
Oliver melihat ponselnya yang berdering. Pria itu meletakkan handuk yang sejak tadi ia gunakan mengeringkan rambutnya yang basah. Sebelum tidur Oliver memutuskan untuk mandi lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap layar ponselnya dengan wajah tidak percaya. Nama di layar ponselnya tertulis jelas nama Jordan. Bukankah Jordan sendiri yang melarang semua orang menghubunginya. Apa yang dipikirkan Oliver sama dengan apa yang dipikirkan oleh Katterine. Tidak mau Jordan terlalu lama menunggu, Oliver segera mengangkatnya.
"Oliver, kau ada di mana?" Suara Jordan terdengar sangat khawatir. Ia tidak bisa mengatakan kalau kini keluarga mereka dalam bahaya saat menghubungi Emelie tadi. Hanya kepada Oliver ia bisa mengatakan semuanya.
"Saya di istana, Pangeran."
"Bagaimana dengan Katterine? Apa dia baik-baik saja?"
Oliver menahan kalimatnya. Berbohong kepada Jordan itu sama saja membuat masalah baru di dalam hidupnya. Oliver lelah dengan masalah.
"Kami mengalami masalah. Katterine hampir saja tidak ditemukan. Tetapi saya belum berhasil menyelidiki semua masalah ini. Dugaan sementara, Pieter balas dendam."
"Oliver, kau dan Katterine berada dalam bahaya dan bisa-bisanya kau tidak melakukan apapun. Setidaknya kau mengirim orang untuk memberi kabar itu kepadaku!"
"Pangeran, saya hanya menjalani perintah yang Anda berikan. Bos Zeroun juga melarang saya menyampaikan apapun kepada Anda. Maafkan saya, Pangeran."
"Sudahlah. Aku lelah membahas masalah seperti ini. Yang terpenting Katterine sudah ditemukan dan sekarang baik-baik saja. Bagaimana dengan Mommy?"
"Keadaan Ratu masih lemah, Pangeran."
"Semua obat dan segala makanan minuman yang ingin di konsumsi mommy sebaiknya selidiki dulu kesehatannya. Aku tidak mau mommy dalam bahaya."
"Selama ini pihak istana sudah melakukan pengawasan yang begitu ketat Pangeran."
"Oliver, aku tidak tahu dugaanku benar atau tidak. Tapi aku merasa kalau kini ada orang jahat di dalam istana. Hanya saja aku tidak memiliki petunjuk untuk menangkapnya."
__ADS_1
"Pangeran, saya dan Putri Katterine juga sependapat dengan Anda. Pieter ahli dalam membuat topeng. Ia bisa menyerupai wajah siapa saja bahkan suara siapa saja. Kemarin penculikan Katterine terjadi karena dia menggunakan topeng yang mirip dengan wajah saya."
"Pieter! Apa pihak kerajaan Belanda tahu soal ini?"
"Dari informasi yang saya dapat. Sejak meninggalnya Putri Isabel, Pieter tidak lagi bekerja di istana Belanda. Itu berarti masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Belanda. Semua murni karena Pieter ingin balas dendam atas kematian kekasihnya."
"Tidak Oliver, kau salah. Kali ini bukan kau saja yang menjadi target mereka. Tapi mommy juga. Seharusnya mommy tidak terlibat dengan siapapun saat ini."
"Mereka mengincar Ratu? Bagaimana Anda bisa tahu Pangeran?"
"Kau ingat soal Lusya? Dia bersama kami. Sepertinya Pieter bekerja sama dengannya. Dia sempat mengancamku dengan menggunakan mommy. Sepertinya musuh kita tidak sedikit. Hanya saja kita tidak tahu."
"Pangeran, apa Anda sudah bertemu dengan Letty?"
"Dia bersama Leona. Kau tidak bisa mengirim orang untuk mengikuti kami secara diam-diam."
"Oliver, lakukan satu hal sebelum kami tiba di Cambridge."
"Apa yang harus saya lakukan, Pangeran?"
***
Roberto terjungkal dengan wajah dipenuhi darah. Sejak jatuh cinta dan memutuskan untuk memiliki Katterine hidupnya benar-benar diselimuti kesengsaraan. Bukan hanya mendapat pukulan dari Oliver saja. Kali ini ia harus mendapat pukulan dari Pieter karena sudah berkhianat.
"Apa kau pikir bisa dengan mudah lepas dariku? Aku akan membuat tubuhmu ini menjadi makanan ikan di laut!" ancam Pieter dengan wajah menyeramkan. Kali ini pria itu masih menggunakan pakaian pelayan. Ia terpaksa menyamar menjadi seperti itu agar bisa mendekati Roberto.
__ADS_1
"Sejak awal aku tidak pernah memiliki niat untuk mencelakai orang lain!"
"Tidak memiliki niat!" Pieter berjalan mendekati Roberto. Senyum sinisnya membuat Roberto terpaksa berangsur mundur karena tidak mau di sentuh lagi.
"Setelah Oliver mengganti semua kerugian yang sudah ia perbuat terhadap bisnismu, kau memaafkannya dan berteman dengannya?" sindir Pieter dengan tatapan menakutkannya.
"Jangan sangkut pautkan soal itu. Aku tidak setuju jika kau melukai Katterine bahkan ingin membunuhnya. Bukankah sejak awal perjanjian kita melukai Oliver. Kenapa jadi Katterine yang menderita."
"Kau datang ke istana Cambridge dan mengatakan semua yang terjadi kepada ZEROUN ZEIN!"
"Bagaimana bisa ia tahu?" gumam Roberto di dalam hati.
Pieter mengeluarkan belati yang sejak tadi ia persiapkan untuk menghabisi Roberto.
"Kau kaget karena aku mengetahui semuanya?"
Pieter berjalan semakin dekat. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk menghabisi Roberto malam itu. Pria yang tidak berguna maka harus segera di singkirkan.
"Jangan. Jangan bunuh aku. Aku tidak akan mengulangi hal yang sama." Roberto terus saja berangsur mundur untuk menghindari Pieter. Hanya saja kondisinya sudah benar-benar lemah hingga tidak bisa menjauh terlalu jauh.
Pieter segera menusukkan belatinya yang panjang ke dalam perut Roberto. Tidak hanya sekali. Pria itu melakukannya berulang kali hingga darah segar keluar dari tubuh Roberto. Rasa sakit yang begitu luar biasa dirasakan oleh Roberto hingga pria itu tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Kau pantas mati! Pria tidak berguna!" Pieter menarik belatihnya. Ia tertawa jahat ketika melihat Roberto sekarat di bawah kakinya.
Tanpa sepengatahuan Pieter, Roberto mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Zeroun. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengucapkan sebuah kata.
__ADS_1
"Monaco!"