
Katterine merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Ia berusaha memegang kepalanya namun gerakannya tertahan. Ia tersadar kalau kini kedua matanya sudah terbuka. Namun, ia tidak bisa melihat apapun. Tangan dan kakinya terikat. Katterine merasakan sesak karena oksigen di tempatnya berada tidaklah banyak.
"Di mana ini? Kenapa gelap sekali?"
Katterine kembali ingat dengan apa yang terjadi. Saat wanita yang biasa membersihkan apartemennya tiba, wanita itu syok melihat Katterine duduk di lantai. Di depannya ada pria asing yang sedang terluka. Karena ketakutan, wanita itu berusaha lari untuk menyelamatkan diri. Sayangnya pria itu lebih dulu menangkapnya dan membuatnya gagal kabur.
Katterine bangkit dan berusaha menolong wanita tersebut. Namun, ia juga tidak cukup kuat. Ketika pria itu mendorongnya, Katterine menabrak dinding dan kepalanya terluka. Saat itu memang kondisi Katterine sangat lemah. Ia tidak lagi bisa bangkit untuk menyelamatkan pelayannya. Detik-detik terakhir sebelum Katterine memejamkan mata, ia melihat pelayan wanita itu di bunuh tanpa belas kasih. Sejak saat itu Katterine tidak ingat apapun.
"Oliver, tolong aku! Aku takut," lirih Katterine dengan Isak tangis. Ia benar-benar takut saat kini menyadari dirinya ada di sebuah tempat yang sempit dan gelap. Di bawah kakinya ia bisa merasakan udara masuk. Detik itu Katterine sadar kalau kini dirinya tidak ada di sebuah ruangan, melainkan di sebuah kotak yang sangat kecil. Mungkin hanya sebesar ukuran tubuhnya saja.
"Aku harus tenang. Oliver pasti akan menemukanku. Daddy dan Kak Jordan juga tidak akan membiarkanku berada dalam bahaya." Katterine berusaha mengatur napasnya. Ia berusaha tetap tenang dan tidak panik. Ia merasa sangat yakin kalau semua orang yang menyayanginya akan segera menemui nya.
***
Oliver tidak bisa tenang lagi. Perasaannya semakin kacau ketika membayangkan kini Katterine tidak ada di sampingnya. Bahkan pasukan Gold Dragon tidak juga berhasil menemukan petunjuk keberadaan pria misterius itu. Kali ini Oliver benar-benar di buat pusing tujuh keliling. Ingin cerita kepada Zeroun, rasanya ia tidak sanggup untuk mengatakan kalau Katterine hilang.
"Kwan dan Alana mungkin bisa membantu kita. Atau Jordan? Aku tahu mereka sedang bulan madu. Tapi kini masalahnya menyangkut nyawa Katterine. Kita harus memberi tahu mereka."
Miller berusaha memberi solusi. Namun, Oliver bersih keras untuk mengatasinya sendiri. Ia tahu kalau musuh yang ia hadapi sangat licik. Bisa saja ini salah satu bagian dari rencana pria itu agar mereka semua berkumpul lagi. Oliver tidak mau ada yang celaka.
"Letty, kau bisa menghubunginya dan meminta dia agar datang ke kota ini." Oliver memberikan nomor Letty. Miller segera menghubungi wanita itu. Saat ini Queen Star ada di bawah pimpinan Letty. Ia berharap kalau dengan bantuan Queen Star mereka bisa mendapatkan petunjuk.
"Di sana. Berdasarkan informasi yang aku dapat Roberto tinggal di rumah itu." Miller menunjuk jalan depan sambil melekatkan ponselnya di telinga. Oliver segera membelokkan stir mobilnya menuju jalanan yang akan mempertemukannya ke rumah Roberto. Ia berharap kalau setelah menemui Roberto nanti dia bisa menemukan petunjuk.
"Letty, apa kabar?"
"Siapa kau?"
"Aku Miller, apa kau sedang sibuk?"
