Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Will You Merry Me?


__ADS_3

Leona berjalan beberapa langkah. Ulang tahun ke 30 ini di rayakan dengan cara yang unik menurut Leona. Ia sangat yakin, kalau bisa menebak nama setiap orang yang akan ia peluk. Dengan bibir mengukir senyuman indah dan mata tertutup kain berwarna hitam, Leona berjalan maju.


Berdiri seorang pria yang menurut Leona sangat tidak asing. Aroma parfum dan pelukan hangat pria itu menjadi pahlawannya sejak kecil. Siapa lagi kalau bukan ayah tercinta.


“Papa,” ucap Leona pelan.


Daniel mengukir senyuman sebelum memeluk Leona dan mengecup pucuk kepala putrinya. “Happy Birthday, Sayang.”


“Terima kasih, Pa.” Leona mengukir senyuman indah. Daniel bergeser dari posisinya berdiri untuk memberi jalan kepada Leona. Wanita itu melanjutkan langkah kakinya. Baru dua meter melangkah, Leona kembali berhenti. Wanita itu memeluk tubuh seorang pria sebelum menyebutkan namanya.


“Kak Aleo,” celetuk Leona pelan.


“Hmm, Ya. Jika kau tidak mengenaliku. Aku akan protes kepada Mama dan Papa. Percuma saja punya saudara kembar jika tidak bisa merasakan ikatan batin dengan saudaranya,” ucap Aleo sebelum mendaratkan kecupan di pucuk kepala Leona. “Happy Birthday Leona sayang.”


“Terima kasih, Kak. Selamat ulang tahun juga untuk kakak,” ucap Leona masih dengan kedua mata tertutup.


Aleo bergeser dari posisinya berdiri. Leona melanjutkan langkah kakinya. Langkahnya terhenti dengan bibir tersenyum indah. Siapa lagi pria ke tiga kalau bukan Kwan. Hanya ada Daniel, Aleo dan Kwan di lokasi itu tadinya. Sebenernya, tanpa permainan seperti ini, Leona juga tidak akan mungkin salah membedakan semua orang.


"Kwan!"


Dengan penuh semangat Leona memeluk tubuh pria yang berdiri di hadapannya. Pelukannya hanya bertahan beberapa detik saja. Leona sadar, tubuh pria itu bukan Kwan. Ia segera membuka penutup matanya karena penasaran dengan sosok yang  baru saja ia peluk.


“Kak Leona, kau curang!” protes Kwan dari kejauhan. Pria itu terlihat sangat serius memperotes prilaku Leona.


Leona tidak lagi mau menghiraukan perkataan Kwan. Wanita itu memandang wajah pria yang kini berdiri di hadapannya.


“Happy Birthday,” ucap Jordan dengan senyuman indah.


Leona menunduk sebelum menyelipkan rambutnya di balik telinga. Ia bahagia, sangat bahagia melihat Jordan kini berdiri di hadapannya. Bahkan ia sampai salah tingkah. Leona ingin mengungkapkan perasaannya. Ia ingin memberi tahu Jordan, kalau dirinya telah jatuh cinta pada pria itu.

__ADS_1


“Aku ingin memberimu sesuatu,” ucap Jordan sambil mengeluarkan sebuah undangan. Desainnya sangat indah. Berwarna hitam dengan kombinasi warna merah yang begitu terang.


Leona mematung saat melihat undangan pernikahan tersebut. Wanita itu syok bahkan tidak menyangka kalau Jordan kembali hanya untuk memberikannya undangan pernikahan. Dengan tangan gemetar, Leona menerima undangan tersebut. Tanpa mau membaca isinya, Leona menatap wajah Jordan dengan seksama.


“Siapa yang akan menikah?” ucap Leona dengan suara serak. Hatinya terasa sakit. Seperti sebuah luka yang sudah kering kini kembali tergores.


“Aku,” jawab Jordan mantap.


Leona membuang tatapan matanya sebelum memejamkan mata. Ingin sekali ia menangis dan memeluk pria yang ada di hadapannya. Tapi, Leona tidak bisa. Bukan Jordan yang salah sejak awal. Tapi, dirinya yang terlalu lama mengulur waktu.


“Selamat, Pangeran Jordan. Aku pasti akan datang di hari bahagiamu nanti,” ucap Kwan dengan senyum bahagia. Ucapan itu di sambung dengan ucapan selamat dari Aleo dan yang lainnya.


Hanya Leona yang belum mengucapkan selamat. Wanita itu masih diam membisu sambil menahan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya. Undangan yang sejak tadi ada di tangannya sudah ia rem*as dengan sangat erat hingga tidak berbentuk lagi.


“Leona, apa yang kau lakukan? Kau merusak undanganku dengan calon istriku,” protes Jordan sambil merebut paksa undangan yang ada di tangan Leona.


“Kau pria yang jahat!” ucap Leona dengan nada yang masih pelan.


Jordan menaikan satu alisnya. “Dimana letak kesalahanku? Aku harus memutuskan menikah sebelum istanaku di rebut oleh Katterine. Kau juga menolakku berulang kali dan memintaku untuk menikah dengan salah satu wanita yang mengejar-ngejarku,” jawab Jordan dengan wajah santai. "Apa kau lupa?"


