
Semua orang telah berdiri di pemakaman dengan derai air mata yang begitu deras. Foto dan nama Leona terlihat jelas di pemakaman sore hari itu. Semua terjadi begitu cepat. Seperti itu yang dipikirkan semua orang. Kejadian itu membuat pilu dan luka yang sangat mendalam di dalam hati semua orang. Keluarga besar Daniel telah berkumpul termasuk kerabat dekat mereka semuanya. Mereka semua telah berkabung atas kepergian Eleonora Edritz Chen. Putri kesayangan dari pasangan Daniel dan Serena.
Zean berdiri di sebuah tebing dengan pakaian serba hitam. Ada kaca hitam yang menutupi air mata yang begitu deras di baliknya. Pria itu mengepal kuat tangannya dengan hati yang sangat terluka. Ia tidak menyangka kalau akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai secepat ini. Zean berpikir kalau menyerahkan Leona kepada Jordan maka wanita itu akan baik-baik saja. Zean berharap Besar kalau ketika ia kembali, Leona sudah membuka mata dan tersenyum ceria.
"Leona, maafkan aku karena telah membuatmu pergi secepat ini. Aku akan menebus kesalahanku. Aku akan ikut pergi denganmu, Leona," gumam Zean di tengah keputusasaan. Ia tidak mau hidup lagi jika terus di bayangi kesalahannya karena telah menyakiti Leona.
Di pemakaman, semua orang telah bangkit dan meninggalkan Leona sendiri di tempat peristirahatan terakhirnya. Tidak ada yang tersisa lagi. Walau berat dan menyakitkan, tapi mereka semua berusaha menerima apa yang telah terjadi.
"Jordan, apa kau mau pulang ke Cambridge?" ucap Emelie sambil mengusap pundak putranya.
"Mom, Jordan ingin menenangkan diri. Jangan ganggu Jordan dulu ya," pinta Jordan dengan wajah sedihnya.
Emelie mengangguk pelan. "Baiklah. Mommy harap kau bisa menjaga kesehatanmu."
Alana berdiri di samping Kwan. Ia melihat wajah Kwan yang sedang bersedih. Wanita itu tidak tega. Saat air matanya telah kering, Alana justru menangis lagi. Ia tidak mau pria yang ia cintai bersedih.
Sore itu memang semua orang dipenuhi dengan air mata. Tidak ada yang bisa tersenyum karena wajah mereka terasa kaku.
***
Tamara berbaring di sebuah ruangan serba putih. Wanita itu merasa berat pada bagian kepalanya. Ia membuka mata secara perlahan dan melihat sekelilingnya. Ruangan itu sangat mirip dengan ruangan yang ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kepalaku berat seperti ini?" gumam Tamara sambil memegang kepalanya. Ia kembali ingat dengan Leona dan cairan yang telah ia suntikkan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Wanita itu segera turun dari tempat tidurnya dan berlari kencang menuju ruangan Leona.
"Kak Leona! Aku harap tidak terjadi apa-apa!"
Tamara mendorong pintu ruangan Leona. Wanita itu mematung ketika melihat beberapa perawat merapikan tempat tidur Leona.
"Di mana Kak Leona?" ucap Tamara serak. Ia takut jika sampai kalimat yang tidak ingin ia dengar kini terucap dari bibir perawat itu.
"Dok, pasien telah meninggal beberapa jam yang lalu. Kini pasien sudah di makamkan," jawab salah satu perawat yang ada di ruangan itu.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" teriak Tamara histeris. Wanita itu berlari kencang untuk memeriksa pemakaman. Ia ingin memastikan kalau berita yang ia dengar tidak benar.
Tamara yang merasa bersalah kini berlutut di hadapan Aleo. Ia mengatupkan kedua tangannya dan menangis pilu. "Maafkan aku. Aku tidak menyangka jika semua terjadi seperti ini. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku memberi surat itu kepada Kak Aleo tadi," ucap Tamara dengan Isak tangis yang menyayat hati.
Aleo berjongkok di hadapan Tamara. Pria itu menghapus air mata yang ada di pipi Tamara. Ia menggeleng pelan. "Bukan salahmu, Tamara. Leona yang salah. Dia terjun ke dunia gelap hingga memiliki musuh yang banyak. Walau berat, tapi kini kami telah merelakannya pergi. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu seperti ini," ucap Aleo dengan wajah yang serius.
Tamara memandang wajah Aleo sambil menghapus air matanya. "Kak Aleo tidak menyalahkanku?" tanya Tamara untuk kembali memastikan.
Aleo menggeleng pelan. "Tidak. Aku masih menyelidiki kasus pengeboman di rumahmu. Para saksi mata bilang kalau Paman Tama dan Tante Anna tidak ada di rumah ketika bom itu meledak. Mereka berdua pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir ya. Mulai sekarang, aku akan menjagamu Tamara. Sebelum Paman Tama dan Tante Anna ditemukan, kau akan menjadi tanggung jawabku."
***
__ADS_1
Miller mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Baru saja sekali ia memuja seorang wanita kini wanita itu sudah tinggal nama. Kali ini Miller tidak bisa datang ke pemakaman Leona. Ia memiliki tugas penting yang tidak bisa di tinggalkan.
"Aku berencana untuk mengunjunginya besok. Tidak aku sangka ia pergi secepat ini. Sayang sekali. Usianya masih muda dan ia wanita yang sangat cantik," ucap Miller sambil mengukir senyuman kecil.
Sore itu yang datang ke pemakaman Leona hanya Sonia dan Natalie. Bahkan Aldi sendiri tidak bisa ikut karena memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.
Miller mengeryitkan dahi saat melihat nama Clouse muncul di layar ponselnya. Pria itu mengukir senyuman kecil. "Ia berjanji untuk tidak akan menggangguku. Lalu apa sekarang? Apa dia dalam kesulitan?" ledek Miller sambil mengangkat panggilan telepon Clouse.
"Apa kau merindukanku?" ucap Miller dengan tawa kecil.
"Miller, aku membutuhkan bantuanmu," ucap Clouse dengan nada yang sangat serius.
"Apa lagi sekarang? Kau ingin menjebakku lagi?" ucap Miller tidak tertarik.
"Tidak. Kau hanya perlu membebaskan sanderaanku saja. Aku tahu mereka akan menemuiku jika aku menyerahkannya secara langsung," ucap Clouse dengan suara yang tidak ada canda tawa.
"Kali ini apa lagi yang kau kerjakan?" ucap Miller dengan wajah yang sudah berubah serius.
"Kau tidak perlu tahu. Bukankah kau tidak ingin terlibat? Maka dari itu, bebaskan sanderaanku. Aku membawa mereka ke wilayahmu. Aku harus pergi secepatnya sebelum terlacak. Tugasku sudah selesai. Aku akan menghilang. Mungkin kita akan bertemu beberapa tahun lagi!"
Panggilan telepon terputus. Bahkan saat Miller belum sempat mengucapkan apapun. "Apa yang dia bicarakan? Sebenarnya masalah apa yang kini ia perbuat?" umpat Miller kesal sambil menggenggam ponselnya. "Dia bersembunyi saja memiliki musuh."
__ADS_1