
San Fransisco.
Kwan baru saja tiba di kantor S.G. Group cabang San Farnsisco. Pria itu memperhatikan kemegahan gedung yang ada di hadapannya. Kedua matanya memandang kagum atas desain terbaru dari hasil renovasi gedung tersebut. Terakhir kali Kwan mengunjungi gedung tersebut, belum seindah dan semenarik itu.
“Apa ini desain Alana?” gumam Kwan di dalam hati. Memang sebelum tiba di San Fransisco, Aleo pernah bercerita kepada Kwan kalau Alana telah berhasil merenovasi gedung S.G. Group milik Biao. Bahkan pria itu juga sempat bercerita kalau ia kagum dengan bakat yang di miliki oleh Alana.
Mengucapkan nama Alana membuat Kwan kembali ingat dengan perjuangan cintanya. Pria itu menatap ke arah depan dan mulai melangkah masuk. Di dalam hati Kwan saat itu hanya satu. Ia bisa bertemu dengan Alana dan memperbaiki hubungan yang selama ini tidak tahu seperti apa.
“Selamat pagi, Tuan Kwan. Silahkan ikuti saya. Anda sudah di tunggu Nona Alana di ruangannya,” ucap seorang wanita yang berdiri di depan pintu masuk.
Kwan mengangguk pelan sebelum melangkahkan kakinya lagi. Kedua matanya masih setia untuk mengitari seisi gedung yang kini ia kunjungi. Isi kepalanya terus saja tersimpan sejuta pertanyaan. Apa Alana akan menyambutnya? Apa Alana pura-pura tidak kenal dengannya? Apa Alana masih mengingat kejadian yang pernah ia lakukan? Apa Alana masih marah padanya. Pertanyaan seperti itulah yang kini memenuhi pikirannya.
“Kwan memandang pantulan tubuhnya dari cermin yang ada di dalam lift. Pria itu mengatur senyuman sebelum bertemu dengan Alana nanti. Ia ingin memberi yang terbaik untuk pertemuannya dengan Alana hari ini.
Pintu lift terbuka. Wanita tersebut memberi jalan kepada Kwan. Ia juga mengukir senyuman indah. “Mari, Tuan,” ucapnya seraya berjalan di belakang Kwan.
Kwan memandang ke arah depan. Beberapa tahun yang lalu, ruangan yang ingin ia kunjungi itu masih menjadi ruangan kerja milik Biao. Namun, sejak Biao memutuskan untuk beristirahat di rumah dan menghabiskan masa tuanya, Alana yang naik jabatan dan memegang kendali atas perusahaan S.G. Group tersebut.
Selama ini, Alana banyak di bantu Aleo. Namun, tidak tahu kenapa. Hingga detik ini mereka belum juga memiliki hubungan yang spesial. Alana dan Aleo masih seperti dulu saja. Terlihat seperti kakak adik sepupu pada umumnya. Tidak ada hubungan spesial seperti yang di bayangkan semua orang sebelumnya.
Wanita yang menemani Kwan membukakan pintu ruangan Alana. Wanita itu memberi jalan dan mempersilahkan Kwan masuk ke dalam. Setelah Kwan masuk, ia menutup kembali pintu tersebut.
__ADS_1
Kwan memandang wajah Alana yang sedang duduk di sebuah kursi berukuran besar berwarna hitam mengkilap. Wanita itu terlihat sibuk memeriksa berkas yang ada di atas meja. Perhatiannya teralihkan saat melihat kedatangan Kwan. Ia beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Kwan.
“Selamat datang, Tuan Kwan,” sapa Alana dengan senyum formal. Wanita itu mengulurkan tangan untuk mempersilahkan Kwan duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Kwan melirik kursi yang di pinta Alana untuk di duduki. Pria itu memang agak pembakang. Ia berjalan ke arah sofa tanpa peduli dengan Alana yang sudah menunggunya di meja kerja. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sana dengan posisi yang nyaman. Kedua tangannya di rentangkan dengan tatapan ke arah Alana.
Alana menghela napas. Sebelum bertemu dengan Kwan, ia sudah mempersiapkan dirinya. Tidak ingin banyak bicara, Alana mengambil berkas yang sudah ia persiapkan. Wanita itu berjalan dengan santai menuju ke sofa yang kini di duduki Kwan. Wajahnya terlihat biasa saja. Sepertinya Alana tidak lagi mau membahas masa lalu yang pernah terjadi antara dirinya dan Kwan beberapa tahun yang lalu.
