
Zean tidak tahu lagi harus ke mana. Hingga akhirnya, lagi-lagi ia membawa Clara menuju ke hutan. Tadinya ia ingin datang ke rumah Ben saja. Tapi, akan cukup beresiko jika ada orang yang sadar kalau selama ini Ben membantunya. Ben hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Jika terjadi sesuatu terhadap Ben karena dirinya, Zean akan merasa sangat bersalah.
“Aku tidak tahu, harus berapa lama bersembunyi dan kabur seperti ini?” Zean merasa sangat lelah. Tapi, mau bagaimana lagi, saat ini pasukannya tidak juga muncul. Terkadang Zean ingin mengumpat dan ingin menghukum semua bawahanya jika bertemu nanti. Sudah satu hari ia menghilang tanpa kabar tapi bawahannya tidak ada yang khawatir.
Zean mematikan mesin mobilnya ketika merasa lokasi dirinya sudah aman. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan tersenyum melihat Clara yang masih terikat dengan mulut terbungkam.
“Maafkan aku! Aku tidak tahu cara menghilangkannya. Semoga saja besok pagi kau mau mendengarkan penjelasanku.” Zean memejamkan matanya. Clara yang terlihat tidak tenang juga tidak bergerak banyak karena kaki dan tangannya terikat. Hingga tidak lama kemudian, wanita itu juga ikut tidur dengan Zean karena kelelahan.
***
Zean membuka matanya ketika merasa seperti ada gempa. Mobil yang ia tumpangi bergerak seperti sedang di mainkan oleh seseorang. Ketika ia sadar, ia melihat Clara yang terlihat berontak atas ikatan di tubuhnya dan kain di mulutnya. Dengan gerakan cepat Zean membuka kain yang membungkam mulut Clara.
“Maafkan aku!” Zean segera membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Clara dengan belati.
“Apa kau bagian dari mereka? Kenapa kau mengikatku seperti ini?” protes Clara geram.
“Aku tidak mau kau menyerangku tadi malam.”
“Apa maksudmu?” tanya Clara dengan wajah memerah.
Zean memasukkan belatinya lagi. “Apa kau lupa apa yang kau alami sebelum kau tidak sadarkan diri? Apa aku harus menjelaskannya lagi? Sekarang?”
Clara termenung. Ia kembali mengingat kejadian memalukan yang ia alami tadi malam. Kedua matanya melebar ketika ia berhasil lolos dari malam memalukan bersama pria hidung belang yang membayarnya.
“Zean, kau datang menyelamatkanku? Bagaimana bisa?” sorak Clara kegirangan.
“Apa seperti ini caramu berterima kasih?”
Clara memajukan bibirnya. “Terima kasih.”
“Hmmm.”
Suasana kembali hening. Clara merasa tenang dan bahagia saat ini. Keperawanan yang ia jaga masih melekat di tubuhnya. Sedangkan dirinya tidak ada di penjara musuh lagi. Sudah ada pria tangguh yang pasti akan menjaga dan melindunginya dari orang jahat.
“Bagaimana dengan pria yang selalu bersamamu? Aku melihat mereka menusukkan pisau yang besar beberapa kali sebelum menembaknya. Itu sangat mengerikan.”
Zean kembali ingat dengan pengawal setianya. Rasa kehilangan itu masih ada, namun apa yang bisa di perbuat?
“Dia sudah tenang di sana.”
Clara menunduk sedih. “Maafkan aku. Semua karena aku. Seandainya saja-”
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang ingin menolongmu. Jadi, jangan katakan kalimat seperti itu lagi. Semua sudah takdir.”
“Padahal kau hanya seorang pengawal. Tapi memiliki kemampuan yang hebat layaknya seorang bos. Sikapmu juga bijaksana.” Zean mengambil kotak di jok belakang. Ia mengambil dua buah roti dan dua botol air mineral.
“Makan ini. Hanya ini sarapan yang kita punya. Sepertinya kita tidak bisa ke mana-mana lagi selain bertahan di sini selama beberapa hari.”
Clara menerima roti dan minuman tersebut. “Terima kasih, Zean.”
