Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
otak boleh bermasalah, tapi hati tetap siaga


__ADS_3

Setelah hari kemarin gagal ijin setengah hari karena ada urusan dengan finance, hari ini Stevani mengajukan cuti. Dia ingin menemani Budi, sekaligus mengantarkannya pulang. Karena, menurut kabar yang disampaikan bu Ratih, hari ini Budi sudah boleh pulang. Ada Erika juga yang ikut dengannya, meski dengan kendaraan yang berbeda.


Dia mendapatkan mandat dari pak Paul untuk mengurus administrasi rumah sakit Budi. Kebetulan sekali, pak Paul sedang ada meeting dengan customer di luar kota. Dia juga ikut sedih, saat mendapati Budi tidak mengingatnya.


“Ibu, administrasinya sudah beres. Apa semua perbekalan sudah beres?” tanya Erika. dia masuk ruang perawatan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


“Oh, ya Alloh. Makasih ya, mbak Erika. Harusnya tidak perlu sampai begitu, mbak” jawab bu Ratih.


“Semua karyawan mendapatkan hak yang sama kok, bu. Nggak perlu ngerasa nggak enak begitu, bu”


“Mbak, bantu bawain, ya!” pinta Stevani.


“Iya” jawab Erika.


Merekapun segera keluar dari kamar rawat. Tak lupa bu Ratih dan Putri berpamitan kepada keluarga pasien lain. Saling bertukar doa juga mereka lakukan, agar sama-sama segera diberikan kesembuhan.


“Kamu nggak ikut, mbak?” tanya Stevani, saat mereka sudah naik ke mobil.


“Pengennya sih, ikut. Tapi ada tugas dari pak Paul yang harus aku kelarin secepatnya”


“Ya udah, kita cabut dulu ya, mbak?” pamit Stevani.


“Iya”


Mobilpun melaju meninggalkan lapangan parkir rumah sakit. Melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah utara kota.


Di tempat lain, Adel juga baru saja melaksanakan pemeriksaan di rumah sakit. Tapi bukan di rumah sakit di kota ini, melainkan di kota jogjakarta.


Menurut hasil pemeriksaan di rumah sakit ini, tidak ada kerusakan atau cedera serius di otaknya. Hanya ada luka kecil akibat benturan. Menurut prediksi dokter, ingatan Adel akan segera pulih.


Dokter memberikan beberapa jenis obat, yang dimaksudkan untuk mempercepat kesembuhan luka kecil itu. Dengan begitu, luka itu tidak akan menjadi infeksi, yang akan menimbulkan kerusakan lebih lanjut.


Selama perjalanan, dan proses pemeriksaan, Madina selalu waspada, dan siap sedia memberikan apapun yang kakaknya butuhkan. Sikapnya yang ringan tangan itu membuat Adel terenyuh.


Dia berdoa, semoga dia cepat mendapatkan kembali ingatannya. Dan dia berjanji akan melakukan hal yang sama, jika Madina memerlukan bantuannya.


Sesampainya di jalan masuk kampung, beberapa orang menyapa dan menanyakan kabar. Mereka mengikuti mobil Stevani yang dilajukan sangat pelan. Semakin mendekat ke rumah Budi, semakin banyak juga yang mengikuti mobil itu. Begitu berhenti, beberapa orang bapak-bapak langsung sigap membukakan pintu. Utamanya untuk bu Ratih dan Budi.


“Ya Alloh, bu. Udah sehat, Budinya? Maaf ya bu, mau nengokin, tapi bapaknya belum terima bayar. Kan nggak enak kalo nengokin datang orang doang” kata salah satu tetangga.


“Iya, nggak papa, bu. Makasih banget, udah ngebantu doa” jawab bu Ratih.


“Bu Ratih, tadi ada yang nganterin motornya Budi. Langsung ditaruh di dalem. Itu, yang juragan ikan” kata seorang bapak-bapak.


“Oh, keponakan saya ya, pak?”

__ADS_1


“Iya”


“Oh, makasih ya pak, infonya”


“Gimana kejadiannya, bu? Ini beneran, si Budi kehilangan ingatannya?” tanya ibu-ibu yang lain.


“Kita ngobrol di dalem, yuk! Nggak enak ngalangin jalan” ajak bu Ratih.


“Oh, iya. Hayuk!” jawab mereka setuju.


Mereka bersiap untuk masuk ke dalam rumah bu Ratih. Sempat bu Ratih menoleh ke arah Stevani. Seolah paham, Stevani tersenyum dan mengangguk. Dia lantas memarkirkan mobilnya di halaman rumah bu Ratih.


“Eh, keponakanku sudah pulang. Gimana perkembangannya selama di rumah sakit, ngger? Krasan?”


Sebuah suara yang cukup menyentakkan angan Stevani. Sapaan itu terlalu sinis untuk diucapkan oleh seorang pembenci sekalipun. Walau dia tidak ingat siapa yang berbicara di depannya itu, tapi Budi merasakan kalau suara itu sangat tida pantas untuk diucapkan. Tapi dia memilih diam.


“Alhamdulillah, mbak. Banyak perkembangan. Dan karena hari ini Budi sudah bisa berjalan sendiri, makanya dibolehin pulang” jawab bu Ratih.