“Ini berkas kerja sama antara S.G. Group dan Z.E Group. Kak Aleo pasti sudah menjelaskannya kan?” ucap Alana sambi menyodorkan berkas tersebut di hadapan Kwan.
Kwan memperhatikan wajah Alana dengan saksama. Pria itu mengukir senyuman tipis sebelum meraih berkas tersebut. Ia membuka berkasnya dan berpura-pura memeriksa isinya. Sesungguhnya Kwan tidak mengerti arti dari perjanjian di dalamnya. Baginya, tulisan-tulisan yang ada di dalam berkas itu hanya akan membuatnya bingung.
Alana mengeryitkan dahi. Wanita itu mengukir senyuman sebelum membuang tatapannya kearah lain. Satu tangannya menutupi mulutnya yang ingin tertawa. Kwan terlihat bingung. Pria itu memandang berkas yang ada di tangannya lagi. Kedua matanya melebar saat melihat berkas yang ada di tangannya adalah pengeluaran bulanan S.G. Group. Bukan surat perjanjian seperti apa yang ia bayangkan.
“Anda CEO yang sangat mudah untuk di tipu,” ucap Alana dengan sernyuman indah.
Kwan menghela napas. Pria itu meletakkan berkas yang ada di tangannya dan menatap wajah Alana. “Kau mengerjaiku, Nona,” ucap Kwan pelan.
Alana mengangkat kedua bahunya. “Itu tidak akan berhasil jika kau pimpinan yang cerdas,” jawab Alana dengan tawa yang masih ada.
“Apa seperti ini caramu memimpin S.G. Group hingga bisa sesukses sekarang? Kau menggunakan kecantikanmu untuk menghipnotis semua clienmu?” sindir Kwan dengan kedua mata menyipit.
__ADS_1
Alana menggeleng pelan. “Hanya pada Anda saja saya berani,” ucap Alana lagi.
Kwan menaikan satu alisnya. Pria itu mengukir senyuman. Suasananya sudah tidak setegang saat ia pertama kali masuk ke dalam ruangan itu. Candaan Alana telah berhasil membuat Kwan memiliki keberanian untuk mendekati Alana lagi.
“Apa kabar, Alana?” tanya Kwan dengan wajah yang bersungguh-sunggu. “Lama tidak berjumpa. Kau semakin cantik dan mempesona,” ucap Kwan lagi.
Alana menggeleng pelan. Wanita itu mengambil berkas yang asli dan memberikannya kepada Kwan. “Tidak ada yang berubah. Aku masih tetap Alana yang dulu,” jawan Alana sebelum meletakkan pulpen di atas berkas tersebut.
Kwan melirik berkas itu sekilas sebelum memandang wajah Alana lagi . “Masih sama seperti dulu? Apa hatimu masih sama seperti dulu?” Kwan segera mengambil berkas tersebut setelah melayangkan pertanyaan seperti itu kepada Alana. Ia terlihat sangat serius memeriksa berkas yang sudah ada di genggaman tangannya.
Alana tertegun beberapa saat sebelum membuang tatapannya. Wanita itu kembali ingat kejadian ciuman pertamanya yang direbut oleh Kwan. Memang sangat memalukan. Tapi, tidak seburuk yang ia bayangkan. Karena kenyataannya, akibat ulah Kwan menciumnya malam itu. Alana tidak bisa melupakan nama Kwan dari dalam pikirannya.
“Ok, selesai. Aku akan kembali lagi besok untuk rapat.” Kwan beranjak dari duduknya. Pria itu menatap Alana sekilas sebelum memandang ke arah pintu. “Saya permisi dulu.” Pria itu berjalan dengan santai menuju ke arah pintu. Meninggalkan Alana yang menatap punggungnya dengan tatapan penuh arti. Alana ingin mencegah Kwan pergi untuk membicarakan sesuatu. Tapi, tidak tahu kenapa. Bibirnya terasa kaku untuk mengungkapannya.
Kwan memegang handle pintu. Pria itu memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Alana dengan saksama. “Alana, apa kau mau makan siang denganku?” tanya Kwan dengan senyum indah di bibirnya.
Wajah Alana memerah. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain. “Aku tidak bisa menolak. Bukankah kau tamu kehormatan yang sengaja dikirimkan dari Sapporo,” jawab Alana dengan suara pelan.
Kwan mengukir senyuman. “Aku akan menjemputmu beberapa jam lagi,” ucap Kwan sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1