Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 81


__ADS_3

Aleo mondar mandir di depan ruang IGD. Di kursi ada Clara yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Aleo dengan wajah bingung. Clara tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia sudah membujuk Aleo agar tetap tenang sejak tadi. Tapi sepertinya pria itu tidak mendengarkan perkataannya sama sekali.


Ketika dokter keluar, Aleo segera menghampiri dokter tersebut dengan wajah panik. "Dok, bagaimana keadaan Tamara? Apa dia baik-baik saja?"


"Pasien hanya kelelahan saja. Sekarang pasien sudah sadar."


"Apa saya boleh menemuinya, Dok?" tanya Aleo penuh harap.


"Ya, tentu saja. Silahkan, Tuan." Dokter itu memberi jalan agar Aleo bisa masuk. Tanpa pikir panjang lagi Aleo segera menerobos masuk ke dalam IGD. Aleo tidak lagi sadar kalau ada Clara di sana.


"Kak Aleo, kenapa dia terlihat sangat panik?" gumam Clara di dalam hati. "Kenapa hatiku sangat sakit melihatnya. Padahal tidak ada hubungan apapun di antara kami," gumam Clara di dalam hati. Ia juga merasa penasaran dengan keadaan Tamara. Hingga akhirnya ia memutuskan ikut masuk ke dalam untuk melihat Tamara secara langsung.


Di dalam ruangan, Aleo duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Tamara. Pria itu menatap wajah pucat Tamara dan memegang kedua tangannya.


"Tamara, bagaimana keadaanmu? Apa yang kini kau rasakan? Apa kepala mu masih sakit?" tanya Aleo dengan sejuta kekhawatiran.


"Aku sudah jauh lebih baik, Kak. Maafkan Aku karena sudah membuat kakak khawatir?" jawab Tamara dengan suara lemah. Ia lagi-lagi melepas tangannya yang ada genggaman Aleo.


"Tidak, Tamara. Justru aku akan merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Aleo beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur Tamara. "Aku sangat takut Tamara. Aku tidak tahu kenapa aku bisa takut seperti ini."


Clara yang baru saja tiba memutuskan menahan langkah kakinya. Ia tidak mau mengganggu Aleo dan Tamara. Dari balik tirai, Clara bisa mendengar dengan jelas perbincangan antara mereka berdua.


"Takut? Apa yang Kak Aleo takutkan?" tanya Tamara bingung.


"Aku ... aku takut kau sakit. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu, Tamara."


"Kak Aleo takut di marahi Tante Serena?" ledek Tamara dengan tawa kecil.


"Bukan, Tamara. Tidak seperti itu. Rasa takutnya sangat berbeda."


Tamara tertegun mendengar kalimat Aleo. "Apa maksud Kak Aleo."


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang kini aku rasakan." Aleo memegang tangan Tamara lagi dan meremasnya dengan lembut. "Aku takut kau sakit, bukan karena takut sama mama."


Clara menutup mulutnya dengan wajah tidak percaya. Kepalanya menggeleng pelan. Ia tidak menyangka kalau baru saja mendengar ungkapan perasaan pria yang ia cintai kepada wanita lain. Ya, wanita lain. Bukan kepada dirinya. Kedua mata Clara mulai terasa perih. Genangan air mata sudah penuh di pelupuk matanya.


"Kak Aleo, apa dia sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kini di dalam hatinya sudah tidak ada namaku? Tamara ... apa sekarang hanya ada Tamara di dalam hati dan pikirannya?" gumam Clara dengan tetes air mata yang sudah tidak tertahankan. Wanita itu memutuskan pergi daripada semakin sakit ketika berada di sana. Kali ini Clara ingin pergi sejauh mungkin untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Di sisi lain, Tamara dan Aleo masih dengan pemikiran mereka masing-masing. Untuk beberapa detik ruangan itu menjadi sunyi.


"Kak, keadaanku sudah jauh lebih baik. Apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Aku ingin istirahat di rumah."


