
Letty kembali ke kamarnya. Miller memutuskan untuk pergi keluar. Ia akan kembali sebelum makan malam tiba. Letty memandang ke arah kamar mandi yang masih di isi oleh Bella. Suara gemericik air tidak terdengar yang menandakan kalau wanita itu sedang berendam. Melihat tempat tidur membuat Letty ingin berbaring. Tubuhnya terasa lelah semua ketika selesai bertarung di rumah Bella tadi.
Sambil berbaring Letty mendengar suara nyanyian dari kamar mandi. Lagi-lagi dia tersenyum. Hal itu mengingatkannya kepada Kristal. Setiap kali mandi pasti Kristal akan sangat lama dan berisik. Entah lagu apa saja yang akan di nyanyikannya.
Letty memejamkan matanya secara perlahan. Tubuhnya yang lelah membuat dirinya sangat mudah terlelap. Hanya hitungan menit saja wanita itu sudah berada di alam mimpi.
Kehadiran Bella memang kerap kali membuat Letty mengingat Kristal. Walau sudah lama ia ingin melupakan kenangan manis itu. Tetap saja saat kenangan itu ingin muncul, dia akan muncul tanpa permisi.
"Letty, aku mau makan mie."
"Kau tidak boleh makan mie. Kata dokter lambungmu sedang tidak baik-baik saja," bantah Letty sambil mengolah makanan di dapur.
"Mie buatanmu sehat. Ayolah. Masakkan mie untukku," bujuk Kristal lagi.
Letty tidak menghiraukan permintaan Kristal. Wanita itu melanjutkan kegiatannya untuk memasak sayur hijau yang sehat. Tiba-tiba saja Kristal menjerit ketakutan. Wanita itu memeluk Letty dan menariknya hingga apa yang di pegang Letty terlepas dan berserak di lantai.
"Ada apa?" protes Letty.
"Kecoa." Kristal menunjuk ke lantai. Kecoa itu seperti hanya meledek saja. Ia pergi menjauh ketika Letty memandangnya.
"Sudah tidak ada lagi."
"Letty, apa kau mau menjagaku?"
"Tentu saja aku akan selalu menjagamu."
"Bahkan saat malaikat maut menjemputku?"
"Apa yang kau katakan? Malaikat maut tidak akan berani dekat-dekat dengan dengan mu selama kau ada di sampingku."
Kristal memeluk Letty dengan erat. Wanita itu tersenyum bahagia dan kembali tenang karena sudah ada Letty di hidupnya. Tiba-tiba saja Letty terbangun. Ada air mata di sudut matanya. Wanita itu kaget dan segera mengambil pistolnya di bawah bantal.
Bella tidak bisa bergerak ketika ujung senjata itu ada di depan wajahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Letty segera duduk. Ia merasa curiga ketika melihat Bella sudah ada di dekatnya. Entah sejak kapan wanita itu keluar dari kamar mandi. Letty sana sekali tidak menyadarinya.
"Kau menangis? Aku hanya ingin membangunkanmu. Apa kau bermimpi dan bertemu seseorang yang kau rindukan?" Bella menunjukkan tisu yang ada di tangannya. Tadinya ia ingin menghapus air mata yang kini menetes di wajah Letty. Tapi belum sempat ia melakukannya, Letty sudah terbangun dan menodongkan senjata api itu ke arahnya.
"Bukan urusanmu!" ketus Letty. Ia mengembalikan senjata apinya di bawah bantal dan memutuskan turun dari tempat tidur.
Bella menunduk sedih. "Rasanya sakit bukan ketika tidur saja bertemu mereka. Bagaimana denganku yang tidak pernah di izinkan untuk menangis. Karena tidak mau ada yang melihat, aku sering menangis di dalam kolam renang. Aku selalu berharap kalau dia tidak pernah melihatku menangis. Sesuai dengan apa yang dia inginkan."
Letty menahan kakinya. Ia tahu bagaimana perasaan Bella saat ini. Wajah wanita itu tidak bisa berbohong. Kini posisinya menang benar-benar sedih dan merindukan seseorang.
"Siapa yang kau rindukan?"
__ADS_1
"Kembaranku," jawabnya dengan senyuman terpaksa. "Sebenarnya dia adikku. Tapi dia menolak menjadi adik karena tubuhnya 2 cm lebih tinggi dariku."
Letty mengangguk pelan. "Merindukan orang yang sudah tidak ada di dunia ini memang menyakitkan."
"Bahkan terkadang kita berpikir untuk ikut mereka saja," ucap Letty dan Bella bersamaan. Mereka saling memandang sebelum tertawa bersama-sama.
"Pemikiran yang pendek bukan?" ujar Bella.
Letty mengangguk. "Ya. Hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu."
"Mereka yang sudah tiada juga tidak suka melihat kita menjemput mereka dengan cara seperti itu." Bella menghela napas. Hatinya sedikit lega bisa bercerita kepada Letty. Bahkan tertawa bersama dengannya.
"Apakah tidak lapar? Bagaimana kalau kita keluar untuk mencari makanan. Kota ini menjual aneka kuliner yang begitu lezat," ajak Letty.
Bella mengangguk. "Aku juga ingin jalan-jalan. Selama ini aku tidak bisa tenang karena memikirkan gelang tersebut. Tapi, sejak bertemu kau dan Miller aku merasa tenang tanpa beban."
