
Menjelang makan siang, sesuai yang telah disepakati, Budi berangkat ke EFA mebel bersama Erika. suasana terasa kaku di dalam mobil. Pikiran Budi sudah kacau semenjak berangkat. Beberapa kali Erika mengelus pundak Budi, mengingatkannya agar fokus menyetir.
Sesampainya di rumah Adel, sepertinya Luki sedang tidak berada di tempat. Terlihat mobilnya tidak ada. Hanya ada mobilnya pak Fajar yang terparkir. Tapi motornya Adel ada.
“Assalamu’alaikum” sapa mereka berdua.
“Wa’alaikum salam”
Terdengar suara bu Lusi dari dalam rumah. Terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh menuju teras depan.
“Eh?”
Bu Lusi sempat terkejut melihat siapa yang datang.
“Selamat siang bu Lusi. Maaf kami datang menjelang siang. Mas Budi mau cek progres hari ini” kata Erika menyapa.
“Oh. Iya” jawab bu Lusi singkat.
Dia menyalami Erika. Begitu juga terhadap Budi.
“Silakan duduk dulu! Saya panggilkan Adelnya” kata bu Lusi mempersilakan.
“Baik. Terimakasih, bu” jawab Erika.
Tapi Budi tidak mengikuti Erika duduk di sofa. Dia malah pergi ke bengkel kayu. Dia berhenti beberapa meter dari rolling door bengkel kayu itu.
Dia memperhatikan jumlah mebel yang siap dikirim, dan aktivitas semua karyawan di bengkel kayu ini. Dia sampai tidak sadar kalau Adel sudah keluar dan berbincang dengan Erika, sambil melihat ke arahnya.
“Selamat siang, mas”
Sapaan Adel mengalihkan perhatian Budi.
“Eh. Siang” jawab Budi.
Sapaan yang terdengar sangat aneh di telinganya. Dan luka di hatinya terbuka kembali. Uluran tangan Adel perlu beberapa detik untuk mendapatkan sambutan.
“Ada masalah apa?” tanya Budi.
Adel tidak langsung menjawab. Dia masih belum mengerti, yang mana yang dimaksud Budi.
“Kenapa progresnya melambat?” lanjut Budi.
“Oh”
Sekarang Adel paham, apa yang dimaksud Budi. Diapun menjelaskan mengapa pencapaian di bengkelnya cenderung menurun. Kali ini Budi hanya mendengarkan saja. Tidak seperti sebelumnya, yang langsung memberikan saran ataupun ide-ide , untuk membantu Adel keluar dari masalahnya.
“Banyak yang bisa di subcont. Kenapa maksa kalo emang lagi nggak bisa?” tanya Budi kemudian.
“Eeem”
Adel takut untuk menjawab yang sebenarnya. Karena Budi yang sekarang bukanlah Budi kekasihnya dulu. Dia adalah wakil dari perusahaan yang memberinya proyek.
“Siapa yang menjadi pimpinan, sekarang?” tanya Budi lagi.
“Luki” jawab Adel.
Sengaja dia sebut langsung nama, karena dia tidak mau membuat Budi lebih gusar. Budipun menelepon Luki.
“Halo, mas Luki. Ini kenapa molor, progressnya?” tanya Budi tanpa basa-basi.
Terjadi percakapan yang seru di telepon. Adel sampai mengernyitkan keningnya, karena dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan suaminya. Tapi tampaknya, suaminya masih terjebak dengan egonya. Sehingga membuat Budi semakin gusar.
“Geblek. Malah dimatiin” seru Budi kesal.
“Mas. Maafin kami ya, mas. Aku janji, nggak akan ada yang telat. Semua akan sesuai jadwal” kata Adel memohon.
“Lusa udah kirim, mbak Adel” kata Budi pelan, namun penuh penekanan.
“Saya nggak mau tahu soal pendanaan. Kalian udah menyanggupi semua tanggung jawabnya, dan kami sudah memberikan sebagian hak kalian. Harusnya dana itu cukup untuk mendongkrak pencapaian” lanjut Budi. Adel terkesiap mendapati tatapan gusar Budi.
“Iya, iya. Saya akan akselerasi. Saya pastikan tidak ada keterlambatan” kata Adel.
Budi menatap Adel tanpa ada kata. Beberapa saat lamanya, mereka hanya saling menatap. Untuk sesaat Budi terlupa akan keberadaan Erika.
Hatinya terkenang akan masa-masa saat masih bersama Adel. Dan bisikan setan yang menyarankan Budi untuk merebut Adel, hampir memenuhi hatinya.
“Proyek ini, hanya antara aku sama kamu, Ta” kata Budi kemudian.
__ADS_1
Adel terperanjat, mendengar panggilan sayang Budi untuknya kembali diucap Budi.
