Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Sepupu Rahasia


__ADS_3

Jordan mengambil ponsel miliknya. Pria itu duduk di sofa yang ada di lantai dua sambil mengotak-ngatik ponsel miliknya. Wajahnya benar-benar serius. Bahkan kehadiran Zeroun di hadapannya tidak lagi ia ketahui.


“Apa Leona sudah tidur?” tanya Zeroun pelan.


Jordan mengangkat kepalanya. Pria itu menurunkan ponselnya agar Zeroun tidak tahu masalah yang telah terjadi. “Dia wanita yang galak!” ucap Jordan sambil bersandar dengan posisi nyamannya.


Zeroun mengukir senyuman sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Jordan. “Ternyata tipemu wanita galak?” ucap Zeroun sambil menatap wajah Jordan.


“Dad, aku yakin aku bisa mendapatkannya dan merubahnya menjadi Leona murah senyum,” ucap Jordan penuh keyakinan.


“Ya, Itu niat yang sangat bagus. Tadi Mommy mu meminta kepada kedua orang tua Leona untuk segera menggelar pesta pertunangan kalian. Apa kau setuju?” tanya Zeroun. Pria itu ingin tahu respon putranya tentang ide yang di ajukan oleh Emelie.


“Aku tidak setuju,” ucap Jordan pelan.


Zeroun mengeryitkan dahi. Pria itu merasa aneh dengan respon yang diberikan Jordan. Seharusnya Jordan senang saat mendengar kabar pertunangannya dengan Leona. Tapi, malam itu Jordan justru memasang wajah tidak bahagia sama sekali.


“Apa kau punya alasan?” tanya Zeroun penasaran.


“Leona belum mencintaiku, Dad. Di matanya masih ada pria lain.” Jordan memandang ke depan dengan tatapan serius. “Aku tidak ingin Leona melakukan semuanya dengan terpaksa. Hubungan yang dipaksakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Aku ingin menghilangkan pria itu dari pikiran dan hidupnya. Setelah pria itu benar-benar tidak ada lagi di hidup Leona. Maka aku akan masuk ke dalam hatinya dan memberikan kehangatan di sana. Aku yakin, cepat atau lambat. Leona akan tahu ketulusan cinta yang aku miliki.”


Zeroun mengukir senyuman bahagia. Ia bangga dengan putranya. Sifat Jordan benar-benar dewasa. “Kau pria yang hebat. Daddy bangga padamu, Jordan.”


Jordan mengukir senyuman. “Dad, tidurlah. Ini sudah malam. Jordan juga mau tidur,” ucap Jordan sambil beranjak dari sofa yang ia duduki.


“Ya. Daddy akan tidur. Kamar daddy ada di lantai bawah.” Zeroun berjalan pergi meninggalkan Jordan sendirian di ruangan luas tersebut. Sedangkan Jordan, ia tidak langsung ke kamar. Pria itu kembali duduk dan menghubungi Oliver untuk menceritakan semuanya.

__ADS_1


“Aku sudah mengirim fotonya. Nama pria itu Clous,” ucapnya dengan sorot mata penuh dendam. Ia tidak ingin Clous mendapat cela untuk melukai keluarga tercintanya. Jordan ingin mencegah niat jahat Clous secepat mungkin.


***


Pagi yang cerah secerah wajah semua orang yang tinggal di rumah utama. Hanya ada satu wajah yang tidak secerah yang lain. Siapa lagi kalau bukan Leona. Sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya. Ia terus saja mengumpat kesal pada pria yang duduk di sebelahnya. 


Jordan sendiri yang memang sudah paham dengan apa yang dipikirkan Leona hanya bisa diam. Pria itu melanjutkan sarapannya agar segera selesai. Katterine memandang wajah Leona. Ia sangat senang memiliki kakak perempuan secantik Leona. Tapi, tidak tahu kenapa. Melihat sifat juteknya Leona membuat Katterine ragu untuk menyapa Leona lebih dulu.


“Ada yang merindukanku?” 


Leona meletakkan roti yang ada di tangannya. Wanita itu mengukir senyuman yang sangat indah. Suara itu milik pria yang sejak kemarin ia rindukan. Dengan gerakan cepat, Leona beranjak dari kursi.


“Kwan!” teriaknya kegirangan.


“Kak Leona, apa kau merindukanku? Apa kau baik-baik saja tanpa ada aku di sampingku?” tanya Kwan sambil memutar tubuh Leona. Pria itu memeriksa tubuh Leona dan memastikannya masih baik-baik saja.


