
Leona segera keluar dari dalam ruangan itu. Kwan dan Jordan memegang tangan Leona dan memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Kak, apa lagi sekarang? Wajahmu berubah!" umpat Kwan kesal saat melihat tatapan membunuh Leona telah hilang.
Leona memandang wajah Jordan. Wanita itu memegang tangan Jordan dengan erat. "Tangkap dia. Aku mohon ... aku akan membunuhnya. Aku pasti bisa membunuhnya!" ucap Leona dengan kedua mata berkaca-kaca.
Jordan sangat kaget ketika melihat buliran air mata menetes di wajah Leona. Pria itu menarik pinggang Leona dan memeluk erat wanita itu.
"Baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Tapi, berjanjilah untuk tidak menangis lagi," ucap Jordan bersungguh-sungguh.
Leona mengangguk. Wanita itu melepas pelukan Jordan. Ia memandang wajah Kwan dan menghapus air matanya.
Jordan menatap jendela yang dijadikan tempat Zean kabur. Pria itu berlari untuk mengejar Zean dan berniat untuk menghabisi pria itu. Walau sebenarnya ia tidak tega, tapi semua ini ia lakukan demi Leona. Demi cintanya kepada Leona.
Jordan dan Zean saling kejar-kejaran di sebuah tebing yang berada cukup jauh dari markas The Devils. Beberapa pasukan Queen Star maupun The Devils juga mengikuti mereka dan mereka bertarung untuk saling melindungi tim masing-masing.
Zean memutar tubuhnya dan siap melawan Jordan. " Ok, baiklah. Hanya ada satu yang tersisa. Kau atau aku!" ucap Zean penuh percaya diri. Kini Leona tidak ada lagi di dekat Jordan. Zean merasa bebas untuk melukai Jordan.
__ADS_1
Jordan menatap wajah Zean dan mulai memukul pria itu. Seperti yang diharapkan Jordan, karena kali ini Zean menangkis pukulannya. Dua pria itu bertarung di pinggiran tebing dan bertekad untuk mengalahkan dan membunuh lawan mereka. Saling memukul dan saling menendang untuk mengalahkan.
Leona dan Kwan yang baru saja tiba juga berlari mendekati Jordan dan Zean. Mereka ingin membantu Jordan bertarung melawan Zean.
Zean terjatuh ketika Kosentrasinya teralihkan ke arah Leona yang baru saja tiba. Dengan wajah berlumuran darah dan tubuh dipenuhi luka, Zean berusaha berdiri. Pria itu memutar tubuhnya dan berusaha untuk lari dan kabur dari sana.
Zean menghentikan langkah kakinya saat ia menyadari kini tidak ada lagi jalan untuknya berlari. Dengan napas terputus-putus, Zean memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Leona, Kwan dan Jordan. Wajah Jordan masih tertutup sebuah topeng. Zean menyerah. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menyerah. Mungkin bisa saja bagi Zean untuk membunuh Leona atau mengalahkan wanita itu siang ini. Tapi, Zean sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melukai Leona lagi. Cukup sekali saja.
Di bawah terik matahari, Leona berdiri dengan senjata api di tangannya. Tatapannya sangat tajam. Kali ini tidak ada maaf lagi bagi Zean. Leona ingin membunuh mantan pacar yang sudah meleburkan hatinya itu.
“Maaf mungkin tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi, percayalah. Aku sudah berubah. Aku berjanji tidak akan melukai hati dan keluargamu lagi,” ucap Zean dengan suara yang lantang dan masih bertenaga. Kedua bola matanya memandang pasukan hebat yang selama ini ia banggakan kini tergeletak tidak bernyawa. Semua itu berasal dari tangan seorang wanita yang kini menodongkan pistol ke arah tubuhnya.
“Maaf, Zean. Tapi aku tidak percaya dengan perkataanmu lagi,” ucap Leona dengan tatapan kebencian.