“Aku nggak mau dia ikut campur dalam urusan ini” lanjut Budi.
Adel masih tertegun. Dia masih menganalisa, sebagai apa Budi berbicara kali ini. Terlalu ambigu perkataannya. Bisikan setan juga sempat mendarat manis di hatinya.
“Dia punya kuasa atas diriku, Bram. Aku nggak mungkin ngelakuin itu” jawab Adel kemudian.
“Haaah. Dasar manusia tengik” keluh Budi.
“Ya udah. Kalian pikir sendiri kalo gitu! Jam lima, target hari ini harus tercapai!” lanjut Budi.
“Tapi, “
“Inget! Aku punya hak veto. Kalo jadwal pengirimanku terancam, aku bisa timpakan pasal tiga belas pada kalian” potong Budi.
“Bram. Please! Jangan dengan ini kamu hukum aku!” pinta Adel.
“Aku ngomongin kerjaan, Ta” sahut Budi.
“Emangnya kamu tahu, gimana pusingnya aku karena progresmu ini?” lanjut Budi. Adel terdiam.
“Kalo aku nggak inget dari siapa aku bisa kerja, aku nggak akan marah-marah begini, Ta. Ngapain aku pusing-pusing? Tinggal laporin aja apa adanya. Perkara kena penalti, bukan urusanku” kata Budi lagi.
Adel terkesiap. Ternyata dia telah salah sangka. Ternyata Budi berbicara lebih condong sebagai wakil dari perusahaannya. Meski setengah hatinya, sudah mulai kacau.
“Oke. Mulai dari sekarang, aku yang berkuasa penuh atas bengkel ini. Jam lima, silakan kesini lagi!” kata Adel kemudian.
“Good. Itu baru Adel yang aku kenal” komentar Budi.
“Jam lima, aku ke sini lagi” kata Budi sambil mengulurkan tangannya.
“Oke” jawab Adel, sambil menjabat tangan Budi.
Setelah itu, Budi mengajak Erika untuk pamitan. Dengan senyum yang dipaksakan, Erika berpamitan dengan bu Lusi dan Adel.
Budi tahu, Erika pasti bisa membaca gerakan tubuhnya saat berbicara dengan Adel. Dia merasa bersalah, telah membiarkan hatinya terbelenggu masa lalu. Sampai-sampai melupakan orang yang berjasa membuatnya bangkit kembali.
Dia tidak tahu harus bagaimana memulai percakapan dengan Erika.
Suara Erika menggema di kabin mobil. Budi bingung dibuatnya.
“TURUN!”
Kali ini Erika berteriak. Membuat Budi terbelalak. Diapun menepikan mobil Erika yang disetirnya. Dari tatapannya, Budi tahu kalau Erika sedang diamuk cemburu. Diapun tidak mau mendebatnya. Dia membuka pintu, lalu turun. Erika juga turun dari mobil, lalu mengambil alih jok depan sebelah kanan.
*Breeeeemm*
Tanpa ada kata, dia lajukan mobilnya meninggalkan Budi.
“Come on”
Budi menertawakan kebodohannya, juga menertawakan sikap Erika yang menurutnya lucu. Dia ditinggal di tengah jalan antara rumah Adel dan jalan besar. Dimana lagi sepi orang berlalu-lalang. Masih ada lebih dari dua puluh kilometer untuk bisa sampai di tempatnya bekerja. Diapun menghubungi kang Supri, untuk dijemput.
>>>
“Nduk” tegur bu Lusi. Adelpun menoleh.
“Budi bilang apa sama kamu?” tanya bu Lusi.
“Ya tentang progres, bu. Dia marah, progres Adel turun” jawab Adel.
“Tapi kok gestur kalian beda? Mbak Rika sampe ngambek sama ibu, tadi. Dicuekin, ibu, gara-gara liat gestur kalian beda”
“Beda gimana, bu?” Adel berkilah.
“Ya sudah kalo memang hanya membicarakan pekerjaan” kata bu Lusi.
“Saran ibu, lembaran yang sudah kalian tutup, jangan coba-coba dibuka lagi!” lanjut bu Lusi.
Adel terkesiap. Dia tidak menyangka kalau gestur yang sudah dia buat senormal mungkin asih bisa terbaca oleh ibunya.
“Ibu tahu kalian galau. Tapi mau-tidak mau, suka-tidak suka, kalian harus tegas memperlihatkan batasan!” kata bu Lusi lagi.
Adel semakin tidak bisa berkata-kata. Karena memang tadi, dia sempat terbuai oleh sapaan sayang yang tadi diucapkan Budi. Sempat terlintas di benaknya, untuk bermain cantik di belakang.
“Iya, bu” jawab Adel.
