Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 80


__ADS_3

Letty duduk di depan kolam ikan. Tangannya bermain air sambil sesekali memberi makan ikan di dalam kolam tersebut. Sesekali Letty tersenyum ketika melihat beberapa ikan menyentuh jemarinya. Sejak Letty membuka hatinya untuk menerima kasih sayang dari orang orang terdekatnya, ia terus saja merasakan sebuah ketenangan. Tidak ada lagi perasaan diasingkan ketika ia berada diantara semua orang.


Letty merasa kini hidupnya jauh lebih baik. Bahkan ia lebih sering tersenyum jika di bandingkan sebelumnya.


"Apa kalian merasa tertekan ketika berada di dalam kolam ini?" Tanya Letty pada ikan ikan yang ada di dalam kolam. Dia sudah tahu kalau ikan ikan itu tidak akan bisa menjawab. Namun tetap saja Letty terus terusan mengajak ikan itu mengobrol.


"Aku tidak akan merasa tertekan karena keluargaku ada di sekelilingku."


Letty segera memutar kepalanya untuk melihat sosok yang baru saja muncul. Bibirnya tersenyum ketika melihat Lana berjalan mendekatinya. Siang itu Lana membawa sepiring makanan dan segelas jus.


"Mommy ...." Letty mengangkat tangannya dari dalam kolam. "Apa aku terlihat seperti orang gila?" Letty beranjak dan berjalan ke arah kursi. Begitu juga dengan Lana yang kini sudah meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa di meja.


"Tidak. Mommy juga suka berbicara dengan binatang. Mereka pendengar setia bukan?" Lana duduk di salah satu kursi.


"Apa itu, Mom?"


"Mommy masakan mie goreng. Dulu kau sangat menyukainya. Sudah lama mommy ingin membuat makanan seperti ini lagi. Tapi, tidak tahu mau di kasih siapa."


Letty mengambil piring berisi mie goreng itu. Menghirup aromanya saja sudah membuat perutnya lapar.


"Jangan tanya aku ke mana saat jam makan siang nanti, Mom. Aku pasti tidur di kamar karena kekenyangan." Tanpa menunggu lama Letty melahap mie goreng tersebut. Lana semakin bahagia melihat karakter Letty yang kini sudah jauh lebih baik.


"Maafkan Mommy."


Letty menahan makanannya di dalam mulut. "Maaf? Untuk apa Mom?"


Lana tertawa geli melihat mulut Letty yang kini dipenuhi makanan. "Makanlah dulu. Mommy tidak mau kau tersedak karena berbincang ketika makan."


Letty melanjutkan makannya. Ia merasa sangat senang bisa memakan masakan Lana lagi seperti itu. Di tambah lagi ada jus segar yang menembaknya ketika haus nanti.


Sambil menunggu Letty selesai makan, Lana memperhatikan lokasi tempat mereka berada. Sangat asri. Seperti ada di daerah pegunungan jika ada di sana. Emelie mendesain kolam ikannya dengan miniatur air terjun yang begitu indah. Banyaknya pepohonan menambah kesejukan kola ikan tersebut. Angin berembus dengan kencang. Tidak peduli cuaca panas atau dingin.


"Ini sangat lezat." Letty meletakkan piring kosong di meja. Ia memegang perutnya yang kenyang sambil mengambil jus segar yang ada di atas meja.


"Jika sering-sering seperti ini, aku bisa gemuk."


"Mommy bisa membuatkan makanan seperti ini kapanpun kau menginginkannya."


"Terima kasih, Mom." Letty mengedipkan matanya sambil meletakkan gelas kembali di meja.


"Letty, mommy sangat menyayangimu."


Letty mematung sejenak. Lagi-lagi ia berubah salah tingkah ketika topik pembahasan mereka menyangkut perasaan.


"Mom, Letty juga sayang sama Mommy. Maafkan Letty, Mom. Selama ini Letty -"


"Kita jangan bahas masa lalu lagi ya. Yang penting sekarang takdir sudah kembali mempersatukan kita. Letty, apa kau mau memeluk mommy?"


