Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 18


__ADS_3

"Aku? Apa maksudmu? Aku belum pernah membunuh selama ada di kota ini." Oliver menyangkal tuduhan Miller. Ia merasa kalau apa yang dikatakan Miller hanya lelucon saja. Bagaimana bisa pria itu menuduhnya.


"Aku tidak tahu soal itu." Miller memandang ke arah lain. Kali ini pembahasan mereka benar-benar serius.


"Sebaiknya pergi dari kota ini sampai keadaan tenang. Walau bukan kau yang membunuhnya, tapi ... kau sudah menjadi buronan beberapa orang di kota ini."


Oliver melangkah maju mendekati Miller. Ia tidak menyangka kalau pria yang ada di hadapannya kini tega mengusirnya untuk pergi.


"Kau pasti tahu apa jawaban yang akan kau dengar!"


"Oliver, aku akan menjaga Katterine jika memang dia masih lama di sini."


BRUAKK


Sebuah pukulan Oliver daratkan di salah satu rahang Miller. Pria itu emosi mendengar perkataan Miller. Ia tidak percaya dengan semua perkataan sahabatnya. Justru ia berpikir kalau kini Miller ingin merebut Katterine darinya.


"Seharusnya sejak awal aku sadar, Sebenarnya apa tujuanmu!"


Miller memegang wajahnya yang terasa perih. Ia kali ini juga di pancing emosi. Tidak bisa berpikir jernih karena Oliver membuatnya sakit hati.


Miller membalas pukulan Oliver. Kali ini pukulannya tepat sasaran. Apa yang dirasakan Miller juga dirasakan oleh Oliver.


"Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan pria egois seperti dirimu. Apa yang kau pikirkan? Apa kau takut aku merebut Katterine? Jika memang aku mencintainya, aku sudah memperjuangkannya sejak awal. Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu. Sekarang terserah kau saja. Temui aku jika pikiranmu itu sudah jauh lebih tenang."


Miller pergi meninggalkan Oliver begitu saja. Ia tidak mau banyak bicara lagi karena semua terasa percuma. Oliver tidak lagi sama Oliver yang biasa ia kenal. Kali ini pria itu benar-benar berbeda.


Oliver mengepal tangannya dengan gigi yang saling beradu. Pria itu tidak tahu harus berbuat apa. Walau tadi jelas-jelas dia yang salah karena memulai perkelahian. Tapi tetap saja ia belum mau mengakuinya.


***


Beberapa saat kemudian.


Katterine baru saja selesai dengan kegiatannya. Bibirnya tersenyum bahagia ketika melihat mobil Oliver terparkir di depan sana. Ia berpamitan dengan rekannya yang sejak tadi bersama dengannya dan menemaninya mengobrol.


"Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok."

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Putri."


Katterine melangkah cepat mendekati mobil Oliver. Ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman. Katterine belum memandang wajah Oliver yang terluka. Wanita itu sibuk memeriksa isi tasnya untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan.


"Hari ini sangat menyenangkan. Wajah anak-anak kecil itu membuatku kembali ke masa kecil." Katterine tersenyum memandang Oliver. "Oliver, apa kau tahu?"


Katterine mematung ketika melihat wajah Oliver yang membiru. Luka itu berasal dari pukulan Miller yang tentu saja tidak akan hilang jika hanya hitungan menit saja.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti ini?" Katterine memegang pipi Oliver. Putri Cambridge itu ingin memastikan kalau luka itu bukan halusinasinya saja. Sebelum mereka berpisah, Oliver baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa." Oliver memegang tangan Katterine dan menurunkannya. Pria itu segera melajukan mobilnya tanpa tertarik memandang wajah Katterine yang masih mengkhawatirkannya.


"Tidak! Ini tidak baik-baik saja. Kau baru saja berkelahi? Apa kau memiliki musuh di kota ini?"


Katterine memegang lengan Oliver berharap pria itu mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Pakai sabuk pengamanmu. Ini hanya luka ringan, jangan terlalu khawatir."


Katterine menjauhkan tubuhnya dengan wajah kesal. Baginya percuma saja menekan Oliver untuk jujur saat ini. Jika pria itu tidak mau menjelaskan maka ia tidak akan mendapatkan apapun.


"Baiklah." Katterine memasang sabuk pengamannya. Ia memandang ke depan masih dengan wajah khawatir dan pikiran yang dipenuhi sejuta tanya.


