Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sepupu tak ada akhlak


__ADS_3

Hari ini, Budi masih menjalani pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Setelah kemarin diusir pak Kusno, otomatis pak Tino membawa kuli baru untuk menggantikan mereka.


Bedanya, dari tiga orang yang dibawa, satu diantaranya adalah tukang juga. Jadi ada dua tukang dan tiga kuli. Budi sangat bersemangat mengawali pekerjaannya. Ketiga rekan kerja baru ini sangat ramah dan sopan. Dan mereka juga belum mengenal Budi. Artinya, mereka bukanlah orang dari kampung sini.


Budi tak menolak walau dikasih tugas mengangkut ember berisi semen. Sedangkan kedua rekanya masing – masing mengayak pasir dan mengaduk semen. Bukan berarti Budi tidak bisa mengaduk semen.


*CEPROOOT*


"ANJ***"


Sedang semangat – semangatnya bekerja, tiba – tiba ada yang melemparkan kotoran sapi ke arah pondasi yang mereka bangun. Dua orang bertopeng berlari setelah berhasil melemparkan sekarung kotoran sapi. Kotoran itu telak mengenai kuli yang mengayak pasir. Tubuhnya penuh dengan kotoran sapi.


"BANG***!!! JANGAN LARI SE***!!!"


Pak Tino sempat mengejar dan melemparkan batu pada kedua orang itu. Tapi sayang, mereka berhasil menyelinap diantara pondasi rumah warga. Tetangga yang mendengar keributan itu sontak keluar dan bertanya. Mereka tampak prihatin dan berjanji akan menangkap mereka kalau ketahuan sama mereka.


"Aku ke kali dulu, ya?" kata kuli yang terkena kotoran tadi.


"Iya, pak. Dikawal, nggak?" sahut Budi.


"Nggak usah, Bud. Kaya bupati aja, dikawal" jawab kuli itu sambil tersenyum.


Si kuli yang terkena kotoran itu lantas pergi ke kali untuk membersihkan badannya. Sedangkan tetangga yang merupakan ibu – ibu, kembali ke dalam rumah, untuk meneruskan aktivitas mereka.


"Awas Buud!"


*BRUAAASSS*


Di saat Budi dan yang lain sedang fokus meneruskan pekerjaan, ada kejadian lagi. Ada yang melemparkan kantung plastik hitam besar. Pak Tino sempat melihat mereka, dan memperingatkan Budi dan si tukang aduk semen. Naas, si tukang aduk semen telat menghindar. Dia menjadi korban kejahilan orang tak dikenal. Ternyata kantung plastik hitam besar itu berisi air kencing sapi.


"BANG*** CARI MATI LO?"


Pak Tino berteriak lagi sambil mengejar. Budi juga ikut mengejar. Hampir saja berhasil, tapi mereka seolah menghilang begitu saja di balik rimbunnya rumpun bambu.


Agak lama Budi mencari mereka. Dia berpikir akan ada lubang atau tempat persembunyian semacamnya di sekitaran rumpun bambu itu, tapi nihil. Dia kembali ke tempat dia bekerja.


Si tukang ayak pasir sudah kembali.


Dia kaget melihat temannya jua menjadi korban. Dia misuh –misuh, geram dengan kejahilan orang tak dikenal itu. Si tukang ayak sudah berganti pakaian. Dari tampilannya, sepertinya itupakaian khusus untuk sholat. Tapi terpaksa dia kenakan. Gantian si tukang aduk semen yang pergi ke kali, untuk membersihkan diri.


Kini mereka semua waspada. Mereka memasang posisi berbeda. Masing – masing mengawasi satu ruas jalan. Sedangkan Budi, dia sengaja berjalan memutar saat mengangkut ember semen. Dengan harapan, jika muncul lagi orang jahil itu, mereka bisa langsung bereaksi.


*SRAAASS*


Tanpa mereka duga, ternyata kejahilan itu terulang kembali. Bahkan di saat mereka tidak melihat siapapun melintas. Yang terakhir ini sangat keterlaluan. Bukan lagi kotoran binatang, melainkan kotoran manusia yang sudah encer dan sangat bau. Dan kali ini, Budi yang menjadi korbannya.


Mereka kebingungan, dari mana orang – orang jahil itu menyiramkan kotoran itu? Budi sempat medongakkan kepalanya, dan melihat bayangan orang berlari di atas genteng tetangganya. Dia menunjukkannya pada yang lain.