Letty mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Sudah sedari kemarin ia ingin seperti itu hanya saja momennya belum tepat. Dengan segera Letty beranjak dan memeluk Lana dengan penuh kasih sayang.


"I love you, Mom. Letty sayang mommy."


"Mommy juga sangat sayang padamu, Letty." Lana memeluk erat tubuh Letty. Air mata bahagia tidak bisa lagi terbendung. Momen siang itu benar-benar mengharukan hingga membuat siapa saja yang melihatnya ingin menangis bahagia.


"Letty akan lebih sering tinggal bersama mommy. Letty juga sudah lelah berkeliaran tidak jelas."


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih."


***


Aleo mengotak-ngatik ponselnya. Ia duduk dengan santai di ruang kerjanya yang ada di rumah utama. Pesan Leona baru saja sempat ia baca. Leona meminta Aleo datang bersama dengan wanita yang akan ia nikahi kelak. Tentu saja permintaan yang mustahil. Mengingat, sejauh ini statusnya masih single.


"Kenapa Leona harus memberikan permintaan aneh seperti ini? Apa dia tidak tahu kalau selama ini aku sibuk mengurus perusahaan? Aku bahkan tidak pernah memiliki waktu untuk fokus dengan kehidupanku sendiri."

__ADS_1


dengan wajah malas Aleo meletakkan ponselnya kembali ke meja. Ia bersandar di sandaran kursi dan memutar kursinya ke kanan dan ke kiri. Sambil memandang langit-langit ruang kerjanya yang berwarna dark. Aleo kembali membayangkan dua wajah wanita yang selalu ada di dekatnya.


Tamara adalah wanita yang cantik dan membuatnya tertarik. Tapi sikap wanita itu yang cuek membuat Aleo sedikit ragu. Karena tidak pernah berpacaran, Aleo jadi takut dengan yang namanya penolakan. Hingga akhirnya ia terkesan seperti pria yang tidak mau berkorban dan berjuang.


Walau begitu, Aleo masih memiliki Clara. Wanita itu selalu ada untuknya bahkan secara terang-terangan menunjukkan rasa cintanya. Tapi, tidak tahu kenapa ketika dekat dengan Clara, Aleo tidak merasakan getaran di dalam hatinya. Seperti ketika ia berada di dekat Tamara. Ada sebuah getaran yang alis sendiri tidak tahu itu apa. Yang dia tahu, Tamara tidak boleh berada jauh jauh dari hidupnya.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuat Aleo tersadar dari lamunan singkatnya. Dua wanita yang sempat memenuhi pikirannya hilang begitu saja. Ia kembali duduk dengan posisi seperti sedang bekerja ketika pintu mulai terbuka secara perlahan.


"Aleo, apa mama mengganggumu? Apa kau sedang sibuk?" Sambil membawa segelas teh, Serena berjalan mendekati meja kerja Aleo.


"Tidak, Ma. Sudah selesai." Aleo menutup laptopnya dan merapikan beberapa berkas yang berserak di meja.


"Apa Leona sudah mengatakan soal pernikahan Kwan dan Alana?" Serena meletakkan teh yang ia bawa di depan Aleo.


"Sudah, Ma." Aleo memandang teh itu dengan saksama. Ia tahu setelah ini ibu kandungnya akan membahas apa.


"Lalu, kau mau pergi dengan siapa? Tamara juga belum tahu mau pergi sama siapa."


Aleo tersenyum hangat. Ia mengambil minuman yang ada di depannya dan meneguknya secara perlahan. Sambil meneguk minumannya, Aleo memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Serena.


"Mama sudah minum obat?"


"Aleo, jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan pada mama, kau mau pergi dengan siapa? Bukankah Clara sekarang ada di Sapporo lagi?" Serena terlihat gusar. Sebenarnya ia ingin memaksa putranya agar segera jadian dengan Tamara. Tapi, Daniel melarangnya melakukan itu. Daniel tidak mau putra mereka tertekan hingga akhirnya menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.


"Aleo belum tahu Ma."


"Kebetulan sekali. Tamara juga tidak tahu mau pergi dengan siapa. Kau pergi dengan Tamara ya. Bukankah sebelum pesta pernikahan ada acara yang namanya apa itu ya." Serena terlihat berpikir.


