
Tidak butuh waktu lama bagi semua orang untuk menghabiskan makan malam mereka. Setelah memakan hidangan penutup, para orang tua memutuskan untuk berkumpul di meja yang ada di pinggiran kolam renang. Seperti itu kebiasaan yang mereka lakukan setiap kali mereka berkumpul. Walau usia sudah tidak muda lagi, tapi kebiasaan muda mereka belum bisa dihilangkan.
Mereka duduk berdampingan dengan pasangan mereka masing-masing. Terlihat romantis dan sangat akrab. Tidak ada lagi beban di antara mereka. Di masa tua mereka yang sekarangm bisa di bilang mereka hidup dengan tenang dan nyaman sesuai dengan apa yang mereka impikan sejak dulu.
“Serena, sepertinya kita harus membicarakan soal hubungan Jordan dan Leona.” Emelie angkat bicara. Dulu dia yang paling tidak setuju dengan kisah cinta yang akan di jalin oleh Leona dan Jordan. Tapi, malam ini. Karena rasa sayangnya yang luar biasa terhadap buah hatinya, ia ingin memperjuangkan Leona. Ia tahu, cinta pertama itu sungguh berharga. Emelie ingin anaknya mendapatkan cinta pertamanya. Tidak di tolak apa lagi sampai di tinggalkan seperti nasip Zeroun.
“Apa tidak secara langsung kau bilang perjodohan?” ucap Serena dengan wajah serius.
“Tidak seperti perjodohan. Mereka terlihat saling mencintai,” sambung Zeroun cepat.
Daniel mengangguk pelan. “Aku setuju. Mereka bilang saling mencintai bukan?” ucap Daniel sambil menatap wajah Leona. “Sayang, bagaimana kalau kita buat acara pertunangan mereka. Apa kau setuju?”
Serena diam sejenak. Ia terlihat berpikir keras. Tidak tahu kenapa, wanita itu merasa ada yang aneh dari kisah hidup anaknya saat ini. Ia merasa sesuatu telah terjadi. Namun, tidak juga menemukan penyebabnya hingga sekarang.
“Aku akan menanyakan hal itu kepada Leona nanti,” ucap Serena pelan. Ada raut tidak setuju namun tidak bisa ia katakan. Serena tidak ingin mengecewakan Emelie dan Zeroun.
Shabira dan Kenzo saling memandang. Mereka juga tidak bisa banyak bicara. Kali ini masalah yang di bahas tidak berhubungan dengan putra semata wayang mereka.
***
“Kakak, kau berjalan cepat sekali,” ucap Jordan sambil mengejar langkah kaki Leona.
__ADS_1
Leona menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya dan menatap wajah Jordan dengan wajah kesalnya. “Berhenti memanggilku kakak. Dan berhenti mengikutiku!” teriak Leona dengan tangan terkepal kuat. Wanita itu tidak lagi mau berkedip saat memandang wajah Jordan. Detik itu juga, Leona tersadar dan menyesali pengakuan palsunya saat ada di meja makan.
“Kau memang lebih tua dua tahun dariku,” jawab Jordan dengan wajah tenangnya.
“Itu hanya usia. Wajahmu yang jauh lebih tua dariku!” jawab Leona tidak mau kalah.
Jordan menaikan satu alisnya. “Itu artinya, aku pantas menjadi kekasihmu?” Jordan terlihat sangat bahagia. Bahkan sejak pertama kali jumpa dengan Leona, ia tidak bisa menghilangkan bunga-bunga cinta yang bermekaran di hatinya.
“Ingat Jordan! Itu hanya sandiwara. Jangan pernah berharap untuk menjadi kekasihku sesungguhnya,” bantah Leona sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Apa kau lupa dengan perkataanku?”
“Bukannya perkataan itu hanya berlaku di Meksiko saja?” Jordan melangkah pelan mendekati Leona. Membuat Leona mundur karena tidak ingin dekat-dekat dengan Jordan. “Sekarang kita tidak ada di Meksiko Baby girl. Jadi, aku tidak perlu mematuhi permintaanmu itu.”
