
Suasana di pinggiran kolam renang seperti situasi rumah duka. Terdengar Isak tangis Emelie yang tiada henti sejak tadi. Cerita lengkap yang diceritakan oleh menantunya belum bisa ia terima dengan lapang dada. Emelie tidak mau kehilangan putra pertamanya. Belum lagi ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga Oliver. Ratu Cambridge itu bingung saat ini.
Sambil memeluk Katterine, wanita itu memandang Leona yang kini juga terlihat sedih. Menantunya ada di dalam dekapan Serena. Daniel sebagai satu-satunya pria di tempat itu hanya bisa diam sambil memikirkan solusi yang seharusnya di lakukan. Jika Queen Star dan Gold Dragon tidak sanggup mencari keberadaan Jordan dan Oliver. Daniel akan meminta Aleo untuk menggerakkan S.G Group. Bahkan mereka masih memiliki Z.E Group yang kini dipimpin Kwan dan bahkan bila perlu dia akan meminta bantuan si wanita serba tahu yaitu Sonia Ananta.
Tidak ada yang sulit. Namun yang ditakutkan Daniel. Bagaimana jika mereka menemukan dua pria itu dalam keadaan tidak bernyawa? Bagaimana nasip putrinya yang baru saja menikah. Tidak! Daniel tidak akan sanggup melihat putrinya menangis lagi karena pria yang ia cintai. Walau beda jalan cerita tapi tetap saja itu cerita yang begitu memilukan.
"Apa yang akan mommy katakan ketika Lukas dan Lana menanyakan keberadaan Oliver? Mereka sudah menyerahkan putranya di istana ini. Mereka mempercayakan Oliver kepada Mommy dan Daddy. Jordan ... dia putraku yang baik dan penurut. Bagaimana bisa dia mendapatkan cobaan seberat ini? Bahkan di saat dia baru saja pulang dari momen bahagianya. Apa yang sudah aku lakukan hingga takdir menghukumku dengan penderitaan yang tiada akhir ini?" lirih Emelie sambil mengusap air mata yang jatuh.
Katterine yang tadinya berhasil menahan air matanya kini pipinya mulai basah. Ia sudah berusaha tegar atas hilangnya Oliver. Tapi, melihat Emelie bersedih seperti itu ia tidak sanggup. Ini yang ditakutkan Leona dan Katterine sejak awal. Mereka berdua tidak mau Emelie bersedih hingga separah itu.
"Sayang, kenapa kau merahasiakan semua ini? Kau sudah memiliki dua pasang orang tua di sini. Jangan sembunyikan bebanmu sendiri. Walau sudah menikah, ada kalanya kita masih membutuhkan bantuan orang yang lebih tua." Serena mengusap rambut Leona. Ia juga berusaha menenangkan putrinya yang kini menangis sedih. Leona hanya diam dengan mata merah karena dipenuhi air mata. Ia lelah dengan semua ini. Terkadang ingin menyerah saja walau itu bukan keputusan yang tepat. Mungkin saja jika Jordan benar telah tiada, ia akan memilih untuk mati menjemput Jordan.
"Apa Zeroun pergi karena ia tahu Jordan dan Oliver ...." Daniel tidak mau melanjutkan kalimatnya. Tidak tahu kalimat apa yang tepat untuk ia katakan. Semua wanita yang ada di tempat itu sangat sensitif hatinya.
"Tidak. Zeroun pergi karena dia mulai mencurigai sikap Leona dan Katterine. Kami berdua juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dia sudah tahu ketika dia menemui Gold Dragon saat ini."
"Kasusnya sama seperti Serena dulu," sambung Daniel lagi.
"Serena? Apa Serena pernah di culik?" tanya Emelie tidak percaya. Ia tahu bagaimana tangguhnya Serena. Bagaimana bisa wanita seperti Serena di culik?
Daniel tersenyum. "Itu luka lama. Intinya, kami berhasil menemukan Serena karena menggunakan CCTV. Sedangkan kasus Jordan dan Oliver. Mereka ada di tengah hutan yang sangat jauh dari kota. Jika menggunakan helikopter, tentu saja tidak terlacak lagi."
"Pa, sudah bisa dipastikan kalau tidak ada jejak sedikitpun. Mereka hilang begitu saja. Tapi tadi, kenapa harus ada jenazah di temukan. Bahkan identitasnya adalah identitas Jordan?" ucap Leona dengan lirih.
__ADS_1
"Identitas mereka tertinggal di mobil. Bisa saja seseorang mengambilnya dan sengaja menggunakannya untuk membuat Cambridge tahu masalah yang kita hadapi."
Tiba-tiba saja suara Zeroun muncul di sana. Tadinya ia ingin menyampaikan kabar ini kepada Emelie. Melihat mata istrinya yang sudah bengkak. Ia bisa menebak kalau kabar itu telah sampai di telinganya.