"Bridal shower," sambung Aleo cepat.


"Ya. Itu. Alana meminta Tamara datang lebih cepat. Kau mau menemaninya Kan, sayang?" Wajah memelas Serena membuat Aleo tidak tega walau sebenarnya hingga detik ini ia belum memberikan keputusan.


"Tidak masalah. Mama juga tidak membenci Clara. Dia anak yang baik dan sopan." Serena sangat bahagia mendengar putranya akan pergi bersama dengan Tamara.


"Aleo, besok kau mau menemani Tamara memilih gaun untuk dikenakan di pesta Alana dan Kwan, kan? Waktunya sudah dekat, mama tidak tega melihat Tamara pergi sendirian."


"Bukankah biasanya mama yang selalu menemani Tamara?" protes Aleo di dalam hati.


"Ya ma... Aleo akan lakukan apa yang mama katakan."


"Terima kasih, sayang. Kau memang putra kebanggaan mama." Serena memeluk Aleo dengan wajah bahagia. Sedangkan Aleo hanya bisa menghela napas kasar.


***


Aleo dan Tamara sedang berada di dalam perjalanan menuju salah satu butik langganan Serena. Bukan Aleo yang tahu alamat butik langganan Serena kali ini. Justru Tamara yang paham karena memang wanita itu yang sering di ajak Serena berbelanja selama ini.


"Kak Aleo gak ke kantor?" tanya Tamara dengan suara lembutnya.


Aleo tersenyum dengan tatapan yang masih fokus dengan jalan di depan. "Tidak terlalu sibuk. Jadi aku tidak perlu turun tangan langsung."


Tamara yang tidak tahu lagi harus bertanya apa, hanya bisa memutuskan diam. Sambil memandang keluar jendela ia berusaha bersikap tetap tenang. Sebenarnya sejak tadi Tamara sudah gugup. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika berdua bersama Aleo.


"Apa kau sudah makan?"


"Belum," jawab Tamara singkat dengan wajah malu-malu.


"Astaga, aku lupa. Bukankah sekarang belum waktunya makan siang? Nanti setelah waktunya tiba kita makan di luar ya?"


Tamara hanya mengangguk pelan. Bibirnya tersenyum bahagia karena nanti akan makan berdua bersama dengan Aleo.


Di mata Tamara, Aleo adalah pria sopan yang dan sabar. Penyayang dan pekerja keras. Seiring berjalannya waktu, Tamara sendiri mulai menyimpan perasaan kagum terhadap Aleo.

__ADS_1


Namun, ia sadar kalau dirinya tidak pantas berada di samping Aleo. Bukan karena dari segi ekonomi saja. Sejak dulu ia tahu kalau kedua orang tuanya bisa hidup enak seperti sekarang karena bantuan dari keluarga Daniel Edritz Chen. Tamara tidak mau terkesan seolah-olah memanfaatkan situasi yang ada.


"Apa di sini tempatnya?" Aleo memberhentikan laju mobilnya dan memandang wajah Tamara.


"Ya, benar. Ini tempatnya," jawab Tamara sambil membuka sabuk pengamannya.


"Oke, ayo kita masuk." Aleo membuka pintu mobil. Begitu juga dengan Tamara. Mereka sama-sama keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam butik.


"Tamara, kalau boleh aku tahu. Apa warna yang kau suka?" Aleo memandang beberapa gaun yang terpajang di hadapannya. Seorang karyawan muncul untuk menyambut kedatangan Aleo dan Tamara.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ya. Saya mau memilih beberapa gaun yang akan digunakan untuk menghadiri pesta pernikahan."


"Kami memiliki beberapa koleksi baru. Mari, Nona silahkan ikut saya." Karyawan itu membawa Tamara melihat beberapa gaun keluaran terbaru. Sedangkan Aleo memilih duduk di sofa untuk menunggu Tamara yang sedang sibuk memilih.


"Kak Aleo!" Aleo memiringkan wajahnya. Ia kaget bukan main ketika melihat Clara kini berdiri di hadapannya.


