
"Nggak. Nggak mungkin. Ini pasti ada yang salah”
Pak Fajar berteriak-teriak tidak terima dengan apa yang dia dengar di tivi. Bu Lusi mendekatinya dan berusaha menenangkannya. Sedangkan Adel, dia hanya diam mematung. Tatapan matanya lurus ke arah tivi, tapi pandangannya kosong.
“Kamu harus cek lagi ke polres! Kalo perlu, selidiki lagi, siapa penyidik yang mengurusi kasus ini!” perintah pak Fajar. Tangannya lurus menunjuk pada seseorang yang memakai setelan jas abu-abu.
“Baik, pak. Tapi saya juga sudah mendapatkan informasi, kalau jejak digital yang diusut oleh penyidik itu valid, pak” jawab orang itu.
“Kamu ini pengacara macam apa? Segitu mudahnya percaya sama orang”
“Pak. Mbok dijaga ucapannya!” tegur bu Lusi. Pak Fajar menatapnya tajam beberapa saat.
“Oke, maaf” ujar pak Fajar menyadari siapa yang dia hadapi.
“Tapi pasti ada yang salah. Di sana ada intel yang namanya Zulfikar, pacarnya Putri, adiknya Budi. Zulfikar punya bapak namanya Daud. Daud itu udah senior, pangkatnya cukup tinggi. Pasti penyidik itu terpengaruh sama si Daud itu” lanjut pak Fajar.
“Baik, pak. Akan kami cross check lagi. Semoga memang ada yang salah” jawab pengacara itu.
“Maksud kamu apa? Kamu mau bilang kalo mereka benar, gitu?”
“Kalau dari direktorat tindak pidana siber mabes polri sudah turun membantu polres, polisi sekelas Daud, tidak punya kuasa untuk memainkan temuan. Kecuali dia hacker level dunia. Kalau hanya mengandalkan jabatan, hanya polisi kelas jenderal yang mampu mengatur jalannya penyidikan”
“Heh, kamu tu dibayar buat saya. Harusnya kamu tu belain saya, bukannya malah ngecilin saya. Emangnya kurang apa, bayaran kalian? Kurang berapa?”
“Maaf, pak. Justru karena kami bekerja sepenuh hati, makanya bilang begitu. Kalau kami bekerja hanya karena uang, kerja kami pasti ABS. Urusan nanti bapak dipenjara karena perkara ini berbalik nyerang bapak sendiri, itu bukan tanggung jawab kami. Kami bicara ini demi keselamatan bapak juga” jawab pengacara itu. pak Fajar terkesiap.
“Dia benar, Pak. Yang kita cari kan kebenaran. Polisi kan bidangnya banyak, orangnya juga pinter-pinter. Dengan peralatan canggih yang mereka punya, mereka bisa melihat apa yang kita nggak bisa lihat. Bapak harus hati-hati. Mungkin ini maunya si otak intelektual itu. Kan bapak pernah bilang, the enemy of my enemy is my friend” kata bu Lusi. Pak Fajar memandangi wajah istrinya.
“Maksud ibu?”
“Yang iri sama bapak, banyak. Yang pengen dapetin Adel, juga banyak. Apa bapak udah lupa, kalo bukan cuman bapak yang ngajuin proposal ke Pratama Meubel? Dan saat mas Imam liat bapak, langsung yang lain ditolak. Apa nggak sakit hati tuh, mereka?”
“Hubungannya sama Budi?”
“Udah berapa banyak cowok sekelas Luki yang deketin Adel? Ada nggak yang disambut? Malah Budi, yang nggak punya apa-apa, dipilih sama Adel. Jatuh lah, harga diri mereka”
“Jadi maksud ibu, mereka yang iri sama bapak, kong kalikong sama mereka yang iri sama Budi? siapa? Siapa juragan mebel yang otaknya seencer itu? Kok bapak nggak pernah denger? Kalo Budi, emang encer. Bapak percaya kalo dia bisa ngelakuin semua itu” tanya pak Fajar. Pertanyaan itu membuat Adel menoleh.
“Mbak, kita ke kamar, yuk! Kita sholat! Kita mohon petunjuk sama Gusti Alloh!” ajak Madina setengah berbisik.
