Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 13


__ADS_3

Dengan memegang beberapa bagian tubuhnya yang sakit, Roberto memandang polisi-polisi yang ada di dekatnya. Ia meringis kesakitan dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Pak polisi, tangkap pria itu. Dia berusaha membunuhku!" Roberto tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi. Pengawal bayaran yang seharusnya bisa melindungi dirinya kini sudah tidak berguna lagi.


"Tangkap dia." Salah satu polisi memberi perintah kepada bawahannya. Dengan cepat mereka berlari menuju tangga untuk menangkap Oliver yang masih berdiri dengan tatapan dinginnya.


Oliver memandang wajah polisi-polisi yang berjalan mendekatinya. Ia bahkan tidak sungkan-sungkan menyerahkan kedua tangannya untuk di borgol.


"Habislah kau! Mulai saat ini, kau tidak akan bisa mendekati Katterine lagi. Kau akan membusuk di dalam penjara. Aku lah pria yang akan menikah dengan Katterine nanti," guna Robert dengan wajah penuh kemenangan.


Oliver berjalan menuruni tangga dengan tangan di borgol. Pria itu memandang wajah Robert sekilas sebelum mengikuti jejak kaki polisi yang membawanya. Ia tidak merasa takut dan khawatir walau jeruji besi sudah semakin dekat dengannya.


***


Beberapa hari kemudian.


Robert baru saja keluar dari rumah sakit. Patah tulang yang ia alami sudah jauh lebih baik. Walau masih menggunakan tongkat, tapi setidaknya ia sudah bisa pulang ke rumah. Siang itu Roberto memutuskan untuk pulang ke apartemen. Ia sudah tidak sabar melihat wajah cantik Katterine dan menggoda wanita itu agar mau menjadi kekasihnya.


"Perjuangan di mulai," gumam Robert di dalam hati. Ia berjalan tertatih-tatih menuju ke pintu apartemen Katterine. Belum sempat ia tiba di sana, Katterine lebih dulu keluar dari ruangannya. Wanita itu terlihat semakin cantik hari ini.

__ADS_1


"Putri Katterine," sapa Roberto dengan senyuman hangat.


Katterine memandang wajah Roberto dan tersenyum terpaksa. Ia tidak berani membuat Oliver salah paham lagi. Kejadian kemarin sudah cukup baginya.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia menggunakan tongkat seperti itu? Apa ini perbuatan Oliver?" gumam Katterine di dalam hati.


"Apa kau ingin pergi ke tempat amal?" tanya Roberto lagi sambil berjalan mendekat.


"Ya. Apa yang terjadi denganmu?" Katterine memperhatikan keadaan Roberto dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ini karena ...." Roberto tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bibirnya terkunci ketika melihat Oliver keluar dari apartemen Katterine. Pria itu tidak ada di dalam penjara seperti yang selama ini ia pikirkan.


"Penjara?" Katterine memandang wajah Oliver. "Apa kau pernah di penjara?"


Oliver menatap sinis ke arah Roberto. "Mungkin dia belum bangun dari tidurnya." Oliver menggandeng pinggang Katterine dan membawa wanita itu pergi meninggalkan Roberto begitu saja.


"Tunggu!" teriak Roberto tidak terima. Walau ia masih dalam keadaan tidak sehat. Tapi tetap saja ia tidak terima di perlakukan semena-mena seperti itu oleh Oliver.


"Apa kau ingin merasakan terjun dari atas gedung ini?" Oliver memandang balkon yang berada tidak jauh dari posisi mereka berdiri.

__ADS_1


"Kali ini kau tidak akan bisa bangun lagi!"


Roberto menghentikan langkah kakinya. Baru di lempar dari lantai dua saja rasanya tubuhnya sudah remuk. Tidak bisa di bayangkan jika Oliver benar-benar melemparnya dari ketinggian apartemen tersebut.


"Jangan dekati Katterine jika kau tidak mau merasakannya!" Oliver melanjutkan langkah kakinya. Ia membawa Katterine pergi agar tidak ada di dekat Roberto.


Roberto mengepal tongkatnya dengan wajah geram. Ia tidak menyangka kalau Oliver bisa dengan mudah bebas dari kantor polisi.


"Sial! Sebenarnya siapa dia!"


Beberapa hari yang lalu.


Setibanya di depan rumah Roberto, Oliver di sambut dengan Miller. Pria itu tersenyum hangat melihat kemunculan Oliver.


"Kau pantas memakai besi itu." Miller tertawa riang. Ia puas meledek sahabatnya. Miller mengambil kunci dan melemparkannya ke arah Oliver. Pria itu menangkapnya dan meminta polisi yang ada di sampingnya untuk melepaskan borgol tersebut.


"Kenapa tidak kau bunuh saja pria payah itu?" sambung Miller sambil memandang Oliver.


"Aku ingin dia senang selama beberapa hari." Oliver berjalan menuju ke mobilnya. Ia tidak tertarik untuk berbincang dengan Miller saat itu.

__ADS_1


"Oliver, kabari aku jika kau mau main polisi-polisian lagi!" teriak Miller sebelum Oliver melajukan mobilnya. Pria itu hanya membalasnya dengan satu suara klakson sebelum melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2