Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Jemput Alana


__ADS_3

Leona sudah ada di bandara. Wanita itu mengotak-atik ponselnya karena merasa bosan menunggu Alana. Ia terlihat serius dengan game yang kini ia mainkan. Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang berteriak.


“Kak Leona!”


Leona mengangkat kepalanya. Wanita itu mengukir senyuman saat melihat kemunculan Alana. “Alana, kau sudah tiba?” ucap Leona sebelum memeluk tubuh Alana. Wanita itu terlihat sangat bahagia akan kunjungan Alana di Sapporo.


Alana mengangguk pelan. “Ya. Apa terlalu lama menunggunya? Aku tadi ke toilet dulu,” ucap Alana sebelum melepas pelukan Leona.


Leona menggeleng pelan. “Tidak terlalu lama. Ayo kita pulang ke rumah,” ajak Leona sambil menggandeng lengan Alana. Wanita itu membawa Alana ke lokasi parkiran tempat mobilnya berada. Kali ini memang Leona memilih untuk menyetir sendirian tanpa ada pengawal yang menjaganya.


Leona dan Alana masuk ke dalam mobil bersamaan. Dua wanita itu duduk dengan posisi yang nyaman. Mereka merapikan penampilan di depan kaca sebelum saling memandang dengan senyuman.


“Alana, aku ingin ke rumah Kwan. Apa kau ingin ikut? Atau kau ingin di rumah saja beristirahat?” tawar Leona sebelum menghidupkan mesin mobilnya.


“Sepertinya aku ke rumah kakak saja. Aku ingin bertemu dengan Tante Serena. Mama menitip sesuatu untuk diberikan kepada Tante Serena,” jawab Alana dengan wajah berseri.


“Hmm, baiklah. Aku akan mengantarkanmu ke rumah sebelum pergi ke rumah Kwan,” ucap Leona. Wanita itu melajukan mobilnya dengan laju yang sedang. Wajahnya sedikit kecewa. Tadinya ia ingin membawa Alana ke rumah Kwan agar Kwan bisa bertemu dengan Alana. Tidak di sangka, Alananya menolak untuk ikut dengannya. Leona tidak memiliki keinginan untuk memaksa. Walaupun detik ini ia sangat ingin mengajak Alana pergi ke rumah Kwan.


***


Setelah mengantarkan Alana ke rumah utama. Leona berangkat menuju ke rumah Kwan. Hidupnya sudah kembali seperti dulu lagi. Nama Zean sudah hilang dari hidupnya. Pertahanan Sapporo juga sudah di perketat Serena. Setidaknya, untuk saat ini ia bisa merasa aman. Tidak ada nama Zean di hidupnya lagi. Walaupun Leona sangat yakin. Zean pasti sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih buruk dari waktu itu.


Setelah beberapa belas menit, Leona tiba di rumah utama keluarga Daeshim. Wanita itu memandang beberapa pengawal yang berjaga. Tidak terlalu banyak dari jumlah biasanya. Itulah yang pertama kali dipikirkan Leona. Wanita itu turun dari dalam mobil dan berjalan pelan ke arah pintu. Beberapa pengawal yang melihat kemunculan Leona menyambut wanita itu dengan tubuh membungkuk dan senyuman ramah.

__ADS_1


“Apa Tante Shabira ada di dalam?” tanya Leona pelan.


“Nyonya ada di dalam, Nona. Silahkan masuk,” jawab pelayan tersebut sebelum memberi jalan kepada Leona untuk masuk ke dalam rumah. Pengawal itu menemani Leona masuk ke dalam rumah.


“Apa Kwan ada di Z.E Group?” tanya Leona lagi. Rumah itu terlihat sangat sunyi. Tidak seperti biasanya.


“Benar, Nona. Tuan muda ada di perusahaan,” jawab pengawal itu lagi.


Leona mengangguk pelan sebelum duduk di sebuah sofa. Wanita itu memilih untuk menunggu di sofa tersebut. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengotak-ngatik layarnya.