Kalimat Madina sontak mengalihkan perhatian semua orang. Pak Fajar juga jadi memudar kemarahannya saat melihat putri sulungnya syok.
“Kalo bapak memang benci sama Budi, ibu nggak masalahin. Tapi mohon, bapak jangan blunder, ya!” kata bu Lusi. Perhatian pak Fajar beralih ke istrinya.
“Ibu belum kebayang gimana caranya bertahan hidup tanpa Bapak” lanjut bu Lusi.
“Maksud ibu, bapak bakal dipenjara, gitu?”
“Ada orang licik yang belum ketangkep, pak. Siapapun dia, dia sangat berbahaya. Sebelum polisi menentukan siapa otak intelektualnya, bapak jangan gegabah, ya!” jawab bu Ratih.
Pak Fajar menunduk lesu. Dia kembali ke ruang tamu, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sempat terjadi kehebohan, karena tiba-tiba Adel pingsan.
Buru-buru semua orang yang ada menolongnya. Tidak sampai di bawa ke rumah sakit memang, Adel hanya terlalu syok memikirkan semua ulahnya. Hanya dalam hitungan menit dia sudah tersadar kembali, dan menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
*** >>>
Hari telah berganti, pagipun telah menjelang. Budi telah melakukan panggilan video semenjak selepas subuh. Hari ini dia belum diijinkan pergi ke bengkel kayunya oleh bu Ratih, karena tadi dia sempat mengeluh dadanya terasa nyeri.
Al hasil, dia menyiasatinya dengan melakukan panggilan video dengan kang Supri. Budi bersyukur, walaupun dia sempat terkena fitnah, tapi kang Supri masih setia padanya.
Dari penjelasan kang Supri, Budi juga merasa sangat bersyukur, karena ketiganya selalu berusaha memberikan edukasi kepada setiap orang yang bertanya mengenai kasus yang menimpanya. Bahwa semua yang menimpanya hanyalah fitnah, yang akan segera dibuktikan. Budi mengucapkan banyak terimakasih kepada ketiganya. Bahkan saat gaji mereka telatpun, mereka tetap bekerja sesuai prosedur.
Matahari telah beranjak dari peraduannya. Menyinari semesta alam dengan semangat baru. Tapi bu Ratih masih terlihat belum bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Belum juga terlihat akan ke bengkel kayunya Budi. Ternyata bu Ratih sengaja meliburkan diri, untuk merawat Budi. Dan itu yang membuat Budi tersenyum haru.
“Budi kan udah sehat, Bu. Ini juga mau berangkat kerja” kata Budi.
“Iya, ibu tahu. Tapi ibu mau stand by di rumah aja dulu, barangkali kamu butuh bantuan ibu” jawab bu Ratih.
“Bilang aja pengen libur, bu! nggak ada yang ngelarang juga” sahut Putri dari arah pintu kamarnya.
“Hempf” Budi tergelak mendengar celetukan adiknya.
Sontak terjadi adu argumen diantara Putri dan bu Ratih. Mirip seperti dua orang sahabat yang sedang ceng-cengan.
Budi yang sedang sarapan di meja makan jadi tertawa melihat perdebatan ibu dan adiknya. Pada akhirnya bu Ratih mengakui, kalau memang badannya sedang letih, dan ingin beristirahat. Merekapun ikut Budi menikmati hidangan sarapan pagi ini, nasi goreng buatan bu Ratih.
Sedang enak-enaknya sarapan, terdengar suara motor mendekat. Walau bertanya-tanya, tapi mereka cuek. Karena suara motor terkadang mengecoh. Dikira berhenti di depan rumah, ternyata masih di pinggir jalan. Dan itu juga tujuannya ke rumah tetangga.
*Tok tok tok*
Terdenga suara pintu depan diketuk. Kalau begini sudah bisa dipastikan kalau pemilik motor itu memang hendak bertamu ke rumah ini. Budipun bermaksud untuk membukakan pintu depan.
“Aku aja, mas” kata Putri menawarkan diri. Diapun berdiri seusai berkata begitu.
Putripun kembali duduk. Dia tidak mungkin melawan perintah ibunya. Jadilah bu Ratih yang berjalan ke depan untuk membukakan pintu depan.
