
Suasana hening itu terlihat begitu mencengangkan. Untuk sejenak hanya ada Leona dan Letty yang menjadi pusat perhatian semua orang. Dua wanita itu saling memandang dengan tatapan sama-sama tidak suka.
"Gawat. Jika dibiarkan mereka bisa ribut beneran," gumam Emelie di dalam hati.
Emelie beranjak dari sofa. Ia berjalan mendekati Leona berdiri saat ini. Emelie tidak mau ada keributan. Walau terlihat akrab, tapi terkadang kalau sedang berdebat Letty dan Leona sama-sama tidak mau kalah.
"Sayang, apa ini buah yang mommy minta?" tanya Emelie dengan senyuman.
"Ya, Mom." Leona berusaha tenang dan mengecilkan suaranya. Ia juga tidak mau marah-marah dengan Emelie karena sejak tadi ia tahu Emelie tidak ikut menyalahkan Zean.
"Ayo kita makan di luar," ajak Emelie sambil merangkul pundak Leona.
"Tapi, Mom. Soal Zean tadi." Leona masih ingin ada di sana untuk membuat semua orang tidak lagi menuduh Zean.
"Sttt. Biarkan saja mereka berpendapat. Jangan di dengarkan. Letty memang seperti itu bukan?" ucap Emelie lagi. Wanita itu terus memaksa Leona pergi dari sana hingga akhirnya Leona tidak memiliki pilihan lain selain menurut saja.
Setelah Emelie berhasil membawa Leona pergi dan pintu kamar tertutup kembali, Lana menatap Letty dengan tatapan yang tajam. Wanita itu protes karena Letty tidak bisa mengerem mulutnya dan membaca situasi.
"Mommy tidak suka kau bersikap seperti itu!"
"Sorry, Mom!" Letty memilih mengaku salah. Ia juga tidak punya bukti yang jelas kalau Zean terlibat.
Oliver memegang tangan Katterine dan memasukkan bubur yang di sendok ke dalam mulutnya. Ia sendiri bersikap pura-pura tidak tahu walau dalam hatinya penasaran.
"Sudah dingin. Aku buatkan yang baru ya," ucap Katterine sambil memandang wajah Oliver.
"Jangan. Aku bosan makan bubur."
"Aku tidak akan memasak bubur." Katterine mengusap lembut pipi Oliver. Hal itu membuat Oliver salah tingkah. Apa lagi kini kejadiannya di saksikan oleh keluarga inti yang ia miliki.
Oliver menahan tangan Katterine agar tetap di pipinya. Pria itu mengecup tangan Katterine dan menggenggamnya dengan erat.
"Mom, Oliver ingin bertunangan dengan Katterine," ucap Oliver dengan penuh keberanian. Ia yakin kedua orang tuanya akan setuju.
"Kau yakin?" tanya Lana sambil mengeryitkan dahi.
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat yakin, Mom. Aku dan Katterine saling mencintai."
"Bukankah kau pernah bilang sama Daddy kalau tidak suka ada acara pertunangan? Kau ingin langsung menikah dengan wanita pujaanmu?" ledek Lukas dengan ekspresi khasnya.
"Dad, aku hanya ingin Daddy dan mommy membahas soal hubunganku dan Katterine bersama dengan kedua orang tuanya."
"Apa kau ingin mengajak putri Cambridge ini hidup di jalanan sepertimu? Kau bahkan belum memiliki rumah," ledek Letty dengan wajah malas.
"Rumah?" sambung Oliver dengan wajah kaget. Hal yang dikatakan Letty ada benarnya. Hingga detik ini Oliver belum memiliki rumah untuk ia tinggal dan menetap dalam waktu yang lama. Ia tidak tahu harus tinggal di negara mana yang nyaman. Walau sebenarnya membeli rumah sudah pasti sanggup bagi Oliver.
Katterine memandang wajah Oliver. Sebenarnya ia malu hingga tidak tahu harus berkata apa lagi. Rasa bahagia juga kini memenuhi pikirannya.
"Kau tidak memiliki rumah? Bagaimana kalau kita tinggal di istana?" ucap Katterine memberi solusi.
"Mana bisa seperti itu. Dua rumah tangga tinggal di satu atap. Tentu saja tidak enak." Tiba-tiba saja Lana melempar bantal ke arah Letty. Wajahnya semakin kesal melihat tingkah letty saat itu.
"Apa kau salah memakan obat? Kenapa sikapmu sejahat itu?" ujar Lana dengan emosi tertahan. Jika saja Lukas tidak memegang tangannya Mungkin ia sudah memukul wajah Letty dengan bantal sehingga berulang kali.