"Berhentilah berbasa-basi! Suruh dia cepat datang menemui kita!" umpat Oliver kesal.
Miller memandang wajah Oliver sejenak sebelum melanjutkan perbincangannya. "Kami kehilangan Katterine."
"Ke mana anak manja itu pergi?"
"Kali ini masalahnya sangat sulit. Kami tidak tahu musuh kami ini sejenis manusia atau iblis. Dia bisa berubah menjadi siapapun yang ia inginkan. Kami butuh bantuanmu."
__ADS_1
"Apa kak Oliver ada di sana?"
"Ya, kau ingin-"
"Tidak! Aku akan segera ke sana."
Miller memandang ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi. Pria itu menghela napas. Sifat Letty tidak jauh beda dengan Oliver. Kakak beradik yang sangat menjengkelkan dan tidak tahu tata Krama.
Oliver memberhentikan laju mobilnya. Di belakangnya pasukan Gold Dragon yang ikut bersama mereka juga segera turun. Pengawal Roberto yang menyambut kedatangan mereka segera mendapat pukulan dari pasukan Gold Dragon. Melihat penghalang sudah di bereskan, Oliver dan Miller masuk ke dalam.
Kali ini Oliver benar-benar memiliki firasat kalau Roberto ada hubungannya dengan hilangnya Katterine. Mereka berjalan masuk untuk bertemu dengan Roberto secara langsung.
"Roberto! Keluar kau!" teriak Oliver dengan suara yang lantang. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa satu persatu pintu yang ada di rumah itu. Setelah mendengar teriakan Oliver, salah satu pintu terbuka dan Roberto muncul di sana. Pria itu sudah terlihat jauh lebih baik walau kakinya belum bisa berjalan dengan sempurna.
"Kau lagi. Untuk apa kau datang ke sini?" Roberto berjalan mendekati Oliver. Hanya melirik wajahnya sesaat saja Roberto sudah punya firasat kalau sebentar lagi tubuhnya akan babak belur.
Roberto memandang wajah Miller. Ia tahu kalau Miller adalah seorang polisi. Detik itu ia sadar kalau sejak awal memang Oliver sudah kenal dekat dengan para polisi hingga mudah lolos dari jerat hukum.
"Katakan! Dimana Katterine?" Kali ini Miller yang angkat bicara agar tidak memperburuk keadaan.
"Katterine? Katterine hilang?" ucap Roberto kaget. Sebenarnya memang pria itu tidak tahu kalau kini Katterine telah di culik oleh pria yang mengajaknya bekerja sama.
"Kami hanya bertanya. Jika kau tidak tahu, itu jauh lebih baik. Karena jika kau tahu namun pura-pura tidak tahu, itu hanya akan membuat nyawamu dalam bahaya," ancam Miller dengan wajah serius.
"Aku mencintai Katterine. Tapi, aku sudah merelakan dia bahagia dengan pengawalnya. Bahkan aku tidak tahu kalau Katterine hilang jika kalian tidak datang ke sini."
Oliver menyerahkan semuanya kepada Miller. Ia juga tidak mau kalau rencana mereka gagal kali ini.
"Bukan hanya hilang, kami menemukan banyak darah di kamar Katterine. Kami takut dia ... dia telah." Miller benar-benar berakting layaknya aktor yang di bayar mahal. Pria itu sangat menghayati perannya.
Namun, semua tidak ada yang sia-sia. Wajah Roberto berubah panik dan seolah marah. Pria itu juga mengepal kuat tangannya. Miller melangkah mendekat. Ia memberikan kartu nama kepada Roberto.
"Kau bisa menghubungi ku jika menemukan keberadaan Katterine. Aku takut jika dalam 24 jam ia tidka ditemukan, ia akan kehilangan banyak darah."
Roberto menerima kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam saku. Ia mengangguk tanpa menjawab.
"Baiklah, kami harus mencari keberadaan Katterine. Terima kasih atas kerja samanya. Maafkan kami karena harus melukai pengawal baru mu yang payah itu," ucap Miller dengan wajah seolah bersalah.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku bisa mencari yang baru," jawab Roberto sambil memandang wajah Miller. Ia merasa sedikit tenang karena kali ini Oliver tidak memukulnya.