"MATIIN AJA ORANG ITU!!"


"AYO PAAK"


Pak Tino dan kedua rekannya langsung mengejar. Sedangkan Budi berjalan menuju sungai. Saat melewati rumah tetangganya, beberapa pemuda seumurannya sedang nongkrong di teras rumah tetangganya itu. Mereka menertawakan dan mencemooh Budi yang sedang berlepotan kotoran manusia. Budi tidak menghiraukan mereka.


Saat kembali dari sungai, pemuda – pemuda tadi sudah tidak terlihat lagi di tempat tadi. Tampaknya mereka sudah bubar. Tapi saat dia hendak masuk kembali ke dalam pondasi, tempat dia bekerja, dia melihat ada orang yang mendekat. Dia adalah sepupunya, anak pakde Kusno. Dia datang dengan tertawa terbahak – bahak.


“Bud, Bud. Kamu itu gimana sih? Ditawarin ibuku buat nguras septik tang, kamu nggak mau. Kamu lebih milih kerjaan yang panas – panasan gini. Ujung – ujungnya kamu kesiram eek juga. Ha ha ha ha”


Budi tidak menghiraukannya. Dia berlalu saja, kembali mengangkut ember semen yang sudah diidi si tukang aduk semen.


“Masih bau, Bud. Mending kamu mandi lagi, deh. Kasihan pak Tino, kebauan. Eek siapa lagi itu ya? Encer banget, mana warna – warni gitu. Hii weeeekkk” lanjut sepupunya.


Budi masih tidak menghiraukannya. Dia masih asyik mengangkut ember semen, dan memberikannya kepada pak Tino dan tukang satunya.


“Woe, adi, jadi nggak?”


Sebuah teriakan menyentakkan mereka. Ternyata itu anak – anak yang nongkrong tadi. Dia memanggil sepupunya Budi.


“Ih, bau apa sih, ini? Wooeeekk. Anj***, ngalahin eek kebo” sahut yang lain.


“Itu, si Budi, kurang bersih mandinya” jawab sepupunya Budi.


“Wooo, udah nggak kuat beli sabun, Bud?”


“Abis kali, buat ngi****”


“Ha ha ha ha”

__ADS_1


Mereka terlihat bahagia sekali bisa meledek Budi sampai jelek. Tapi Budi masih tidak menunjukkan reaksi. Dia masih bekerja seolah – olah mereka tidak ada.


“Eh, di, udah tahu bau, ngapain kamu ngejogrok di sini?”


“Ini, tadinya aku mau ngasih minum ini buat Budi. Eh, malah dicuekin mulu”


“Woooo, ngajak ribut ini”


“Sikat aja Di, kelamaan” saut yang lain memprovokasi



“Nih, Bud, minumnya. Nggak tega aku ngeliat sepupuku kesiram eek orang kaya gitu. Pahit kan mulutnya? Ada yang masuk pasti, ke mulut” kata si Adi.



“Woeeekk, hiii, gimana rasanya nyicip eek encer kaya gitu” sahut yang lain.


“Woeeek, ahh, an****. Mual perut aku” sahut yang lainnya lagi.


“Sampeyan ke sini cuman mau ngeledek Budi?” tanya pak Tino dengan muka marah.


“Wois, sabar Pak Tino” sahut Adi.


“Iya ih, pak Tino. Ngapain sih ikut – ikutan? Udah tua tu diem aja lah. Nggak usah ikut – ikutan urusan anak muda!” sahut yang lain.


“Saya ke sini cuman mau kasih minuman ini sama sepupu saya, pak” lanjut si Adi.


“Ya udah, taruh situ aja. Apa kamu picek, Budi lagi kerja gitu? Ha?” bentak pak Tino.


“Wooo, berani sampeyan, pak, sama Adi?” sorak teman – temannya Adi.


“Udah, udah. Pak Tino bener. Jangan ganggu orang kerja. Kaya kita nggak ada kerjaan aja” lerai si Adi.


Budi bingung setengah geli mau tertawa. Dia bertanya dalam hati, memangnya pekerjaan mereka apa, selain nongkrong?


“Oh iya, Bud. Aku juga mau kasih tahu aja. Ada kenalannya bapak di jogja, dia pengusaha resto terkenal di sana” kata si Adi.


