Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Musuh Terselubung


__ADS_3

Daniel hanya bisa menghela napas. Pria itu tidak tahu harus berbicara apa lagi. Semua masalah yang menimpa putri tercintanya, ia serahkan kepada istri yang paling ia cintai.


“Jangan terus-terusan menyalahkanku, Kak. Aku menikmati kehidupan ini,” jawab Leona dengan sorot mata yang tidak kalah tajam dari Serena. Postur tubuh bahkan gaya Serena saat masih memimpin Queen Star terlihat sama dengan apa yang ada pada diri Leona. 


“Kembali Leona. Kau tidak tahu kehidupan seperti apa yang sekarang kau jalani,” ucap Serena dengan nada yang mulai melunak. Wanita itu membuka tangannya untuk menyambut tubuh putrinya.


"Sampai kapanpun jangan memintaku untuk meninggalkan Queen Star. Selama aku masih bernyawa, Queen Star akan terus berjaya,” teriak Leona yang seolah tidak terbantahkan lagi.


Shabira dan Kenzo yang juga ada di dekat Serena memandang kekacauan yang terjadi. Sepasang suami istri itu terlihat emosi ketika melihat Kwan juga ada di sana.


“Kwan, apa yang kau lakukan? Ini yang kau maksud dengan kata menjaga? Seperti ini caramu menjaga kakakmu?” teriak Kenzo dengan wajah menahan amarah. Pria yang sudah berumur itu juga terlihat kecewa melihat putra semata wayangnya kini justru menjadi orang kepercayaan Leona. Menjadi tangan kanan ketua mafia Queen Star yang akhir-akhir ini banyak membuat masalah di Brazil.


Markas besar Queen Star memang ada di Brazil. Bahkan mereka cukup kesulitan saat mencari jejak keberadaan Leona dan pasukannya. Hingga akhirnya sebuah petunjuk menunjukkan kalau Leona ada di sebuah bukit yang ada di Jerman.


“Pa, Aku juga menikmati hidup yang seperti ini. Aku tidak suka perusahaan,” ucap Kwan sebelum memalingkan wajahnya, “Maaf telah mengecewakan Papa dan Mama. Tapi, Aku  lebih memilih dunia yang kini ada di depan mataku. Queen Star,” jawab Putra semata wayang Kenzo dan Shabira dengan mantap.

__ADS_1


Leona mengukir senyuman sambil memutar-mutar pistol yang kini ada di genggamannya. Pembelaan adik sepupunya membuat kekuatan tidak terhingga untuknya. Lagi-lagi ujung pistol itu ia arahkan ke tubuh pria yang sudah membuatnya sakit hati. Bibirnya mengukir senyuman tipis, “Selamat tinggal, Zean!”


DUARRR!


Suara tembakan mengagetkan semua orang. Termasuk Leona. Suasana di lokasi itu hening sejenak hingga beberapa detik kemudian, Zean berteriak. “Leona!” 


Jordan segera menangkap tubuh Leona saat wanita itu melangkah mundur. Pistol yang ada di tangan Leona terlepas begitu saja. Darah berkucur deras di bagian perut Leona. Kwan mengangkat senjatanya. 


Sama halnya dengan Zean. Pria itu yang tadinya hanya menyimpan senjatanya, kini sudah mengangkat senjata dan siap bertarung. Serena dan yang lainnya juga tidak kalah kaget dan panik ketika melihat Leona mengeluarkan darah.


“Good Job,” ucap Letty sambil mengukir senyuman licik. Wanita itu bersembunyi di suatu tempat sambil mengintai bawahannya. Kini seluruh pasukan milik Letty sudah mengepung bukit yang menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar mafia tersebut.


“Aku baik-baik saja,” jawab Leona dengan napas tersengal. Wanita itu berusaha berdiri. Ia memandang lokasi yang kini sudah di penuhi dengan ratusan orang yang tidak di kenali. Mereka semua bersenjata api. Pasukan Queen Star milik Leona satu persatu berguguran karena mendapat tembakan jitu dari Letty. Sedangkan Leona, ia hanya terkena tembakan dari sebuah pistol yang tidak terlalu berbahaya. Bahkan detik itu juga Leona masih sanggup menahan rasa sakit yang ia terima.


Daniel, Kenzo, Shabira, Aleo juga mengeluarkan senjata api mereka. Kini mereka siap menyerang dan melawan musuh yang ada di hadapan mereka. Serena menatap tajam musuh yang kini mengepungnya. Wanita itu menghela napas saat posisi seperti itu harus ia hadapi lagi.

__ADS_1


DUARR DUARR.


Serena yang memulai tembakan itu. Diikuti oleh Daniel dan yang lainnya. Tidak ketinggalan Zean, Kwan dan Jordan. Tanpa di rencana, kini mereka bersatu untuk melindungi Leona yang sedang cedera.


Leona masih bisa berdiri. Wanita itu mengatur napasnya dan menembak ke arah musuh yang jumlahnya sangat fantastis itu. Pasukan Queen Star yang tersisa juga sudah menyerang.


Zean berjalan mendekati Leona. Pria itu tidak tega jika melihat Leona terluka seperti itu. Namun, belum sempat Zean mendekat. Jordan sudah melayangkan tembakan di bawah kaki Zean membuat pria itu menahan langkah kakinya. Tembakan peringatan itu dilakukan Jordan karena ia tidak mau Zean mendekati Leona.


“Menjauhlah. Setelah ini, kau yang akan menjadi target selanjutnya,” ucap Jordan dengan sorot mata yang tajam.


Zean menatap wajah Jordan dengan tatapan kesal. Pria itu masih penasaran dengan wajah Jordan karena memang kini Jordan memakai sebuah topeng. Puluhan pria mendekati Leona, Jordan dan Zean. Kini Jordan melepas genggamanya dari tubuh Leona. Pria itu mulai menghajar satu persatu musuh yang ingin mendekat. Sama halnya dengan Zean, pria itu juga memukul satu persatu musuhnya. 


Leona memandang wajah dua pria yang ada di hadapannya. Tatapannya sudah semakin tidak jelas karena Leona sudah banyak kehilangan darah. Mereka juga tidak bisa membawa Leona pergi dari sana. Kini posisi mereka di kepung. Jika tidak mengalahkan musuh lebih dulu, maka mereka akan mati tertembak.


Serena berusaha mendekati Leona untuk menolong putrinya. Namun, wanita itu tidak berhasil. Jarak mereka sangat jauh. Ada banyak musuh yang harus ia hadapi jika ia ingin tiba di samping Leona.

__ADS_1


Leona menghajar satu persatu pria yang berdiri di hadapannya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Dari kejauhan, Letty kembali membidik Leona. Wanita itu sudah tidak sabar untuk membunuh Leona detik itu juga. Ia sangat benci dan marah dengan penghianatan yang sudah dilakukan oleh Leona. Letty merasa di bohongi.


"Ini hukuman yang pantas untuk penghianat sepertimu, Leona!" umpat Letty dengan senyuman licik di sudut bibirnya.


__ADS_2