Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 108


__ADS_3


Bella membuka matanya secara perlahan. Pertama kali membuka mata yang ia rasakan adalah sakit. Ya, semua bagian tubuhnya sakit. Di tambah lagi kini tubuhnya tidak bisa bergerak bebas. Kaki dan tangannya di ikat. Posisi Bella dalam posisi duduk. Kepalanya pusing karena belum ada makan dan minum. Entah sudah berapa jam ia tertidur.


Samar-samar Bella kembali mengingat apa yang telah ia alami. Tubuhnya berontak ketika ia sadar kalau dirinya adalah korban penculikan.


"Tolong! Tolong aku!" Tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Satu-satunya kemampuan gang ia miliki adalah berteriak. Tidak peduli ada yang dengar atau tidak. Toh, suara Bella memang tidak bisa kuat. Sejak lahir ia dididik menjadi wanita yang lembut.


BRAKKK


Saat pintu terbuka secara tiba-tiba, Bella kaget bukan main. Beberapa pria masuk ke dalam. Cahaya dari arah pintu terlihat sangat terang hingga ada silauan cahaya yang membuat Bella tidak jelas melihat wajah pria itu.


"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?"


Pria itu semakin mendekat. Ketika pintu kembali di tutup dan pria itu sendirian di dalam, Bella kembali memberanikan diri untuk melihat wajah pria itu lebih jelas lagi. Kedua matanya melebar ketika melihat pria yang ia kenali kini berdiri di hadapannya.


"Paman."


Pria berusia sekitar 48 tahun itu tersenyum. Ia mengambil kursi di dekatnya dan duduk menghadap Bella.


"Bella. Apa kau kaget?"


Bella menggeleng dengan senyuman. "Paman, paman datang untuk menyelamatkanku?" ucap Bella dengan wajah polosnya. Ia masih belum sadar kalau pria itulah yang sudah membuatnya susah hingga seperti sekarang.


Pria paruh baya itu tertawa kencang seolah ada lelucon di sana. "Kau benar-benar wanita bodoh! Aku tidak pernah menyangka kalau wanita bodoh seperti dirimu memiliki harta yang tidak ternilai harganya."


"Apa maksud, Paman? Buka kah paman adalah orang kepercayaan Daddy? Kenapa paman bersikap seperti ini padaku?"


"Ya. Aku adalah orang yang paling dipercaya oleh kedua orang tuamu. Tapi kau harus tahu satu hal. Aku juga orang yang sudah membuat kedua orang tuamu." Pria itu menggesek tangannya di leher untuk menggambarkan sebuah pembunuhan.


"Tidak! Ini tidak mungkin. Paman orang yang suka bercanda." Bella menggeleng kepalanya tidak percaya. "Paman pasti datang ke sini karena sudah berhasil negosiasi sama penjahat itu. Ya, kan paman? Paman, cepat lepaskan Bella. Tali ini membuat tangan dan kaki Bella sakit."


Pria itu menatap tajam wajah Bella. Bella mulai ketakutan. Walau begitu, ia berusaha tetap tegar agar tidak terlihat sedang ketakutan.


"Waktu itu kau terlalu muda, Bella. Kau hanya tahu bersenang-senang. Bahkan saat kedua orang tuamu kecelakaan dan tewas kau juga tidak terlalu peduli."


Bella menunduk. Rasa bersalah itu kembali menyelimutinya. Bukannya dia tidak sedih saat itu. Hanya saja ia masih memiliki Ella yang selalu menghiburnya dan membuatnya lupa akan kepergian orang tua mereka.


"Aku terlalu asyik dengan duniaku saat itu. Tapi, tidak pernah terlintas di dalam hatiku kalau aku bahagia atas perginya kedua orang tuaku!" jawab Bella mulai dengan nada yang ketus.


"Kau wanita bodoh! Sangat bodoh! Kenapa aku bilang begitu? Karena kau tidak peduli dengan masalah yang terjadi di sekitarmu. Kau hanya tahu soal uang dan kebahagiaan. Berbeda dengan Ella. Walau dia seorang adik, tapi dia sangat cerdas. Maka dari itu aku tidak membiarkannya hidup lebih lama."


Bella menggeleng kepalanya. Kali ini air mata lolos dan membasahi pipinya. "Ella, apa kematian Ella ada hubungannya dengan ...."


"Bukan waktu yang tepat untuk membahas masa lalu, Bella. Aku hanya ingin bilang satu hal. Serahkan chip itu atau kau akan menyusul keluargamu yang sudah tiada itu."


"Chip?"