Aleo mengangguk pelan. "Baiklah. Dokter juga sudah mengizinkanmu pulang." Aleo berdiri dan menunduk agar bisa dengan mudah menggendong tubuh Tamara.


"Apa yang mau Kak Aleo lakukan?" protes Tamara kaget.


"Aku tidak akan membiarkanmu jalan. Kondisimu masih lemah, Tamara. Jadi, menurutlah." Aleo segera mengangkat tubuh Tamara. Secara perlahan dan malu-malu Tamara melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang milik Aleo.


"Maaf karena sudah merepotkan Kak Aleo."


Aleo menahan gerakannya. Ia menatap wajah Tamara yang kini ada di dekat wajahnya. Debaran jantung Aleo semakin tidak karuan. Kedua mata Tamara yang indah membuat Aleo terhipnotis.


Begitu juga dengan Tamara. Wanita itu membalas tatapan Aleo tanpa kedipan mata. Ia terlihat sangat menikmati aroma tubuh pria yang kini menggendongnya tanpa sadar kini sedang ada di mana.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Administrasinya sudah selesai. Sekarang Anda sudah bisa membawa pasien pulang," ucap seorang suster sambil menyerahkan kartu Aleo. Aleo tersadar dari lamunannya. Begitu juga Tamara.


"Tamara, apa kau bisa menerimanya?" pinta Aleo sambil melirik kartu yang diberikan suster itu kepada dirinya.


Tamara mengangguk pelan dan menerima Kartu tersebut. "Terima kasih."


Aleo hanya diam membisu. Pria itu segera pergi membawa Aleo pergi meninggalkan rumah sakit.


Di sisi lain, Clara menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini. Harapannya telah hancur. Percuma saja ia berjuang jika cinta yang ingin ia perjuangkan kini sudah berpihak kepada wanita lain.


"Kenapa harus seperti ini? Apa ini karma karena dulu aku mengabaikan Kak Aleo? Apa takdir marah dan tidak mengizinkan kamu bersatu lagi?" Clara menutup wajahnya dengan tangan. Ia benar-benar sedih bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi.


Seperti yang dikatakan Serena. Clara wanita yang baik. Penilaian wanita tangguh itu tidak pernah meleset. Bahkan saat kecewa seperti ini saja Clara tidak mau menyalahkan Tamara. Ia justru menyalahkan dirinya sendiri karena tidak pernah hadir ketika Aleo butuh.


"Sepertinya keberadaanku sudah tidak diperlukan lagi di sini. Aku harus bisa melupakan Kak Aleo. Aku harus bisa merelakannya bahagia dengan wanita lain." Clara menghidupkan mesin mobilnya. Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Clara bertekad untuk meninggalkan Sapporo detik ini juga. Ia tidak mau terlalu sering bertemu Aleo karena hal itu hanya akan membuat hatinya kecewa saja.


"Seandainya saja wanita yang ada di dalam hati Kak Aleo adalah aku. Betapa bahagianya aku hari ini. Tamara wanita yang beruntung. Semoga saja mereka bisa hidup bahagia," gumam Clara lagi.


***


Waktu terus berlalu. Hari yang di nanti semua orang telah tiba. Masalah terasa berlalu begitu saja walau sebenarnya belum mendapatkan titik penyelesaian. Hari ini adalah hari pernikahan Alana dan Kwan. Semua orang telah berkumpul untuk menyaksikan janji suci yang akan di ucapkan sepasang pengantin.


Karena kondisi Tamara yang tiba-tiba memburuk, akhirnya Tamara dan Aleo berangkat bersama rombongan Serena dan Tama juga. Sejak kejadian itu hubungan antara Tamara dan Aleo menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Walau hingga detik ini belum ada kata jadian di antara mereka.


Hingga detik ini masih ada sebagian orang yang bersikap tidak tenang karena masalah yang mereka miliki, tapi di pesta Kwan dan Alana mereka berusaha terlihat bahagia seolah-olah melupakan masalah yang mereka hadapi.