"Clara? Kau ada di sini juga?" tanya Aleo sambil beranjak dari sofa yang ia duduki.


"Butik ini adalah butik terkenal. Jadi aku tertarik untuk berbelanja beberapa baju. Kak Aleo sendiri ...." Clara mencari-cari Serena. Ia berpikir kalau Aleo ada di butik itu karena mengantarkan Serena berbelanja.


"Aku mengantarkan Tamara."


Deg. Ekspresi wajah Clara berubah. Wanita itu cemburu ketika mendengar kabar kalau Aleo ke butik hanya untuk mengantarkan Tamara berbelanja.


"Kak Aleo, apa ini bagus?" Tamara yang baru saja muncul juga terlihat kaget ketika melihat Clara ada di sana. Wanita itu memegang beberapa gaun di tangannya.


Aleo yang saat itu ada di tengah-tengah antara Clara dan Tamara terlihat mematung. Ia benar-benar bingung saat ini. Seperti terjebak dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Apa ini gaun yang sudah kau pilih?" Aleo memutuskan untuk menyapa Tamara lebih dulu. Ia tidak mau mengecewakan Tamara karena hal itu sama saja membuat Serena terluka.


"Aku belum mencobanya. Sepertinya aku harus mencobanya lebih dulu." Tamara tidak mau menjadi pengganggu di sana. Wanita itu segera memutar tubuhnya untuk pergi ke ruang ganti. Tapi dengan cepat Aleo memegang tangan Tamara dan mencegah wanita itu pergi.


Tamara syok bukan main ketika pergelangan tangannya kini ada di genggaman Aleo. Dengan cepat Tamara melepas genggaman tangan Aleo.


"Kenapa?" tanya Aleo bingung. Pria itu mengambil salah satu gaun yang di pilih Tamara. Ia memberikannya kepada Tamara dengan senyuman.


"Aku hanya ingin kau mencoba gaun ini sebelum mencoba gaun yang lain."


Secara perlahan Tamara menerima gaun itu dan mengangguk pelan. "Saya ke ruang ganti dulu ya kak."


"Ya. Jangan lama-lama ya," ujar Aleo lagi. Clara yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam sambil mengatur napasnya. Ia memandang ke arah lain agar tidak terlihat sedang cemburu.


Tamara pergi ke ruang ganti. Namun, baru beberapa langkah saja wanita itu menjauh tiba-tiba gaun-gaun yang ada di tangan Tamara terlepas. Tamara memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing.


"Tamara!" Aleo berlari kencang untuk menangkap tubuh Tamara yang terhuyung. Pria itu terlihat sangat panik ketika melihat Tamara akan terjatuh.


"Tamara!" Aleo menepuk pipi Tamara. Clara juga berlari dengan wajah panik.


"Kak Aleo, kita harus membawanya ke rumah sakit. Wajah Tamara terlihat sangat pucat."


Aleo mengangguk pelan dan mengangkat tubuh Tamara ke dalam gendongannya. Pria itu segera membawa Tamara pergi meninggalkan butik menuju ke rumah sakit. Clara masih setia berada di belakang Aleo yang terlihat panik.


"Kak Aleo, biar aku yang bawa mobil ya. Kak Aleo jaga Tamara."


"Baiklah." Tanpa pikir panjang lagi pria itu masuk ke dalam mobil. Tamara ada di atas pangkuan Aleo. Sedangkan Clara mengambil alih laju mobil agar mereka bisa segera tiba di rumah sakit.


"Kak Aleo tenang ya. Tamara pasti akan baik-baik saja," ucap Clara agar Aleo tidak lagi memasang wajah panik.


Aleo hanya diam membisu sambil memandang wajah Tamara yang pucat. Tidak tahu kenapa jantungnya seperti di remas. Aleo tidak sanggup melihat Tamara memejamkan mata seperti itu.


"Apa ini? Kenapa aku ingin menyalahkan diriku sendiri ketika melihat Tamara seperti ini? Hatiku benar-benar terluka. Ada rasa tidak rela melihat Tamara menderita," gumam Aleo di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2