
Beberapa hari kemudian.
Waktu memang berlalu sangat cepat. Sejak kembalinya Pangeran Martine ke negara asal, semua kembali normal. Serena juga bisa tenang meninggalkan putrinya di Cambridge. Sejauh ini belum ada tanda-tanda balas dendam dari Pangeran Martine. Pria itu seperti menghilang karena takut dengan video yang dikirimkan Zeroun kepadanya.
Ya, Zeroun menggunakan video itu untuk mengancam Pangeran Martine gantian. Setidaknya kali ini kemenangan masih berpihak kepada mereka. Zeroun sendiri lebih mementingkan kesehatan dua jagoannya. Jordan dan Oliver.
Di suatu siang, Zeroun mengajak dokter yang menolong kedua putranya untuk bertemu. Sudah beberapa hari dokter itu menghilang. Untungnya Zeroun masih memiliki pasukan Gold Dragon yang bisa membantunya kapanpun di butuhkan.
"Dok, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih. Berkat Anda anak saya bisa tertolong. Soal rumah sakit anda yang kini sudah rata dengan tanah, itu kesalahan saya. Jadi saya akan bertanggung jawab atas semua itu," ucap Zeroun sambil memandang wajah dokter yang ada di hadapannya. Zeroun meluangkan waktu untuk bisa bertemu dengan dokter yang pernah merawat putranya. Sekaligus pria itu ingin minta maaf.
"Tuan, saya tidak memikirkannya lagi. Saat kejadian itu saya sempat berpikir kalau nyawa saya tidak selamat maka rumah sakit sebagus apapun tidak akan ada manfaatnya," jawab Dokter itu dengan wajah yang menyakinkan. Ia benar-benar tidak peduli kalau sudah kehilangan pekerjaannya. Baginya kehidupan adalah hal yang jauh lebih penting.
"Terima kasih atas pengertian Anda." Zeroun memandang pengawal istana yang ikut bersama dirinya. Pengawal itu mengambil sebuah amplop dan memberikannya kepada dokter tersebut.
"Ini ada hadiah kecil untuk Anda." Zeroun mendekatkan amplop tersebut kepada dokter. Wajahnya berseri. Ia sangat yakin kalau hadiah yang ia berikan pasti disukai oleh dokter tersebut.
Dokter tersebut awalnya ragu menerima amplop yang diberikan Zeroun. Sejak kejadian itu hidupnya sudah jauh lebih tenang karena selalu ada pengawal yang menjaga dirinya.
"Saya tidak ingin merepotkan Anda, Tuan." Dokter itu memandang Zeroun lagi sebelum membuka isi amplopnya.
"Hadiah itu pantas untuk Anda terima. Jangan menolak hadiah kecil saya ini."
Dokter itu hanya bisa pasrah. Ia membukanya secara perlahan dan menarik sebuah surat di dalamnya. Betapa kagetnya dokter tersebut saat Zeroun memberikannya sebuah bangunan rumah sakit yang ada di Cambridge. Bangunan rumah sakit itu sudah atas nama dokter tersebut.
"Apa ini, Tuan?" tanya dokter itu dengan tangan gemetar. Ia tidak sanggup untuk menerima hadiah semahal itu.
"Terima saja. Akan ada orang yang mengantarkan Anda ke tempat itu nanti."
"Terima kasih, Tuan."
Zeroun tersenyum. Ia kembali ingat dengan Pieter dan Marco. Kali ini Zeroun tidak mau putranya banyak keluar istana dulu. Maka dari itu ia sendiri yang akan turun tangan untuk mengatasi masalahnya.
"Saya permisi dulu, Dok." Zeroun beranjak dari kursinya. Dokter tersebut tersenyum ramah. Ia memandang ke arah samping dan melihat Marco berdiri di sana. Sepertinya pertemuan mereka tidak di sengaja. Marco sendiri terlihat kaget bukan main ketika melihat wajah Zeroun. Ia tidak tahu tindakannya waktu itu benar atau salah.
"Tuan Marco, apa kita bisa berbicara?"
Dengan canggung Marco mengangguk pelan. Ia memandang wajah dokter itu sekilas sebelum menunduk lagi.
***
__ADS_1
Zeroun dan Marco baru saja tiba di rumah sakit. Sebuah kabar baik yang tidak di sangka-sangka oleh Marco pastinya. Roberto yang ia anggap sudah tiada ternyata masih hidup. Bahkan yang jauh lebih mengejutkannya lagi, Jordan dan Oliver yang menolong Roberto dari dalamnya air laut yang ingin menelannya.
"Silahkan, Tuan." Seorang pria menyambut kedatangan Zeroun dan Marco dengan senyuman. Sebenarnya Marco sendiri masih ragu. Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa karena semua orang yang ia temui akhir-akhir ini memiliki senjata tajam. Marco belum pernah dekat-dekat dengan kriminal sebelumnya.
"Roberto ada di dalam." Zeroun menunjuk ke dalam agar Marco tidak lagi ragu untuk masuk.
"Apa ini jebakan?" tanyanya masih dengan wajah tidak percaya.
"Apa untungnya saya menjebak Anda? Justru saya ingin berterima kasih karena Anda sudah menolong Jordan dan Oliver." Zeroun terlihat bersungguh-sungguh. Walau begitu, Marco tetap saja ragu untuk masuk. Ia melirik senjata api yang ada di pinggang Zeroun. Seketika tubuhnya gemetar ketakutan.
"Kenapa seorang Raja selalu membawa benda seperti itu? Apa pengawal istana tidak bisa menjaga Anda?" tanya Marco dengan wajah ragu-ragu.
Zeroun mengambil senjata apinya. Ia memberikannya kepada Marco. "Ini untukmu. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi."