__ADS_1
Bu Lusi pergi masuk ke dalam rumah. meninggalkan Adel masih berdiri mematung.
*Ya Alloh, mas. Kenapa kamu sebut lagi panggilan sayang itu? Apa kamu nggak tahu, luka ini terlalu sakit buat aku rasain? Aku lebih seneng denger kamu marah-marah, ngumpat-ngumpat ke aku, daripada kamu sebut panggilan sayang itu. Rasa bersalah ini terlalu berat buat aku pikul. Kalo memang kamu mau, kamu boleh memperlakukan aku seperti yang kamu lakukan pada Stevani, dulu. Aku ikhlas, mas. Daripada aku harus ngerasain rasa bersalah ini setiap hari*.
>>>
Dengan diantar kang Supri, Budi tidak perlu berjalan kaki untuk bisa sampai di pabrik. Tapi itu juga dengan kondisi bel tanda masuk sudah berbunyi.
Tak ambil pusing, Budi langsung masuk lewat lobi. Dan dia dkejutkan oleh pak Paul, yang sedang berbincang dengan Farah, Resti, dan aldo.
“Kalian kenapa?” tanya pak Paul.
Budi tidak langsung menjawab. Dia berusaha menganalisa dulu, sampai dimana pak Paul tahu akan kejadian tadi.
“Haiih” keluh pak Paul.
“Mulai sekarang, jangan suruh Budi ke sana!” perintah pak Paul pada Farah.
“Siap, pak” jawab Farah.
“Suruh Aldo yang ke sana!” perintah pak Paul lagi.
“Atau, kalo Aldo sibuk, kamu sendiri yang harus ke sana!” lanjut pak Paul.
“Baik, pak” jawab Farah.
Budi masih saja terdiam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Dia hanya bisa menunggu perintah dari bosnya itu. Dan pak Paul menggerakkan kepalanya ke kanan. Memberikan isyarat perintah buat Budi, agar menemui Erika yang sudah masuk ke dalam ruangannya. Budipun mengangguk meminta ijin.
“Udah makan belum, Bud?” tanya pak Paul.
“Sudah, pak” jawab Budi berbohong.
“Oke” kata pak Paul.
Budipun berlalu meninggalkan mereka.
“Kalo Budi sampe sakit, tanggung jawab kamu, Far” kata pak Paul, setelah Budi cukup jauh dari mereka.
“Siap, pak” jawab Farah.
Dia juga bisa membaca kalau Budi sedang berbohong.
Budi mengetuk pintu kantornya. Tanpa menunggu dipersilakan, dia masuk begitu saja. Dan dia terkejut, saat melihat ke meja Erika, tidak ada penghuninya di sana. Tapi dia melihat ada yang bergerak di belakang pintu. Diapun menutup Pintu itu.
“Ka?”
*PLAAK*
Sebuah tamparan mendarat di pipinya.
“Katamu kamu terima kekuranganku. Tapi nyatanya kamu masih mengharap dia balik sama kamu” kata Erika pelan, tapi tegas.
“Sorry, Ka. Aku emang kacau”
“GOBLOK BANGET SIH, JADI ORANG?” teriak Erika sambil mendorong tubuh Budi. Membuat Budi menabrak mejanya Aldo.
“KAMU UDAH DICAMPAKIN, MAS. KAMU UDAH DIANCURIN SAMA DIA” kata Erika, masih dengan berteriak.
“Kamu masih mau bantuin dia?” lanjut Erika.
Kali ini suaranya merendah. Budi masih diam. Dia tahu kalau Erika sedang mengeluarkan uneg-unegnya.
“Kamu jangan bodoh, mas! Di satu sisi, kamu wakil dari perusahaan ini. Dimana martabat perusahaan ini, kalo kamu lembek sama dia?”
“Di sisi lain, dia itu istri orang, mas. Dimana harga dirimu sebagai laki-laki? Di sini banyak yang rebutan pengen jadi pendampingmu. Termasuk aku tahu, nggak? Ngapain kamu rusak masa depanmu cuman demi istri orang? SADAR, MAS!”
Budi masih tidak menjawab. Sebenarnya dia sudah sadar dengan semua yang dikatakan Erika. Dia sadari kekhilafanya, membiarkan hatinya terbuai bisikan setan.
“Sebelah belum, Ka” kata Budi, sambil mengarahkan pipi kanannya ke arah Erika.
Erika terkesiap. Seketika dia merasa bersalah, telah lancang menampar pipi Budi. Serta merta dia memeluk Budi.
“Jangan di sini meluknya. Ini kantor, nggak enak sama yang lain” tegur Budi.
Tapi Erika tidak ambil pusing. Dia tetap memeluk Budi dengan eratnya.
***
__ADS_1