
Leona berbaring di atas tempat tidur sambil menggerakkan kedua kakinya. Ia sudah memakai pakaian tidur. Di tangannya ada ponsel yang saat itu melekat di telinga. Bibirnya tersenyum. Bahkan sesekali ia tertawa kecil.
"Iya, Ma. Leona akan selalu jaga kesehatan Leona." Leona memandang jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sejak tadi memang dia masih menunggu telepon dari tunangannya. Leona tidak akan bisa tidur jika Jordan belum meneleponnya.
"Sayang, besok mama akan berangkat ke rumah Tante Diva. Mama tidak bisa berdiam diri seperti ini. Mama pernah cerita kan, bagaimana berharganya Diva? Mama tidak tahu apa besok kedatangan Mama di terima atau tidak. Tapi yang pasti, Mama ingin melihat langsung keadaan Tante Diva."
Leona diam sejenak. Ia tahu bagaimana sedihnya Serena saat ini. Mama tercintanya itu selalu saja menyalahkan dirinya sendiri setiap kali ia membayangkan keadaan Diva saat ini.
"Ma, Leona ikut ya?" tanya Leona dengan hati-hati.
"Jangan, Sayang. Bukankah kau bilang besok akan fitting baju pengantin? Sebaiknya jaga kesehatanmu saja. Besok mama akan pergi bersama Papa. Paman Adit adalah teman baik Papa. Semua pasti akan baik-baik saja. Nanti mama kabari lagi bagaimana hasilnya."
"Hem, mama juga harus jaga kesehatan ya. Leona gak mau Mama sakit," ucap Leona sebelum memberikan kecupan di ponselnya. "Leona sayang mama."
"Selamat tidur, Sayang. Mama juga sangat menyayangimu."
Leona memutuskan panggilan teleponnya. kedua matanya tidak berkedip ketika memandang nomor telepon Jordan. Ada rasa kesel di dalam hatinya karena pria itu tidak ada menunjukkan tanda-tanda ingin menghubunginya. hingga pada akhirnya Leona memutuskan untuk menghubungi Jordan lebih dulu.
__ADS_1
Sayangnya, ketika ia memutuskan untuk menurunkan egonya justru Pangeran Cambridge itu tidak mengangkat teleponnya. Hal itu membuat Leona semakin kesal.
"Ke mana dia? Apa dia sudah tidur?" Leona melemparkan ponselnya begitu saja. Sebenarnya tubuhnya juga terasa sangat lelah. Kedua matanya berat. Hingga secara perlahan, Leona mulai memejamkan matanya. Mencari posisi nyaman sebelum ia larut di alam mimpi.
***
Keesokan harinya.
Oliver olahraga ringan di lapangan yang biasa ia gunakan untuk melatih Gold Dragon. Karena dia sudah janji untuk menemani Katterine lari pagi, pria itu terpaksa mengundur jadwal latihan pasukan Gold Dragon.
Dengan tubuh dipenuhi keringat, Oliver terus saja melakukan gerakan push up. Gerakannya tidak terhenti meskipun ia tahu kalau seseorang berjalan mendekatinya. Oliver tahu, kalau orang itu adalah Katterine.
Oliver memandang sepatu sneaker yang di genggam Katterine. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menaikan satu alisnya.
"Putri, kenapa Anda tidak menggunakan sepatu itu?" Oliver menunjuk sepatu yang di genggam Katterine.
Katterine membuang napasnya dengan kasar. Wanita itu memberikan sepatu sneaker kepada Oliver. "Aku tidak bisa memakainya. Terakhir kali mengikat talinya, juga ada pelayan yang mengikatkannya."
__ADS_1
Oliver terlihat bingung. Ia menerima sepatu itu walau dengan wajah tidak ikhlas. Oliver memperhatikan tali yang susunannya berantakan. Ada tawa kecil di bibirnya. Oliver bisa membayangkan wajah Katterine saat tidak berhasil mengaitkan tali itu di sepatu.
"Kenapa kau melepas talinya jika tidak pandai memasangnya kembali?" Oliver berjongkok di depan Katterine.
Katterine hanya diam. Ia menunduk dan memandang Oliver dengan bibir tersenyum. "Akhirnya rencanaku berhasil juga. Tidak masalah menjadi bodoh agar aku bisa mendapatkan perhatiannya," gumam Katterine di dalam hati.
"Lepaskan sepatunya," ucap Oliver sebelum melepas sepatu pansus yang ada di kaki kanan Katterine. Oliver memakaikan sepatu sneaker itu di kaki kanan Katterine dan mengikatkan talinya. Hal itu kembali ia lakukan pada kaki Katterine bagian kiri.
Setelah selesai, Oliver berdiri di depan Katterine. Ia menatap wanita itu dalam-dalam. "Sekarang mau olahraga apa? Apa mau berlari ke ujung sana?" Oliver menunjuk pepohonan besar yang ada di ujung lapangan. Jaraknya sekitar satu kilometer. Katterine menelan salivanya dengan perasaan ragu. Tapi, ia tidak mau olahraga bersama Oliver sampai gagal.
"Oke, ayo kita mulai." Dengan wajah ceria, Katterine berlari lebih dulu. Ia telrihat bahagia ketika Oliver mengimbangi langkah kakinya di samping. Sambil berlari rencana jahat tersusun rapi di dalam hatinya.
"Aku akan memintanya menggendongku nanti. Aku bilang saja kalau kakiku-"
"Putri, jika Anda tidak bisa berlari untuk kembali ke tempat semula. Saya akan membawakan kuda untuk membawa Anda," ucap Oliver yang seolah-olah mengerti apa yang kini di pikirkan oleh Katterine.
"OLIVER! KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!"
__ADS_1
Katterine mempercepat larinya untuk meninggalkan Oliver jauh di belakang sana. Sedangkan Oliver tersenyum kecil sambil menggeleng kepala. "Ternyata dia benar-benar ingin mengerjaiku," gumam Olive di dalam hati.