Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kunjungan Alana


__ADS_3

Buat reader yang memiliki koin sekiranya mau membagi kepada author sebagai dukungan karya ini. Hari ini crazy up 10 bab karena ada reader yg berani bagi koin 1000. Dukungan mempengaruhi mood author untuk menulis. terima kasih dan selamat membaca. Saya tidak memaksa😊 hanya meminta seikhlas nya saja.🤣


***


Aleo dan Daniel terus berlari kencang menuju ke tempat yang menjadi sumber suara tembakan. Dua pria itu sudah mulai curiga ketika melewati lokasi rumah di lantai satu. Semua terlihat baik-baik saja. Beberapa pelayan terlihat sedang sibuk membersihkan rumah. Bahkan beberapa pengawal juga berdiri dengan wajah yang sangat tenang.


Aleo dan Daniel menghentikan langkah kaki mereka. Dua pria itu berjalan pelan menuju ke halaman samping. Suara tembakan itu masih belum berhenti. Bahkan semakin cepat durasinya.


Seorang pelayan membukakan pintu yang menghubungkan Aleo dan Daniel ke halaman samping. Mereka melanjutkan langkah kaki mereka dengan wajah yang sangat penasaran.


Setibanya di halaman samping, terlihat ada Serena dan Leona yang sedang menggenggam senjata api. Dua wanita itu terlihat sangat serius kepada beberapa bidikan yang sudah tersaji di depan mata mereka. Di mulai dari Serena lalu diikuti oleh Leona. Begitu terus-terusan hingga tidak ada jeda yang terdengar. Tembakan itu seperti tidak ada habisnya.


Daniel dan Aleo saling memandang sebelum berjalan mendekat. Mereka berdiri tidak jauh posisi Leona dan Serena latihan menembak. Tidak ada hal lain yang dipikirkan Aleo selain kata hebat. Tidak hanya Serena. Leona sendiri yang selama ini terlihat tidak berbakat kini sudah mulai bisa menembak. Walau belum tepat sasaran.


Serena menghentikan latihannya. Ia memutar tubuhnya saat merasa ada orang di belakang tubuhnya. Wanita itu mengukir senyuman sebelum berhambur ke dalam pelukan Daniel.


“Apa kau melatih Leona agar bisa menembak, Sayang?” tanya Daniel sebelum mendaratkan kecupan di pucuk kepala Serena.


Serena mengangguk pelan. “Leona ingin melindungi dirinya sendiri agar tidak ada yang berani menyakitinya,” jawab Serena pelan.


Leona meletakkan senjata apinya. Ia berjalan ke arah kursi yang ada di taman tersebut. Wajahnya terlihat lelah. Menembak juga mengeluarkan tenaga yang cukup banyak. Bahkan menguras pikiran dan kosentrasi.


Aleo menatap wajah Leona sebelum duduk di samping wanita itu. Ia menepuk pelan pundak Leona. “Kau hebat. Ini hari pertamamu memegang senjata api tapi sudah bisa sehebat itu,” puji Aleo dengan senyuman.

__ADS_1


“Ternyata menembak juga butuh energi kak. Aku mengira menembak ya asal saja menembak. Tanganku terasa lelah,” ucap Leona sambil memijat tangannya yang sejak tadi ia gunakan untuk menggenggam senjata.


“Nanti juga terbiasa,” jawab Serena. Wanita itu juga berjalan ke arah kursi besi yang berada tidak jauh dari posisi Aleo dan Leona berada. “Mama juga merasakan hal yang sama seperti denganmu dulu,” sambung Serena lagi.


Leona dan Aleo saling memandang dengan wajah penasaran. Mereka ingin tahu, seperti apa kehidupan Serena dulu hingga bisa menjadi mafia. Namun, salah satu di antara mereka tidak ada yang berani bertanya. Mereka takut membuat hati Serena terluka nantinya.


“Ma, Leona mau mandi dulu,” ucap Leona sembari beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu mendaratkan kecupan di pipi Serena sebelum berjalan pergi. Wanita itu ingin segera membersihkan dirinya agar kembali segar.


Sama halnya dengan Aleo. Pria itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia beranjak dari kursi yang ia duduki dan pergi meninggalkan halaman belakang.