Di sisi lain, Miller memukul stir mobilnya dengan geram. Ia benar-benar tidak menyangka kalau bisa membalas pukulan Oliver tadi. Seandainya saja ia bisa bersabar dan cepat menunjukkan bukti yang ia miliki, mungkin pertengkaran ini tidak akan terjadi.


Miller memandang dokumen yang ada di jok samping. Ia membukanya dan memeriksa isi di dalamnya. Foto itu kembali ia lihat saat sang pembunuh terekam camera cctv dan wajahnya terlihat sangat jelas. Miller mengamati foto itu dengan saksama. Ia ingin memastikan kalau foto di dalam itu bukan sahabatnya.


"Sial! Kenapa tidak ada bedanya. Ini benar-benar wajah Oliver. Aku tahu Oliver bukan pria yang tidak mau mengakui perbuatannya. Ekspresi nya marah tadi telah membuktikan kalau bukan dia pembunuhnya. Lalu siapa pria ini? Kenapa ada dua pria dengan wajah yang sama? Apa Oliver punya kembaran?"


Miller kembali berpikir keras. Ia meletakkan berkas itu kembali di jok samping sebelum mengambil ponselnya. Kali ini ia butuh bantuan dari mommy tercinta. Ia berharap Sonia bisa memberinya petunjuk atas rasa gelisahnya kali ini.


"Mom, apa Mommy sehat?"


"Miller, Mommy tahu kalau kau menginginkan sesuatu. Katakan saja, mommy sedang di salon bersama adikmu."


"Mom, Miller menghubungi Mommy karena Miller merindukan Mommy."

__ADS_1


"Jika kau merindukan Mommy kau akan pulang untuk melihat jodohmu."


"Mommy, Miller belum mau menikah dan tolong jangan jodohkan Miller lagi. Oke, Miller jujur. Kali ini memang Miller membutuhkan bantuan Mommy."


"Sudah mommy tebak. Sejak mommy melahirkanmu, kau belum pernah menghubungi mommy jika hanya sekedar menanyakan kabar. Sekarang katakan apa yang kau butuhkan."


"Apa aku memang sejahat itu?" gumam Miller di dalam hati.


"Mom, mommy kenal dengan kedua orang tua Oliver?"


"Lana dan Lukas?"


"Mommy kenal?" Miller tersenyum berharap ia akan segera mendapatkan petunjuk dari ibu kandungnya.


"Mommy tidak terlalu dekat. Mommy punya kenangan buruk dengan Lukas," jawab Sonia sambil kembali membayangkan ketika Lukas menusuknya dengan begitu kejam dan tanpa belas kasih.


"Benarkah? Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Paman Lukas terhadap Mommy?" Miller tiba-tiba saja lupa dengan tujuannya dan kini justru tertarik untuk mengorek informasi yang pernah terjadi antara ibu kandungnya dan Lukas.


"Apa ini yang ingin kau ketahui? Mommy tidak suka membahas masa lalu. Miller, apa kau lupa kalau kini mommy ada di salon?"


Miller menghela napasnya. Dari gaya bicara Sonia dia tahu kalau wanita itu tidak akan mungkin mau menceritakan masa lalunya.


"Mom, apa Oliver memiliki saudara kembar?"


"Setahu Mommy tidak. Tapi mommy tidak terlalu yakin. Kenapa kau tidak menanyakan hal itu langsung kepada Letty. Bukankah Letty sudah lama tinggal bersama dengan mereka. Lana sangat dekat dengannya. Dia pasti tahu banyak hal tentang Oliver."


"Letty? Kenapa aku bisa melupakan keberadaannya ...."


"Miller, apa kau sudah selesai? Mommy akan mematikan teleponnya."


"Ya, Mom. Miller sayang Mommy."


"Mommy juga selalu menyayangimu. Jaga dirimu dengan baik. Hubungi mommy tiap kali kau berada dalam masalah."


Miller meletakkan ponsel tersebut kembali ke dashboard mobil. Ia kembali memikirkan Letty.

__ADS_1


"Letty ... sekarang dia ada di mana? Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya. Apa dia ada di Hongkong? Mungkin, jika aku menceritakan masalah yang kini terjadi ia bisa membantuku menyelesaikannya. Bagaimanapun juga dia wanita yang hebat."


Miller melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Pria itu akan mencari waktu yang tepat untuk mengajak Letty bertemu agar bisa membahas masalah yang kini membuatnya pusing.


__ADS_2