Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ajakan gowes bikin bingung budi


__ADS_3

Pagi ini, halaman depan basah setelah semalaman hujan mengguyur hampir tanpa henti. Daun-daun pohon cheery berguguran di hempas angin kencang. Beberapa ranting yang sudah kering ikut jatuh karena patah.


Walau subuh baru saja berlalu, dan langit masih remang-remang, tapi Budi tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menyapu halaman. Dia tidak nyaman saat melihat halaman depannya kotor. Bu Ratih sampai geleng-geleng kepala melihat anaknya sudah bebersih sepagi ini.


“Mas, telepon”


Suara Putri menggema di keheningan pagi. Dia berjalan setengah berlari menghampiri kakaknya.


“Makasih” jawab Budi.


Dia menerima ponsel yang dibawakan adiknya. Setelah itu, Putri kembali masuk ke dalam rumah.


“Assalamu’alaikum, ta” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam, bram. Udah sholat?" jawab Adel


“Udah. Tata?”


“Alhamdulillah udah.”


“Alhamdulillah”


“Oh iya, bram. Semalam abram keujanan, nggak?” tanya Adel. Suaranya seperti merasa bersalah.


“Dikit. Udah deket rumah kok” jawab Budi apa adanya.


“Alhamdulillah, nggak papa. Cuman mules doang, dikit” lanjut Budi.


“Entar, entar. Kalo masuk angin tuh, mual, bram. Sama kembung. Kalo mules sih, beda urusan. Ini mules karena kopi, apa karena,”


“Cubitan, lah” sahut Budi.


“Masa sih, masih kerasa, bram?"


“Engak, sih. Godain tata doang”


“Ih, abram. Bikin tata was-was aja”


*Srek srek srek*


Saat mereka terdiam, suara sapu lidi Budi terdengar sangat jelas dari seberang sana. Membuat Adel bertanya-tanya.


“Suara apa itu, bram?” tanya Adel.


“Sapu” jawab Budi singkat.


“Oh, abram lagi nyapu? Pagi amat, bram? Mau ada tamu?”


“Enggak. Kotor banget. Semalem anginnya kenceng banget, daun-daun pada gugur. Mau ngopi aja jadi nggak nyaman”


“MasyaAlloh. Calon suami idaman ini, sih” komentar Adel.


“Amiiin”


“Eh, bram. Pagi ini ada acara, nggak?”


“Belum ada, sih. kalo minggu, lapak ibu dihandle Putri. Side job juga belum ada. Kenapa, ta?”


“Gowes, yuk!” ajak Adel.


“Gowes?”tanya Budi memperjelas.


“Emm, harus pagi ini, ya?” lanjut Budi.


“Ya, kan besok abram kerja” jawab Adel.


“Emm”


Budi tampak berpikir sejenak. Dia sedang tidak punya sepedaa. Ada sepeda juga tinggalan masa kecilnya dulu. Itu juga tidak serta merta langsung bisa dipakai.


“Kenapa, bram?”


“Nggak papa, abram perlu waktu aja, buat benerin sepedanya. Abisnya udah lama nggak dipakai. Mesti nyari dulu, roda depannya”


“Lah, roda depannya ilang, bram? Kok bisa?”


“Tahu tuh, bapak. Kalo marah suka aneh-aneh aja. segala roda depan diumpetin. Kan bingung ya, kalo mau make?”


“Ya abis, nakalnya nggak kira-kira, sih” komentar Adel sambil tertawa.


“Ha ha ha”


“Jam tujuh, tata tunggu di dermaga, ya”


“Mana bisa? Jam tujuh, toko sepeda belum buka”


“Kan masih bisa digowes. Roda belakang masih ada”


“Ya terus? Standing gitu, sampe pacitan?”


“Ha ha ha” Adel tertawa lepas mendengar pertanyaan Budi.


“Pokoknya jam tujuh, bram. Jangan telat! Assalamu’alaikum”


*TUUT*


“Dih, main matiin aja” gerutu Budi.


“Wa’alaikum salam” lanjut Budi menjawab salam Adel.


Dilanjutkannya aktivitas menyapu halamannya. Sampai bersih, sampai tidak tersisa lagi, sampah yang berserakan. Lalu dia masukkan ke dalam tong penampungan sampah organik. Sebuah pesan singkat masuk saat dia berjalan masuk ke dalam rumah.