Tersisa Serena dan Daniel. Sepasang suami istri itu saling memandang dengan tatapan penuh cinta sebelum tertawa bahagia. Mereka memang terlihat sangat bahagia.


***


Keesokan harinya. Leona baru saja selesai lari pagi. Ia berdiri di samping meja makan dengan tubuh berkeringat. Serena, Daniel dan Aleo juga ada di meja makan tersebut. Menatap wajah Leona dengan tatapan bingung.


“Aku ingin diet,” jawab Leona asal saja. “Kakak terlalu sibuk hingga tidak bisa menemaniku berlari pagi lagi,” protes Leona sebelum duduk di kursi.


“Ya, maafkan kakak. Setiap hari libur, kakak akan usahakan untuk menemanimu berlari,” jawab Aleo dengan senyuman.


Leona mengangguk pelan sebelum memulai ritual sarapan paginya. Ia memandang wajah Serena dengan tatapan tidak terbaca. “Ma, hari ini Leona ingin ke rumah Kwan,” ucapnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Ya, sayang,” jawab Serena dengan senyuman ramah. Wanita itu tahu, tujuan utama putrinya mengunjungi rumah Kwan karena ingin berlatih lagi.

__ADS_1


“Aleo, kau tidak lupa kan untuk menjemput Alana di bandara?” ucap Daniel.


Aleo melirik jam yang melingkar di tangannya. Ia memperhatikan perputaran waktu dan memikirkan jadwal rapatnya. Wajahnya terlihat sangat serius. Pria  itu terdiam hingga beberapa detik.


“Biar Leona saja yang menjemput. Nanti akan Leona ajak jalan-jalan ke rumah Kwan sekalian,” ucap Leona dengan tatapan penuh arti. Wanita itu tahu kalau kakak kesayangannya sangat sibuk hari ini. Namun, tidak berani menolak permintaan Daniel. Jika mengirim supir untuk menjemput Alana, terkesan sangat tidak sopan.


“Ide yang bagus,” ucap Aleo cepat. Pria itu mengedipkan sebelah matanya dan melanjutkan sarapan paginya.


Leona mengukir senyuman sebelum melanjutkan sarapan paginya. Ia sudah terlihat tidak sabar untuk menemui Shabira dan meminta wanita itu mengajarinya berlatih ilmu bela diri nanti.


“Pasti Alana sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik,” ucap Serena dengan senyuman. Wanita itu menyudahi sarapan paginya saat merasakan perutnya telah kenyang.


“Tidak ada perubahan, dia tetap cantik seperti dulu,” sambung Aleo dengan senyuman.


“Bagaimana denganku,” ujar Leona yang seolah sedang cemburu.


“Kau tetap princes di rumah ini, Sayang. Kau wanita yang paling cantik dan baik yang ada di rumah ini,” ucap Serena dengan senyuman ramah. Ia tidak ingin putri kesayangannya salah paham dan cemburu terhadap putrid tunggal Biao.


“Ya. Dan tidak boleh ada yang menggeser posisi itu,” ucap Leona penuh penekanan.


“Itu tergantung takdirmu, Leona. Bagaimana jika nanti istriku jauh lebih cantik jika dibandingkan dirimu?” ledek Aleo dengan tawa tertahan.


“Kakak!” rengek Leona tidak terima. “Ma, lihat Kak Aleo. Dia mau mencari istri yang jauh lebih cantik daripada aku.

__ADS_1


Serena dan Daniel tertawa ketika mendengar pernyataan Aleo. “Tidak ada yang bisa mengalahkan cantiknya anak mama di rumah ini,” ucap Serena agar Leona kembali tenang.


Leona terihat sangat bangga dengan pembelaan Serena. Wanita itu menatap wajah Aleo dengan tatapan meledek. Suasana meja makan itu lagi-lagi dipenuhi dengan keharmonisan. Ada canda tawa di setiap momennya. Sangat indah dan  menyejukkan mata. Keluarga bahagia yang akan selalu bahagia. Walau tidak tahu, apa kebahagiaan itu akan abadi nantinya.


__ADS_2