Entah mengapa si Budi tiba – tiba mendengarkannya. Iya sih, dia berpikir kalau mungkin si Adi akan memberinya informasi lowongan pekerjaan. Budi tidak peduli dari siapapun info itu berasal, asalkan benar, dia akan masuki.


“Dia nggak punya penerus, Bud. Kesempatan buat kamu. Kamu ke sana, lah. Aku kasih alamatnya, entar” lanjut si Adi. Budi semakin menaruh perhatian padanya.


“Pengusaha itu royal. Ngasih kamu gaji gede juga nggak ngabisin duitnya” lanjut Adi lagi. Wajah Budi berubah menaruh harapan.


“Cuman, dia nggak punya istri. Bulek kan masih semok, masih montok, to***nya” lanjut Adi sambil membuat lingkaran di depan dadanya.


“BANG***”


Budi berteriak sangat kencang,membuat semua yang di situ terkejut. Sekonyong – konyong dia berlari ke arah Adi. Mengetahui dirinya ditarget Budi, Adi sontak berlari menghindarinya. Awalnya dia berlari sambil tertawa. Tapi hanya beberapa meter saja.


“HYAAAAAT”


Budi melompat ke udara, sambil melayangkan tendangannya.


“BUKK”


“AAHH’


Adi terkena jejakan kaki Budi dengan telaknya. Dia jatuh tersungkur dan berguling – guling. Budi masih mengejarnya.


“BUKK, BAK, BUK, BAK, BUK”


Budi menghadiahi wajah Adi dengan bogem mentah. Bertubi – tubi sampai memerah dan bengkak wajah itu.


“BUKK”


Disaat diserang dengan gencar, ternyata Adi masih sempat menjejakkan kakinya ke punggung budi. Sontak budi tersungkur ke depan. Adi langsung bangkit dan berlari menuju teman – temannya. Tapi Budi juga tak kalah sigapnya. Dia segera bangkit dan mengejar. Terlihat kalau Adi hendak besembunyi di antara teman – temannya. Mereka juga sudah bersiap menyambut Adi, dan hendak melindunginya. Tapi jumlah mereka sama sekali tak membuat nyali Budi menciut. Saat sudah berada di radius serang, Budi melompat lagi.


“BANG***”


“BUAAAKK”


“AAHHH”


Sebuah tonjokan penuh tenaga, sanggup menimbulkan suara yang cukup keras. Membuat Adi yang terkena tonjokan di bagian belakang kepalanya, harus kembali tersungkur, berguling – guling dan tidak bergerak.


“Budi, cukup, ngger!” teriak pak Tino, saat Budi masih hendak mengejar Adi lagi.

__ADS_1


Sedangkan Adi sendiri sudah tidak bergerak sama sekali. Darah keluar dari hidungnya.


“Eh, eh, eh, Adi pingsan. Kita bawa ke rumahnya, yuk!” ajak teman Adi.


“Yuk, yuk, yuk” sahut yang lain.


Ternyata orang sebanyak itu takut semua melihat jagoan mereka terkapar tak berdaya. Mereka menggotongnya beramai – ramai ke rumah pak Kusno.


“Tarik nafas ngger!” pinta pak Tino.


Budi mendengarkan apa yang dikatakan pak Tino. Dia menghela nafas panjang guna meredam emosinya. Dia sadar, masalah baru akan segera dimulai. Dia paham betul tabiat budenya. Dia tidak akan terima anaknya disakiti siapapun.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil dikeluarkan dengan tergesa – gesa dari garasi mobil pak Kusno, dan langsung tancap gas kearah barat. Budi bisa menduga, kemana arah mobil itu menuju, rumah sakit.


Pekerjaan terhenti, banyak warga berkerumun dan menanyakan kejadian beberapa saat yang lalu. Budi enggan menanggapi. Dia sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya.


Benar saja, sekitar setengah jam kemudian, ada dua orang petugas dari polsek yang datang menemuinya. Maksud kedatangan mereka tak lain untuk membawa Budi ke kantor polisi, untuk dimintai keterangan. Pak Tino menyarankan kepada budi untuk kooperatif. Dan Budi mengiyakannya.


##########


Di tempat lain, bu Ratih terjeut bukan main, dan langsung panik mendengar kabar, anak laki – lakinya dibawa ke kantor polisi. Beliau langsung mengambil tas tanpa mempedulikan dagangannya. Beruntung, teman seprofesinya ada yang berkenan mengurusi dagangan yang dia tinggalkan.


