Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
penggerebekan PT. PRAM


__ADS_3

Walaupun tadi malam sempat bangun jauh lebih awal, tapi pagi ini Adel tampak ceria. Senyum dan cerita lucu dari Budi yang sedang berada di berlin, menjadi penyemangatnya pagi ini.


Mata kuliah yang biasanya membosankan, terasa menyenangkan, karena Budi masih terus menyemangatinya dengan pesan singkat-pesan singkatnya.


“Mau kemana, mbak Adel?”


Seseorang menyapanya, saat mata kuliah pertama selesai. Sontak Adel menoleh ke belakang.


“Eh, Hanin. Mau pulang” jawab Adel.


“Loh. Bukannya masih ada kuliah, mbak?”


“Iya, sih. Tapi ada yang mesti aku urus. Jadi aku mau bolos dulu. He he”


“Hem. Roman-romannya serius nih, merintis berdua?” goda Hanin.


“He he. Ya gitu, deh” jawab Adel singkat.


“Ya udah kalo gitu. Ati-ati ya, mbak”


“Makasih, Nin”


Adelpun melenggang pergi menuju parkiran. Hari ini, memang sudah dia niatkan untuk hanya mengikuti kuliah pertama saja. Bukan niat membolos, tapi dia mendapatkan mandat dari bapaknya untuk pergi ke PT.PRAM.


Belum menjadi inquiry memang. Tapi setiap kesempatan tidak boleh dilewatkan, begitu kata pak Fajar. Dan setali tiga uang, Adel juga berpikiran sama. Bahkan sebelum dimintapun, Adel sudah menawarkan diri untuk mewakili bapaknya pergi ke PT.PRAM. Agar bapaknya bisa beristirahat lebih lama. Karena menurut Adel, advice bapaknya sangat dia butuhkan.


Dan begitulah. Kini Adel meluncur menuju pabrik tempat kekasihnya bekerja. Walau dia tidak akan menemui kekasihnya di sana, tapi semangatnya mendapatkan proyek dari sana, membuat senyumnya selalu mengembang diwajah cerianya.


“Selamat pagi, mbak Marsya” sapa Adel setibanya di lobi.


“Selamat pagi. Eh, mbak Adel” balas Marsya.


“Mau ketemu mbak Farah?” lanjut Marsya.


“Iya, betul”


“Silakan duduk dulu, mbak! Saya panggilkan mbak Farahnya” kata Marsya mempersilakan.


Adel duduk di sofa tamu. Samar-samar terdengar suara Marsya berbicara di telepon. Tak lama kemudian, dia memberitahukan kalau Farah sedang ada meeting. Dan Adel diminta menunggu sebentar. Pastinya Adel mengiyakan saja.


Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino


Telepon seluler Adel berdering. Dia tersenyum saat mengetahui siapa yang menelepon. Dia minta ijin Marsya untuk mengangkat telepon dulu.


“Assalamu’alaikum, Bram” sapa Adel setelah keluar dari lobi.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Senyum Budi sukses menular kepada Adel. Wajah segarnya memuat Adel terpesona. Ditambah latar belakang pemandangan kota berlin, membuat Adel tak berkedip.


“Kaya lagi di PRAM, Ta?” tanya Budi.


“He he. Iya, Bram. Kemarin bapak ditelepon mbak Farah. Katanya mau diskusi soal desain mebel baru”


“Wow. Kok Abram nggak ditembusin, ya?”


“He he. Nggak tahu. Belum, kali. Kan Abram lagi sibuk ngurus ekspo”


“Heem. Bisa jadi, sih”


“Bram. Abram mandi air kali apa air PAM?” tanya Adel sambil tergelak.


“Mana ada PAM di sini? Itu kan perusahaan daerah, Ta” sahut Budi heboh.


“Ha ha ha ha. Emang beda ya, airnya? Segeran air situ, ya?”

__ADS_1


“Bukan seger lagi, dingin” jawab Budi. Adel tergelak mendengar jawaban itu.


“Emang kenapa, Ta?” tanya Budi.


“Kok makin ganteng? Mike shinoda aja kesaingan sama Abram” jawab Adel.


“Ciaaaaaa. Mike shinoda. Terbang nih, Abram”


“Ha ha ha ha”


Adel terus tertawa melihat Budi geleng-geleng kepala. Tapi Budi juga malah menyisir rambutnya mengarah ke depan, berlagak seperti Mike Shinoda. Saking asyiknya memperhatikan Budi sampai-sampai dia tidak sadar ada yang mendekatinya.


