Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Sentuhan Cinta


__ADS_3

San Fransisco



Alana dan Kwan berjalan-jalan di di pinggiran kota yang menghadap langsung dengan lautan yang luas. Mereka duduk di sebuah kursi besi sambil memegang secangkir kopi yang hangat. Pemandangan sore itu memang terlihat sangat indah. Langit sudah berubah jingga karena matahari sebentar lagi akan tenggelam


Dari kejauhan, terlihat jembatan Golden gate yang dulunya pernah dijadikan tempat berpacaran antara Sharin dan Biao. Sebuah jembatan yang pastinya telah berhasil membuat kenangan indah antara Biao dan Sharin dulunya. Tanpa sepengetahuan Alana. Bagaimana lika liku perncintaan orang tuanya dahulu.


Kwan bersandar dengan posisi yang nyaman. Pria itu memandang wajah Alana sekilas sebelum memandang ke arah depan lagi.


"Alana, apa yang kau lakukan jika pria yang sangat kau cintai melukai hatimu? Mengecewakanmu dan membuat hatimu trauma?" ucap Kwan tiba-tiba.


Sejak tiba di San Fransisco, Kwan masih belum bisa melupakan Leona. Ia ingin selalu ada di samping Leona untuk melindungi wanita itu dari bahaya. Namun, Leona sendiri yang mati-matian memaksanya untuk kembali ke San Fransisco.


Leona ingin Kwan kembali ke San Fransisco untuk memperjuangkan cintanya terhadap Alana. Leona ingin Kwan berhasil mendapatkan cinta dari wanita yang ia sukai. Leona tidak ingin nasip yang pernah ia alami juga dirasakan oleh Kwan. Leona ingin Kwan bahagia. Tidak terus-terusan memikirkan hidupnya.


Alana tertegun beberapa saat sebelum meletakkan kopi yang ia genggam di sampingnya. Wanita itu beranjak dari kursi besi tersebut dan berjalan ke arah pagar besi yang membatasi mereka dengan lautan lepas.

__ADS_1


"Aku akan memaafkannya," ucap Alana pelan.


Kwan menaikan satu alisnya. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Kopi yang masih ada di genggaman tangannya juga ia letakkan begitu saja di atas kursi besi.


"Kau tidak marah padanya? Kau tidak akan membencinya?" tanya Kwan untuk kembali memastikan. Jawaban Alana memang dibluar dugaan Kwan. Belum pernah ia membayangkan kalau masih ada wanita yang setulus itu setelah hatinya di sakiti.


Alana menggeleng pelan tanpa memandang. "Aku justru akan berterima kasih padanya. Karena bertemu dan di sakiti olehnya, aku bisa tahu arti cinta sesungguhnya. Ke depannya, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi," jawab Alana penuh keyakinan.


Kwan mendengus pelan. "Jawabanmu tidak sama dengan apa yang dipikirkan Kak Leona saat ini. Seandainya Kak Leona memiliki pemikiran yang sama dengan dirimu, ia tidak akan mungkin menjadi seperti sekarang," ucap Kwan tanpa sadar dengan apa yang baru sama ia ucapkan.


Alana memandang wajah Kwan dengan tatapan penuh tanya. "Sebenarnya apa ya g terjadi dengan Kak Leona?"


Alana mengangguk pelan sebelum memandang tangan Kwan yang memegang besi. Secara perlahan, tangan Alana mendekat dengan tangan Kwan. Wanita itu ingin menggenggam tangan Kwan.


Tidak tahu kenapa, ia ingin menggenggam tangan pria itu. Bukan hanya karena tangannya yang kini sudah terasa dingin. Tapi Alana ingin merasakan kehangatan seperti dulu. Saat Kwan menggenggam tangannya dengan begitu mesra dan penuh dengan cinta.