"Dengan ini saya nyatakan kalian telah sah menjadi suami istri."


Kalimat yang di nanti-nanti semua tamu undangan telah terucap. Semua tamu undangan bersorak dengan tepuk tangan yang meriah. Akad pernikahan itu semakin lengkap ketika pengantin saling berciuman. Sedangkan seorang pria paruh baya di barisan tamu undangan tidak lagi bisa berbuat apa-apa.


"Walau sudah menikah, aku tetap tidak akan membiarkan putriku di sakiti!"


Sharin menepuk dahinya sebelum geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka kalau Biao bukan hanya posesif terhadap dirinya saja. Tetapi kepada Sharin juga.


"Kwan tidak akan mungkin menyakiti Alana," sambung Kenzo. Pria itu merangkul pundak Biao dengan bibir tersenyum. "Akhirnya kita jadi besan." Kedua alis Kenzo naik turun seolah sedang meledek Biao siang itu.


"Kau juga harus bertanggung jawab jika nanti Kwan menyakiti putriku," ancam Biao dengan wajah serius.


"Tidak akan," jawab Kenzo penuh percaya diri. "Dia juga akan menjadi suami takut istri. Sama seperti dirimu!" Kenzo menepuk pundak Biao. Sharin yang mendengar hal itu tertawa geli. Namun, ia segera menyembunyikan agar Biao tidak malu.


Hari itu benar-benar hari yang bahagia. Tidak bagi Zeroun, Lukas, Katterine dan Oliver. Karena setelah pulang dari pesta pernikahan Kwan, Oliver akan bertarung dengan Pieter. Hari yang sudah di tentukan telah tiba. Kondisi Oliver juga sudah benar-benar pulih. Zeroun yakin Oliver pasti bisa mengalahkan Pieter nantinya. Begitu juga yang diharapkan Lukas. Mereka tidak pernah menyangka kalau nantinya Oliver akan mengalah dan membiarkan Pieter menghajarnya hingga babak belur.


Jordan saja tidak diberi tahu soal ini. Zeroun tidak mau banyak orang yang tahu karena itu akan semakin sulit membuat Lukas merahasiakannya dari Lana. Bahkan Zeroun tidak tahu kalau Katterine telah mengetahui perihal pertarungan ini. Selama ini sikap Katterine terlihat biasa saja hingga tidak membuat Zeroun ataupun Oliver curiga.


Malam ini adalah resepsi pernikahan antara Kwan dan Alana. Zeroun yakin semua orang akan sibuk hingga tidak sadar kalau nanti Oliver dan dirinya menghilang beberapa jam. Zeroun sudah menyiapkan arena pertarungan di San Fransisco. Ia tidak memiliki hari lain selain hari ini.


"Apa kita bisa berbicara?" Oliver memandang Katterine yang terlihat bahagia atas pernikahan Alana dan Kwan. Wanita itu mengangguk setuju sebelum mengikuti Oliver dari belakang.


"Ada apa?" tanya Katterine ketika Olive telah menahan kalimatnya.


"Aku harus pergi untuk beberapa hari."


"Apa ada masalah?" tanya Katterine dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Ada bisnis yang bermasalah di tempat lain. Aku akan membereskannya dan kembali secepat mungkin."


"Baiklah. Aku akan menunggumu hingga kembali," jawab Katterine dengan senyuman.


Oliver menatap wajah Katterine dalam-dalam. "Aku juga tidak bisa hadir di resepsi Kwan nanti malam. Aku tidak bisa menemanimu berdansa."


"Tidak masalah. Aku juga tidak ingin berdansa malam ini." Katterine menunjukkan ekspresi wajah yang sangat tenang. Ia tidak mau Oliver menyadari kalau sebenarnya ia sudah tahu apa yang ingin dilakukan Oliver malam ini.


"Terima kasih."