“Kenapa buru-buru? Pastiin dulu dong, sampai sembuh. Kan katanya, budi keilangan ingatan”


“Bu Kusno, ini mau nyambut apa mau ngeledek?” tegur salah satu warga.


“Heh, kamu siapa, berani negur aku?” sentak bu Kusno.


“Ada yang mau cari perkara nih, Bu” kata pemuda di sebelah bu Kusno.


“Oh, udah mulai berani sekarang” seru Adi.


“Ngger, cah bagus, udah! Tujuan kita ke sini kan mau nengokin sepupu kamu. Bukan mau cari ribut. Kalo mereka nggak suka, itu bukan urusan kita. Biarin aja!” kata bu Kusno memperingatkan anaknya.


“Mending, Budi dibawa ke jogja aja, bulek. Rumah sakitnya kan lebih bagus. Alat buat mendeteksi badan juga lebih canggih. Biar bisa dideteksi, itu otak Budi, rusaknya temporary, apa permanen. Jangan sampe jadi permanen!” kata Adi, seolah memberikan saran.


“Duit dari mana, di. Kamu kalo ngasih saran mbok ya yang realistis” tegur ibunya. Seolah mengoreksi perkataan anaknya.


“Gampang itu sih, bu. Tinggal telepon bosnya Budi aja, bu! ajak kencan sekali juga beres” jawab Adi.


Tanpa mereka sadari, budi menunjukkan reaksi yang tidak terduga. Kedua tangannya mengepal, matanya memerah, dan giginya gemeretak.


Perlu beberapa saat untuk mereka menyadari hal itu. Mungkin benar, ingatan Budi sedang bermasalah, tapi tidak dengan alam bawah sadarnya.


Rasa sayang kepada ibunya tetap berada dipermukaan sanubarinya. Dan nada-nada merendahkan semacam itu, masih terpatri dengan kuat di telinganya.


Sekalipun otaknya belum mampu mengingat jati dirinya, tapi sanubarinya langsung bereaksi ketika telinganya mendengar ejekan yang ditujukan kepada bu Ratih. Sanubari Budi langsung menembakan emosi tingkat tinggi.


*WUUUUSSS*

__ADS_1



*BUAAAKKKK*


“ADIII”


Suara teriakan bu Kusno terdengar membahana, mengiringi terbangnya Adi, karena tonjokan Budi. Dia mendarat cukup jauh. Di gundukan tanah yang dia datangkan tempo hari.


“WUUUU"


“RASAKNO”


“MODAR ORA, KOWE?”


Sorak sorai, sumpah serapah membahana memenuhi udara. Sekian banyak tangan menunjuk ke arah keduanya. Dan rasa marah dalam dada Budi belumlah usai. Dia bergerak menghampiri Adi.


“Mas Bud, udah mas!” seru Stevani.


Dia berusaha menahan tubuh Budi. Untuk sejenak, Budi menghentikan langkahnya. Hal itu memberikan kesempatan untuk Adi berdiri. Mata Budi masih tajam menatap setiap pergerakan Adi.


“Eh, keponakan nggak tahu diri. Udah bagus ya, keponakanmu mau ngasih saran. Malah ditonjok. Awas kamu, ya! Aku pastiin, ngandang kamu, di penjara” kata bu Kusno dengan nada berteriak.


“HUUUUUU”


“*&^$#%&*(&”


Segala macam komentar dari warga keluar bersamaan. Suaranya bising, dan pastinya sangat terasa memancing emosi bagi orang yang dituju.


“Eh, dasar b*b* lo. Udah lupa ingatan aja masih belagu. Pengen sembuh, ya berobat. Nggak punya duit, ng*w* dulu semalam! Bener, kan?” kata Adi.


Budi sudah tidak bisa menahan diri. Dia memanfaatkan kelengahan dari Stevani untuk merangsek maju.


“BUD”


Sekalipun tangannya sempat memegang tangan Budi, tapi kali ini Budi sudah tidak bisa dikendalikan. Dengan santainya dia memutar arah sambil berkelit dari cengkeraman tangan Stevani. Lalu, dia merangsek maju mengejar Adi.


“LARI NGGER!”


Beberapa orang warga mengejar Budi. Mereka mengikuti permintaan bu Ratih, yang tidak mau sampai terjadi tragedi.


BUAAAAKK


Adi tersungkur setelah mendapatkan satu tendangan melayang dari Budi. Walau dia sudah berhasil membuat jarak dengan melompati gundukan tanah setinggi satu setengah meter.


“Bud, udah Bud!”

__ADS_1


Para bapak-bapak langsung mengerumuni Budi. Dia menahan agar Budi tidak melanjutkan kemarahannya. Budipun mengalah. Terlebih, dia merasakan kepala menjadi sakit, berdenyut-denyut. Saking sakitnya, dia sampai mengerjab-ngerjabkan matanya.


Dalam pandangan mata yang kabur dan berputar-putar, Budi melihat Adi dan ibunya lari tunggang-langgang. Setelah denyutan kepalanya mereda, dia kembali ke rumah, diiringi para warga yang bersimpati kepada keluarganya.


__ADS_2