
Emang Adel nggak pernah kasih liat?” godanya.
Erika menggoda Budi dengan suara nyaris berbisik. Tatapan mata dan senyumnya itu, membuat Budi terpaku. Syahwatnya kian meninggi dan mulai menggelegak.
“Ha ha ha”
Erika tertawa lagi. Dia merasa lucu dengan ekspresi wajah Budi. Budi yang sadar kalau dikerjai, kembali garuk-garuk kepala. Dia menyeruput lagi kopi buatan Erika itu.
“Accident sih, pernah” celetuk Budi.
“Ha? Masa? Kok masih bengong gitu liat aku tanktopan doang? VC kali, bukan liat langsung” goda Erika lagi.
“Aku pulang ya, mbak. Serem lama-lama” kata Budi sambil beranjak.
“Eh eh, nggak bisa gitu, dong!” tolak Erika. Dia beranjak dari kursinya, lalu berjalan mendahului Budi.
“Kerjaan kamu belum kelar, maen pulang aja. Nggak bisa” lanjut Erika. Dia halangi pintu keluar dengan tubuhnya.
“Mbak, please! Syahwatku lagi tinggi. Aku nggak mau kelepasan” jawab Budi.
“Hempf. Come on, Bud! kita udah sama-sama dewasa. Bukan cuman kamu yang punya syahwat, aku juga punya. Tapi syahwat kan bisa ditahan. Fokus dulu kelarin kerjaan, udah itu terserah” jawab Erika sambil tergelak.
“Tapi mbak, “
“Lain cerita kalo kamu demam berat, campur flu, misal. Bisa aku terima. Keliatan mata, gitu. Kalo syahwat, itu bukan penyakit. Nggak bisa diterima alasan itu”potong Erika.
“Huuffftt” Budi menghela nafas berat.
“Udah hayu, kelarin dulu! Trauma aku didemo kaya kemarin” ajak Erika.
Dia menggamit tangan kanan Budi dan menariknya pelan untuk kembali ke kursinya. Dengan pikiran kacau, Budi mengikuti. Pemandangan di depannya semakin memompa syahwatnya. Setiap satu langkah kaki Erika bagaikan menambah satu bar tekanan syahwat untuk Budi.
*Sreett*
“Bud?”
*Duukk*
Budi memepet Erika ke tembok.
*Cuupp*
“Eemmm, Bud. Eeumm”
*Cuupp*
“Eeemm, Bueemm”
***
Petir yang menyambar-nyambar bagai tak berkesudahan ini cukup mengganggu bagi yang sedang lelap tertidur. Suaranya memekakkan telinga. Jauh lebih keras dari suara toa masjid di kejauhan sana. Sendirian di rumah membuatnya sedikit takut. Walau awalnya enggan untuk beranjak, tapi suara alarm yang juga sudah berbunyi, membuatnya beranjak juga dari ranjangnya.
__ADS_1
*TING TUNG. TING TUNG, TING TUNG*
Terdengar suara bel dari pintu depan. Dia yang sedang minum, terkesiap. Kepalanya menoleh ke kanan, ke arah pintu depan.
*TING TUNG. TING TUNG, TING TUNG*
Suara bel itu berbunyi lagi. Tapi dia tidak segera beranjak. Dia selesaikan dulu hajatnya menghilangkan dahaga.
“Siapa pagi-pagi buta gini bertamu. Nggak mungkin papa-mama” gumamnya.
*TING TUNG. TING TUNG, TING TUNG*
“Ya, sebentar” serunya.
*Ceklek, kriiit*
“Astaga, Budi?” serunya terkejut.
“Mbak Rika, aku minta maaf, ya? Semalam aku kelepasan. Aku khilaf”
“Kamu emang gila, Bud”
“Mbak, please. Katain aku semaumu, mbak! Tapi please maafin aku! Aku nggak pengen masalah semalem kebawa ke pekerjaan”
“Masuk dulu! aku bikinin teh. Kamu kedinginan, tuh”
“Mbak, please. Aku cuman mau minta maaf. Aku cuman butuh dapet maaf”
“Ya masuk dulu! Kalo pengen dimaafin, masuk dulu! Entar kamu sakit, aku juga yang repot”
“Duduk, Bud! kaya di istana presiden aja, pake nunggu dipersilakan” seru Erika dari arah dapur.
“Oh, iya” jawab Budi. Diapun duduk berhadapan dengan tuan rumah.
“Diminum dulu, Bud! biar anget” kata Erika mempersilakan.
“Mbak, ”
“Udah, diminum dulu! Mbangkang mulu jadi orang” potong Erika setengah memaksa.
Budipun mengalah. Demi mendapat kata maaf, dia meminum teh hidangan si tuan rumah. Dua teguk dia minum, lalu dia letakkan kembali. Dia menatap Erika dengan tatapan memohon.
“Ha ha ha” Erika tertawa melihat raut wajah Budi.