__ADS_1
Mereka berdua menikmati sarapan pagi seadannya. Sambil melihat matahari yang mulai tinggi yang kini tersaji di depan mata. Jas Zean yang kebesaran memang berhasil menutupi tubuh seksi Clara. Bahkan wanita itu seperti memakai sebuah mantel karena jas Zean yang sedikit tebal.
“Ada dua wanita yang bernasip sama denganku di sana. Kakak beradik. Masa depan mereka telah hilang. Aku tidak tega membayangkan nasip mereka.”
“Nasipmu juga menyedihkan.”
“Ya, tapi setidaknya aku memiliki kau!” jawab Clara cepat. Zean memandang wajah Clara dengan tatapan yang sangat dingin.
“Kenapa kau memandangku seperti itu?” Tiba-tiba saja Zean memegang kepala Clara dan membuat wanita itu menunduk.
DUAR DUARR
Zean membuka pintu mobil dan membawa Clara keluar. Ia memegang tangan wanita itu dengan erat. Sisa peluru yang ia miliki kali ini harus ia gunakan untuk meyelematkan diri.
“Lari Clara!” teriak Zean.
Clara berdiri di belakang Zean dengan wajah ragu. Ia melihat musuh yang datang dari segala penjuru. Rasanya meninggal Zean sama saja meninggalkan nyawanya tinggal di sana.
“Tidak!” jawab Clara cepat.
Zean tidak mau banyak kata lagi. Ia segera menembak mobilnya dengan peluru terakhir. Hanya itu cara yang ia punya untuk mengurangi jumlah musuhnya. Zean berlari kencang sambil menarik Clara. Saat jaraknya sudah cukup jauh, Zean segera menembak mobil yang sejak semalam ia gunakan ke sana ke mari.
DHOOOM.
Clara menutup kedua telinganya dengan tangan. Zean memperhatikan sebagian musuh yang berhasil ia kalahkan hanya satu trik saja. Setelah itu Zean membawa Clara berlari lagi. Tadi malam ia sudah menguasai lokasi tempatnya berada. Di ujung jalan aka nada air terjun yang memang dijadikan Zean tempat pelarian jika memang keadaan sangat mendesak.
“Zean, kita mau ke mana?” tanya Clara ketika melihat jalanan di depan seperti jurang.
“Mandi!”
“Zean, mereka mengejar kita,” teriak Clara panik. Zean hanya diam dan tetap berlari kencang. Sekuat mungkin ia tidak mau melepas tangan Clara agar wanita itu tidak pergi lagi. Hingga akhirnya mereka tiba di ujung tebing yang terbentang jurang begitu dalam. Di bawahnya adalah sungai besar yang menjadi tempat penampungan air terjun di samping mereka.
“Zean, apa ini?” Clara memandang wajah Zean. “Jangan bilang kalau kau mau membawaku mandi di tempat mengerikan seperti ini. Ini sama saja bunuh diri.”
“Kau bisa berenang?”
“Bisa, tapi-”
Belum sempat Clara menjawab, Zean sudah menariknya agar melompat. Clara merasa terbang seperti burung. Embun yang berasal dari air terjun membasahi tubuhnya walau ia belum tiba di dalam air. Walau begitu, Zean tetap memegang tangan Clara dengan erat. Ia juga harus memastikan wanita yang ia bawa baik-baik saja setelah mereka melompat ke dalam air.
Clara memejamkan kedua matanya ketika melihat air semakin dekat. Ia sudah pasrah dengan semunya. Walau harus mati, ia rela asal tidak menjadi pemuas ***** pria asing.
BYURRR.
Hantaman air dan tubuh mereka begitu keras. Seperti menabrak sebuah dinding yang begitu kuat. Genggaman Zean terlepas. Mereka masuk ke dasar air yang paling dalam. Airnya dingin seperti es hingga saat tubuh mereka menyentuh air, terasa begitu dingin dan membuat tubuh mereka cepat mengigil.
Para musuh yang sempat mengejar Zean dan Clara hanya bisa berdiri di atas tebing. Mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di bawah sana karena kabut tebal yang menghalangi.
Zean muncul kepermukaan lebih dulu. Ia mencari keberadaan Clara dengan wajah panik. “Clara?” teriak Zean dengan suara serak. Hatinya mengumpat kesal karena tadi tangan Clara terlepas dari genggamannya. Namun, tidak lama kemudian Zean mendengar suara Clara memanggil namanya. Karena memang dipenuhi kabut, jadi Zean tidak bisa dengan jelas melihat keadaan di sekitarnya.