"Kita akan bersama-sama melindungi gelang itu dari orang yang ingin mendapatkannya," jawab Letty. Sepertinya ia sudah tidak benci lagi dengan Bella. Letty mulai mau menerima Letty sebagai temannya. Ya, hanya teman. Mungkin untuk level sahabat masih banyak hal yang harus Letty pertimbangkan.
***
Miller mendapat kabar dari Letty kalau kini dirinya dan Bella tidak ada di markas. Pria itu segera menuju lokasi tempat Letty dan Bella berada. Tidak butuh waktu lama Miller berhasil menemukan keberadaan Letty dan Bella. Pria itu sempat menahan langkahnya ketika melihat kekompakan antara Letty dan Bella.
"Mereka terlihat akrab. Aku senang jika mereka seperti ini. Tapi ... bagaimana kalau apa yang dikatakan Letty benar. Dia lebih suka-"
"Apa semua baik-baik saja?"
"Ya. Aku dan Letty baru saja selesai makan di sana." Bella menunjuk tempat yang baru saja mereka kunjungi.
"Kenapa tidak menungguku?"
Letty hanya melipat kedua tangannya. Ia memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan mereka ada di tempat yang aman.
"Kau datang terlalu lama," jawab Bella. Tiba-tiba wanita itu memegang perutnya yang terasa sakit. "Sepertinya aku ingin ke toilet."
"Apa perlu aku temani?" tawar Letty.
"No! Ini akan memakan waktu yang lama. Kau akan bosan menungguku."
"Baiklah." Letty melilitkan tali di tangan Bella.
"Apa ini?" Bella mengeryitkan dahinya dengan wajah bingung.
"Alat pelacak. Jika ada yang berniat jahat padamu, aku akan bisa menemukanmu dengan cepat."
"Benda seperti ini bisa melacak keberadaan seseorang?" tanya Bella tidak percaya.
__ADS_1
"Ya."
"Baiklah. Aku akan segera kembali. Kalian bisa menungguku di sini." Bella memutar tubuhnya. Ia berlari cepat menuju ke toilet yang memang tidak terlalu jauh. Bahkan masih bisa di lihat oleh Letty dan Miller dari posisi mereka saat ini berada.
Miller melangkah ke kursi besi dan duduk di sana. "Apa rencananya? Apa kita akan terus merahasiakan tentang emas ini darinya?"
Letty menghela napas. Saat ini ia juga memikirkan hal itu. Letty belum menemukan startegi yang pas untuk menguasai semua emas itu. Di tambah lagi kini ia dekat dengan Bella. Hatinya semakin tidak tega mencuri emas yang seharusnya menjadi milik Bella.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu harus apa. Sejauh ini aku hanya ingin mempersiapkan Queen Star agar bisa tetap siaga saat menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi."
Miller mengangguk pelan. Ia memandang wajah Letty yang semakin hari membuatnya semakin tergila-gila.
"Letty, apa kau tidak memikirkan tentang hidupmu?"
"Hidupku? Ada apa dengan hidupku? Semua baik-baik saja."
"Bukan ... maksudku seperti ini. Kabarnya Oliver akan segera menikah. Bagaimana denganmu? Apa kau tidak takut menjadi perawan tua? Wanita seusiamu seharusnya sudah menikah."
"Menikah? Menikah dengan siapa?" Letty menatap wajah Miller dengan serius.
Miller terlihat gugup dan memalingkan wajahnya. "Ya ... tentu saja dengan Pria."
Letty memukul lengan Miller hingga pria itu kesakitan. "Apa kau pikir aku akan menikah dengan wanita? Dasar bodoh!"
"Benarkah?"
"Otak udang. Bisanya kau berpikir kalau aku menyukai sesama jenis."
Miller hanya tersenyum mendengar cacian Letty. Ia kembali lega karena Letty masih normal dan masih menyukai pria.
"Bagaimana dengan kita? Apa kau merasakan sesuatu saat berada di dekatku?"
Suasana berubah hening walau kini masih banyak yang berlalu lalang. Letty tertegun mendengar pertanyaan Miller. Tiba-tiba saja debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Letty benar-benar gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.
Miller tersenyum simpul. "Sepertinya aku jatuh cinta padamu."
Letty semakin kesulitan berbicara. Menggerakkan bibirnya saja tidak bisa. Ia tidak menyangka kalau Miller akan mengatakan hal seperti itu saat ini. Letty benar-benar tidak memiliki persiapan apapun.
"LETTY! MILLER! TOLONG!"
Teriakan Bella mengagetkan mereka. Miller dan Letty beranjak dari kursi dan memandang ke posisi Bella berada. Mereka bisa melihat jelas saat beberapa pria membawa Bella masuk ke dalam mobil secara paksa.
Letty segera berlari sambil mengeluarkan senjata apinya. Ia berusaha mengincar ban mobil yang membawa Bella pergi. Tapi, jarak mereka memang sangat jauh ketika mobil itu segera melaju cepat.
"Kita harus kejar mobil itu." Miller memegang tangan Letty dan membawa wanita itu ke mobilnya. Mereka segera mengejar mobil yang sudah berhasil membawa Bella pergi.
__ADS_1