*Happy standing, handsome*


Begitulah bunyi pesan singkat dari Adel. Membuat budi tergelak dan menggerutu secara bersamaan.


“Kamu kenapa sih, mas? Ketawa tapi ngedumel” tanya Putri bingung.


“Ini, mbak Adel, ngajakin gowes” jawab Budi.


“Terus?” tanya Putri lagi.


“Ya gowes”


“Mana bisa? Kan sepda mas Budi,”


“Standing” potong Budi, dengan mimik muka dibuat seperti kesal.

__ADS_1


“Enggak bisa, mas”


“Huu, ngeremehin mas Budi?”


“Hi hi hi. Liat dulu gih, sepedanya!” saran Putri sambil tertawa.


Budi langsung ke belakang. Dia buka satu ruangan di belakang dapur yang difungsikan sebagai gudang.


“Alllohu Akbar, bapak” seru Budi, membuat bu Ratih keluar dari kamarnya. Dia bertanya pada Putri, tapi Putri malah tertawa geli.


“Bener-bener deh, pak. Rodanya dibalikin, stirnya diumpetin” seru Budi lagi. Dia berkacak pinggang.


“Hmpf. Ha ha ha ha”


Putri tak sanggup lagi menahan tawanya. Seketika tawa jaim tadi, berubah menjadi tawa lepas. Bu Ratihpun juga ikut tertawa, mendengar gerutuan anaknya.


“Pak, sirkus juga belum ada yang bikin atraksi kaya gini. Biasanya sih, sepeda roda satu. Paling banter juga sepeda lipet” lanjut Budi. Putri semakin keras tertawanya.


“Tapi masih ada stirnya” Budi geleng-geleng kepala.


Putri sampai berguling-guling di lantai, saking tidak bisa menahan tawanya. Bu Ratih juga sampai keluar air mata, saking lepasnya tawanya.


“Pak, Budi pernah nyoba sepeda roda satu, gampang itu beloknya. Sepeda lipet juga pernah. Masih bisa Budi makenya. Pinggul doang goyang-goyang”


Putri memegangi perutnya. Sedangkan tangan satunya dilambaikannya ke arah ibunya. Bu Ratih juga memegangi perutnya, sambil geleng-geleng kepala.


“Lah, ini? Aduh. Bapak ini visi-misinya apa, ya? stir diumpetin, garpu dipantek pake besi. Ini belok enggak bisa, standing juga nggak bisa”


Bu Ratih ikutan guling-guling di lantai. Duduk bersandar tembok belum cukup mengekspresikan betapa geli hatinya mendengar omelan anaknya. Mana Budi menyebut visi-misi segala. Dwi tunggal yang sering dipertanyakan bapaknya Budi semasa hidup.


“Startnya jangan dari rumah, mas!” celetuk Putri.


“Start dari mana, Put?” tanya bu Ratih.


“Dari seberang jembatan” jawab Putri.


“Haduh, ini juga, pak. Bapak kasih visi-misi apa, sih?” sahut Budi. Putri tertawa lagi.


“Emang kalo start dari seberang jembatan, bisa sampe?”tanya bu Ratih. Pertanyaan yang klise.


“Sampe bu, rumahnya ndalepuk” sahut Budi.


“Ha ha ha ha”


“Nadlepuk, ndalepuk. Sendal ijole krupuk. Sendal putus sepasang dapet krupuk sebungkus”


“Ha ha ha ha”


“Jeger. Budi landing di tumpukan sedal” lanjut Budi menirukan komentator bola.


“Walah mas, peleknya bengkok. Tuker krupuk aja, ya?” lanjut Budi berkelakar.


Bu Ratih dan Putri semakin kencang lagi tertawanya. Membuat tetangganya bertanya dari jauh.


Mendengar teguran dari tetangganya, bu Ratih tersadar kalau suara mereka sudah kelewat kencang. Sambil masih tertawa, bu Ratih pergi meninggalkan Budi. Begitu juga dengan Putri.


Sampai hendak berangkat ke pasar, Bu Ratih masih sempat tertawa lagi. Itu karena Budi meletakkan sepedanya di pagar teras, sambil dipandangi.


Seolah-olah sedang berpikir, bagaimana caranya menaiki sepeda itu. tetangga yang bertanya tadipun akhirnya ikut tertawa, setelah bu Ratih mengarahkan telunjuknya ke sepeda Budi.