“Permisi”


Sebuah sapaan mengejutkannya. Sontak Adel memutar badannya. Dan ada Farah yang sudah berdiri di ambang pintu lobi.


“Baru juga ditinggal sehari, udah kangen aja” goda Farah.


“He he. Abisnya, berlin jauh” jawab Adel asal.


“Ha ha ha ha. Bisa aja mbak Adel” komentar Farah.


“Bisa dimulai diskusinya, mbak?” tanya Farah.


“Oh, bisa” jawab Adel cepat.


Farah tersenyum dan masuk kembali ke ruang lobi. Adel segera pamitan kepada Budi, karena sudah dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Sambil cekikikan, Budi mempersilakan Adel untuk mengikuti Farah.


Sedang serius-seriusnya membahas desain mebel baru itu, tiba-tiba terdengar kehebohan dari arah lobi. Konsentrasi mereka buyar karena kehebohan itu. Terlebih saat mereka melihat pak Paul keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah lobi.


Farah meminta staf desain produksi, yang kebetulan ikut meeting dengan mereka, untuk mencari tahu, apa yang sedang terjadi.


Ternyata ada sekelompok polisi yang datang ke pabrik ini. Kata staf desaian itu, para polisi itu lagaknya seperti hendak menggerebek buronan. Sontak Farah terperanjat. Bahkan tanpa pamit dia pergi keluar ruangan marketing untuk melihat langsung apa yang terjadi.


Tapi baru juga keluar ruangan, langkah Farah terhenti. Para polisi itu sebagian sudah masuk sampai ke dalam kantor. Mereka mendapatkan ijin dari pak Paul untuk memeriksa seluruh karyawannya. Termasuk menggeledah seluruh ruangan di pabrik ini.


Salah seorang petugas mengenalinya. Dia adalah petugas yang mendampinginya saat akan menjalani pemeriksaan di awal-awal pelaporan kasus Stevani.


Langsung saja dia ditanyai maksud dan tujuannya datang ke pabrik ini. Adel menceritakan semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan. Karena memang tidak ada maksud lain selain urusan bisnis.


Meski begitu, dia harus menunggu sampai diberikan ijin untuk bisa meninggalkan lokasi.


Dia dan beberapa sopir yang notabene adalah supplier dipersilakan menunggu di kantin.


Cukup lama dia termenung sendirian. Benaknya merangkai banyak kepingan memori tentang kasusnya dengan Stevani. Sejauh ini, polisi mengatakan kalau ada otak intelektual di balik semua ini.


Dalam bayangan Adel, pastilah orang ini memiliki kemampuan luar biasa dalam hal teknologi informasi. Orang ini juga, dalam bayangan Adel, punya segudang peralatan canggih yang harganya tidak main-main.


*Tapi kenapa polisi mengeluarkan anggota sedemikian banyaknya ke pabrik ini? Apa iya, otak intelektual itu sembunyi di pabrik ini? Apa nggak lebih mudah buat dia beraksi dari tempat yang sealam dengan kemampuannya? Internet provider, misal*?


“Bapak salah tangkap. Saya difitnah”


Tiba-tiba terdengar kehebohan dari arah lobi. Terdengar sorakan ramai, ada sumpah serapah dan makian. Sontak Adel berdiri dan beranjak ke depan.


Dia berusaha untuk melihat ke sumber kehebohan walaupun masih di depannya kantin. Tampak seorang wanita berseragam PRAM, digiring petugas kepolisian bersenjata.


“Loh. Itu bukannya mbak Isma?” gumam Adel.


Dia memicingkan matanya. Berusaha melihat dengan lebih fokus. Sinar mentari menjelang Dzuhur cukup menyilaukan mata.


“Saya nggak tahu apa-apa, pak. Saya nggak ngerti jaringan”


Wanita yang ditangkap itu terus meronta-ronta sambil mengatakan penolakannya atas penangkapan itu.


“Astaghfirulloh. Seriusan?” tanya Adel, bergumam.

__ADS_1


Para petugas langsung memasukkan wanita itu ke dalam mobil polisi. Dengan gerakan gesit, beberapa diantara mereka langsung pergi mengikuti mobil yang membawa wanita itu.