"Jangan berpura-pura bodoh dihadapan ku! Aku sengaja menyewa orang hebat untuk mendapatkan gelangnya. Apa kau tahu, berapa lama aku mencari keberadaan chip itu? Sampai suatu malam itu tahu chip itu di simpan Ella di dalam gelang."


"Aku tidak tahu chip apa!"


"Pencuri yang aku kirim kini berada dipihakmu. Aku sendiri tidak tahu, sebenarnya ia baik atau tidak kepadamu, Bella."

__ADS_1


"Pencuri? Siapa yang dia maksud? Apa pencuri itu Letty?" gumam Bella di dalam hati.


"Beri tahu aku di mana chip itu berada. Jika tidak, kau akan menderita Bella. Kau akan merasakan sakit yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya." Pria itu berdiri. Ia sudah tidak tertarik lagi berbicara dengan Bella.


"Tunggu! Sebenarnya benda apa yang kalian incar? Kau bisa mengambil semuanya. Aku tidak butuh harta!"


Pria itu menahan langkah kakinya. "Kau akan mengetahuinya nanti!"


***


Di sisi lain, Letty dan Miller sudah berhasil mengetahui lokasi tempat Bella di sekap. Bersama dengan Queen Star, mereka mulai menguasai lokasi tersebut.


"Mereka berjaga-jaga di setiap sudut ruangan. Ada banyak ruangan di tempat ini. Jika salah masuk bisa memancing semua musuh keluar. Dan ... itu bisa menimbulkan resiko berbahaya bagi Bella. Mereka pasti akan membawa Bella kabur agar kita tidak bisa menemukannya."


Miller berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya Ia tahu bagaimana karakter Letty yang suka bertindak daripada menunggu. Miller hanya tidak mau rencana mereka gagal malam ini.


"Lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah satu jam di sini. Tapi kau terus saja memintaku sabar dan sabar. Aku lelah. Kita bisa menghabisi mereka secepat kilat."


"Bersabarlah. Setidaknya sampai mereka tidak menyangka kalau kita sudah ada di sini."


Letty membuka bungkus permen karet. Miller hanya memandang tingkah laku Letty dengan gelengan kepala. Selama menunggu sudah ada puluhan permen karet yang dihabiskan wanita itu. Ternyata seperti itu cara Letty menenangkan dirinya agar tidak gegabah. Kalau saja bukan karena Miller, mungkin ia tidak mau sepatuh ini.


"Ada yang datang." Miller menarik pinggang Letty. Ia membawa Letty bersembunyi di sudut yang gelap. Jika orang yang lewat tidak memperhatikan keadaan sekitar, keberadaan mereka tidak akan terlihat.


Letty tetap tenang walau kini tangan Miller ada di pinggangnya. Mereka saling berhadapan. Hanya saja, Miller lebih tinggi jadi Letty tidak bisa melihat jelas kalau kini pria itu memandang wajahnya. Bahkan sesekali memejamkan mata sambil tersenyum ketika aroma rambut Letty memenuhi hidungnya.


Letty mengangkat kepalanya. Pria yang mereka khawatirkan kini sudah menjauh. Namun Miller tidak kunjung melepas pelukannya.


"Ada apa?"


"Berhenti mengatakan hal itu, Miller. Sekarang bukan waktu yang tepat." Letty mendorong tubuh Miller. Namun Miller tidak menyerah. Ia menghalangi Letty dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Letty. Lagi-lagi wajah mereka saling berhadapan.


"Soal perkataanmu tadi, bagaimana jawabannya?"


Lagi-lagi Letty tidak menyangka kalau di situasi seperti ini Miller masih bisa merayunya. Namun, tidak tahu kenapa Letty berubah gugup. Debaran jantungnya tidak karuan. Mungkin saja kini Miller bisa mendengarnya dengan jelas karena memang posisi mereka berada sangat sunyi.


"Aku ... maafkan aku Miller. Aku butuh waktu untuk menjawabnya."


"Kau masih meragukan ku?" Miller terlihat kecewa. "Aku sudah menjelaskan semuanya. Hal ini hanya salah paham saja."


"Miller, jangan memaksaku dengan cara seperti ini."


Miller tertegun. Ia menjauh dari posisi Letty. "Baiklah. Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkanmu." Miller melirik jam di tangannya. "Sudah waktunya. Kau pergi ke lorong itu aku akan pergi melalui lorong ini. Berikan tanda tembakan 2 kali jika kau dalam bahaya."


Letty mengangguk. Tanpa banyak kata wanita itu pergi menuju lorong yang ditentukan Miller. Ia berlari sangat cepat tanpa mau memutar tubuhnya dan melihat Miller di belakangnya.