"Zeroun?" Emelie beranjak dari kursi. Dengan derai air mata ia berlari untuk bisa memeluk suaminya. Hanya Zeroun yang bisa membuatnya tenang. Ia yakin suaminya itu pasti memiliki kabar baik yang bisa membuatnya tenang. Bukankah Zeroun selalu bisa di andalkan?
"Zeroun, katakan padaku di mana Jordan dan Oliver? Kau pasti sudah berhasil menemukan mereka, kan? Beri tahu aku Zeroun. Di mana mereka? Apa mereka masih sibuk hingga belum mau ikut denganmu pulang ke istana?"
Zeroun membisu sambil menatap wajah sedih istrinya. Sebenarnya hatinya kini juga sangat sedih. Tapi dia pria. Tentu saja bisa jauh lebih tegar.
"Emelie ... tenanglah. Jangan seperti ini." Zeroun mengusap air mata Emelie. Ia memperlihatkan air mata di tangannya di hadapan Emelie. "Apa ini? Kau sudah berjanji untuk tidak menangis? Emelie, aku sudah bilang. Setelah semua tidak ada yang ditutupi lagi. Kesedihan akan selalu menyelimutimu. Ini alasanku sejak dulu. Aku tidak sanggup melihatmu menangis."
"Anakku Zeroun. Anakku hilang. Bagaimana bisa aku tenang? Kau memintaku tersenyum saat dua putraku tidak tahu bagaimana nasipnya?" protes Emelie dengan suara serak.
"Demi apapun. Aku akan berjuang untuk menemukan mereka. Jika mereka telah tiada. Aku juga akan membawa mereka ke sini."
Tangis Emelie semakin pecah. Namun, siapa yang sanggup mengalahkan takdir. Semua telah di atur. Tapi, Emelie tidak mau kehilangan lagi.
"Aku akan meminta S.G. Group melakukan pencarian," ucap Daniel memberi solusi.
"Tidak, Daniel. Masalah ini menyangkut nama baik Jordan. Dia akan segera di angkat menjadi Raja. Seseorang yang ada di balik ini semua pasti mengetahuinya. Saya takut ada jebakan di sini. Bukankah pengawal S.G Group hanya pengawal bayaran? Mereka tidak tetap. Aku tidak mau berita ini diketahui semua orang. Hanya kita yang boleh tahu."
"Kau ingin kita lakukan ini sendiri tanpa bantuan yang lain?" tanya Daniel kurang yakin.
__ADS_1
"Ya. Walau setetes darah pasti akan ada petunjuk yang bisa kita temukan. Aku yakin itu."
"Baiklah. Kejadian ledakan itu. Aku akan melihatnya sekarang. Dari sana kita bisa mulai melakukan penyelidikan," ucap Serena penuh semangat.
"Mama tidak jadi pulang?" tanya Leona pelan.
"Sayang, mama tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Mama akan jelaskan kepada Aleo nanti. Mama yakin kakakmu akan mengerti."
Leona hanya diam. Sebenarnya hatinya juga bahagia karena Serena dan Daniel masih ada di sana untuk menemaninya. Hanya saja, terkadang ia khawatir sakit Serena kambuh. Dokter sudah memperingati kalau Serena Tidak lagi boleh banyak pikiran dan terlalu banyak beraktifitas.
"Terima kasih, Ma. Leona akan selalu melindungi mama."
***
Miller memberhentikan mobilnya di depan mini market. Letty ingin membeli minuman di sana. Setelah melepas sabuk pengamannya, Letty segera pergi keluar. Tanpa mau banyak tanya pastinya. Miller hanya tersenyum saja. Ia memilih mendengarkan musik sambil menunggu Letty membeli minuman.
Letty berjalan masuk ke dalam minimarket. Ia akan melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Misi pencarian ini benar-benar membutuhkan tenaga ekstra. Seandainya saja ada petunjuk semua tidak akan sesulit ini.
Saat ingin membayar tiba-tiba Letty menabrak seseorang. Botol minuman yang ada di tangannya pecah dan berserak di permukaan lantai. Hal itu membuat perhatian semua pengunjung tertuju pada mereka. Tidak tahu siapa yang salah siapa yang benar. Letty memutuskan meminta maaf daripada harus memperkeruh keadaan.
"Maaf," ucapannya terhenti. Ketika Letty membungkuk dan melihat sepatu pria. Ia melanjutkan kalimatnya. "Tuan." Letty berdiri tegak untuk memandang wajah pria itu. Ia kaget ketika melihat pria yang ia kenali berdiri di sana.
"Zean? Apa yang kau lakukan di sini?"
__ADS_1