
Tak butuh waktu lama, Budi sudah dampai di tempat yang ditunjuk Sandi. Terlihat dai parkiran, Sandi sudah datang terlebih dahulu. Dia melambaikan tangannya ke arah Budi.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab Sandi.
“Minum apa?” tanya Sandi.
“Kopi item aja” jawab Budi.
Sandipun memesan kopi hitam dan susu soda untuknya sendiri. Budi bingung, saat Sandi menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.
“Lu kenapa, Ndi? Ada yang aneh sama gua?” tanya Budi.
“Selera lu nggak bisa ditebak ya, Bud. Gagal dapet yang kalem, sekarang deket sama yang petakilan” jawab Sandi.
Budi hanya tersenyum mendengar kata petakilan. Dari sini Budi bisa membaca, kalau Sandi sudah mengenal Erika lebih dari yang dikatakannya tadi.
“Gua cuman nyari tempat yang nyaman aja, Ndi. Gua nggak mungkin berlama-lama terpuruk. Kasihan temen-temen kerja gua” kata Budi.
“Itu dia yang mau gua omongin, Bud” sahut Sandi.
“Kenapa? Lu kenal Erika?” tanya Budi.
“Pastinya sih. Dia kan sahabatnya Adel” lanjut Budi. Sandi tersenyum mendengar analisa Budi.
“Erika itu, orang kita” kata Sandi, langsung pada intinya.
“Apa?”
Budi terkejut mendengar ucapan Sandi. Dia berusaha memahami apa yang dimaksud sandi pada ucapan itu.
“Adel juga orangmu, kan? Apa bedanya?” lanjut Budi.
“Nah, itu. Ada yang berbeda dari mereka berdua” jawab Sandi.
Budi kembali berpikir. Dia mencoba memetakan arah pembicaraan Sandi.
“Oke. Adel, anggota istimewa. Tanpa keahlian. Sedangkan Erika, pernah lu gembleng, jadi punya keahlian”
Sandi tersenyum mendengar analisa Budi. Tapi dia tidak segera angkat bicara lagi.
“What the matter, bro? Gua udah pasrah sama yang di atas. Kalo emang gua ditakdirin celaka, ya celaka. Kalo enggak, siapa bisa nyelakain gua?” tanya Budi.
“Ya. Itu bener. Dan gua nggak khawatir soal itu” sahut Sandi.
“Terus?”
“Ada satu hal yang mungkin sepele. Tapi gua takut lu denger hal itu dari orang lain. Atau lu nemuin kenyataannya sendiri. Kaya lu tahu kalo Adel itu mantan gua. Gua takut lu marah sama gua” jawab Sandi. Budi tergelak.
“Lu mau bilang kalo Erika itu mantan lu juga?” tanya Budi.
Sandi tidak segera menjawab. Dia mencebirkan bibirnya. Tanda kalau tebakan Budi tidak salah.
“Ya woles aja, bro! Nggak ada bedanya, keles” lanjut Budi.
“Beda, Bud” sahut Sandi.
__ADS_1
Budi menatap Sandi dengan tatapan penuh tanya.
“Gua sama Adel itu lama, setahun. Sama Erika, gua cuman sebulan”
“Terus?”
“Tapi Adel belum pernah Gua apa-apain. Kalo misalnya lu jadi nikah sama dia, lu bakal tahu kalo dia itu masih perawan. Sama sekali belum pernah gua sentuh. Bentuknya aja gua belum pernah liat. Beda urusan sama Erika”
“Oh” respon Budi pendek.
“Nah, kan. Itu yang gua takutin”
Untuk beberapa saat, Budi diam termenung. Seperti memikirkan apa yang telah dikatakan sahabatnya itu.
“Apalah arti keperawanan, Ndi. Kalo gua sendiri udah malang melintang di dunia pergituan” kata Budi kemudian. Sandi tersenyum mendengar ucapan Budi.
“Gua cuman mau ngomongin itu. Kalo lu nerima, ya alhamdulillah. Gua takut lu denger dari orang lain, yang ada kita berantem lagi, deh”
Budi tersenyum. Agak mengejutkan juga berita itu baginya. Tapi dia berusaha bertumpu pada logikanya. Dan berusaha menjadikan berita itu hanya sebagai sebuah angin lalu.
*Klung*
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Tertulis Erika sebagai pengirimnya. Budi langsung membuka pesan itu.
*Mas. Farah barusan nelpon aku. Dia bilang hari minggu ini akan ada kunjungan dari Brunei. Dan pak Paul minta mas buat masuk, nyambut tamu itu. Bisa sampe malem kayaknya, kaya pas ibu sakit dulu. Gimana? Bisa, nggak*?