Tapi, belum sempat ia berhasil menyentuh tangan Kwan, pria itu sudah melepas genggaman tangannya. Kwan berjalan kembali ke arah kursi yang sempat ia duduki. Alana menarik kembali tangannya dengan wajah grogi. Ia memejamkan matanya lalu mengukir senyuman terpaksa. Alana malu. Ia malu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Jelas-jelas dulu ia yang menolak Kwan. Tapi sore ini ia terlihat sedang mengejar-ngejar pria yang sempat ia tolak tersebut.

__ADS_1


"Kenapa aku menjadi seperti ini," umpat Alana kesal. Wanita itu mengatur napas dan debaran jantungnya yang tidak karuan. Setelah semua terasa normal kembali, Alana memutar tubuhnya. Ia berjalan dengan wajah biasa saja ke arah kursi yang di duduki Kwan.


Kwan melirik Alana sekilas sebelum meneguk kopinya. Pria itu mengukir senyuman bahagia. Tentu saja hal itu memang di sengaja oleh Kwan. Ia ingin mengerjai dan mengetahui sampai sejauh mana wanita itu mencintainya dan peduli padanya.


Alana membiarkan kopinya di kursi tersebut. Ia tidak lagi berselera untuk menghabiskannya. "Ayo kita pulang," ajak Alana sambil beranjak dari kursi yang ia duduki. Hari sudah semakin gelap. Alana ingin segera pulang dan berendam di rumahnya.


Kwan mengangguk pelan. "Ok," jawab Kwan pelan. Pria itu membuang cup kopinya ke tong sampah. Ia melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya sebelum berjalan lebih dulu.


Alana terlihat semakin kesal ketika melihat kelakuan Kwan. Wanita itu melipat tangannya di depan dada dan memasang wajah jutek. "Bisa-bisanya dia meninggalkanku begitu saja. Apa dia benar-benar ingin menjaga jarak denganku saat ini?" gumam Alana di dalam hati.


Kwan menghentikan langkahnya setelah berjalan beberapa langkah ke depan. Pria itu memutar tubuhnya dan mengulurkan tangannya di hadapan Alana. "Apa kau mau berjalan beriringan denganku?" tawar Kwan dengan tatapan dingin.


Alana mematung sambil memperhatikan tangan Kwan dengan saksama. Tiba-tiba saja pipinya merona dan wanita itu malu-malu. Ia sampai harus menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.


Kwan menaikan satu alisnya. Pria itu berjalan mendekati Alana dan menyatukan jemari mereka. "Ayo kita pulang. Kenapa kau berhenti seperti patung," ucap Kwan sebelum memasukkan genggaman tangan mereka ke dalam saku mantelnya. Pria itu berjalan dengan wajah bahagia. "Benar kata Papa dan Mama. Perlakukan wanita dengan lembut dan jangan pernah memaksakan apa yang tidak ia sukai," gumam Kwan di dalam hati.


Alana berjalan sambil menunduk tanpa berani memandang wajah Kwan. "Apa dia tahu kalau tadi akau ingin menggenggam tangannya? Kenapa semakin hari debaran jantungku semakin tidak karuan begini? Apa benar kalau saat ini aku sudah jatuh cinta padanya? Apa cinta bisa datang secepat ini? Dulu aku sempat marah atas kelakuan kurang ajarnya. Tidak tahu kenapa, sekarang aku merindukan Kwan yang dulu," gumam Alana di dalam hati.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan saat langit benar-benar telah gelap. Matahari telah bersembunyi. Kwan membukakan pintu mobil dan memberi jalan kepada Alana untuk masuk. Walau pikirannya sempat dipenuhi dengan nama Leona, tapi kini hatinya bisa kembali bahagia. Setidaknya hubungannya dan Alana sudah mengalami tahap kamajuan.


Perjuangan Kwan tidak sia-sia. Untuk rasa cintanya kali ini, Alana benar-benar juga merasakan hal yang seperti apa yang Kwan rasakan. Tidak akan ada lagi istilah cinta betepuk sebelah tangan seperti beberapa tahun yang lalu.


__ADS_2