Leona memalingkan wajahnya. Ia berpikir keras agar bisa menjauh dari Jordan setelah mereka tiba di Jerman nantinya. Saat melamun, Leona mendengar deringan ponsel dari dalam kamarnya. Memang saat itu ia sudah membuka setengah pintu kamarnya hingga bisa mendengar suara yang berasal dari dalam. Dengan gerakan cepat, Leona masuk ke dalam kamar. Jordan yang tidak mau ketinggalan juga ikut masuk ke dalam kamar Leona.
“Sebaiknya kau duduk saja di sana. Jangan menguping pembicaraanku!” ucap Leona sambil menunjuk ke arah sofa.
Jordan memandang ke arah sofa dan berjalan pelan untuk duduk di sana.
Leona melekatkan ponselnya. Wanita itu sudah tidak sabar menunggu informasi dari bawahannya. “Apa kau sudah mendapatkannya?”
“Sudah, Bos. Saya sudah mengirim data target dan orang yang meminta misi tersebut.”
__ADS_1
“Bagus.” Leona mematikan ponselnya. Wanita itu mengotak ngatik ponselnya lagi memperhatikan foto-foto yang baru saja masuk. Betapa terkejudnya Leona saat melihat target yang harus ia bunuh adalah Zeroun sekeluarga. Setelah melihat wajah-wajah targetnya, Leona membuka wajah yang menginginkan nyawa keluarga kerajaan Cambridge tersebut.
“Clous?” celetuk Leona dengan wajah bingung. Ia memperhatikan foto pria berusia sekitar 30 tahun yang ada di ponselnya. terus saja menyentuh layar ponselnya untuk memeriksa informasi lebih tentang pria itu. Hanya ada kekecewaan. Karena bawahannya Leona tidak berhasil memberi informasi apapun tentang Clous, selain nama dan foto.
“Apa kau baik-baik saja?”
Sapaan Jordan membuat Leona tersentak. Ponsel yang ada di tangannya sampai terlepas karena ia terlalu serius tadinya. Ponsel itu tergeletak di atas tempat tidur dan memperlihatkan foto Clous di sana. Jordan meraih ponsel Leona saat melihat wajah pria di dalam layar ponselnya.
“Apa dia target yang ingin kau bunuh?” tanya Jordan dengan ekspresi dingin.
“Dia tidak kenal dengan pria itu,” gumam Leona di dalam hati sambil memandang wajah Jordan.
Jordan terlalu asyik memeriksa ponsel Leona. Hingga tanpa ia sengaja, ia melihat foto semua keluarganya ada di dalam ponsel Leona. Wajahnya berubah serius. Jordan menatap wajah Leona dengan tatapan penuh tanya.
“Apa maksud dari semua ini?”
Leona merebut paksa ponselnya. “Tidak ada. Sekarang pergilah,” ucap Leona sambil membuang tatapannya ke arah lain.
Jordan tidak bisa diam saja. Jika menyangkut tentang keluarga tercintanya, Jordan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu menarik tangan Leona dan mendorong tubuh wanita itu hingga berbaring di atas tempat tidur. Jordan berada di atas tubuh Leona dan menatap wajah Leona dengan saksama.
“Apa kau menginginkan nyawa keluargaku juga?” tanya Jordan penuh selidik.
__ADS_1
Leona memejamkan mata sebelum menatap wajah Jordan yang memerah karena marah. “Tidak seperti itu. Aku mendapat orderan dari pria bernama Clous itu. Aku tidak suka membunuh keluarga bahagia. Targetku hanya pria penghianat dan jahat pada wanita saja,” jawab Leona seadanya.
Jordan merebut lagi ponsel Leona. Pria itu mengirim foto yang ada di layar ponsel Leona ke ponsel miliknya. Setelah foto itu terkirim, Jordan pergi begitu saja meninggalkan Leona yang masih berbaring di tempat tidur. Leona memandang punggung Jordan dengan napas terputus-putus. “Apa seperti itu wajahnya kalau sedang marah?” gumam Leona di dalam hati.