
"Baby girl, terima kasih. Aku sangat senang melihatmu membuka mata seperti ini." Jordan menatap wajah Leona dengan suka cita. Kedua tangannya masih menahan tangan Leona agar tidak bisa bergerak bebas. Senyum indah mengembang abadi sejak tadi.
"Lepaskan aku!" protes Leona dengan tenaga yang ia miliki. Saat ini ia bukan wanita tangguh seperti dulu. Kondisinya masih dalam pemulihan.
Jordan tersadar. Pria itu segera melepaskan cengkraman tangannya dan duduk di kursi yang semula ia duduki. Bibirnya masih tidak bisa diam untuk tersenyum. Jordan merasa bangunnya Leona seperti kabar baik yang tidak ia sangka akan ia terima.
"Lepaskan alat-alat ini," ucap Leona sambil menarik jarum infus yang ada di tangannya.
"Leona, apa kau benar-benar sudah sehat. Kau tidak perlu menggunakan semua alat ini?" Jordan membantu Leona melepas segala alat medis yang melekat di tubuhnya.
"Tidak. Beberapa hari yang lalu memang tubuhku sangat lemah. Tapi, saat ini sudah jauh lebih baik," ucap Leona sebelum berusaha untuk duduk.
Jordan segera membantu Leona bangkit. Pria itu meletakkan bantal di belakang tubuh Leona agar Leona bisa bersandar dengan mudah.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku ada di sini? Dan ... di mana ini?" Leona mengitari ruangan tersebut. "Ini tidak di rumah sakit."
"Kau bilang kau sudah bangun sejak kemarin," ucap Jordan dengan wajah serius.
"Ya. Tapi tadi aku kembali tidak sadarkan diri dan tidak bisa bangun lagi. Aku merasa sangat ngantuk hingga tertidur." Leona kembali mengingat bagaimana Tamara menangis sebelum ia tidak sadarkan diri. Wanita itu memandang Jordan yang sejak tadi memandangnya dengan senyuman manis. "Jordan, apa Tamara baik-baik saja? Bagaimana dengan Paman Tama?" Wajah Leona berubah panik.
Jordan melamun sambil memandang wajah Leona. Pria itu tidak lagi bisa mendengar jelas semua kalimat yang diucapkan Leona. Ia bahagia. Masih terasa seperti mimpi melihat Leona berbicara seperti itu lagi.
"Jordan!" teriak Leona dengan wajah galaknya.
Jordan tersadar dari lamunannya. Pria itu mengatur napasnya dan mengusap lembut tangan Leona. "Kami membuat kematian palsu. Sekarang di mata semua orang kau sudah tidak ada lagi di dunia ini," jawab Jordan apa adanya.
"Kematian palsu?" Dahi Leona mengeryit. Ia tidak menyangka akan mendapat kabar mengejutkan seperti itu tentang dirinya. "Kenapa harus seperti itu?"
__ADS_1
"Bukankah musuhmu menginginkan kau mati? Kami akan mengabulkan permintaan musuhmu itu. Di tambah lagi, kini kami belum berhasil menemukan keberadaan Paman Tama dan Tante Anna." Wajah Jordan berubah serius. "Saat ini Tamara sudah ada dalam penjagaan Kak Aleo. Kwan mengurus pencarian Paman Tama. Oliver akan membantu Kwan nanti."
"Lalu kau?" sambung Leona cepat.
"Aku mendapat tugas untuk menjagamu Baby girl," jawab Jordan dengan wajah yang sangat bangga.
"Kau memilih pekerjaan yang paling mudah," ucap Leona sambil membuang tatapannya ke arah lain.
"Pekerjaanku yang paling sulit. Pria mana yang bisa menjaga wanita galak seperti dirimu. Keras kepala lagi!" ketus Jordan dengan alis terangkat.
"Hmm," gumam Leona malas.
"Leona, apa keadaanmu sudah benar-benar baik Apa kepalamu masih terasa sakit? Dokter bilang karena kepalamu mengalami benturan maka dari itu kau koma dan tidak bangun hingga satu bulan."
"Aku koma selama satu bulan?" tanya Leona tidak percaya.
"Ya. Bukankah kau bilang kau sudah bangun? Apa kau tidak mendengar pembicaraan kami?" tanya Jordan penuh selidik.
"Itu tidak penting lagi. Aku sangat senang kau bangun seperti ini."
"Jordan, siapa saja yang mengetahui kematianku?" Leona sudah menemukan rencana untuk menangkap musuhnya saat ini. Walau keadaannya belum sembuh total, tapi Leona ingin membalaskan perbuatan musuhnya.
