
"Sayang, kau terlihat sangat cantik," puji Lana sambil melihat putrinya yang kini memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Mom, apa ini tidak terlalu berlebihan. Bedaknya terlalu tebal." Letty memperhatikan wajahnya di depan cermin. Ia sendiri hampir tidak mengenali dirinya sendiri karena terlalu cantik.
"Kau cantik."
Letty tersenyum bahagia. Ia memutar tubuhnya dan duduk di samping Lana. Menyandarkan kepalanya di bahu Lana. "Aku malu."
"Malu? Kau malu saat kau terlihat cantik? Apa mommy tidak salah dengar?"
"Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kalau ini terlalu berlebihan. Bagaimana kalau nanti Miller menertawai ku. Dia pria yang iseng." Letty memegang gaun yang kini ia kenakan.
"Sayang, kau seorang wanita. Hal yang wajar jika kau memiliki keinginan untuk tampil cantik. Tidak ada yang salah. Selama ini mungkin kau sudah nyaman dengan penampilanmu. Tapi, jika terkadang kau ingin berpenampilan lebih itu hal yang wajar kok."
Letty tersenyum bahagia. Hatinya kembali tenang setelah mendengar kalimat yang diucapkan Lana.
"Sudah jam berapa ini? Bukankah kau bilang Miller akan menunggu di parkiran jam 8?"
Letty memandang jam dinding. Ia kaget bukan main ketika jam sudah menunjukkan pukul 08.10.
"Mom, aku sudah terlambat!"
"Kau harus segera berangkat! Ingat pesan mama. Kau cantik. Jadi, jangan pernah berpikiran kalau semua ini sia-sia."
"Thanks, Mom." Letty mengecup pipi Lana sebelum berjalan pergi. Wanita itu tidak mau Miller menunggu dirinya terlalu lama di parkiran.
Miller duduk di depan mobil sambil memainkan ponselnya. Pria itu tidak mempedulikan waktu yang sudah lewat dari jam mereka janjian. Baginya sudah biasa menunggu seorang wanita sebelum berangkat ke sebuah pesta.
"Miller ...."
Miller memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Ayo kita berangkat." Pria itu termenung ketika melihat penampilan Letty yang begitu cantik. Wajah galak dan membunuh wanita itu benar-benar hilang. Kini yang terlihat hanya wajah wanita manis yang sangat lemah lembut.
"Maaf, apa aku terlalu lama?" Letty terlihat canggung. Sifatnya benar-benar jauh berbeda dari sebelumnya. Terlihat jelas kalau kini ia salah tingkah ada di hadapan Miller.
__ADS_1
"Letty ... kau." Miller tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia memperhatikan penampilan Letty dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seumur-umur ia tidak pernah membayangkan Letty bisa secantik itu. Seperti bidadari. Walau sebelumnya Miller sempat berhasil make over Letty. Tapi malam ini wanita itu terlihat lebih cantik lagi.
Miller menunjuk wajah Letty. "Kau sangat cantik."
Letty seperti melayang mendengar pujian Miller. Namun dengan cepat ia memukul lengan Miller untuk mencairkan suasana. Ayo kita berangkat.
"Baiklah." Miller berlari ke samping mobil hanya untuk membuka pintu mobil. Ia memandang wajah Letty dan lagi-lagi harus mematung.
"Terima kasih." Letty tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Seperti di hipnotis padahal kini dirinya dalam keadaan sadar. Ia bersikap sangat lembut dan sabar. Bahkan murah senyum.
Miller menutup pintu mobil dan berjalan ke jok kemudi. Ia tidak mau Letty terlalu lama menunggunya di dalam.
***
Sepanjang perjalanan Miller dan Letty saling berbincang. Letty menceritakan pesta Kwan dan Alana yang berjalan lancar. Bahkan apa yang menyebabkan dirinya berakhir di pesta bikini.
"Akhirnya kita sudah sampai." Miller memberhentikan mobilnya. Beberapa pria menyambut kedatangan mereka dengan membukakan pintu mobil. Secara bersamaan Miller dan Letty turun dari mobil.
Letty memandang keadaan sekitar. Semua terlihat biasa saja karena memang Letty tidak terlalu menyukai pesta formal seperti itu.
