok nyari dia. Dia nggak akan kemana-mana” jawab Sephia.


“Udah dicopy, Bud?” tanya Sandi.


“Udah” jawab Budi.


Merekapun segera pergi meninggalkan komandan scurity itu. Sandi berencana untuk mencari ketiga orang itu langsung. Agar tidak kehilangan jejak.


“Thanks, Ndi” kata Budi.


“You are welcome, bro. Gua nggak akan ninggalin lo sendiri dihina orang. Apalagi tua bangka kerempeng macam dia” jawab Sandi. Budi tergelak.


“Ngomong-ngomong, kok lo tahu gua ada di sini?” tanya Budi.


“Gua emang nyariin lo, Bud. Gua mau nengokin Adel. Tapi kata Putri lo lagi pergi sama si Panjul. Kan nggak enak kalo gua datang, lo nggak ada. Bisa jadi fitnah” jawab Sandi.


“Ha ha ha” Budi tergelak.


“Kirain masih di polres, nggak tahunya udah nyampe di sini aja” lanjut Sandi.


“Ya. Abisnya gua emosi banget. Tu orang siapa yang nyuruh coba, sampe segitu nekadnya” kata Budi.


“Ya udah. Sekarang kita cari mereka” ajak Sandi.


Tak perlu waktu lama buat Sandi menemukan ketiga orang itu. kecanggihan Sephia di dunia teknologi, sangat membantu melacak keberadaan mereka.


Sekalipun mereka bertiga telah bergerak untuk menyelamatkan diri dari kejaran Sandi dan gengnya. Satu per satu berhasil mereka temukan. Ke sebuah gudang tua, mereka menggiring ketiganya.


Mereka bertiga diikat kakinya dengan sebuah tali kapal. Dan mereka digantung di tengah-tengah gudang. Bergantian anak buah Sandi menghajar ketiganya. Tapi sepertinya ketiganya sangat gigih mempertahan informasi yang mereka punya.


Bukannya jengkel, anak buah Sandi malah seperti kegirangan. Mereka terus menonjoki ketiganya. Bahkan sampai salah satu diantara mereka muntah darah.


“Oke, oke” seru salah satu dari ketiga pemuda tanggung itu.


Dia tampak mengalah,setelah mendapati temannya yang di tengah sudah tidak bergerak. Sontak Sandi berdiri dari duduknya. Budi juga ikut berdiri dan menghampiri mereka.


“Di saku dia, ada sebuah kartu ponsel. Hanya ada satu nomer yang tersimpan di kartu itu. Nomer itu yang ngasih perintah sama kita” kata pemuda itu.


Anak buah Sandi segera merogoh ke kantong yang dimaksud. Dan benar, ada sebuah kartu ponsel di sana. Budi meminta kartu itu untuk dimasukkan ke dalam ponselnya. Dan langsung dia panggil satu-satunya nomor yang pernah melakukan panggilan ke nomor itu.


“Vani?”


Mata Budi memerah mendapati nomor yang dia panggil itu mengeluarkan sebuah nama di layar ponselnya.


“Vani? Vani dari mana?” tanya Sandi bingung. Tidak ada tulisan Vani di layar ponsel Budi.


“Ini nomer hape bodyguard Stevani yang sempat dia telepon saat kita baru jalan dari kontrakannya, menjelang misi beauty demon” jawab Budi.


“Terus, dimana kita nyari dia?” tanya Sandi penasaran.


“Aku belum tahu. Apa Phia bisa bantu?” jawab Budi dengan pertanyaan.


“Mungkin butuh waktu” jawab Sephia.


“Nggak papa. Lagian kita nggak bisa gerak malam ini. Udah terlalu heboh” kata Budi.


“Ya udah. Phia, pake semua sumber dayamu! Temuin segera!” perintah Sandi.


“Siap, mas” jawab Sephia.


“Terus, kita kemana?” tanya Sandi.


“Lo bilang mau nengokin Adel”


“Oke” kata Sandi dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


Mereka bertigapun segera pergi dari gudang itu, dikawal beberapa orang saja. Yang lainnya Sandi tugaskan untuk membereskan ketiga pemuda tanggung itu.


__ADS_2