“Ngger, kamu kenapa, ngger?” tanya bu Ratih saat sudah berada di kantor polisi.


“Sama seperti kemarin, bu” jawab Budi lirih.


“ Kenapa? Adi ngeledek kamu? Kamu tersinggung, ngger?”


“Bu, dari tadi kita kerja ada yang ngejahilin mulu. Kita dilempar kotoran sapi, kencing sapi. Sampe Budi disiram kotoran manusia, bu”


“Astaghfirulloh, beneran, ngger?”


“Beneran. Tapi oke,lah. Budi nggak terlalu emosi, sekalipun Budi yang jadi korban. Karena menang kita nggak tahu siapa yang ngelempar kotoran itu” jawab Budi.


“Tapi demi apapun bu, Budi tidak terima saat dia menyebut nama ibu, hanya untuk dijadikan bahan hinaan” lanjut Budi dengan suara menggeram penuh emosi.


“Tapi kan dia anaknya Pakde Kusno, ngger. Cuman pakde Kusno yang selalu bantuin kita. Apa kamu nggak mikirin itu dulu?” tanya bu ratih lirih, penuh kesedihan.


“Kenapa Budi harus mikir itu, bu? Sedangkan dia saja sama sekali nggak mikir siapa yang dia hina itu” jawab Budi. Bu ratih terkesiap.


“Kalau memang pakde kusno tidak terima, Budi tidak akan membantah apalagi melawan. Beliau pengen melakukan yang setimpal, Budi tidak akan melawan” lanjut Budi.


“Udah, ngger. Jangan mikir terlalu jauh. Pakdemu kusno bukan orang yang suka main kasar. Kamu yang sabar aja, ya. Ibu akan coba ngomong sama pakde kusno” kata bu Ratih.


“Enggak perlu, Tih” sebuah suara mengejutkan mereka.


“Mas kusno?” gumam bu Ratih.


“Anakmu nggak salah. Anakku yang udah kelewatan. Maafin Adi ya, Tih!” lanjut pak Kusno.


“Ma, ma, maksud mas kusno?”


“Tadi, teman – temannya Adi udah cerita sama aku. Ternyata dia dan kuli – kuli yang aku pecat kemarin, yang ngerencanain teror tadi, Bud” jawab pak Kusno.


“Balas saya, pakde! Saya yang bikin Adi masuk rumah sakit” kata Budi.


“He hem” pak Kuno tergelak.


“Ya, jiwa kesatria memang harus begitu. Mau mengakui kesalahannya sendiri. Dan berani menerima resikonya” jawab pak Kusno.


“Enggak, jangan. Jangan, mas Kusno! Aku saja. Aku saja yang mewakili Budi. Timpain aja semuanya ke aku, mas” sahut bu Ratih.


“Berarti kamu nggak sayang sama anakmu, Tih” sahut pak Kusno.


“Maksud mas Kusno?”


“Balasan dariku, adalah kebebasanmu, Bud. Aku mencabut tuntutan yang dibuat oleh budemu” jawab pak Kusno.


“Mas kusno nggak bercanda, kan?” tanya bu Ratih, masih tidak percaya.


“Aku ngerasa iri sama kamu, Tih. Kamu dikaruniai anak yang berbakti. Mikul duwur, mendem jero, tehadap orang tuanya. Aku kebalikannya. Aku merasa didelep – delepne ke dalam lumpur, sama istri dan anakku sendiri” sahut pak Kusno, panjang tapi tidak menjawab pertanyaan.


“Hayu pulang. Nunggu apa lagi?” lanjut pak Kusno.


“Alhamdulillah” seru bu Ratih. Dia memeluk Budi dengan eratnya.


Di depan, tampak banyak orang berkerumun. Mereka sedang diperiksa petugas. Ternyata benar apa kata pak Kusno. Memang ada kelima teman – teman Adi tadi, dan juga ketiga kuli yang kemarin dipecat pak Kusno. Mereka tampak tertunduk malu, bahkan saat Budi berjalan melewati mereka. saat salah satu teman Adi menatapnya, Budi tidak memasang muka girang. Dia malah merasa kasihan. Karena sebetulnya, mereka hanya ikut – ikutan Adi saja. Budi lemparkan seulas senyum penyemangat buat orang itu. Orang itu balas tersenyum pada Budi.

__ADS_1


*****


__ADS_2