“Saya akan memanggilkan Nyonya di kamar, Nona. Anda bisa menunggu sebentar,” ucap pengawal itu.


Leona hanya mengangguk. Wanita itu terlihat asyik dengan ponsel yang ada di tangannya. “Sepertinya Kwan sudah tahu kalau Alana datang ke Sapporo. Tapi, kok tumben dia tidak jemput ke bandara tadi?” gumam Leona di dalam hati.


Leona segera memutar tubuhnya dan memandang ke sumber suara. Wanita itu mengukir senyuman sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. “Tante apa kabar?” sapa Leona dengan senyuman ramah.


Shabira berjalan mendekati posisi Leona. “Baik. Kamu apa kabar?” tanya Shabira dengan senyuman. Wanita itu memeluk tubuh Leona dengan wajah bahagia.


“Baik juga, Tante,” jawab Leona sebelum melepas pelukannya dari tubuh Shabira.


“Kwan ada di Z.E Group. Kenapa tidak mengunjunginya di kantor saja?” Shabira membawa Leona berjalan ke arah sofa. Wanita itu berpikir kalau Leona pasti datang untuk mencari keberadaan Kwan.


“Leona ke sini karena ingin bertemu dengan Tante,” jawab Leona ragu-ragu. Ia bingung untuk melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.

__ADS_1


“Mengunjungi Tante?” ucap Shabira dengan wajah bingung. Wanita itu memandang pelayan yang baru saja tiba. Ada beberapa piring biskuit dan teh hangat yang di bawa pelayan tersebut.


“Iya, Tante. Leona ingin minta tolong sama Tante,” ucap Shabira dengan suara yang sangat pelan.


“Apa yang bisa Tante bantu?” tanya Shabira penasaran.


Leona memandang pelayan yang baru saja selesai menghidangkan makanan tersebut. Wanita itu menunggu hingga pelayan tersebut pergi sebelum melanjutkan perbincangannya dengan Shabira.


“Leona ingin belajar menembak dan bela diri. Seperti Tante dan Mama. Mama tadi sudah mengajari Leona untuk berlatih menembak. Memang belum terlalu bisa sih. Tapi, Leona sudah sedikit paham dengan triknya. Tetapi, mama tidak lagi bisa berlatih bela diri. Ia bilang tubuhnya mudah lelah akhir-akhir ini. Jadi Mama meminta Leona untuk meminta bantuan Tante,” ucap Leona dengan wajah menunduk. Ia takut kalau Shabira tidak akan mau mengajarinya.


Shabira mengukir senyuman. Wanita  itu mengusap lembut rambut Leona dengan penuh kasih sayang. “Kenapa tidak sejak dulu? Tante juga setuju jika kau memiliki bekal ilmu bela diri. Kau bisa melindungi dirimu sendiri dari bahaya. Kita ini wanita. Tidak selamanya bisa bergantung kepada pengawal bayaran yang ada di sekeliling kita.”


Leona menangkat wajahnya. Wanita itu menatap wajah Shabira dengan wajah bahagia. “Jadi Tante beneran mau ngajari Leona?”


Shabira mengangguk cepat. “Tante akan mengajarimu menjadi wanita tangguh. Leona.”


Leona memeluk tubuh Shabira karena terlalu bahagia. “Terima kasih, Tante,” ucapnya kegirangan.


“Sama-sama. Sebaiknya habiskan dulu minuman dan makanan ini. Kita akan latihan dengan santai di halaman belakang. Tenang saja, Leona. Tante akan mengajarimu menjadi wanita paling hebat.”


Leona mengangguk setuju. Wanita itu sudah tidak sabar mendapatkan bakat seperti itu. Ia ingin segera menjadi wanita kuat yang tidak mudah dihancurkan sebelum nanti ia menyusun rencana untuk membalaskan sakit hatinya kepada Zean.


“Tidak lama lagi aku akan menemuinya dan membuat keadaan itu menjadi terbalik. Kau juga harus merasakan apa yang pernah aku rasakan, Zean!” gumam Leona di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2