"Hanya itu saja?" Katterine mengeryitkan dahinya dengan wajah kecewa. "Kau tidak ingin memelukku?" Katterine tersenyum manis.


"Memeluk?" Oliver memandang keadaan sekitar. "Ehm, baiklah. Di sini juga tidak terlalu ramai. Aku tidak mau mereka menertawakan kita ketika kita berpelukan."


Katterine segera berhambur ke dalam pelukan Oliver. Tangisnya pecah. Ia benar-benar tidak sanggup menahan air matanya yang sejak kemarin siap menetes. Ia ingin melarang tapi ia tidak mau Oliver menjadi pria tidak bertanggung jawab.


"Cepat kembali."


"Pasti. Aku akan kembali setelah masalahnya selesai. Jangan khawatir."


Katterine mengangguk pelan. Pelukannya semakin erat seolah ia tidak rela melepaskan Oliver pergi. "Berjanjilah untuk kembali dalam keadaan baik-baik saja."


"Aku hanya mengurus sedikit masalah. Bukan ingin perang," dusta Oliver dengan wajah yang menyakinkan.


"Tetap saja kau harus hati-hati."


"Baiklah. Tapi jangan menangis lagi. Ini membuatku berat untuk pergi." Oliver memegang kedua pipi Katterine dan mengusap air mata yang menetes. "Aku akan kembali."


Katterine mengangguk pelan. "Aku tahu kalau kau tidak pernah ingkar janji." Oliver hanya tersenyum sebelum memeluk Katterine semakin erat lagi. Ia mengecup pucuk kepala Katterine berulang kali untuk menunjukkan rasa cintanya.


Di sisi lain, Letty melirik jam yang melingkar di tangannya. Sesuai dengan rencana Zeroun sebelumnya. Kali ini Letty memiliki tugas untuk mengamankan Lana. Rencana Letty untuk membawa Lana kembali ke Hongkong harus gagal karena pesta Kwan. Maka dari itu kali ini Letty sedang berusaha keras memikirkan sesuatu agar Lana tidak menyadari kepergian Oliver.


"Mom, kepalaku pusing." Letty memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.


"Sayang, apa kau sakit?" Lana langsung terlihat panik ketika melihat Letty kesakitan.


"Mom, apa bisa kita ke hotel sekarang? Aku ingin istirahat di sana."


Lukas yang sudah mengetahui rencana Letty hanya bisa diam. Pria itu pura-pura tidak dengar dengan apa yang dibicarakan Lana dan Letty.


"Baiklah. Mama akan izin dulu kepada Tante Shabira dan Sharin." Letty hanya mengangguk setuju. Ia melirik wajah Lukas ketika Lana pergi dari sana.


"Dad, aku takut," ucap Letty pelan.


"Apa kau pikir Daddy tidak takut?" jawab Lukas tidak mau kalah.


"Dad, apa pertarungannya berlangsung lama?"


"Seharusnya tidak."


"Semoga saja semua berjalan lancar. Aku tidak mau di cincang Mommy ketika ketahuan bohong." Lukas dan Letty sama-sama menghela napas berat. Mereka berdua sangat takut jika nanti Lana tahu dan menjadi murkah karena sudah dibohongi.


"Letty, kau bawa mommy ke hotel. Daddy ingin menemani Oliver ke lokasi." Letty mengangguk pelan. Ia memandang tamu undangan yang hadir. Rata-rata orang yang ia kenal. Namun, ada satu sosok yang ia nanti sejak tadi kedatangannya namun tidak juga muncul.

__ADS_1


"Apa Kwan tidak mengundang Miller? Tapi ... itu tidak mungkin. Tante Sonia sangat dekat dengan keluarga ini," gumam Letty di dalam hati.


Akhir bulan aku mau selesaikan masalah yang belum selesai. Karena target aku Agustus Uda bahas masalah Zean dan Miller. Biar lebih fokus. Soal Aleo memang gak di buat ribet. Kasian Serena nti tambah tua🤣🤣


__ADS_2