Saat membuka selot pengunci pintu, ada sebuah kendaraan bernama bench saw yang melintas dengan suara berisik. Sehingga tamu yang berkunjung itu tidak mendengar kalau bu Ratih telah membukakan pintu untuknya.
Di sisi lain, bu Ratih juga tidak segera mengenali siapa tamunya itu. Karena tamunya itu sedang membelakanginya, melihat kendaraan yang lewat tadi. Terlebih, dengan memakai sweeter yang topinya dikenakan, membuat bu Ratih lebih merasa asing lagi.
“Maaf, nyari siapa?” tegur bu Ratih, setelah suara berisik kendaraan tadi mereda. Kontan si tamu itu terkejut dan memutar badannya.
“Ngapain kamu ke sini?”
Melihat siapa yang menjadi tamunya itu, sontak membuat bu Ratih naik pitam. Suaranya melengking sampai terdengar sangat jelas dari ruang makan. Budi dan Putri sontak berdiri meninggalkan sarapan mereka.
“Bu. Adel mohon maaf, bu. Adel salah”
“Nggak perlu”
Suara bu Ratih melengking lagi. Budi sampai tertegun mendengar lengkingan suara ibunya itu. Baru kali ini dia mendengar ibunya berteriak begitu. Lebih tertegun lagi saat mengetahui siapa yang bersimpuh di depan kaki ibunya itu.
“Bu. Adel tahu ibu marah banget sama Adel. Silakan ibu hina Adel semau ibu. Adel siap dihina ibu, Adel siap dimaki-maki ibu. Tapi Adel nggak siap dibenci sama ibu”
Budi bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, dia kasihan melihat Adel menangis sampai hampir bersujud di kaki ibunya. Tapi di sisi lain, dia juga tidak boleh melawan ibunya.
“Apa kamu bilang? Kamu nggak siap dibenci sama ibu? Lalu yang kamu katakan sama Budi kemarin itu apa, kalo bukan kebencian?” tanya bu Ratih.
__ADS_1
“Ampun bu. Adel salah” jawab Adel.
“Kalo emang kamu nggak siap dibenci sama ibu, mending sekarang juga kamu pergi dari hadapan ibu! Dan jangan pernah lagi muncul di hadapan ibu!” kata bu Ratih pelan penuh rasa geram.
“Bu?” tegur Budi.
“Apa?” saut bu Ratih keras. Budi terkesiap.
“Seburuk-buruknya kamu, apa ibu pernah ngata-ngatain kamu, ngger? Apa seburuk-buruknya bapakmu, ibu pernah ngata-ngatain bapak?” tanya bu Ratih.
“Bu, ini kan kita lagi kena fitnah. Siapa sih yang nggak marah kalau orang tuanya disakiti? Budi pasti juga akan ngelakuin hal serupa, kalau ada yang nyakitin ibu” kata Budi dengan hati-hati.
“Ya tapi harusnya mikir dong! Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo otaknya nggak dipake buat mikir?” sahut bu Ratih masih dengan nada tinggi.
“Ampun, bu” kata Adel memohon.
“Bu. Budi paham dengan yang ibu rasakan saat ini. Tapi Budi harap, ibu tenang dulu ya bu” pinta Budi.
“Kamu masih ngarepin dia, ngger? setelah sumpah serapah dan makian keluar dari mulutnya? Mulut dia lho yang maki-maki kamu, bukan mulut ibunya” tanya bu Ratih.
“Iya, bu. Budi paham. Tapi membandingkan Adel dengan ibu, adalah perbandingan yang tidak seimbang”
“Maksud kamu?”
“Bukan hal aneh kalau ibu selalu percaya dan selalu yakin sama Budi. Bahkan selalu ada di belakang Budi, sekalipun Budi jelas-jelas salah. Itu karena ibu adalah wanita yang melahirkan Budi” jawab Budi.
“Ngger?”
