Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Jangan Tolong Dia


__ADS_3

Jordan berjalan menuju ke arah ruangan Leona. Serena dan Daniel telah menyerahkan wanita itu kepada dirinya. Jordan sangat bahagia. Di tambah lagi dukungan dari kedua orang tuanya membuat Jordan semakin semangat dan pantang mundur.


Jordan menahan langkah kakinya saat melihat Kwan muncul di hadapannya. Pria itu berjalan dengan langkah yang gusar. Dengan tatapan menyelidik, Jordan memperhatikan punggung tangan Kwan yang memerah.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.


"Hmm, ya," jawab Kwan cepat sebelum menerobos masuk ke dalam kamar Leona.


Jordan yang masih terlihat bingung hanya bisa menggeleng kepala. Pria itu juga masuk ke dalam ruangan Leona.


Di dalam ruangan Leona, telah ada Tamara. Memang sejak semua orang sibuk dan pergi, Tamara yang memiliki tugas untuk menjaga Leona di ruangan itu. Sambil memeriksa peralatan medis Leona, Tamara memandang ke arah Kwan dan Jordan yang baru saja tiba.


"Tuan Jordan, ponselmu berdering sejak tadi," ucap Tamara dengan senyuman. Wanita itu melanjutkan pemeriksaannya.


Ponsel Jordan tertinggal di ruangan Leona. Setelah mendengar kabar dari Tamara, Jordan segera menghampiri ponselnya. Kwan memandang Jordan sekilas sebelum berdiri di samping tempat tidur Leona. Ia memandang wajah Leona dengan senyuman.


"Kak, mungkin wanita itu sudah menemui ajalnya. Aku sudah membalas perbuatannya," gumam Kwan di dalam hati.


Jordan mengeryitkan dahinya ketika melihat nama Katterine di layar ponselnya. Pria itu terlihat bingung. Namun, tanpa mau bertanya dan penasaran. Jordan segera menghubungi Katterine lagi.


"Hallo Katterine," ucap Jordan sambil memandang wajah Leona. "Apa kau baik-baik saja?"


Jordan tertegun ketika Katterine bercerita kalau kini Oliver dan Zean masih berkelahi. Sedangkan dirinya tidak tahu harus berbuat apa karena Letty kini ada di dalam pangkuannya dengan luka yang serius.

__ADS_1


"Dimana kau sekarang?" ujar Jordan dengan wajah panik.


Kwan mengangkat kepalanya. Pria itu terlihat menguping apa yang kini dibicarakan Jordan dan Katterine di dalam ponsel.


"Baiklah, kakak akan segera ke sana," ucap Jordan sebelum memutuskan panggilan teleponnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Kwan penasaran.


"Aku harus menolong Oliver. Dia berkelahi dengan Zean," jawab Jordan sembari berjalan menuju ke arah pintu.


Kwan diam sejenak. Pria itu tahu apa yang menyebabkan Oliver dan Zean berkelahi. Ia tidak mau Jordan datang untuk membela Olive Bagaimanapun juga, Zean sudah membantunya menghajar Letty tadi.


"Jordan! Berhentilah!" teriak Kwan untuk mencegah Jordan pergi.


Jordan menghentikan langkah kakinya. Pria itu memandang wajah Kwan dengan bingung. "Ada apa, Kwan. Aku harus segera pergi."


Tamara telah selesai melakukan pemeriksaan. Wanita itu menatap wajah Jordan dan Kwan secara bergantian. "Jangan berteriak seperti itu. Ini ruangan pasien!" ketus Tamara dengan wajah tidak suka.


"Kak Leona membutuhkanmu. Sebaiknya kau jaga Kak Leona saja. Biar aku yang pergi untuk menolong mereka. Bagaimana?" Kwan menawarkan diri dengan wajah yang sangat serius. Pria itu melangkah pelan mendekati posisi Jordan berada.


Jordan diam sejenak. Ia membalas tatapan Kwan saat itu. "Tidak! Ada Katterine di sana. Aku harus turun tangan langsung untuk memastikan kalau Katterine baik-baik saja."


Kwan tertawa kecil. "Katterine hanya alasan kau saja kan? Sebenarnya kau ingin menyelamatkan Letty dan membawa wanita sialan itu ke rumah sakit kan?" Wajah Kwan memerah. Ia di sulut emosi ketika mendengar bantahan yang terucap dari bibir Jordan.

__ADS_1


Tatapan Jordan semakin tajam. "Kau tahu soal ini. Jangan-jangan kau-"


"Ya, aku yang menghajar Letty tadi. Tanpa sengaja Zean muncul dan membantuku. Awalnya aku juga mau menghajar Zean. Tapi, ketika dia terlihat tulus membantuku membalaskan perbuatan Letty, aku mengurungkan niatku untuk melukainya," jawab Kwan jujur.


"Kwan, apa kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan? Seharusnya kau bisa menyerahkan masalah ini kepadaku. Kau tidak perlu melukai Letty hingga seperti itu?" teriak Jordan dengan kesal.


"Kau membelanya? Kau sama saja dengan Oliver! Berada di pihak musuh!" ketus Kwan dengan wajah yang sudah di penuhi emosi.


"Hentikan! Perdebatan kalian membuat Kak Leona semakin memburuk," ucap Tamara dengan wajah bingung.


Jordan dan Kwan sama-sama memandang ke arah Leona. Kwan memandang Leona dengan rasa khawatir sebelum memandang wajah Jordan lagi. "Kau bisa memilih. Kak Leona atau pergi menemui Letty!" Kwan segera berjalan mendekati Leona.


"Kwan, kau tidak bisa membuatku dalam posisi memilih seperti itu. Aku ke sana untuk memastikan kalau Katterine baik-baik saja. Dia adik kandungku, Kwan. Sedangkan Leona adalah wanita yang sangat aku cintai," ucap Jordan dengan suara mulai tenang.


"Hentikan!" Tamara semakin frustasi. Dua pria yang kini ada di hadapannya telah memberikan respon yang buruk. Tamara merasa sangat khawatir. Ia segera memberi perintah kepada beberapa perawat agar segera masuk ke dalam ruangan Leona. Wanita itu lelah melihat dua pria yang terus saja berteriak.


Jordan dan Kwan tidak lagi mengeluarkan kata. Mereka kini juga sama seperti Tamara. Mengkhawatirkan Leona dan tidak ingin Leona berada dalam masa kritis lagi.


Beberapa perawat muncul. Tamara memandang perawat itu dengan wajah serius. "Kalian bisa membawa dua pria ini keluar. Mereka telah membuat keributan di ruangan pasien," ucap Tamara sebelum memalingkan wajahnya dari Kwan dan Jordan.


Baik Jordan dan Kwan hanya diam tanpa mau membantah. Mereka berdua segera pergi keluar meninggalkan ruangan Leona tanpa mau mengeluarkan kata lagi. Semua demi kebaikan Leona juga.


Tamara menghela napas. Wanita itu mengambil tangan Leona untuk menenangkan Leona. "Kak Leona, reaksi seperti apa ini? Apa kau marah karena dua pria itu berkelahi? Jangan menakutiku. Cepat bangun kak. Jika kau membuka mata, kau bisa memarahi dua pria ini secara langsung," ucap Tamara sambil mengusap lembut punggung tangan Leona.

__ADS_1


Tamara menghela napas ketika Leona sudah kembali normal dan tidak dalam keadaan serius lagi. "Terima kasih Kak Leona. Aku tahu, kau marah karena mereka berdebat tadi."


Pada rindu Leona ya? Sabar... gak lama lagi Leona bangun.😘


__ADS_2