Leona mengatur napasnya yang terasa sangat sesak. “Kau Jahat, Jordan. Kau pria yang jahat!” teriak Leona dengan suara serak. Wanita itu tidak lagi mampu membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya sebelum memukul dada bidang Jordan untuk melampiaskan rasa sakitnya. “Aku membencimu.”


“Aku juga membencimu, Leona.”


“Aku membencimu dan pergilah dari sini sekarang!” ucap Leona sekali lagi.


Jordan mengukir senyuman indah sebelum menarik Leona ke dalam pelukannya. Pria itu mengusap lembut punggung Leona sebelum mendaratkan kecupan di pucuk kepala Leona. Setelah tangis Leona reda, Ia memegang kedua sisi pipi Leona sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala wanitanya lagi. “Selamat ulang tahun.”


“Shi*t! Lupakan. Jangan bersikap manis kepadaku!” teriak Leona tidak terima.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana, hanya bisa mengukir senyuman. Zeroun dan Emelie juga baru saja tiba. Mereka mengukir senyuman indah saat melihat Leona dan Jordan kini ada di tengah-tengah taman. Katterine dan Oliver serta Lana dan Lukas juga tiba di lokasi tersebut. Sama dengan yang lainnya. Mereka juga mengukir senyuman indah.


Jordan melepas pelukannya sebelum mundur beberapa langkah. Melihat keluarga tercintanya telah tiba, pria itu tidak ingin mengulur waktu lagi. Jordan mengeluarkan cincin dari sakunya sebelum berlutut di hadapan Leona. Bibirnya mengukir senyuman indah.


“Leona, will you merry me?” ucap Jordan dengan hati yang dipenuhi ketulusan.


Leona mematung. Wanita itu menatap wajah Jordan dengan tatapan bingung. Sesekali air mata masih menetes membasahi wajahnya. Ia menyekanya agar tidak membasahi pipi. Tanpa banyak kata lagi, Leona merebut paksa undangan yang ada di bawah kaki Jordan. Wanita itu membacanya dengan saksama. Bukan berhenti menangis, justru tetes air mata Leona semakin deras dan tidak terkendali. Leona menarik tangan Jordan agar berdiri.


“Dasar bodoh! Kenapa kau mengerjaiku dengan cara seperti ini?” protes Leona dengan suara yang serak. “Kau pasti tahu emosiku labil sejak tadi malam.”


Jordan menghela napas. Pria itu menatap wajah Leona dengan seksama.


“Leona, aku akan menjagamu dengan satu-satunya nyawa yang aku punya. Melindungimu dengan seluruh tenaga yang aku miliki. Membahagiakanmu dengan sejuta cinta yang ada di dalam hati. Leona, aku ingin kau menjadi istriku hingga maut memisahkan kita nanti. Aku tidak pernah mau memandang masa lalumu. Karena bagiku. Leona yang aku kenal adalah Leona yang kini berdiri di hadapanku. Aku mencintainya apa adanya. Apapun kekurangan yang ia miliki akan menjadi kelebihan bagi diriku,” ucap Jordan dengan wajah semakin serius.


Leona menatap wajah Jordan dengan bibir tersenyum bahagia. “Aku mencintaimu,” ucap Leona pelan.


“Ya. Aku tahu. Maka dari itu, aku membuat pesta pernikahan tiga bulan lagi. Aku rasa itu sudah cukup untuk mempersiapkan semuanya.” Jordan mendekatkan bibirnya di telinga Leona. “Siap tidak siap, kau akan menjadi Nyonya Jordan Zein tiga bulan lagi,” bisik Jordan.


Leona tertawa kecil sebelum memeluk Jordan. Wanita itu menenggelamkan kepalanya di depan dada bidang milik Jordan. “Aku tidak ingin jauh darimu. Aku sangat mencintaimu, Jordan.”


“Baby girl, kau harus memakai cincin ini agar resmi menjadi tunanganku,” ucap Jordan pelan.


Leona melepas pelukannya. Wanita itu menyodorkan jarinya di depan Jordan. Ia ingin Jordan segera memasangkan cincin lamaran itu di jari manisnya. Sebuah cincin yang akan mengikat dirinya dengan Jordan.


Jordan mengukir senyuman sebelum menyematkan cincin itu di jari Leona. Pria itu mendaratkan kecupan cintanya di punggung tangan Leona. “Aku mencintaimu, Sayang. Terima kasih karena sudah mencintaiku juga.”


Leona mengukir senyuman indah. Semua pemandangan ini seperti sebuah mimpi yang indah. Tidak di sangka, kalau dengan bertemu Jordan. Ia bisa kembali membuka hatinya yang tertutup rapat. Ia bisa merasakan cinta lagi. Kali ini Leona tidak perlu takut lagi saat melabuhkan hatinya. Jordan adalah pilihan yang tepat untuk menemani hidup Leona selanjutnya.


Jordan menarik pinggang Leona sebelum memeluknya dengan erat. Pria itu sangat merindukan Leona walau hanya berpisah beberapa jam lamanya. Jordan benar-benar sangat mencintai Leona. Wanita yang pertama kali membuatnya mengenal cinta. Leona adalah cinta pertama di dalam hidup Jordan sekaligus cinta terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2