Di dalam, acara sudah dipenuhi tamu undangan. Makanan dan minuman sudah tertata rapi di meja-meja. Seorang wanita berjalan mendekati Letty dan Miller ketika mereka telah tiba di dalam sana.
"Dia Bella," bisik Miller memperkenalkan.
Letty hanya mengangguk pelan. Ia sedikit tidak percaya diri ketika melihat penampilan Bella yang begitu cantik dan menakjubkan.
"Kau terlambat," protes Bella sambil menatap wajah Miller.
"Maaf."
Bella menatap wajah Letty dengan tatapan tidak suka. Ia melipat kedua tangannya. "Siapa dia? Aku pikir kau akan datang bersama Natalie."
"Letty. Kau harus berkenalan dengannya. Dia wanita yang asyik untuk dijadikan teman."
"Benarkah?" Bella menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Letty. "Perkenalkan, saya Bella."
__ADS_1
"Letty. Senang bertemu denganmu Bella."
Bella memandang sekeliling sebelum memandang Miller lagi. "Acaranya akan segera di mulai. Kau harus menemaniku naik di atas panggung."
"Baiklah." Miller memandang wajah Letty. "Aku tinggal sebentar ya."
Letty mengangguk pelan. Ia memutuskan untuk mengambil minuman yang di bawa salah satu pelayan yang sejak tadi berlalu lalang. Semua tamu undangan mulai berkumpul untuk menyaksikan keberadaan Bella dan Miller di atas panggung saat ini.
"Sebenarnya acara apaan sih?" gumam Letty sebelum meneguk minumannya.
"Selamat malam semuanya. Malam ini adalah malam terindah yang pernah saya rasakan. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun saya memimpikan malam ini, akhirnya malam indah ini tiba juga."
Bella memandang wajah Miller dengan senyuman yang bahagia. Miller sendiri mulai merasa ada yang aneh dari sikap Bella malam ini. Belum pernah sebelumnya Bella semanja itu terhadap dirinya. Namun Miller tidak mau menyinggung perasaan Bella. Hingga akhirnya ia lebih memilih diam dan menunggu apa yang ingin di sampaikan Bella.
"Malam ini, saya akan mengumumkan tanggal pertunangan saya. Satu bulan lagi saya akan bertunangan dengan .... Miller."
Sorak tepuk tangan sebagai ucapan selamat terdengar begitu meriah. Berbeda dengan Miller sendiri yang justru terlihat kaget. Ia tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini.
"Bella, apa maksudmu?" bisik Miller.
"Miller, ini permintaanku. Bukankah kau bilang akan mengabulkan apapun yang aku inginkan?"
"Tapi tidak dengan pertunangan!" protes Miller masih dengan suara pelan.
"Bersikaplah sewajarnya. Jika semua tamu undangan mencurigai kita, kau pasti tahu apa akibatnya," ancam Bella tidak mau tahu. Miller sendiri merasa di jebak. Ia benar-benar menyesal sudah datang ke pesta itu bahkan menurut untuk naik ke atas panggung.
Di sisi lain, Letty terlihat marah, cemburu, sakit hati. Bahkan kedua matanya ingin menangis. Ia benar-benar kecewa. Tadinya ia berpikir akan mendapatkan malam bahagia menemani Miller datang ke pesta. Tidak di sangka justru kejadian seperti ini yang ia dapatkan.
"Pria brengsek!" umpat Letty kesal. Ia menggenggam kuat gelas yang kini di tangannya hingga gelas itu pecah sendiri. Tidak ada rasa sakit walau kini pecahan kaca memenuhi telapak tangannya. Beberapa pelayan yang menyaksikan kejadian itu terlihat ngeri. Mereka berjalan mendekati Letty untuk menawarkan bantuan.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?"
Letty tidak lagi menghiraukan pertanyaan pelayan tersebut. Ia lebih memilih pergi meninggalkan pesta tersebut. Semakin lama ada di sana justru membuatnya semakin terluka.
Dari atas panggung Miller memandang Letty dengan rasa bersalah. Ia sendiri tidak bisa berbuat apapun detik ini. "Maafkan aku Letty. Seandainya aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mungkin mengajakmu," gumam Miller di dalam hati.
__ADS_1