Budi menghela nafas. Di saat kondisi pandemi begini, malah menerima kunjungan. Luar negeri, lagi.
*Apa nggak bahaya, Ka? Pertama, kita nggak tahu apa mereka sehat atau enggak. Terus, kalo ketahuan pemerintah, apa nggak bahaya buat kelangsungan bisnis perusahaan*?
Budi membalas pesan itu dengan mengeluarkan pandangannya.
Jawaban Erika menggelitik hatinya.
*Ya kalo pak Paul yang minta, mana bisa ditolak? Mending dateng, daripada disamperin munkar nakir*
Tanpa Budi tahu, di seberang sana, Erika tergelak membaca jawabannya.
Brandon sama Mike, ya? Hi hi hi
Gantian Budi yang tergelak membaca balasan Erika.
Sandi sampai penasaran, mengapa Budi cekikikan. Budi menceritakan percakapan pesan singkatnya dengan Erika. Dan Sandipun ikut tertawa.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Saat sedang menyeruput kopinya, tiba-tiba ponsel Budi berdering. Awalnya dia kira Erika yang menelepon, ternyata bukan. Dia meminta ijin Sandi untuk menerima panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, mas Eko” sapanya.
“Wa’alaikum salam, Bud. Lagi sibuk, nggak?” jawab orang di seberang telepon.
“Oh, lagi senggang, mas. Kenapa?”
“Gini, Bud. Hari minggu besok ada acara, nggak?” tanya mas Eko.
“Waduh. Kenapa emangnya, mas?”
__ADS_1
“Hem. Roman-romannya udah ada jadwal nih, minggu. Bisa ditunda, nggak? Pak Janto mau ijin lagi. Aku nggak ada sopir lagi. Aku mesti kirim ke ponorogo lagi. Sopir cabutan bikin ngeri. Bisa bantu, nggak?” jawab mas Eko.
“Aduh. Gimana, ya? Hari minggu aku ada tamu LN di pabrik. Sama si bos suruh ikut nyambut. Kata atasan saya sih, bisa sampe malem, mas” jawab Budi.
“Lah. Lagi pandemi kok malah nerima tamu dari LN?”
“Aku juga nggak tahu, mas. Pastinya udah dipikirin sama si bos”
“Yah. Gimana, ya? Ikannya banyak, Bud. keting aja udah aku siapin seperempat ton. Sama yang lain takut dikentit, kaya dulu”
“Kita lihat nanti ya, mas. Siapa tahu aja dibatalin”
“Oke, Bud. Kabarin ya!”
“Sip”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Budi tampak merenung setelah sambungan telepon ditutup. Dia sedang menimbang-nimbang mana yang akan dia dahulukan.
“Bud”
Suara Sandi sukses membuyarkan lamunan Budi.
“Sepupu lu punya jasa gede, waktu lu jobless. Masa lu nggak mau bantuin? Ketingnya seperempat ton sendiri lho, yang mau dikirim” tanya Sandi.
“Itu dia, Ndi. Ini gua lagi nyusun waktunya, nih. Keburu apa enggak, gitu” jawab Budi.
“Ijin telat aja kali. Masa iya, Paul nggak kasih ijin. Kan lu mau jadi anaknya” saran Sandi.
“Kok lu tahu?” tanya Budi kaget.
“Hempf. Ha ha ha ha. Gua juga lagi di sono kali, pas kalian makan siang bareng” jawab Sandi.
“Kampret. Lu nguping?”
“Ha ha ha ha. Enggak, lah. Kurang kerjaan. Asal nebak aja, yang barusan. Eh, ekspresi lo kaya gitu. Udah fix itu sih. Ha ha ha ha”
“Suwek”
Sandi masih tertawa. Dia membayangkan bagaimana keadaannya kalau Budi benar-benar jadi anaknya pak Paul.
“Eh, Bud. Ada Ladu Singh” kata Sandi.
Dia menunjukkan mobil patroli polisi yang mendekati warung makan tempat mereka duduk sekarang.
“Terus?”
“Mending bubar dulu deh, kita. Pura-pura beli makan buat dibungkus. Daripada diciduk” jawab Sandi.
“Tumben lu takut?”
“Lagi males aja, debat sama mereka. Abis diambegin Sephia” jawab Budi.
“Halah. Kalahnya malah sama Sephia” komentar Budi.
__ADS_1
Tapi diapun beranjak mengikuti Sandi. Dia memesan sebungkus nasi dan es teh. Tepat di saat polisi yang sedang berpatroli itu masuk memeriksa kondisi warung. Karena mereka sudah mengenal Sandi dan Budi. Mereka hanya sekedar basa-basi saja.
***