Tak ada sepeda, Budi memiliki beberapa pilihan. Dari pinjam sepeda tetangga, naik motor, naik angkot, atau berlari. Kalau meminjam sepeda tetangga, akan beresiko menimbulkan huru-hara.


Lagipula, bukan hal baru buat Budi, lari jarak jauh. Keliling kawasan industri juga sudah lebih dari sepuluh kilometer. Itu sering dia lakukan.


Dengan keyakinan penuh, dia berangkat dengan sepatu lari andalannya.


Butuh waktu satu jam untuk Budi tiba di dermaga. Tepatnya dermaga baru. Posisinya berada di ujung barat.


Dari jauh, Budi melihat sekumpulan wanita sedang berhenti di ujung barat dermaga baru ini. Benar-benar di ujungnya. Tidak ada lagi jalan setelah ujung itu. Semuanya bersepeda, dan sepeda mereka terlihat beragam. Walau hanya dari belakang, tapi Budi bisa memastikan, kalau salah satu dari mereka adalah kekasihnya.


“Assalamu’alaikum” sapa budi.


semuanya menoleh ke arahnya. Sebagian dari mereka bingung, karena merasa belum kenal.


“Waa’alaikum salam” jawab mereka.


“Bram?” Adel agak bingung melihat Budi datang berjalan kaki.


“Sori ta, telat” sahut Budi.


“Abram naik apa?” tanya Adel. Dia menyalami Budi, dan mencium tangannya.


“Nih” jawab Budi. Dia menunjukkan sepatunya.


“Astasghfirulloh, ada ee’ kucing” seru Budi, mengetahui ada kotoran di telapak sepatunya.


“Ha ha ha ha” semua yang melihatnya, tertawa.


“Ya udah, ya. kita lanjut dulu. Mau nongki cantik, kita”


Salah seorang dari mereka mewakili yang lain, meminta ijin pada Adel untuk melanjutkan perjalanan.


“Loh, Sinta? Aduh sori, sin, nggak liat” seru Budi. Budi lantas menyalami Sinta, dan yang lainnya.


“Iya, deh. Namanya juga lagi jatuh cinta. Bay the way, selamat ya, atas jadiannya. Semoga langgeng, sampe pelaminan” kata Sinta.


“Amiin”


Tak hanya Budi, semua yang ada juga ikut mengaminkan doa Sinta.


Merekapun pergi, diiringi canda dan tawa dari sesama mereka sendiri. Adel memandang wajah Budi dengan lekatnya. Seolah menemukan sesuatu yang indah untuk dipandang.


“Kenapa, sih? Ada yang aneh di muka abram?” tanya Budi.


“Abram maraton, dari rumah?” Adel ditanya malah balik bertanya.


“Enggak, naik angkot” jawab Budi berbohong.


“Fix, abram boong. Jawaban yang nggak masuk akal. Artinya nggak sesuai sama kenyataan”


“Maksudnya?”


“Kenapa harus naik angkot, kan punya motor? Di depan juga ada parkiran. Jangan bilang nggak tahu, ya!” jawab Adel.


Budi hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Adel. Dia tidak menyangka akan ditebak sebegitu rupa.


*Aduh, pacarku detektif cuy. Nggak bisa selengehan, deh. Ha ha ha*.

__ADS_1


“Gorengan-gorengan. Lontong pecel, arem-arem”


Terdengar suara ibu-ibu menjajakan dagangannya. Seketika Budi menoleh ke arah ibu-ibu itu. sepeda tua ibu-ibu itu, terlihat penuh dengan dagangan. Aroma gorengan dan arem-arem, seolah meledek perutnya yang mulai merasakan lapar. Dan hal itu terbaca oleh Adel.


“Bu, arem-aremnya, bu” panggil Adel.


Sontak Budi menoleh ke arah Adel. Dia tampak mengingat-ingat lagi isi dompetnya. Dia tidak ingat dengan jelas, jumlah awal uangnya. Setelah dikurangi untuk membeli minum di jalan tadi, sisa sekarang tidak bisa dia pastikan. Adel tertawa kecil melihat Budi tertegun.


Tanpa menghiraukan Budi yang masih mematung, Adel langsung memilih gorengan dan arem-arem. Budi tersadar saat adel hendak melakukan transaksi. Telat, Adel terlanjur membayar dengan uang pas. Dan ibu pedagang itu segera pergi.


“Duduk di sana, yuk!” ajak Adel.


