
Sudah berjam-jam Tamara dan Angel berusaha menyelamatkan nyawa Leona. Namun, harapan untuk berhasil sedikit. Bahkan nyaris tidak ada. Bukan hanya karena kekurangan banyak darah. Benturan yang ada di kepala Leona memang sangat parah. seluruh ilmu dan pengalaman yang pernah di miliki dua dokter cantik itu sudah mereka keluarkan. Namun, tanda-tanda Leona melewati masa kritisnya tidak juga ada.
Tamara memejamkan mata sejenak untuk menekan kesedihannya. Ini pertama kalinya ia harus menyelamatkan nyawa pasien yang berstatus sebagai keluarganya. Tamara tidak akan mungkin bisa memaafkan dirinya jika detik itu juga ia tidak berhasil menyelamatkan nyawa Leona.
Angel yang sejak tadi memperhatikan detak jantung Leona mulai memucat. Sama halnya dengan Tamara, wanita itu tidak sanggup jika harus gagal menyelamatkan Leona. Ia menatap wajah Tamara dengan kedua mata berkaca-kacanya. Tamara membalas tatapan Angel.
“Ada satu cara yang bisa kita lakukan. Namun, ini sanga beresiko. Berhasil atau tidak, hanya itu pilihannya setelah kita mengambil tindakan ini,” ucap Tamara dengan suara serak.
Angel mengangguk pelan. “Selalu ada kata gagal dan selalu ada kata berhasil,” jawab Angel dengan suara pelan.
***
__ADS_1
Di saat Leona belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selamat. Jordan dan Oliver pergi ke Cambridge. Zean justru berdiri di atap rumah sakit sambil melamun. Sesekali tetes air mata membasahi wajahnya. Tangannya menggenggam ponsel yang baru saja melekat di telinga. Masih mengiang jelas ucapan seorang wanita dari dalam telepon beberapa menit yang lalu.
“Zean, kau bukan anak kandung dari Tuan dan nyonya besar. Kau hanya anak seorang pembantu yang di angkat menjadi anak oleh tuan Wick. Kakekmu juga bukan kakek kandungmu. Dia hanya seorang pria tua yang serakah dan tidak memiliki hati. Usaha yang sudah di rintis oleh kedua orang tuamu berkembang pesat setelah mereka mengangkatmu sebagai anak. Mereka percaya pada kata peramal kalau mereka harus mengangkat seorang anak laki-laki agar bisa kaya. Tapi, semua itu tidaklah sempurna. Setelah mereka kaya, justru bahaya menghampiri hidup mereka. Kakekmu tidak terima saat suatu malam Tuan besar menyerahkan seluruh kekayaannya kepadamu. Hingga akhirnya ia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh ayahmu. Nyonya besar meninggal karena sakit sebelum kejadian itu terjadi. Nyonya besar keracunan. Semua cerita yang pernah kau dengar hanya kebohongan semata. Wanita yang merawatmu sejak kecil yang kau anggap ibu angkat adalah ibu kandungmu. Dia harus bunuh diri di depan matamu itu juga demi menyelamatkan nyawamu. Kakekmu yang melakukan semua itu. Ibu kandungmu di ancam. Dia akan membunuhmu jika tidak bunuh diri dan meneriaki nama Serena saat itu. Kakekmu telah melindungi dirinya sendiri dan melemparkan kesalahannya kepada wanita yang sudah ia bayar. Semua terpaksa ia lakukan karena sejak kau besar, kau mulai menyelidiki kematian ayah kandungmu. Dia tidak ingin ketahuan, hingga akhirnya menyelamatkan nyawanya dengan menggunakan nama orang lain. Demi Tuan Wick dan ibu kandungmu, lupakan semuanya. Kembalilah pada hidupmu yang dulu.”
Zean mengukir senyuman kecil. “Apa aku seburuk itu hingga takdir mempermainkan seperti ini? Apa kau tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?” gumam Zean di dalam hati. “Sekarang aku tahu, kenapa dia tidak pernah setuju aku membalaskan dendam kepada Leona dengan caraku sendiri. Ia takut masalah ini mendapat titik terangnya?”
Seorang pria berjalan mendekati posisi Zean berdiri. Ia terlihat gugup dan bingung. Sambil setengah membungkuk, pria itu menyampaikan apa yang ingin ia katakan. “Bos, Nona Leona kritis dan ....”
“Leona ... sayangku,” celetuk Zean dengan wajah panik. Pria itu berjalan cepat bahkan setengah berlari menuju ke arah lift. Zean ingin segera turun ke lantai dimana Leona saat ini berjuang. Ia ingin melihat langsung keadaan wanita itu dan mendoakannya. Ia tidak peduli akan di terima atau tidak oleh keluarga Leona nantinya. Zean hanya tahu kalau kini ia harus ada di samping Leona dan mendampingi wanita yang sudah mengisi hatinya tersebut.
“Leona, maafkan aku. Aku salah. Aku berhak mendapat semua hukuman darimu. Aku bahkan layak mati di tanganmu. Satu hal yang tidak boleh kau lakukan. Jangan pergi. Leona, aku mohon jangan pergi. Setidaknya kau harus tetap hidup untuk membunuhku dan membalas sakit hatiku kepada pria jahat seperti diriku,” gumam Zean di dalam hati. Pria itu terlihat sangat gelisah ketika sudah berada di dalam lift. Kepalanya miring dan memandang pria yang ada di sampingnya. “Apa Jordan masih di sana?”
__ADS_1
Pria itu memandang wajah Zean sambil menggeleng pelan. “Jordan tidak lagi ada di negara ini Bos. Satu jam yang lalu ia berangkat meninggalkan Jerman,” ucap pria berbadan tegap itu dengan penuh keyakinan.
Zean mengeryitkan dahinya. “Apa kau yakin?” ucap Zean tidak percaya. Setahu Zean, Jordan adalah pria yang selalu setia menemani Leona selama ini. Bahkan pria itu terlihat berjuang mati-matian untuk memenangkan hati Leona. Satu hal yang sangat mustahil jika Jordan pergi meninggalkan Leona di saat wanita itu tidak berdaya.
“Benar, Bos,” jawab pria itu mantap.
Zean memandang ke arah depan saat pintu lift terbuka. “Selidiki apa yang membuat Jordan pergi dan kabari aku secepatnya,” perintah Zean cepat sebelum berjalan mendekati rombongan keluarga Leona yang sudah berkumpul di depan ruangan operasi.
Pria itu tertegun beberapa detik sebelum mengangguk setuju. “Baik, Bos.”
Hai reader...jangan lupa vote dan hadiahnya ya
__ADS_1