Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 58


__ADS_3

Zeroun tidak lagi bisa tidur pagi itu. Dia memandang Emelie yang berjalan ke kamar mandi. Setelah seharian membujuk istrinya, kini ia bertekad untuk tidak membohongi apa lagi Kabir diam-diam seperti biasanya. Bahkan demi menyakinkan Emelie, Zeroun mematikan ponselnya sejak semalam. Dia sangat yakin kalau putranya bisa mengatasi semua masalah yang ada. Tanpa ia tahu keadaan tidak sama dengan apa yang ia harapkan.


Zeroun membuka laci dan mengambil ponselnya yang tergeletak di dalam sana. Ia segera mengaktifkan ponselnya sebelum Emelie keluar dari kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan?"


Suara Emelie membuat Zeroun kaget. Bahkan ponsel yang ada di tangannya harus terlepas setelah ia mendengar suara sang istri.


"Aku hanya memastikan kalau tidak ada yang menghubungiku semalam." Zeroun mengambil lagi ponselnya yang sudah aktif dan bisa digunakan.


"Kau mematikan ponselnya?" tanya Emelie sambil berjalan ke arah tempat tidur.


"Ya. Aku tidak ingin kau salah paham lagi." Zeroun sudah tidak kosentrasi dengan ponselnya. Ia meletakkan ponsel itu di atas meja dan berjalan ke arah tempat tidur. Setidaknya ponsel itu sudah aktif. Pesan yang masuk akan segera ia baca ketika nanti ada waktu.


"Aku masih belum bisa tenang. Kenapa Jordan tidak menghubungiku. Setidaknya ia menghargaiku sebagai ibunya."


"Emelie, mungkin Jordan benar-benar sibuk."


"Sejak awal aku berpikir seperti itu. Tapi ... firasat ibu tidak bisa di bohongi. Hatiku berkata kalau putraku kini berada dalam kesulitan." Emelie memegang baju yang ia kenakan. Debaran jantungnya tidak karuan. Kali ini ia benar-benar tidak bisa tenang karena memikirkan keadaan putranya.


"Apa aku boleh menyelidikinya?" tanya Zeroun hati-hati. "Emelie, maafkan aku. Sebenarnya sejak kemarin saat Leona pulang aku sudah menyimpan curiga. Hanya saja, aku masih memikirkan perasaanmu. Ingin sekali aku melakukan penyelidikan tanpa harus membuatmu khawatir."


"Zeroun, aku tidak seperti itu. Maksudku, aku tidak mungkin tega membatasimu hingga seperti itu. Aku hanya ingin kau menganggapku seperti seorang istri. Aku ingin kau menceritakan segala hal yang kau lakukan di luar sana. Walau itu menyakitkan, aku akan berusaha menerimanya."


"Maafkan aku, Emelie. Tapi, mulai sekarang aku akan menceritakan segala hal kepadamu."


Emelie tersenyum dan berhambur ke dalam pelukan Zeroun. "Sekarang, lakukan sesuatu. Aku ingin tahu sebenarnya putraku ada di mana."


"Baiklah. Aku akan mengurusnya. Tapi, berjanjilah untuk tetap sehat dan jangan sakit-sakit lagi."


"Itu hanya bercanda."


"Aku sangat mencintaimu Emelie. Aku tidak mau kau sakit." Zeroun mempererat pelukannya. Ia mengecup pucuk kepala wanita itu berulang kali. Hatinya jauh lebih tenang ketika ingin melakukan sesuatu atas persetujuan istrinya. Tidak seperti yang selama ini ia rasakan. Penuh rasa bersalah setiap kali ia melangkah.


***


Matahari mulai tinggi menyinari bumi. Miller membuka matanya secara perlahan ketika cahaya matahari menerangi wajahnya. Keringat mulai menetes di pelipisnya.

__ADS_1


Miller dan Letty memutuskan tidur di mobil saat semalaman mencari keberadaan Oliver dan Jordan. Walau mereka sedikit lega karena kini Pieter sudah ada di tangan gold Dragon. Tapi, tetap saja rasa khawatir menyelimuti hati mereka sebelum mereka mendengar kalau Jordan dan Oliver baik-baik saja.


Mobil Miller terparkir di sebuah padang rumput yang menghadap ke laut. Pemandangan pagi itu terlihat sangat indah. Miller sempat tersenyum ketika menyadari lokasi tempatnya berada kini seperti lukisan. Saat Miller memandang wajah Letty, pria itu tertegun beberapa saat. Bahkan Miller tidak berkedip ketika kedua bola matanya menatap wajah Letty di pagi hari.


"Wanita ini, kenapa ketika tidur ia terlihat sangat cantik?" gumam Miller di dalam hati. Miller mengangkat tangannya secara perlahan. Ada peluh yang menetes di dahi Letty dan Miller ingin membersihkannya dengan tisu.


Namun, saat tangan Miller semakin dekat tiba-tiba saja Letty mengeluarkan senjata apinya. Ujung senjata itu mengarah ke wajah Miller sebelum kedua matanya terbuka.


"Apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak segan-segan membunuhmu jika mau memiliki niat jahat terhadapku," ancam Letty dengan wajah yang serius. Ancaman itu membuat Miller menghela napas dan kembali pada posisinya. Tisu yang ada di tangannya ia lemparkan begitu saja hingga terkena wajah Letty.


"Apa ini?" protes Letty lagi.


"Tisu. Apa kau tidak mengenal benda seperti itu?"


"Aku tahu ini tisu. Maksudku, kenapa kau melempar wajahku dengan tisu?" timpal Letty dengan wajah mulai emosi.


"Kau sangat jelek. Aku ingin menutup wajahmu dengan tisu agar tidak melihat wajah jelekmu itu."


"Miller! Kau!" Letty mengepal kuat tangannya. Ia menyimpan senjata apinya dan memalingkan wajahnya. Sedangkan Miller hanya tersenyum sambil memandang ke arah laut.


"Berubah jelek setelah bangun tidur. Di tambah lagi dia adalah wanita yang galak," gumam Miller di dalam hati.


"Miller, aku sudah memintamu untuk kembali saja tadi malam. Tapi kau bersih keras untuk ikut."


"Jordan dan Oliver adalah orang yang aku kenal. Aku juga tidak mau pulang sebelum menemukan mereka."


"Tapi aku merasa kita sudah tidak cocok!"


"Letty, sejak kapan kita cocok?"


"Miller, kau benar-benar menyebalkan." Letty membuka pintu mobilnya. Ia sudah tidak tahan berdebat dengan Miller di dalam mobil yang sempit itu.


"Letty, tunggu!" Miller juga cepat-cepat keluar dari mobil. Ia ingin membujuk Letty agar tidak marah lagi.


"Kenapa kau mudah tersinggung seperti ini. Ayolah, aku hanya bercanda."


Letty melirik Miller sekilas sebelum melekatkan ponselnya di telinga. Ia ingin menghubungi pasukannya agar menjemputnya di lokasi tersebut.

__ADS_1


"Letty," bujuk Miller penuh rasa bersalah.


"Pergilah. Aku bisa mengurus hidupku sendiri."


"Hanya karena aku bilang jelek kau marah hingga seperti ini?"


Letty menurunkan ponselnya. Ia menatap wajah Miller dengan wajah sedih. Lagi-lagi ekspresi wajah wanita tangguh itu berubah dan membuat Miller semakin bingung.


"Maaf. Aku suka becanda. Letty, aku hanya bercanda tadi. Tidak serius. Setiap wanita cantik. Termasuk dirimu. Namun, kecantikannya akan semakin sempurna jika wanita itu memiliki hati yang baik."


Letty hanya diam membisu tanpa mau menjawab. Wanita itu melihat ponselnya ketika nama Leona kini menghubunginya.


"Ada apa Leona?"


"Aku tidak bisa keluar hari ini. Mama akan pulang ke Sapporo. Aku harus tetap di sini. Bagaimana dengan penyelidikan tadi malam? Apa ada petunjuk?"


"Tidak ada."


Tiba-tiba saja Leona membisu. Tidak terdengar suara Leona lagi dari kejauhan sana. Letty tahu kalau kini pasti Leona kembali bersedih.


"Secepatnya kita akan mengetahui keberadaan mereka. Tenanglah."


Panggilan telepon itu terputus begitu saja. Letty kembali bingung memikirkan keberadaan Jordan dan Oliver saat ini.


"Apa ada kabar terbaru?" tanya Miller penasaran.


Letty menggeleng pelan. Ia bersandar di depan mobil dan menikmati hangatnya matahari pagi.


"Bagaimana rasanya menjadi orang yang selalu di puji dan di manjakan Miller? Bagaimana rasanya menjadi orang yang di anggap penting oleh seseorang?"


"Apa maksudmu, Letty? Apa hidupmu tidak bahagia selama ini?"


"Bahagia. Tapi ketika aku mengenang kalau aku ada di jalan tanpa memiliki orang tua, saat itu aku iri melihat setiap anak yang selalu diperhatikan orang tuanya. Kenapa orang tua mereka menyayangi dan memilih untuk mempertahankan mereka. Sedangkan orang tuaku lebih memilih untuk membuang ku?"


"Kedua orang tua Oliver adalah orang tuamu. Letty, nikmati saja hidup yang sekarang kau jalani. Jika kau menjalaninya dengan beban, kau tidak akan pernah bisa bahagia. Dan soal masa lalu. Sebaiknya lupakan saja. Aku juga tipe orang yang tidak suka mengingat masa lalu."


Letty memandang wajah Miller dan tersenyum. "Pak polisi yang sok dewasa," ledeknya dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Aku memang sudah dewasa. Kau mau melihatnya?"


"Miller, kau ini." Letty memukul lengan Miller dengan geram. Keduanya tertawa riang setelah perselisihan itu mendapatkan solusi. Letty tidak lagi marah kepada Miller. Justru mereka berdua terlihat sangat menikmati momen indah tersebut.


__ADS_2