"Kami pergi dulu." Miller membawa Oliver pergi. Ia tidak mau rencana mereka gagal hanya karena Oliver emosi melihat wajah Roberto.
"Oliver, ayo cepat pergi. Kenapa tubuhmu keras seperti batu," bisik Miller mulai bingung.
Oliver segera berjalan menuju mobil. Pasukan Gold Dragon juga ikut masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Roberto.
Di rumahnya, Roberto mulai panik. Pria itu segera berjalan menuju ke kamarnya. Ia membutuhkan ponsel untuk menghubungi pria yang pernah mengajaknya bekerja sama. Ia ingin memastikan kalau Katterine baik-baik saja. Bagaimanapun juga, membuat Katterine celaka bukan bagian dari keinginan Roberto.
"Pria itu. Apa yang sudah ia lakukan terhadap Katterine? Jika Katterine berada dalam bahaya, aku akan menahan informasi yang ia inginkan." Roberto duduk di sofa. Ia melekatkan ponselnya di telinga.
"Kau. Apa yang sudah kau lakukan? Sekarang di mana Katterine?" Roberto benar-benar emosi kala itu.
"Dia masih hidup!" jawab lawan bicara Roberto dari kejauhan. Kali ini Roberto bisa mendengar suara asli pria itu. Tidak lagi suara samaran seperti biasanya.
"Di mana Katterine?"
"Aku tidak akan memberi tahu keberadaannya sebelum kau memberi tahu informasi yang aku inginkan."
"Sial! Kau menjebakku? Kau sengaja melakukan semua ini karena ingin membuatku tidak memiliki pilihan lain?"
Pria itu tertawa puas seolah ia menertawakan kebodohan Roberto. "Wanita itu hanya bisa bertahan dua hari. Jika kau tidak memberi tahu informasi yang aku inginkan, maka wanita itu akan tewas dan aku akan pergi tanpa jejak."
Roberto yang sangat emosi segera melempar ponselnya ke lantai. Pria itu tidak menyangka kalau kini ia telah membuat wanita yang ia cintai berada dalam bahaya.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini. Baiklah, dia hanya menginginkan rahasia istana Cambridge. Aku akan memberikannya. Ini akan beresiko. Tapi semua demi keselamatan Katterine." Roberto segera beranjak dari Sofanya. Ia tidak bisa duduk tenang lagi. Kali ini ia harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa wanita yang sangat ia cintai.
Di sisi lain, Oliver dan Miller saling memandang dengan wajah bingung. Mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Roberto dan lawan bicaranya. Bahkan nomor telepon pria asing itu berhasil mereka dapatkan. Namun, satu hal yang membuat mereka bingung. Apa rahasia Cambridge yang diinginkan oleh pria misterius tersebut.
"Roberto tidak bersalah. Sepertinya dia juga di jebak. Jika seperti ini keadaannya, itu berarti nyawa dia juga dalam bahaya." Miller meletakkan alat yang sejak tadi mereka gunakan untuk mendengar perbincangan antara Roberto dan pria asing tersebut.
"Aku seperti pernah mendengar suara pria itu. Tapi, aku tidak ingat di mana." Oliver mengetuk stir mobilnya. Kekhawatirannya semakin memuncak ketika ia mengetahui Katterine hanya bertahan sebentar saja.
"Aku sudah mengirim orang untuk melacak lokasi pria itu. Kita kirim juga orang untuk mengikuti Roberto. Kita harus tahu rahasia apa yang di miliki Istana Cambridge. Kita tidak bisa membiarkan Roberto memberikan rahasia itu begitu saja kepada orang asing."
Oliver hanya mengangguk pelan. Ia sendiri sudah tidak sabar untuk melihat langsung wajah musuhnya.
__ADS_1
"Katterine, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku harap kau mau bersabar menungguku tiba untuk menyelamatkanmu."