“Kok ketawa, mbak?” tanya Budi bingung.
“Bud, Bud. Pantesan si Vani tergila-gila sama kamu. Hati kamu tuh, bersih banget. Baru gitu aja takutnya udah kaya maling ketangkep warga” jawab Erika.
“Baru gitu aja?” tanya Budi makin bingung.
“Tuh, kan. Lama-lama aku kepelet juga nih, sama sikap kamu ini”
__ADS_1
“Aduh, jangan bikin makin pusing deh, mbak!”
“Ha ha ha ha” Erika malah tertawa lagi.
“Iya, sih. Aku emang kesel kamu paksa gitu. Kasar” kata Erika. Budi menahan nafasnya, menunggu kalimat lanjutan dari Erika.
“Tapi aku justru seneng” lanjut Erika.
“Hem?” Budi terkejut sekaligus bingung dengan kalimat itu.
“Ya. Dengan kondisi aku yang udah takluk di bawah kekuasaan kamu, kamu nggak serta merta jadi sombong”
“Eeeem” Budi belum menganalisa arah kalimat itu.
“Semalem itu, kamu sangat bisa jadiin tubuh aku sebagai pelampiasan. Kamu bisa pake punya aku buat nuntasin birahi kamu. Tapi kamu cuman minta tangan aku” kata Erika sambil tergelak.
“Oh” respon Budi pendek.
“Salah aku juga, sih. Aku pikir dengan pengalamanmu di perantauan sana, kamu udah biasa liat cewek dengan pakaian serba terbuka begitu. Nggak tahunya kalap juga. Ha ha”
“Maafin aku, mbak!” pinta Budi.
“Nggak ada yang perlu dimaafin, Bud. Aku anggap impas. Toh kamu nyarinya bantuan, bukan pelampiasan” jawab Erika.
“Makasih, mbak” kata Budi. kini dia sudah bisa tersenyum lega.
“Maafin aku juga, ya! Aku emang kurang cocok sama seragam itu, gerah. Dan kalo di rumah, ya seringnya begini aja” kata Erika. Dia menunjuk pakaiannya yang hanya tanktop putih dan hot pants. Budi tak langsung menjawab.
“Kalo nggak ada jadwal ketemu calon customer, kamu tahu sendiri kan, aku lebih suka pake kemejaku sendiri. Aku suka yang bahannya tipis, adem dipakeknya” lanjut Erika.
“Iya, mbak. Emang dasar akunya yang nggak bisa nahan diri” jawab Budi.
“Udah ah, jangan ngomong gitu! Kamu udah jujur, aku juga udah jujur, jadi sepaham, kan? Jadi nggak usah kaget lagi kalo entar aku bugil di depan kamu. Ha ha ha ha”
“Yee, tambah parah, dong?”
“Ya, maksud aku, nggak usah reaktif kalo aku tanktopan gini! Kalo emang udah nggak tahan, “
“Dibantuin?” sahut Budi.
“Ke toilet, lah. Usaha sendiri! Enak aja” seru Erika. membuat Budi tergelak.
“Kirain”
“Pegel tahu. Masih berasa ini juga”
Mereka terus berbincang dan bercanda sembari menunggu hujan reda. Setelah mereda, budi pamit untuk pergi ke bengkel kayunya. Erika mengijinkannya. Dia lepas kepergian Budi dengan lambaian tangan.
Di sepanjang jalan, pikiran Budi kini beralih ke tambatan hatinya, Adel. Bagaimanapun juga, kelakuannya semalam itu tidak bisa dibilang wajar. Bahkan bisa dibilang telah berhianat. Tapi untuk jujur ke Adel, Budi merasa seperti bunuh diri.
*Bud, jangan sekarang! Buktikan dulu kecurigaan kamu! Kalo emang kopi bikinan Erika bermasalah, itu bukan salah kamu. Kamu nggak perlu bilang sama Adel. Cukup kamu jaga jarak sama Erika. Dan jangan pernah ngulangin lagi*!
__ADS_1
Pas lagi briefing pagi, Adel sempat menanyakan kondisi Budi. Jelas nampak di matanya, wajah Budi yang gelisah. Tapi Budi tidak menjawab. Hanya bilang baik-baik saja.
*Tata tahu Bram, Abram pasti ngelakuin kesalahan. Bukan soal kerjaan, bukan soal keuangan. Tata yakin ini soal hati, soal cinta kita. Tata maklum kok Bram, kalo sekali waktu Abram khilaf saat lembur berdua sama Erika. Dia emang suka serampangan kalo pake baju. Tata tahu, Abram takut kehilangan Tata. Tata berharap, khilafnya Abram kali ini cuman seperti saat sama Vani. Kalopun lebih, jangan diulang ya, Bram! Tata nggak sanggup nahan cemburu. Cukup sekali ini aja! Tata anggap ini sebagai ganjaran atas kekhilafan Tata waktu itu*.