*Kepar\*\* kamu Isma. Bajing\*\*. Manusia terkutuk. Kamu korbanin banyak orang cuman demi satu cowok? Kalo emang suka sama Abram, kenapa nggak ngedeketin? Minder? Kalah body? Dasar pecundang. Otak gede nyalinya minus. Babi aja lebih milih adu kepala, lho*.


Mata Adel melotot ditengah nafasnya yang memburu. Emosinya seketika naik saat mengingat sekian kecelakaan yang menimpanya, menimpa kekasihnya, dan terlebih keluarganya.


“Mbak Adel”


“Hah”


Adel terkejut saat ada yang menegurnya. Serta merta dia menengok ke kiri. Untuk sesaat dia seperti hilang orientasi. Dia sempat bingung dengan orang yang menyapanya. Juga bingung dengan tempat dimana dia berada saat ini.


“Mbak?”


Orang itu mengibas-ibaskan telapak tangannya di depan wajah Adel. Namun Adel tak bereaksi.


“Mbak Adel nggak papa?” tanya orang itu lagi.


“Oh”


Adel mulai bereaksi. Dia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Di dalam hati dia mengucapkan istighfar. Lalu perlahan dia buka kembali matanya.


“Mbak Farah?”


Orang yang menegur tadi tersenyum melihat perubahan pada diri Adel.


“Kita duduk dulu ya, mbak! Mbak Adel pasti syok dengan kejadian ini” aja Farah.


Adel tidak menjawab. Dia butuh waktu beberapa saat, sebelum kemudian mengikuti langkah Farah kembali ke dalam kantin. Farah mengambilkan minuman teh dingin dalam kemasan botol plastik untuk mereka berdua.


“Silakan diminum, mbak” kata Farah mempersilakan tamunya.


“Terimakasih” jawab Adel.


Adel tidak segera meminum suguhan itu. Perasaannya bercampur aduk. Ingin dia meluapkan kemarahannya, karena perusahaan ini menjadi sarang dari orang yang mencelakainya dan keluarganya.


“Mbak” panggil Farah.


“Ya?” sahut Adel.


“Saya berharap mbak Adel bisa memilah antara urusan hukum, bisnis, dan pertemanan, ya” kata Farah hati-hati.


“Eem. Maksud mbak Farah?” tanya Adel belum mengerti.


“Untuk saat ini, kita belum tahu, apakah Isma benar-benar pelakunya atau bukan” jawab Farah menggantung. Adel masih memusatkan perhatiannya kepada Farah.


“Kalaupun memang terbukti ternyata Isma dalang dibalik semua hal buruk yang menimpa mbak Adel, saya harap mbak Adel tidak serta merta menghentikan hubungan bisnis kita” lanjut Farah.


Adel tidak langsung menjawab. Dia juga tidak bisa menyembunyikan rona merah pada matanya. sangat jelas terlihat kalau Adel sedang diamuk amarah. Dia mencoba menghela nafas berat, meredam segala amarahnya.


“Pastinya tidak lah, mbak. Kami sangat tertolong dengan proyek yang perusahaan ini berikan kepada kami” sahut Adel.


“Terlepas dari itu, saya paling suka berdiskusi sama mbak Adel. Meskipun baru sekali. Tapi mbak Adel itu paling terbuka dan tidak buru-buru meminta proyek. Paling beda dari yang lain. Dan ini yang pengen saya pertahankan, mbak” potong Farah.


Tentu saja Adel tersenyum diberikan pujian seperti itu. Walau dia tidak bisa menyembunyikan sisa kemarahannya. Matanya masih terlihat merah, walau sudah memudar.


“Alhamdulillah. Saya seneng dengernya, mbak” jawab Adel.


“Sebagai kekasihnya Budi, mbak Adel sudah saya anggap sebagai teman saya juga. Kalaupun nanti ternyata benar Isma penjahatnya, saya harap mbak Adel tidak memutuskan pertemanan dengan saya, dan temen-temen Budi yang lain”


Adel terdiam lagi. Kalau mengingat rangkaian peristiwa yang telah terjadi, tipis rasa percaya yang tersisa di dalam hatinya. Andai saja dia tidak bergantung pada perusahaan ini, dia ingin sekali mengatakan kalau dia sedang tidak percaya dengan semua yang ada di perusahaan ini, kecuali kekasihnya.


“Insya Alloh enggak, mbak” sahut Adel.


“Saya hanya akan membenci orang-orang yang telah mencelakai kami” lanjut Adel diplomatis.

__ADS_1


“Alhamdulillah” kata Farah mengucap syukur.


__ADS_2