“Adel adalah orang lain yang baru kenal Budi belum lama. Dalam waktu singkat, Adel telah menaruh kepercayaan yang sangat tinggi sama Budi. Seperti yang sudah ibu tahu, dia rela berdebat dengan orang tuanya demi tetap bersama Budi. Adel telah mempercayakan masa depannya sama Budi. Budi pikir, sangat manusiawi jika seorang Adel sangat reaktif saat mendapat kabar kalau Budi ini ternyata orang jahat. Dan yang Budi jahatin adalah orang tuanya. Terlalu berat untuk dia olah dengan logikanya, Bu” lanjut Budi, masih dengan hati-hati.
“Terlalu berat? Apa kamu pikir yang pernah kena fitnah cuman kalian? Apa kamu pikir kisah ibu sama bapak mulus-mulus aja?” tanya bu Ratih dengan nada rendah.
“Bu?”
“Apa kamu pikir tuduhan kalau bapak selingkuh, bapak ngehamilin wanita lain, bapak sengaja mengguna-guna ibu biar ibu cepet mati terus bapak dapet bagian dari warisannya simbah, terus kawin sama wanita yang dibilang dihamili bapak, masih kurang menyakitkan? Dan tuduhan itu bukannya tanpa bukti. Awal mulanya sangat jelas terlihat dimata ibu, semua tuduhan itu seolah benar. Buktinya teramat jelas. Buat ibu muda, yang baru mengandung anak pertamanya, ngeliat kenyataan kaya gitu, apa masih kurang sakit, ngger? Tapi monggo, silakan tanya sama orang sekampung, apa pernah ibu ngata-ngatain bapak? Nggak pernah sekalipun terucap dari mulut ibu, makian apalagi hinaan buat bapak” lanjut bu Ratih.
Matanya merah dan berair, menahan amarah. Budi terdiam. Dia tertegun. Baru ini dia mendengar kisah memilukan itu.
“Ini, baru dari tulisan nggak jelas aja, mulutnya udah dol. Mana rasa hormatnya? Mana rasa cintanya? Dimana juga otaknya?” lanjut bu Ratih lagi.
“Bu. sejauh ingatan ibu, apa ada wanita yang mau mengakui kesalahannya seperti ini, bu?” tanya Budi pelan. Bu Ratih terkesiap. Dia tampak berpikir beberapa saat.
“Budi tahu, bu. Adel memang tidak sebaik ibu. Tapi kenyataan bahwa sekarang dia datang dan bersimpuh di kaki ibu, adalah hal yang belum pernah dilakuin wanita lain, bu. Bukannya yang lain langsung pergi begitu dibentak sama ibu? Mereka langsung malas berhubungan sama Budi karena mereka merasa ibu terlalu galak. Mereka hanya cinta sama Budi, tapi tidak cinta sama ibu” lanjut Budi.
Bu Ratih termenung mendengar penjelasan putranya. Sejenak ingatannya memutar memori lama yang berhubungan dengan putranya. Dia juga menimbang-nimbang mengenai kepercayaan yang Adel titipkan kepada putranya, seperti yang dibilang putranya sendiri.
*Iya sih, bener. Aku juga sebenernya hampir jebol kalo nggak diingetin ibu terus. Aku juga hampir termakan rasa benci, kalo nggak terus-terusan dinasehatin ibu. Iya sih, aku juga marah waktu denger tentang warisan. Bapak sama ibu masih hidup kok sudah ada omongan kalo mas Rouf ngomongin tentang warisan. Iya sih, rasa benci itu emang sempet ada. Untungnya aku lagi sakit, dan selalu ada ibu di sampingku. Kalo aku sendirian, mungkin aku nggak ada bedanya sama Adel. Mungkin mulutku bakal lebih jahat lagi ketimbang mulut dia*.
“Nduk, bangun nduk!” pinta bu Ratih.
Adel terdongak mendengar suara bu Ratih. Tapi yang dia lihat, bu Ratih hanya menunduk menatapnya, tanpa menurunkan tubuhnya sedikitpun. Dia sadar, kalau perintah ini bukan berarti kata maaf telah dia dapatkan. Diapun segera bangkit dari bersimpuhnya yang hampir seperti sujud itu.
“Masuk, nduk!” pinta bu Ratih lagi.
__ADS_1
Suaranya kini sudah tak lagi melengking, cenderung merendah. Membuat Budi tersenyum lega. Tapi buat Adel, itu belumlah akhir dari segalanya. Masih ada kata maaf yang harus dia dapatkan.