Karena tidak mau jadi korban amukan Lana, Letty memutuskan pergi dari sana. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu. Seperti ada rasa iri melihat semua pasangan bersatu.
Lana memandang wajah Katterine dan tersenyum hangat. "Katterine, jangan di ambil hati ya? Tante akan bicara dengan orang tuamu soal ini."
Katterine hanya tersenyum hangat. Sebenarnya ia tidak pernah mempermasalahkan perkataan Letty karena memang wanita itu terkadang memang bisa berubah menjadi sangat menjengkelkan.
***
Emelie mengambil potongan buah di tangan Leona dan menyuapi Leona dengan penuh kasih sayang. Ia sangat menyayangi menantunya. Baginya Leona sudah bagian dari hidupnya saat ini.
"Mom, kapan mommy makannya jika terus-terusan memberikannya kepadaku?" tanya Leona. Walau begitu ia tetap membuka mulut dan mengunyah potongan buah tersebut.
"Sampai hatimu kembali tenang," jawab Emelie dengan wajah yang santai.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak. Kau masih memikirkan Zean." Emelie mengambil potongan buah lagi dan ingin menyuapi Leona. Namun kali ini Leona mencegahnya dengan memegang tangan Emelie.
__ADS_1
"Mom, maafkan aku. Bukan maksudku ingin menduakan Jordan."
"Sayang, mommy tidak berpikir seperti itu. Mommy hanya tidak ingin ada permusuhan. Mommy lelah. Apa lagi masalah ini selalu menimpah kau dan Jordan. Kapan kalian memberi mommy cucu jika terus saja di hadapkan masalah yang memusingkan?"
Leona tertegun mendengar kejujuran mertuanya. Ia sendiri merasa bersalah karena sudah lama melupakan program rutin yang harus ia lakukan di dokter kandungan.
"Maafkan Leona, Mom."
"Tidak sayang. Mommy paham. Mommy duku juga harus bersabar mendapatkan Jordan. Jadi, mommy tidak akan memaksa kalian berdua. Mommy hanya mau kalian hidup tenang dan menikmati pernikahan kalian. Itu saja tidak lebih."
"Maafkan Leona ya Mom. Leona sayang mommy." Leona dan Emelie saling berpelukan. Leona tidak mau membesarkan masalah Zean karena ia tahu kalau ada hal lain yang jauh lebih penting saat ini. Yaitu Jordan junior.
***
Setelah beberapa hari harus istirahat total di dalam kamar, siang ini Jordan sudah mulai bosan. Dengan manja ia mengajak sang istri untuk keluar jalan-jalan. Ya, memang agak sulit membujuk Leona. Wanita itu juga tidak mau membawa Jordan keluar istana karena masih trauma dengan semuanya.
“Babygirl, Please.” Jordan memeluk Leona dari belakang dan menghujani wanita itu dengan kecupan. Ia terus menggoda istrinya sampai mau menemaninya untuk jalan-jalan ke kota London.
“Jordan, dokter belum memberi izin.” Leona berusaha melepas pelukan sang suami. Tapi sepertinya Jordan tidak bergeming dan terus menggodanya.
“Hei, apa yang kau lakukan. Kita belum boleh melakukannya.”
“Aku merindukan istriku.” Jemari Jordan yang nakal mulai membuka resleting gaun yang dikenakan Leona. Hal itu membuat Leona panik. Ia tidak mau Jordan sakit hanya karena kelelahan. Apa lagi dokter juga masih melarang.
“Oke, oke. Kau ingin ke mana?” Karena tidak memiliki pilihan lain, Leona menyetujui keinginan Jordan untuk jalan-jalan. Dengan cepat Jordan menghentikan cumbuannya dan kembali menarik resleting gaun Leona agar tertutup kembali.
“Ke suatu tempat yang dipenuhi banyak angin.”
“Bagus. Di halaman belakang kita bisa mendapatkan angin yang kencang,” jawab Leona cepat sambil merapikan penampilannya.
“Tidak. Aku mau ke London. Aku baru saja melihat kalau ada hotel terbaru di sana. Fasilitasnya cukup canggih. Aku ingin menginap di sana bersama istriku.” Lagi-lagi Jordan bermanja ria dengan tubuh Leona.
“Jordan sayang, ayo kita pergi. Soal itu kau harus menghubungi dokter yang menanganimu untuk meminta izin,” ucap Leona dengan wajah memerah.
“Baiklah. Cup.” Jordan mengecup leher Leona lagi sebelum pergi bersiap. Sedangkan Leona hanya bisa memandang Jordan sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Selama sakit dia berubah menjadi anak-anak,” gumam Leona di dalam hati.