Namun, tidak tahu kenapa kedua mata Leona terasa perih. Wanita itu merasa sangat aneh dengan apa yang ia rasakan. Ada rasa tidak tega dan ragu-ragu. Keadaan seperti itu yang selama ini diinginkan Leona. Tapi, ketika Zean sudah benar-benar tidak memiliki kekuatan dan siap untuk ia bunuh, tiba-tiba rasa tidak tega muncul di dalam hatinya.
“Kenapa kau menangis untuk pria jahat seperti dia, Kak Leona,” ucap Kwan saat melihat wajah sedih Leona siang itu.
__ADS_1
“Bunuh saja, Bos. Maka semua akan impas,” sambung pria lainnya yang menjadi pasukan Queen Star juga.
“Pria seperti dia tidak pantas mendapat belas kasihmu, Babygirl. Bunuh saja dia,” ucap Jordan yang berdiri tidak jauh dari tubuh Leona, “Jika kau masih tidak tega. Aku akan membantumu untuk membunuhnya,” timpal pria itu lagi sambil mengeluarkan sebuah pistol.
Leona semakin sedih dan bingung. Ia tidak tahu tindakan ini benar atau tidak. Rasa sakit hatinya benar-benar telah menutup hati nurani.
“Aku mencintaimu, Leona. Aku melakukan semua ini karena memiliki alasan. Kau sudah tahu semua alasanku. Sekarang, aku sudah ikhlas menerima hukuman darimu,” ucap Zean dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya sangat menyedihkan hingga membuat siapa saja yang menatapnya tidak tega untuk melukainya. “Aku mencintaimu, Honey. Maafkan aku....” Zean telah siap jika ia harus mati di tangan wanita yang sangat ia cintai. Ia pasrah bahkan sangat bahagia bisa pergi dengan cara seperti itu. Setidaknya saat ia pergi, ia tidak lagi membawa rasa bersalah karena telah melukai hati Leona.
“Cinta kau bilang? Cintamu sudah membuatku menjadi seperti sekarang. Aku membencimu, Zean. Pergilah ke neraka, karena memang di sana tempat yang pantas untukmu,” teriak Leona. Wanita itu tidak bisa di bujuk lagi. Hatinya sudah hancur berkeping-keping dan sulit untuk terbentuk lagi.
DUARRR!
Pistol yang ada di genggaman Leona terpental jauh. Semua orang terperanjat kaget saat mendengar suara tembakan yang muncul secara tiba-tiba. Serena berdiri di lokasi yang tidak terlalu jauh dari Leona dengan satu pistol di genggamannya. Di belakangnya telah berdiri beberapa orang yang sangat menyayangi dirinya.
“Kau mengecewakan Mama, Leona,” ucap Serena sambil menurunkan pistolnya secara perlahan, “Jika ada yang melukaimu hingga seperti ini, kau tidak harus merahasiakannya dari Mama.” Suara Serena meninggi. Wanita itu memasang wajah kecewa. Ia tidak sanggup melihat pemandangan yang kini terjadi di depan matanya.
Leona mengukir senyuman kecil. Bukan takut, ia justru mengambil kembali pistol miliknya yang terpental. “Aku mengikuti jejak Mama. Dengan menjadi ketua mafia, hidupku menjadi jauh lebih di hargai dan di hormati semua orang,” jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Leona tidak ingin ada yang mengagalkan rencananya. Walaupun orang yang melarangnya adalah Serena.
__ADS_1
“Leona, jangan berbicara seperti itu kepada Mama,” teriak Aleo tidak terima. Pria itu berdiri di samping Serena, “Kau boleh membalaskan dendammu pada pria itu karena rasa sakit yang telah ia perbuat. Tapi, kau tidak memiliki hak apapun untuk bersikap kurang ajar kepada Mama,” timpal pria itu dengan wajah tidak terima. Bahkan wajahnya sampai memerah karena tidak terima dengan sikap Leona. Sama halnya dengan Serena. Pria itu sangat kecewa melihat adik kesayangannya kini sudah banyak berubah.