Budi hanya mengangguk lalu mengikuti kemana Adel melangkah. Adel mengajak Budi untuk duduk di batu pondasi dermaga ini. Agak berbahaya menurut Budi. Tapi setelah dia melihat ada sebuah batu besar yang bentuknya datar, akhirnya dia ikut juga.


Posisi mereka kini seperti terlindung dari dunia luar. Kaki bukit di belakangnya, cukup tinggi untuk menyembunyikan mereka dari sudut pandang manapun. Termasuk dari atas. Lebatnya pepohonan di atas, cukup membuat blank spot.


“Kenapa, senyam-senyum?” tanya Adel.


“Enggak” jawab Budi pendek.


Tapi senyumnya malah semakin lebar. Dia memilih untuk duduk di sebelah kanan Adel. Seolah ingin menjaga tepian batu, agar Adel tidak terperosok.


“Kok tahu, tempat kaya gini?” tanya Budi.


“Oh, hehe. Sinta yang kasih tahu. Asyik, ya. Serasa punya sendiri” jawab Adel.


“Nih, sarapannya, bram” lanjut Adel. Dia membuka bungkusan plastik berisi gorengan itu.


Budi mengambil arem-arem dan bakwan. Seperti makan nasi dengan lauk. Dia tidak mau jaim, karena perutnya memang mulai lapar.


Adel juga mengambil arem-arem. Sambil menikmati gurihnya arem-arem, dan semilirnya angin pagi, Budi iseng mengulurkan tangannya ke belakang tubuh Adel.


“Ehm, ehm. Nakal, ya. udah berani rangkul-rangkul” komentar Adel.


Budi hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa. Adel sendiri tidak menolak dirangkul Budi. Bahkan, saat arem-aremnya habis, dia lalu menyandarkan kepalanya ke pundak kiri Budi.


“Bram, jangan tinggalin tata, ya!” celetuk Adel. Budi terkejut mendengar kalimat itu.


“Cuman orang goblok yang ninggalin tata” jawab Budi.


“Udah banyak sarjana yang mundur. Nggak kuat sama bapak-ibu tata” kata Adel.


“Tata berharap banget, abram nggak ngeper kaya mereka. sekalipun bapak sama ibu tata, kejemnya nggak ketulungan” lanjut Adel.


“Hem, you will never know, till you try. Patut dicoba” komentar Budi.


Adel menegakkan tubuhnya. Dia melihat ke wajah Budi. seolah mencari keseriusan akan perkataan budi tadi.


“Demi uang, abram pernah digoblok-goblokin sama orang bego. Abram pernah dibilang otak ******. Disamain sama anjing, babi, tokek, apalah. Tapi, alhamdulillah. Abram bisa kasih bukti, kalau orang yang goblok ini, ternyata bisa berasa di atas dia, yang ngerasa pinter. Seburuk-buruknya anjing, mereka bisa dibikin pinter, dibikin ganas, sesuai kebutuhannya. Ya, oke, aku anjing. Tugasku adalah ngendus keburukan. Jadi jangan sampe aku nemuin keburukanmu saat kerja. Karena aku akan bikin kamu sengsara” cerita Budi. Adel terkesiap melihat perubahan wajah Budi.


“Dan abram buktiin. Jangan dikira anak baru nggak bisa bikin senior kebakaran jenggot” lanjut Budi.


“Tapi, bram?” sanggah Adel.


“Tapi abram ngelakuin itu tadi, bukan dalam rangka balas dendam. Tapi emang ada sikap kerja yang perlu dibenahi” potong Budi. Dia tersenyum pada Adel.


Adel terdiam. Dia berharap, semoga apa yang dikatakan Budi tadi adalah kebenaran. Bahwa Budi tidak akan dendam, apapun yang telah orang tuanya lakukan.


Dia berharap, Budi akan tabah menghadapi ujian cinta mereka. Dan berhasil mendapatkan restu dari bapak dan ibunya. Tatapan penuh harap itu, membuatnya tak sadar, kalau jarak wajah mereka perlahan mendekat, mendekat, terus mendekat.


*Cuup*


Entah siapa yang memulai, dan entah mengapa tidak ada yang menolak. Tapi itulah yang terjadi. Bibir mereka menyatu dengan hangatnya. Masih dalam rengkuhan tangan Budi, Adel memejamkan matanya. Menikmati sentuhan demi sentuhan di bibirnya. Mereka saling memagut dalam kemesraan.