“Clara, apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
“Zean, tolong aku.” Ketika Zean yakin dengan posisi Clara berada, ia segera berenang menuju ke sumber suara. Bibirnya tersenyum dengan hati yang tenang melihat Clara muncul di permukaan.
“Clara.”
Clara yang sedang menangis juga berenang ke arah Zean. Ia sangat takut jika tadi harus berpisah dari Zean lagi. “Zean, aku takut.” Clara memeluk Zean dengan erat. Wanita itu memejamkan matanya dengan tubuh menggigil.
“Clara, apa kau baik-baik saja?” Zean melepas pelukan Clara dan menatap wajah wanita itu dengan saksama. Ia hanya ingin memastikan kalau tubuh Clara tidak ada yang terluka saat ini.
Clara mengangguk. “Zean, aku takut. Sangat takut.” Clara meneteskan air mata. Walau wajah dan rambutnya basah, tapi tetap saja tetesan air mata bisa di lihat dengan jelas oleh Zean.
“Apa ada yang sakit?”
Clara menggeleng. “Aku takut Zean. Sangat takut.” Zean menarik Clara ke dalam pelukannya. Ia tidak tega melihat wajah ketakutan Clara yang seperti itu. Masih tergiang jelas bagaimana wajah ceria Clara ketika pertama kali mereka bertemu. Sungguh berbeda dengan sikap Clara detik ini. Zean tahu bagaimana rasa trauma yang kini di alami oleh Clara.
“Tenanglah. Aku ada di sini. Kau akan baik-baik saja.”
“Zean, apa mereka akan menemukan kita lagi?”
“Aku tidak tahu Clara.”
“Kita ada di wilayah mereka. Kita tidak akan bisa lari dari sini.” Mendengar perkataan Clara, Zean hanya bisa diam. Ia memandang langit dan berharap ada mukjizat menghampirinya.
***
Mansion Cosa Nostra.
“Apa kalian tahu berapa kerugian yang aku alami hanya karena wanita itu?” teriak sang big boss. Ia terlihat murkah saat mendapat kabar Clara kabur. Bahkan cliennya yang sangat berharga harus tewas di mansionnya. Tentu saja pihak keluarga menuntut dan kini ia harus membayar ganti rugi yang jumlah tidak main-main. Mau tidak mau ia harus membayarnya karena tidak mau mendapat masalah.
“Kami pasti akan menemukannya, Bos.”
“Menemukan kau bilang?” Pria itu berjalan mendekat dan melayangkan pukulan yang sangat menyakitkan. “Bagaimana bisa dia kabur dari mansion ini? Apa yang kalian kerjakan hingga ia berhasil kabur!”
Pria itu hanya bisa menahan sakit. Ia menunduk dengan tubuh gemetar. “Sebelumnya ada seorang pria yang muncul di mansion timur, Bos. Sepertinya pria itu muncul untuk menyelamatkan Nona Clara.”
“Pria? Siapa dia?” Suara pria itu mulai merendah.
“Kami juga tidak tahu, Bos.”
PLAKKK
Satu tamparan kembali mendarat. “Cari mereka sampai dapat. Kunci semua lokasi agar mereka tidak bisa kabur lebih jauh lagi.”
Saat amarah pria itu belum meredam, tiba-tiba seorang pria muncul di dalam ruangan itu untuk menyampaikan sesuatu.
“Bos, ada yang ingin bertemu dengan Anda.”
“Aku tidak ingin bertemu siapapun!” jawabnya dengan wajah marah.
“Mereka bilang, jika Anda tidak ingin menemui mereka, mereka yang akan datang menemui Anda.”
Pria itu semakin kesal. “Siapa yang berani mengancam seperti itu. Apa dia lupa saat ini ada di mana? Mereka bisa saja pulang hanya membawa nama. Katakan kepada mereka agar pergi dan temui aku lain hari.”
__ADS_1
“Mereka bilang … mereka adalah Gold Dragon dan Queen Star, Bos.”
“Siapa kau bilang?”