Marco semakin ngeri melihat senjata api itu. Walaupun begitu, entah kenapa ia ingin memegangnya. Bahkan memilikinya. Tidak sembarang orang bisa memilikinya. Jadi, kesempatan ini tentu saja tidak di sia-sia kan oleh Marco.
"Terima kasih."
"Jika kau masih ragu, kau bisa menggunakan senjata api ini untuk melindungi dirimu sendiri." Zeroun melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia sudah terlalu lama pergi meninggalkan istana. Emelie pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Saya permisi dulu. Lain kali kita akan bertemu lagi."
Marco mulai melangkah masuk ketika Zeroun pergi meninggalkannya. Ia di temani oleh perawat wanita. Marco memandang ke dalam dan mengamati seorang pria yang berbaring di atas tempat tidur. Saat ini memang kondisi Roberto sudah jauh lebih baik. Ia tidak perlu menggunakan banyak alat di tubuhnya. Hanya tinggal menunggu Roberto membuka mata maka semua akan kembali normal.
"Aku tidak menyangka kalau kau masih hidup. Ini sebuah keajaiban." Marco merasa jauh lebih lega saat ini. Ia tidak harus sendirian mengurus bisnis milik Roberto. Baginya Roberto adalah segalanya.
"Terima kasih Tuhan."
Seorang pengawal menutup pintu kamar rawat inap Roberto. Ia memberikan waktu kepada Marco dan Roberto berdua di sana. Seorang perawat yang sempat ada di sana juga sudah keluar. Tidak ada lagi salah paham di antara Marco dan Jordan. Kali ini tugas Zeroun tinggal satu. Ia harus bisa membuat Pieter memaafkan Oliver agar tidak ada lagi dendam.
Sedangkan soal Pangeran Martine. Zeroun yakin kalau dalam waktu dekat pria itu tidak akan berani melakukan tindakan apapun. Tidak tahu nanti. Yang pastinya Zeroun akan selalu waspada untuk menjaga keluarganya.
***
Istana Cambridge
"Sayang, aku sangat merindukanmu." Jordan tidak bisa berhenti mengatakan kalimat itu. Sambil mengusap rambut Leona, Jordan kembali membayangkan saat-saat ia tidak sadarkan diri. Ia tahu pasti Leona sangat sedih waktu itu.
"Apa kau yakin sudah tidak sakit lagi? Lukanya masih basah." Leona melihat luka pada tubuh Jordan. Seperti luka terbakar karena memang luka itu akibat terkena ledakan. Belum lagi saat menerobos jendela mereka harus menghantam kaca yang begitu tebal. Serpihan kacanya sebagian ada yang menempel di tubuh mereka.
__ADS_1
"Ini pengalaman terburuk. Tapi, setidaknya aku jadi tahu kalau tubuhku kuat."
Leona hanya diam dan mulai memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini ia merindukan untuk tidur di dalam dekapan Jordan.
"Aku dengar kau sempat bertemu dengan Pangeran Martine dan dia ingin mencelakaimu, Leona. Apa saat itu kau baik-baik saja?" tanya Jordan penasaran. Ia butuh cerita lengkap dari sang istri walau sebenarnya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Hmm. Zean menyelamatkanku," jawab Leona apa adanya.
"Dia ada di sini?"
" Ya, tapi aku tidak tahu untuk urusan apa dia ada di sana. Mungkin hanya kebetulan saja."
"Kau yakin?"
Jordan terlihat cemburu saat itu. Leona mengangkat kepalanya dan memandang wajah Jordan dengan saksama. "Kau mencurigainya."
"Tidak. Tidak seperti itu. Hanya saja ...."
"Aku tahu kalau Zean pernah menjadi pria yang jahat. Tapi aku yakin kali ini dia sudah berubah. Mungkin semua hanya kebetulan." Leona berusaha membela Zean walau tanpa ia sadari Jordan memasang wajah tidak suka.
"Letty bilang ia juga bertemu Zean sebelum kalian berkumpul."
Leona duduk di atas tempat tidur. "Jordan, jangan bahas soal ini lagi. Zean sudah berubah."
"Menurutmu seperti itu?"
"Jordan Zein!" Leona mulai kesal. Tidak peduli dengan keadaan suaminya yang masih kurang sehat.
"Maafkan aku. Mungkin karena sakit jadi aku menjadi lebih sensitif. Aku tidak mau berpisah darimu. Saat koma aku merasa seperti melihat dirimu berbahagia dengan pria lain."
"Itu karena kau tidak percaya denganku. Dengan cinta kita!"
"Leona, bukan seperti itu. Oke, kita jangan bahas lagi. Sekarang kita sudah bersama lagi. Sekarang, kemarilah. Aku ingin menciummu."
"Tidak!" Leona memalingkan wajahnya.
"Bagian sini jika bergerak terasa sangat sakit." Jordan menunjuk bagian perutnya yang masih di lapisi perban. Mau tidak mau Leona mendekat. Jika saja Jordan dalam keadaan sehat mungkin ia tidak mau menurut begitu saja.
"Maafkan aku." Jordan mencium pipi Leona sebelah kanan dan berganti ke sisi kiri. Pria itu tidak lupa mengecup pucuk kepala Leona sebagai bentuk rasa sayangnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Hanya kau yang kini ada di hatiku, Jordan," lirih Leona. Wanita itu merangkul leher Jordan sebelum mengecup bibirnya dengan lembut. Setidaknya saat ini yang diinginkan Leona hanya satu. Jordan kembali pulih agar bisa beraktifitas seperti biasanya.
Nanti Crazy up-nya ya. Belum bisa karena bawaannya maunya tidur aja. Bisa up satu Bab udah Hebat kali😅