Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
CCTV


__ADS_3

Pagi harinya, seperti sebelumnya, Budi menjadi imam buat para wanita menjalankan sholat subuh. Sedangkan Zulfikar dan Aldo berjamaah di ruang rawat bersama Putri dan Stevani. Setelah sholat subuh, Budi mengajak Erika untuk membeli sarapan. Tanpa bertanya, Erika langsung menyetujui ajakan Budi.


“Mas” panggil Erika, saat menunggu pesanan.


“Kenapa?” tanya Budi.


“Aku semalem udah chat pemilik toko CCTV yang aku bilang itu. Dan katanya, dia welcome kalo kita mau ke sana pagi-pagi juga. Kalo misalnya abis ini kita ke sana, gimana, mas? Kalo ada yang cocok, masih ada waktu juga buat masang. Jadi nggak ngebuang waktu, nunggu sehari lagi buat liat hasilnya” kata Erika menjelaskan maksudnya.


Budi tidak langsung menjawab. Dia merasa aneh dengan penjelasan Erika. Bagaimana bisa seorang manager HRD bisa berurusan dengan CCTV? Tapi kalau mengingat Erika adalah mantan anggotanya Sandi, maka hal itu tidaklah aneh.


“Boleh juga tuh, idenya. Aku panggil Aldo ya, buat ambil sarapannya? Kita langsung ke sana aja” komentar Budi.


“Iya” jawab Erika.


Budipun menelepon Aldo untuk menemuinya. Dengan sedikit penjelasan, Aldopun mengerti dan menyetujui permintaan Budi. Akhirnya, sarapanpun berpindah tangan. Budi dan Erika langsung menuju parkiran. Menggunakan motor Budi, mereka langsung menuju alun-alun.


Sesampainya di toko yang Erika maksud, mereka langsung disambut pemilik toko, yang kebetulan sedang menyapu di depan toko. Dan mereka langsung memilih perangkat kamera pengintai yang menurut mereka cocok untuk misi mereka.


“Aku pikir ini lebih fleksibel, mas” kata Erika menyampaikan usulnya.


“Dipasang dimana?” tanya Budi.


“Di bel aja, mas. Yang di atas gerbang masuk jalur Frame” jawab Erika.


“Bel?”


Budi mencoba mereka-reka apa yang dikatakan Erika. Sesekali dia menatap perangkat keras di hadapannya itu.


“Ini kan kecil. Kita masukin di dalemnya. Aku pikir lubang di plat cover depannya bisa kita gedein kalo kurang lebar. Dan kabelnya, bisa kita samarin sama kabelnya bel itu. Dan mesin pengaturnya kan ada di kantor HRD, mas. Yang di pojokan sebelah kananku” kata Erika memaparkan idenya.


“Mantap” komentar Budi setengah memuji.


Sebenarnya dia juga berpikiran begitu. Dia hanya menguji saja, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Erika. Dan dari nada suaranya, Budi merasa Erika tidak punya keterkaitan dengan orang yang memotong rotan itu.


Haih. Kenapa aku jadi buruk sangka gini, ya? Kalo toh Fatoni bener, yang jahat kan bapaknya. Bisa jadi dia nggak tahu apa-apa.


“Jadi, gimana?” tanya Erika.


“Oke, setuju. Kabelnya dua puluh meter aja, Ka. Biar mesinnya bisa ditaruh di kantor HRD” jawab Budi.


“Oke”


Erikapun membeli sesuai dengan yang diminta Budi. Setelah pembayaran selesai, mereka segera bergegas pergi menuju pabrik. Tentu saja jam segini belum ada karyawan yang datang.


“Mike?” gumam Erika.


“Loh. Kok kalian yang jaga?” seru Budi saat tiba di pos scurity.

__ADS_1


“Iya, mas. Pak Paul yang merintahin” jawab Mike.


“Emang ada apa?” tanya Erika lirih.


“Belum ada, sih. Cuman, pak Paul pengen ngetatin pengamanan aja, mbak. Kan adiknya mas Budi abis ditembak orang. Abis itu, ada penyergapan kelompok pengedar narkoba di laut sana. Kelompoknya Sandi, kan?” jawab Mike.


Erika dan Budi saling menatap. Mereka sama-sama bingung dengan arah pembicaraan Mike.


“Mengingat Sandi adalah kakaknya Dino, pak Paul jadi khawatir. Takutnya Dino berulah lagi secara tidak langsung. Kan masih banyak warga sekitar yang jadi karyawan di sini. Terlebih lagi, pak Paul dapet informasi, kalau yang nyelakain adiknya mas Budi itu anggota dari sindikat yang bernama golok setan. Dan kasus ini, ditengarai mengarah pada peredaran narkoba lintas negara” lanjut Mike.


“Lintas negara?” tanya Erika pelan.


Mike hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Budi masih termenung. Dia malah jadi terpikirkan tentang siapa pak Paul sebenarnya. Mengapa dia sampai mencari informasi sedalam ini.


“Tenang mas!” celetuk Mike, menanggapi keterdiaman Budi.


“Pak Paul itu tidak ada urusan dengan hal-hal semacam itu. Dia mencari informasi sedalam itu, hanya karena tidak mau kecolongan lagi seperti sebelumnya” lanjut Mike.


Budi tidak segera merespon. Dia masih menganalisa ucapan Mike dari berbagai sudut pandang. Dan pada akhirnya, Budi menganggukkan kepalanya. Dia mengerti, ucapan Mike tadi merujuk pada Isma.


“Oke” jawab Budi pendek.