“Emh”


Adel sempat lupa untuk bernafas, hingga dia nyaris kehabisan oksigen. Tarikan nafasnya terdengar saat dia tersadar. Seperti seorang penyelam yang baru muncul ke permukaan air. Meski begitu, dia sama sekali tidak berniat melepaskan pagutan bibir Budi di bibirnya.


“Emh”


Dalam kemesraan itu, Adel sempat bertanya-tanya. Sudah sejauh ini, tapi Budi hanya merengkuh tubuhnya saja. Hanya dikecup dan dipagut. Tapi tangan kanannya, sama sekali tidak melakukan aksi.


Kalau dengan mantan-mantannya dulu, tidak perlu menunggu satu menit, pasti langsung dia digerayangi.


“Ahh”


Budi melepaskan pagutannya. Dia menatap lekat mata kekasihnya. Dalam hati dia bersyukur, bisa mendapatkan hati Adel seutuhnya. Di sisi lain, Adel merasakan kalau yang baru saja Budi lakukan padanya, adalah ekspresi rasa cinta yang mendalam untuknya.


Adel tidak melihat adanya raut birahi di wajah Budi. Dia tersenyum. Dia berharap, Budi akan selalu begitu. Bisa membedakan antara kemesraan dan hawa nafsu.


“Demi seorang bidadari surga, abram akan hadapi apapun tantangan yang menghadang. Dan abram janji, abram nggak akan dendam sama bapak dan ibunya tata. Karena abram tahu, mereka hanya ingin yang terbaik buat tata” kata Budi memecah keheningan.


“Terbaik menurut mereka hanyalah harta, bram” sahut Adel.


“No problem. Kalo emang begitu, berarti itu tantangannya buat abram. Berarti abram harus lebih giat buat bangun malam. Minta sama Alloh, agar diberikan petunjuk. Agar diberikan jalan menuju sukses” potong Budi.


Adel tersenyum, matanya berkaca-kaca. Adel tahu, Budi tidak sedang menggombalinya. Dia bisa merasakan itu. Dia menaruh harapan besar, agar apa yang diucapkan kekasihnya itu bisa mewujud menjadi kenyataan.


“Bram”


Serta-merta dia memeluk Budi. Dia tak kuasa berlama-lama bertatap mata. Di dalam hati dia berdoa, agar Yang Maha Kuasa, meridhoi hubungan mereka.


Dalam hati juga Adel mengakui, kalau dia lelah, harus bertentangan terus dengan kedua orang tuanya. Dia ingin mengakhiri perbedaan pandangan ini.


Selama ini, dia belum menemukan kecocokan dari sekian lelaki yang dikenalkan orang tuanya. Semoga Budi, orang yang ke sekian yang dia cintai, bisa mengangkat status sosialnya. Sehingga bisa mendapat penerimaan sebagaimana bapaknya menerima Luki.


“Bram, ke teleng, yuk!” ajak Adel, tiba-tiba.


“Teleng?” tanya Budi kaget.


“Iya, teleng ria”


Adel tahu, Budi pasti sedang menimbang-nimbang, untuk menerima atau menolak ajakannya. Karena jarak antara dermaga baru ini, dengan pantai teleng ria memang lumayan jauh. Walau masih satu garis pantai. Sengaja dia melakukan itu, dia ingin mengetahui, sejauh mana kesungguhan Budi.


“Abram belum gajian, ta” jawab Budi. Adel terkesiap. Ternyata yang menjadi pertimbangan Budi tidak hanya satu, melainkan dua.


“Nggak papa, tata cuman pengen jalan-jalan di bibir pantai. Udah lama nggak mantai” jawab Adel.


Dia masih tetap dalam pendiriannya. Dia masih ingin mendengar apa jawaban akhirnya.


“Lewat atas dong? Kalinya lagi tinggi tuh” tanya Budi.


“Ya, mau gimana lagi”


“Yuk!”


Adel tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Budi terlihat bersemangat menuruti keinginannya.

__ADS_1


Memang, jarang ada lelaki yang menolak permintaannya. Tapi dengan tanpa kendaraan, artinya dia harus berlari, atau minimal berjalan kaki. Ini baru pertama kalinya Adel melihat ada lelaki yang mau. Mereka berjalan bergandengan tangan. Saling menjaga keseimbangan disaat melewati bebatuan dermaga.


__ADS_2