
Dengan penuh semangat, Katterine mengayuh pedal sepedanya. Dengan sepasang sepatu sneaker pemberian Oliver, Katterine benar-benar semangat saat bermain sepeda. Sesekali ia mengambil sebotol minuman yang ada di sepedanya dan meneguknya dengan rakus. Saat dahaganya telah hilang, Katterine kembali mengayuh pedal sepedanya dengan kecepatan tinggi.
Oliver yang sejak tadi ada di belakang Katterine hanya bisa menghela napas dengan kasar. Ia tidak menyangka kalau waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melatih pasukan Gold Dragon kini harus digunakan untuk menemani Katterine bersepeda.
Bukan beberapa hari ini saja ia sudah gagal untuk latihan. Tapi, beberapa hari ke depan Katterine telah membuat jadwal olahraga hingga membuat Oliver kehilangan waktu berharganya.
Kelihatannya Katterine benar-benar semangat mengenakan sepatu pemberian Oliver untuk olahraga. Walau sebenarnya ia sedang memanfaatkan sepatu itu untuk sering-sering berduaan dengan Oliver. Oliver sendiri antara menyesal dan senang memberikan sepatu itu kepada Katterine. Di lihat wajah Katterine sangat bahagia saat ini. Tapi, menyesalnya ia tidak memiliki waktu untuk Gold Dragon karena Katterine terus saja mengerjainya seperti ini.
Setelah beberapa kilometer mengayuh pedal sepedanya, Katterine terlihat mulai lelah. Putri Cambridge itu menepi di sebuah pohon rindang yang ada di pinggiran jalan. Lokasinya sangat pas. Ada kursi besi warna putih yang seolah memang di sediakan untuk mereka berdua duduk di sana.
Katterine turun dari sepedanya. Ia mengambil botol minumnya dan berjalan ke arah kursi. Sekilas ia memandang wajah Oliver sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di kursi besi tersebut.
Oliver juga melakukan hal yang sama. Ia meletakkan sepedanya di samping sepeda Katterine. Berjalan dengan ekspresi dingin favoritnya ke kursi yang di duduki Katterine.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Oliver. Ia meneguk minumannya untuk mengganti cairan di dalam tubuhnya.
"Hongkong!"
__ADS_1
"Uhuk uhuk." Spontan saja Oliver tersedak ketika mendengar jawaban dari Katterine. Ia menatap wajah Katterine dengan alis saling bertaut. "Apa kau bilang?"
Katterine merebut botol minum Oliver. Ia melirik bekas bibir pria itu sebelum meneguk minumannya di tempat yang sama. Kebetulan sekali minuman miliknya telah habis saat itu.
"Hei, biasanya kau tidak suka minum bekasku," protes Oliver sambil berusaha menarik botol minuman itu.
"Bukankah ini sama saja kalau sekarang kita sedang berciuman bibir?" gumam Katterine dengan malu-malu. "Tidak, kenapa aku jadi gila seperti ini," umpat Katterine lagi.
"Putri, apa Anda baik-baik saja?" Oliver memegang dahi wanita itu untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Sikap Katterine memang akhir-akhir ini banyak berubah. Hal itu membuat Oliver seperti tidak mengenal wanita yang kini ada di hadapannya.
"Minumku sudah habis. Kenapa kau pelit sekali?" protes Katterine dengan bibir maju ke depan.
Katterine melirik wajah Oliver dengan senyuman lebih arti. Ia tahu jika ekspresi wajah Oliver seperti itu tandanya ia sudah tidak mau berdebat lagi. Alias mengalah.
"Aku kangen sama Tante Lana. Jadi. apakah kau mau membawaku ke Hongkong besok?"
"Besok?"
__ADS_1
"Ya," jawab Katterine mantap.
Oliver terkekeh geli. Ia masih mengira kalau kini Katterine hanya bercanda. Pria itu merebut kembali botol minumnya dan meneguk isi di dalamnya.
"Aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan di London. Di tambah lagi, Nona Leona ada di sini. Pangeran memintaku untuk menjaganya. Jadi, aku tidak bisa pergi ke manapun sampai mereka menikah," jawab Oliver apa adanya.
Katterine memajukan bibirnya. "Ya sudah. Kalau begitu aku akan pergi sendiri. Tenagaku sudah cukup kuat. Ilmu bela diriku sudah ada walau sedikit. Aku bisa melindungi diriku dari bahaya. Lagian, kalau aku di culik bukankah kau pasti akan membebaskan ku?" ucap Katterine dengan wajah yang serius.
Oliver menghela napas. "Putri, untuk apa Anda pergi ke Hongkong?"
"Aku sudah bilang kangen sama Tante Lana. Apa jawaban tadi tidak cukup jelas?" teriak Katterine kesal.
"Oke, Oke. Kita berangkat besok. Aku akan mengatakan hal ini kepada Pangeran dulu."
Katterine terlihat sangat bahagia. Ia memeluk Oliver dengan wajah suka cita. "Terima kasih, Pangeran es."
"Pangeran es?" celetuk Oliver kaget.
__ADS_1
"Hmm, itu julukan yang pas untukmu Oliver," jawab Katterine yang hanya berani di dalam hati saja.