“Tumben banget sepagi ini udah ngantor. Apa ada masalah lagi, mbak?” tanya Mike pada Erika.


“Perlu pengamanan berlapis?” lanjut Mike.


“Apa kalian masih di BKO kan ke saya?” tanya Budi. Sontak Mike dan Erikapun menatap padanya.


“Iya, mas. Ada yang bisa kami bantu?” sahut Mike.


“Gini. Kita ngerasa ada sesuatu di dalem. Ada seseorang yang bertindak konyol, yang kita belum tahu motifasinya apa. Orangnya siapa, kita juga belum tahu” kata Budi mengawali penjelasannya.


“Pencurian, kah?” tanya Mike.


“Itu yang bikin kita bingung” jawab Budi.


“Intinya, kita mau pasang CCTV di tempat yang kemarin ada temuan. Kita mau minta bantu sama kalian, tolong kasih tahu kita kalo udah ada karyawan yang masuk!” lanjut Budi.


“Butuh tenaga buat masang?”


Terdengar seruan dari dalam pos. Dan saat dia keluar, tampaklah siapa dia. Ya, Brandon.


“Enggak. Makasih” tolak Budi.


“Oke” respon Brandon pendek.


Dia mengerti, Budi belum mempercayainya seratus persen. Dan dia memaklumi itu. Karena reputasi Budi sebagai seorang preman yang pernah menguasai kota ini, mengharuskannya selalu waspada dengan segala kemungkinan.

__ADS_1


Budipun melajukan motornya menuju parkiran. Bersama Erika, dia segera memasang CCTV itu. Budi terkesan dengan gerak-gerik Erika, yang menurutnya terstruktur.


Sangat terlihat kepiawaiannya sebagai orang lapangan. Tidak perlu memerintahnya, Erika tahu apa yang harus dia lakukan. Sampai-sampai Budi keheranan sendiri. Karena dia belum pernah melihat orang yang dilatih Sandi, bahkan yang dia latih sendiri, bisa memiliki kecekatan setinggi Erika.


“Kenapa, mas?” tanya Erika setelah selesai instalasi. Dia bingung ditatap Budi sedemikian rupa.


“Kamu cekatan banget, Ka. Kenapa nggak masuk polisi aja?” sahut Budi.


Erika terkesiap mendengar ucapan Budi. Ingatannya melayang mengingat masa lalunya. Dan bagaimana dia bisa sampai di kota ini.


“Hempf” diapun tergelak, setelah beberapa saat terdiam.


“Mas ngeledek. Apa lagi cemburu, nih? Kan aku bisa ngelakuin ini semua, karena diajarin Sandi” kata Erika menjawab pertanyaan Budi.


“Ya ya ya. Denger nama dia kamu sebut, jadi beneran cemburu, aku” jawab Budi.


“Hempf. Ha ha ha. Sori” respon Erika sambil tertawa.


“Sarapan, yuk!” ajak Budi.


“Eh, mas. Anterin pulang dulu, dong! Aku nggak bawa seragam” sahut Erika. Dia menunjuk badannya yang hanya berbalut kaos dibalik jaketnya.


“Sepatu juga di rumah” lanjutnya.


Budi terkesiap. Mendengar kata Rumah, dia jadi teringat papanya Erika. Tapi segera dia tepis pikiran buruk itu. Belum tentu juga Fatoni benar. Bisa saja hanya mirip. Begitu pikirnya.


“Oke” jawab Budi pendek.


“Kamu kenapa sih, mas? Abis ketemu papa kok malah kurang semangat gitu? Padahal papa udah setuju lho mas, sama hubungan kita. Malah nanya, kapan mau lamaran” tanya Erika.


“Eem” Budi bingung harus menjawab apa.


“Nggak tahu, Ka. Aku jadi keinget kasus ini. Terlebih, waktu liat senyum papa kamu. Ramah banget, gitu” jawab Budi sedikit berbohong.


“Ya emang papa itu ramah. Apalagi kalo udah cocok saya orangnya. Berasa kaya temen, malah” sahut Erika.


“Itu dia”


“Kenapa, mas? Kan mas Budi, Putri, sama Ibu udah terbukti nggak bersalah. Buat apa dipikirin?” tanya Erika bingung.


“Aku pikir, masalah ini nggak sesimpel yang kita bayangin. Udah banyak banget yang aku lewatin dari Sandi. Aku ngerasa kaya belum kenal dia sama sekali. Dan aku pikir, narkoba bukanlah masalah sepele. Aku cuman takut, bakal ada teror lagi, aku keseret, dan papa kamu berubah pikiran”


“Mas. Jangan kejauhan ah, mikirnya! Kan mas sendiri yang ngajarin aku buat pasrah sama Tuhan, kok sekarang mas malah ragu gitu?” sahut Erika tidak setuju. Budi menatapnya tanpa menjawab.


“Pasrah aja, mas! kita jalanin dulu apa yang ada di depan mata! Waspada boleh, tapi jangan parno! Aku yakin, Alloh akan membantu kita, mas. Oke?” lanjut Erika. Budi menganggukkan kepalanya.


Merekapun beranjak dari dalam kantor. Mereka juga berpamitan pada Mike dan Brandon saat hendak meninggalkan pabrik. Mereka memutuskan untuk menuju rumah Erika terlebih dahulu untuk mandi dan berganti pakaian. Ternyata keluarganya Erika masih belum pulang dari resort. Sampai mereka keluar lagi untuk mencari sarapan, keluarga Erika belum juga pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2