Jordan memandang wajah Kwan dengan senyuman. Pria itu hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Tidak di sangka-sangka, orang yang sempat ia dan Oliver pukul adalah sepupunya sendiri. 


“Kau pria yang ceroboh Jordan! Apa yang akan terjadi pada hidupmu jika daddy tahu aku pernah mencelakai Kwan,” gumam Jordan di dalam hati.


“Aku baik-baik saja. Mana oleh-oleh yang aku pesan,” bisik Leona pelan.


“Tenang saja. Aku sudah menyimpannya di tempat yang aman,” bisik Kwan di telinga. Pria itu menatap wajah Jordan. Ia sempat bingung saat melihat pria yang menjadi musuhnya itu kini ada di hadapannya.


“Kwan, kemarilah. Mama ingin memperkenalkanmu dengan sepupumu yang ada di Cambridge,” ucap Shabira. Wanita itu menunjuk kursi kosong yang ada di sampingnya.

__ADS_1


“Sepupu? Aku punya sepupu?” tanya Kwan bingung sambil berjalan ke arah kursi yang di tunjuk Shabira. Pria itu memandang wajah Jordan lagi. “Jangan bilang kalau dia sepupuku,” gumam Kwan di dalam hati.


Leona kembali pada kursi yang sempat ia duduki. Namun, wanita itu hanya mengambil roti miliknya. Leona ingin duduk di dekat Kwan saja. Ia lebih nyaman dan bahagia jika Kwan yang ada di sampingnya.


“Leona, apa yang kau lakukan?” protes Serena.


“Ma, ada hal penting yang harus kami bicarakan,” ucap Leona mencari-cari alasan.


Jordan melanjutkan sarapan paginya. Sesekali ia memandang wajah Kwan sebelum menunduk lagi penuh rasa bersalah. Shabira menunjuk ke arah Emelie, Zeroun, Katterine dan Jordan. Wanita itu memberi tahu Kwan tentang keluarga jauh mereka yang tinggal di istana Cambridge.


“Itu sangat mustahil. Mama berpisah dengan kakak kandung mama selama 20 tahun lamanya? Dan ... tidak menceritakan padaku tentang hubungan keluarga antara aku dan Jordan? Ma, ini cukup merugikan bagiku,” protes Kwan dengan wajah seriusnya.


Leona hanya menjadi pendengar setia. Wanita itu melanjutkan sarapan paginya dengan wajah yang sangat tenang. Berbeda dengan yang lainnya. Semua orang kini terlihat bingung dan merasa bersalah.


“Kwan, itu hanya masa lalu. Kami tidak perlu menjelaskannya padamu. Sebaiknya kau segera habiskan sarapanmu dan jangan banyak protes lagi,” ucap Shabira dengan wajah bingung.


“Tidak Shabira, Kwan benar. Tidak seharusnya kita menutupi semua ini. Kita harus memberi tahu anak-anak kita apa yang pernah terjadi dengan masa lalu kita. Hal yang menyebabkan mereka terpisah juga harus kita katakan sekarang juga,” ucap Emelie dengan wajah yang serius. Zeroun mengukir senyuman sebelum menggenggam tangan Emelie. Pria itu ingin memberi kekuatan kepada sang istri agar tidak sedih saat bercerita tentang masa lalu mereka.


Emelie mengukir senyuman kecil sambil menggenggam tangan Zeroun yang ada di tangannya. Seperti apa yang di harapkan Zeroun, Emelie seperti memiliki kekuatan luar biasa saat Zeroun memegang tangannya.


“Emelie, tidak perlu. Mereka tidak harus tahu semuanya,” ucap Serena. Wanita itu tidak ingin cinta segitiganya diketahui oleh kedua buah hatinya. Ia sudah banyak berbohong dengan Leona selama ini. Jika benar Emelie menceritakannya, maka Leona dan Aleo akan tahu kalau ia berbohong. 


Saat Serena berharap Emelie mengurungkan niatnya, justru Daniel terlihat tidak setuju. Pria itu menggenggam tangan Serena sambil menggeleng kepala. “Sayang, anak kita dan anak Zeroun saling mencintai. Tidak seharusnya kita menutupi rahasia masa lalu ini. Mereka sudah dewasa dan saatnya mengetahui semua yang terjadi pada kita di masa lalu.”


Serena hanya bisa diam. Untuk pertama kalinya, tidak ada satu orangpun yang takut padanya dan mematuhi permintaannya. Selain mengunci mulutnya, Serena berusaha menghilangkan kekhawatirannya dengan memakan potongan buah yang ada di piring.

__ADS_1


__ADS_2