Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Jordan dan yang lainnya telah tiba di rumah utama. Pria tangguh itu terlihat sangat khawatir. Ia berlari kencang dan masuk ke dalam rumah utama.


Zeroun memperhatikan halaman depan rumah utama. Wah sudah dirapikan, tapi tetap saja belas kekacauan itu masih terlihat jelas. Ada bercak darah dipermukaan rumput yang ada di sekitar taman depan.


Katterine mengeryitkan dahi saat melihat Jordan panik seperti itu. Selama ini memang kakak kandungnya itu tidak pernah bersikap ramah kepada wanita manapun. Jordan terlibat jauh lebih cuek dan selalu bersikap dingin dengan wanita. Tapi, tidak dengan Leona. Pria itu terlihat sangat khawatir.


Jordan menghentikan langkah kakinya saat melihat Serena, Aleo dan Daniel duduk di ruangan keluarga. Pria itu berjalan mendekati Serena untuk menanyakan keberadaan Leona.


"Tante, apa Tante baik-baik saja? Jordan dengar, rumah utama di serang sore tadi," ucap Jordan dengan wajah khawatir.


Serena mengukir senyuman. "Kami baik-baik saja. Hanya saja, Leona ...." ucapan Serena tertahan. Hal itu membuat Jordan semakin tidak tenang.


"Tante, dimana Leona?" tanya Jordan cepat.


"Leona ada di kamar bersama Kwan," jawab Aleo cepat. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Pergilah temui mereka. Sepertinya mereka sedang bersiap-siap," ucap Aleo pelan.


"Bersiap-siap? Sebenarnya mau kemana Leona pergi?" gumam Jordan di dalam hati.


"Serena, apa kau baik-baik saja?" ucap Emelie dengan wajah khawatir.


"Kakak, siapa yang sudah menyerang rumah utama," ucap Shabira dengan wajah tidak kalah panik dari Emelie.


Jordan memandang wajah Zeroun sebelum memutar tubuhnya. Pria itu ingin segera menemui Leona untuk mengetahui apa yang telah terjadi.


***


"Kak, kita harus tunggu keputusan dari Jordan dulu. Aku tidak mau kalau kita pergi ke Jerman berdua saja," ucap Kwan dengan wajah serius.

__ADS_1


Sebelum kenal dan akrab dengan Jordan, Kwan tidak pernah mempermasalahkan pergi berdua bersama Leona. Tapi, semenjak ada Jordan. Kalimat yang seharusnya diselipi dengan kata berdua kini telah berubah menjadi bertiga.


"Kau terlalu mendukungnya. Belum tentu dia juga baik seperti apa yang kau pikirkan," ucap Leona sambil memeriksa ponsel yang ada di tangannya.


Kwan berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia berbaring dengan posisi yang sangat nyaman. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Kak, aku ingin mengungkapkan cintaku pada Alana. Tapi ... aku takut di tolak," ucap Kwan tanpa memandang.


Leona memandang Kwan sejenak. "Kenapa kau tidak mencobanya? Apa kau takut di tolak lagi?" tanya Leona.


Kwan mengukir senyuman. Pria itu duduk di tengah-tengah tempat tidur dan memandang wajah Leona. "Kak, ajari aku cara mengungkapkan perasaanku kepada wanita. Bukankah kau sering mendapatkan penyataan cinta dari pria dulu." Kwan terlihat sangat serius.


"Itu dulu. Untuk saat ini, aku tidak ingat lagi," jawab Leona dengan wajah malas.


Kwan mendengus kesal. Pria itu berjalan mendekati Leona. Ia ingin belajar cara mengungkapkan perasaannya kepada Alana.


Leona terlihat tidak tertarik. Wanita itu mengikuti langkah kaki Kwan dengan wajah malas. Ia tidak suka melakukan permainan konyol seperti itu. Tapi, untuk menolak permintaan Kwan, Leona tidak tega.


Kwan berdiri di hadapan Leona. Pria itu mengatur napasnya agar wajahnya bisa serius. Kali ini ia benar-benar ingin latihan sebelum mengungkapkan perasaannya dengan Alana.


"Alana, kau wanita yang sangat spesial," ucap Kwan pelan.


"Itu terlalu berlebihan," protes Leona sambil membuang tatapannya.


"Kak, lalu yang benar bagaimana?" ucap Kwan dengan wajah frustasinya.


Leona diam sejenak. Dari sekian banyak pria yang dulu pernah mengejar-ngejarnya. Hanya ada dua pria yang sempat membuat hatinya tertarik. Siapa lagi kalau bukan Zean dan Jordan. Namun, untuk membayangkan wajah Zean. Leona tidak lagi mau. Ia akan merasa sakit hati.

__ADS_1


Maka dari itu, Leona menatap wajah Kwan sambil membayangkan wajah Jordan. Senyum dan segala rayuan pria itu kembali mengiang di dalam ingatannya.


"Katakan apa yang kau rasakan saat kau ada di dekatnya."


"Aku merasa nyaman, bahagia dan hangat," jawab Kwan dengan wajah serius.


"Katakan apa yang akan terjadi dalam hidupmu jika kau kehilangan dirinya."


"Aku akan mati. Hidup tidak lagi berarti. Aku akan gila karena hanya dia yang ada di dalam pikiranku." Kwan mengukir senyuman. Pria itu sudah tahu kalimat apa yang harus ia katakan ketika nanti ia ingin mengungkapkan perasaannya dengan Alana. "Kak, kau memang hebat. Terima kasih."


"Kak, jika kau menjadi Alana apa yang akan kau jawab?" ucap Kwan dengan senyuman menyeringai.


"Kwan, aku juga sangat mencintaimu. Bahkan sangat-sangat mencintaimu. Aku menyesal menolak cintamu dulu. Walaupun kini kita memiliki ikatan persaudaraan, tapi hati ini tidak bisa dibohongi. Aku ingin menjadi kekasihmu Kwan," ucap Leona dengan wajah yang serius.


"What? Kau suka dengan Kwan, Babygirl?" protes Jordan dengan wajah cemburu.


Leona dan Kwan memandang wajah Jordan. Tangan tadinya sempat berpegangan kini sudah terlepas. kakak beradik itu terlihat gugup ketika Jordan memergoki, apa yang baru saja mereka lakukan.


"Kenapa kau bisa di situ? Kau bahkan tidak mengetuk pintu," protes Leona dengan sorot mata yang tajam.


"Baby girl, jangan alihkan pertanyaanku. Kau suka dengan Kwan? Kalian," ucapan Jordan terhenti. Dia memandang wajah Kwan dan Leona secara bergantian.


Kwan sendiri tidak lagi bisa menahan tawanya. Pria itu memukul pundak Jordan sambil menggeleng pelan. "Kau terlalu lama. Jangan salahkan aku jika mendapatkan Kak Leona duluan," ledek Kwan sebelum pergi meninggalkan kamar milik Leona.


Leona mengukir senyuman kecil dan membuang tatapannya ke arah lain. Jordan yang masih memasang wajah bingung berjalan mendekati Leona. Ia menatap wajah Leona dengan sejuta tanya yang memenuhi isi kepalanya.


"Baby girl, kau bisa jelaskan soal ini?"

__ADS_1


__ADS_2