"Maafkan aku, Miller. Tapi, aku merasa tidak pantas membahas hal seperti ini sedangkan Bella tidak tahu baik-baik saja atau tidak," gumam Letty di dalam hati.


Miller berhasil membuat penjaga yang ada tidak berdaya. Ia melihat sebuah pintu yang sangat mencurigakan. Dari semua pintu yang ia lewati, hanya pintu itu yang di jaga hingga 5 orang. Bersama dengan pasukan Queen Star, Miller berhasil mengalahkan penjaga di depan pintu itu tanpa membuat keributan.


"Aku akan masuk ke dalam. Kalian jaga di depan sini."


Miller segera masuk ke dalam. Betapa bahagianya Miller ketika melihat Bella di dalam sana. Namun, wajahnya terlihat bingung ketika Bella hanya menunduk seolah sedang tidak sadarkan diri. Miller takut wanita itu celaka.

__ADS_1


"Bella."


Bella mengangkat kepalanya. Lagi-lagi ia harus menangis tanpa suara. Tangisan yang sangat menyakitkan. Bella bahkan merasa sedang bermimpi ketika melihat Miller di hadapannya.


"Bella, apa kau baik-baik saja?" Miller memegang kedua lengan Bella. Ia menghapus air mata wanita itu dengan lembut.


"Miller, apa benar ini kau?"


"Ya."


"Miller, apa kau datang untuk menolongku?"


"Tentu saja."


"Kau bukan datang untuk memanfaatkan ku?"


Miller tertegun. Ia tidak menyangka kalau Bella akan mengatakan hal seperti itu.


"Apa maksudmu?" Miller melepas ikatan di tangan dan di kaki Bella.


"Kau tahu kalau Letty yang mencuri gelangku?"


Miller menahan gerakannya hingga beberapa detik sebelum melanjutkannya lagi. "Siapa yang mengatakannya?"


"Katakan saja!"


Miller membuang tali yang sempat menyiksa Bella. Ia membawa wanita itu berdiri agar bisa segera kabur. "Kita akan bahas nanti. Sekarang, kita harus pergi dari tempat ini."


"Percuma saja. Mereka tidak akan membiarkan kita pergi sebelum kau menyerahkan chip itu."


Miller semakin syok ketika Bella mengatakan hal itu. Sejak kemarin ia belum ada membahas soal chip kepada Bella.


Beberapa menit yang lalu. Sebelum pergi, pria paruh baya itu kembali memanas-manasi Bella. Ia menceritakan keberadaan emas yang kini sedang diincar semua orang.


"Apa kau pikir wanita itu menolongmu karena kasihan? Tidak! Tidak ada yang gratis di dunia ini Bella. Mereka tahu kalau hanya kau yang bisa membuka gerbangnya, maka dari itu mereka bersikap baik padamu."


"Tidak. Aku menolong Miller. Dia tidak mungkin berkhianat padaku!" sangkal Bella masih tidak terima.


"Miller? Polisi payah itu?" Pria itu mengeluarkan sebuah video. Di sana ada rekaman Miller dan Letty. "Dia telah jatuh cinta pada wanita ini, Bella. Dia tidak akan mungkin berpihak padamu. Bahkan kau matipun dia tidak akan. peduli. Dia hanya peduli kebahagiaan wanita yang ia cintai!"


Bella menangis sakit hati. Ia menunduk tanpa mau memandang pria itu lagi. Bahkan saat pria itu pergi ia tidak peduli.


_____________________________________


"Miller, lepaskan!" teriak Bella. Suara teriakan Bella membuat Miller semakin bingung. Di tambah lagi kini di bagian depan ruangan itu terdengar orang sedang berkelahi.


"Bella, percaya padaku!"


"Kalian menginginkan emas itu bukan? Kalian sama saja dengan pria yabg menculikku! Kenapa tidak ada orang yang tulus menyayangiku? Kenapa semua di dasari dengan harta?"


"Bella, apa yang kau katakan?" Miller tidak tahan lagi melihat sikap Bella. Pria itu memukul titik saraf Bella hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Hal itu jauh lebih baik daripada ia harus membawa wanita yang mengomel-ngomel sepanjang jalan.


"Begini lebih baik! Dasar wanita. Apa mau mereka selain marah-marah!"

__ADS_1


Di sisi lain Miller kesal karena Letty terlihat menolak cintanya. Sedangkan di sini ia mendapatkan penolakan dan tuduhan dari Bella. Kepala Miller terasa mau pecah. Ia tidak menyangka kalau selain ibu kandungnya, masih banyak wanita yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


__ADS_2