
Leona menjegal kaki Isabel. Wanita itu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Sepatu yang ia kenakan sangat tinggi. Sedikit hambatan saja bisa membuat tubuhnya terjatuh. Isabel berteriak minta tolong. Ia terhuyung dengan wajah panik. Ia memandang pembatas kayu yang ada di samping tubuhnya. Tidak ada yang bisa ia pikirkan selain berharap ada yang menolongnya.
Pembatas kayu yang biasanya sangat kuat dan sudah pasti bisa menahan tubuhnya kini justru terlepas dan terjatuh ketika terkena dorongan tubuh Isabel yang ingin terjatuh. Semua pengawal dan pelayan terlihat sangat panik ketika melihat Isabel akan terjatuh dari ketinggian yang lumayan jauh.
Leona mengukir senyuman sebelum menangkap tangan Isabel. Dengan posisi tubuh setengah terlentang Isabel mengatur napasnya. Ia melihat ke atas sebelum memandang wajah Leona. Terlihat jelas kalau kini wajahnya berkeringat. Napasnya terputus-putus. Bibirnya dan tubuhnya gemetar ketakutan.
“Tolong aku ...,” lirih Isabel.
Semua orang menghentikan langkah kakinya ketika posisi Isabel seperti terancam. Beberapa pengawal yang ada di lantai satu mulai berjalan menaiki tangga untuk menolong Isabel. Lantai dua itu memang tidak banyak di penuhi orang. Isabel sengaja mengosongkan ruangan itu untuk memberi pelajaran kepada Leona tadinya. Tidak di sangka kalau kini justru dirinya yang menjadi sasarannya.
“Tentu saja, Putri Isabel. Saya tidak akan membiarkan Anda mati secepat ini,” ucap Leona dengan senyum kecil di bibirnya. Wanita itu menatap tajam wajah Isabel. Ia menarik tubuh Isabel dan menghempaskannya ke arah samping. Leona tahu kalau ada yang secara diam-diam mendekati posisinya.
Seorang pria menangkap tubuh Isabel. Sorot matanya sangat tajam. Ia melihat Leona seperti melihat buruan yang ingin segera ia habisi. Pria itu memakai pakaian seragam pengawal yang biasa menemani dan menjaga Isabel.
Isabel memandang wajah pria itu. Ia mengeryitkan dahi sekaligus ingin marah. Sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan pria itu. “Kemana saja kau!” umpat Isabel kesal.
Pria itu memandang wajah Isabel. “Maafkan saya, Putri. Ada urusan penting yang harus saya bereskan!” jawab pria itu dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Leona membalas tatapan pria itu. Tidak ada rasa takut sedikitpun di hati Leona. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan Clouse,” ucap Leona dengan senyuman kecil.
Isabel membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka kalau ada orang yang mengenali penyamaran Clouse. Leona memang memiliki bakat yang sama dengan Serena. Ketika ia melihat foto seseorang. Apapun penyamaran orang itu ia bisa mengenalinya dengan cermat.
Clouse menyunggingkan senyuman ke samping. “Pieter!” teriaknya.
Dalam hitungan detik saja Pieter muncul di samping Clouse. Dengan senjata lengkap pria itu muncul dan menunduk di hadapan Clouse. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Bawa Putri Isabel ke Istana Timur. Pastikan tidak ada yang berhasil mengikutinya,” perintah Clouse kepada Pieter.
Pieter membungkuk lagi. “Baik, Tuan ... Putri mari ikut saya.”
“Siapa wanita itu? Kenapa Clouse terlihat sangat serius?” ucap Isabel dengan wajah bingung. Tidak ingin berada dalam bahaya, Isabel memilih menurut. Ia sangat yakin kalau kini Clouse pasti akan melindunginya dari bahaya.
Clouse berjalan pelan mendekati Leona. Namun, sebuah tembakan menghalangi langkahnya. Isabel menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara tembakan. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang ke arah Clouse lagi. Betapa kagetnya Putri kerajaan itu ketika melihat orang-orang bersenjata sudah ada di sana. Tidak tahu entah dari mana munculnya.
Pieter mengangkat senjatanya bersama dengan beberapa pria yang bekerja dengannya. Pria itu segera membawa Isabel pergi untuk menyelamatkannya dari bahaya.
__ADS_1
Leona hanya diam menatap wajah Clouse. Tidak lama kemudian ia mengangkat satu tangannya. “Its show time, Baby!” ucap Leona dengan senyum kecil.
“Lets start, Baby girl!” jawab Jordan yang sudah ada di samping Leona. Pria itu merangkul pinggang Leona dengan mesra dan memamerkannya di depan Clouse.
Clouse masih diam membisu ketika pria-itu melingkarinya dan menodongkan senjata api kepadanya. Di lantai bawah, Kwan dan Oliver sudah menodongkan pistol kepada para pengawal yang berusaha menyerang pasukan mereka. Para tamu undangan sudah tidak ada lagi setelah alarm kebakaran itu berdering. Mereka semua pergi meninggalkan istana sesegera mungkin untuk menyelamatkan diri.
Zean dan Letty yang merasa terlambat datang hanya bisa melipat tangan di depan dada. Mereka menonton dan mengamati aksi Leona dan yang lainnya dari kejauhan. Apa bila Leona butuh pasukan tambahan, mereka sudah siap untuk membantu.
“Aku sudah bilang kalau wanita tadi pasti Leona. Jordan tidak pernah memperlakukan wanita selembut itu,” ucap Letty dengan wajah yang mulai tenang. Setidaknya kini Leona masih hidup. Rasa bersalah yang sempat memenuhi hatinya seakan hilang sehingga membuat hatinya lega.
“Aku senang melihatnya bisa tersenyum lagi,” ucap Zean sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
Letty mengeryitkan dahi. Wanita itu mengikuti Zean dengan langkah yang cepat. “Hei, kau mau kemana?”
“Tentu saja aku ingin mengikuti sumber masalah yang mau kabur. Aku tidak akan membiarkannya tetap hidup dan bersembunyi di suatu tempat,” jawab Zean dengan wajah serius. “Sebaiknya kau menurut saja dengan perintah Oliver. Bukankah kau diberi tugas untuk membawa Putri Katterine ke markas mereka? Kau juga memiliki tugas yang berat,” ucap Zean lagi.
Letty menghentikan langkah kakinya. Ia memandang punggung Zean yang semakin menjauh. “Berhati-hatilah!”
__ADS_1
Tanpa mau menjawab Zean mengangkat satu tangannya dan melambaikannya. Kini mereka sudah memiliki tugas masing-masing. Para pasukan mafia juga sudah mulai menyerang dan menghabisi seluruh pengawal yang ada di luar istana.