"Kak Aleo, Kwan, Oliver, Tante Serena dan Paman Daniel. Satu lagi ada seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai dokter. Dia yang memberi solusi atas kematian palsu ini," ucap Jordan sambil berpikir.
"Siapa?" tanya Leona semakin penasaran.
"Paman Adit. Ya, Paman Adit. Paman Daniel yang meminta Paman Adit datang tadi. Tamara menyuntikkan obat penenang ke dalam selang infus hingga kau tidak sadarkan diri. Saat itu kami baru saja tiba. Kami melihat monitor detak jantungmu lurus dan berbunyi dengan suara menyeramkan. Sedangkan Tamara pingsan di lantai. Leona, kami seperti mau mati tadi saat melihat semua itu terjadi. Namun, ketika kami melihat alat itu sengaja di buat seperti itu. Kami mulai berpikir kalau Tamara pasti sedang mengusahakan sesuatu. Hanya saja, belum sempat melakukannya. Ia sudah tidak sadarkan diri duluan."
__ADS_1
"Aku merasa bersalah pada Paman Tama dan keluarganya. Gara-gara aku, mereka harus terluka," ujar Leona dengan tatapan kosong.
"Hei, yang terpenting kau sudah bangun. Sisanya jangan terlalu di pikirkan. Sebaiknya kau banyak-banyak istirahat dulu. Kita akan kembali bertarung untuk mengalahkan musuh kita nanti," ucap Jordan penuh semangat.
"Alana," celetuk Leona pelan.
"Ada apa dengan Alana?"
"Jordan, minta Alana untuk memeriksa semua cctv. Aku yakin, kita pasti bisa mendapatkan petunjuk."
***
Zean berdiri di pinggiran gedung sambil memandang ke arah depan. Hatinya masih terasa sakit atas kepergian Leona. Zean terus saja menyalahkan dirinya seperti yang kini dirasakan oleh Letty.
Kematian palsu ini bukan hanya menyelamatkan nyawa Leona dari incaran para musuh. Tapi membuat semua orang yang bersalah semakin menyesal. Salah satunya Zean. Pria itu masih meneteskan air mata dengan wajah tidak terima. Ia tidak mau ditinggalkan Leona secepat ini.
Sejak tadi, ingin sekali ia melompat agar bisa menyusul Leona di sana. Sayangnya, tidak tahu kenapa. Zean masih ingin tetap hidup. Ia ingin membantai habis musuh Leona sebelum pergi.
Letty muncul sambil mendekati Zean. Ia juga terlihat tidak kalah sedih dari pria itu. Langkahnya lemah bahkan tubuhnya terlihat tidak berdaya.
"Pria itu bernama Clouse. Putri Isabel terlibat dalam hal ini. Aku berpikir untuk menyerang istananya dan meratakannya dengan tanah. Tapi, kekuasaanku sudah tidak ada. Aku tidak memiliki apa-apa lagi saat ini. Kak Oliver, Paman Lukas dan Tante Lana telah membatasi gerakan ku. Aku butuh bantuanmu," ucap Letty sambil memandang punggung Zean. Tidak ada cara lain bagi Letty saat ini selain menebus kesalahannya.
Zean memutar tubuhnya dan memandang wajah Letty dengan sorot mata yang tajam. "Apa kau lupa kalau kita bermusuhan?"
Letty membalas tatapan Zean. "Kau boleh membunuh atau menembakmu setelah ini. Yang terpenting, kita sudah membalas perbuatan musuh Leona. Sebenarnya kali ini musuh kita karena Jordan Zein. Wanita bernama Isabel itu adalah wanita yang gagal bertunangan dengan Jordan. Pria bernama Clouse adalah pembunuh bayaran yang sangat ahli dalam menghilangkan jejak. Aku merasa kalau kini Jordan dan Oliver mengincar Clouse. Mungkin kita tidak bisa diam saja di sini. Saat Clouse berlari untuk menghindar, kita akan menyakiti wanita yang ia sayangi. Dengan begitu, ia akan muncul dengan sendirinya."
Zean tersenyum licik saat mendengar rencana Letty. Kali ini ia ingin melupakan dendamnya sejenak. Ia ingin bekerja sama dengan Letty untuk membantai tempat tinggal orang yang telah membuat Leona pergi untuk selama-lamanya. "Baiklah. Aku akan bekerja sama denganmu."
__ADS_1
"Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui. Jika kita gagal, kita akan mendekam di dalam jeruji besi untuk selama-lamanya. Tidak ada satu orangpun yang bisa membebaskan kita nanti." Kali ini wajah Letty sangat serius. Bagaimanapun juga lawan mereka bukan orang yang bisa di anggap remeh. Kekuatan Isabel sangat besar hingga membuat Letty dan Zean harus waspada.
"Itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun saat ini!"