
Hai reader ... ketahuilah kalau author butuh perjuangan ketik bab ini. Jadi kalau kurang puas mohon maaf ya.๐ Terima kasih buat yang kasih tips selama gak update.๐ธ
***
Katterine masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tahu kalau Roberto seperti itu pasti karena ulah Oliver. Namun, ia tidak berani bertanya. Melihat wajah Oliver saja ia sudah tidak berani untuk menyinggung tentang pria lain. Apa lagi menanyakan kabar tentang Roberto. Itu hal termustahil yang tidak mungkin bisa ia lakukan.
Oliver sadar akan kegelisahan Katterine sejak tadi. Tapi ia hanya memutuskan untuk diam. Mengendarai mobil yang ia kemudi agar tiba di tempat tujuannya.
Tiba-tiba di samping mobil yang di tumpangi Oliver dan Katterine muncul mobil polisi. Tidak hanya satu. Bahkan ada beberapa di samping sana. Oliver melirik melalui spion dan mengeryitkan dahi. Sebenarnya ia tidak mau terlalu akrab dengan putra Sonia dan Aldi itu. Tapi sepertinya, pria itu butuh teman saat ini.
Oliver menambah laju mobilnya. Ia tidak peduli walau kini mobil yang mengejarnya mobil polisi. Toh, Miller tidak akan berani menangkapnya. Katterine mulai merasa ada yang aneh. Ia memandang ke belakang dan memandang Oliver dengan tatapan menuduh. Bagaimana bisa kini polisi mengejar mereka.
"Oliver, apa yang terjadi? Kesalahan apa yang sudah kau perbuat sampai polisi-polisi itu mengejarmu?"
"Pakai sabuk pengamanmu dengan baik dan jangan banyak bicara," ketus Oliver begitu saja.
Katterine yang sudah mulai kesal tidak mau menuruti perintah Oliver begitu saja. Bukan duduk dengan tenang, wanita itu justru membuka sabuk pengamannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang ke depan. Seolah sedang menyambut bahaya yang ingin menghampirinya.
Oliver melirik Katterine sekilas sebelum fokus dengan laju kemudinya. Bukan Katterine namanya jika tidak memiliki sifat keras kepala.
Oliver melihat jalanan depan. Ia begitu serius ketika melihat ada lampu merah di sana. Beberapa pengguna jalan sedang melintas. Mobil yang berasal dari arah Oliver harus berhenti untuk menunggu sampai para pejalan kaki lewat semua.
Oliver terpaksa memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba. Kecepatan mobil miliknya sangat tinggi hingga ia hampir saja menabrak mobil yang ada di depan. Satu tangannya naik ke atas untuk mencegah kepala Katterine terbentur. Tetap tenang memang, namun tetap saja membuat Katterine kesal.
"Kau memang menyebalkan!" teriak Katterine sambil memandang wajah Oliver.
Oliver memandang wajah Katterine dan menghela napas. Ia melihat dari spion mobil Miller yang ternyata tidak bisa menjangkau mobilnya karena jalanan sudah dipenuhi mobil lain.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tahu?"
"Polisi yang mengejar kita. Kenapa mereka mengejar kita?"
"Aku juga tidak tahu." Oliver memalingkan wajahnya. Mungkin mereka mau minta tanda tangan.
Katterine membuka mulutnya sedikit dengan wajah tidak percaya. "Oliver, aku tidak sedang bercanda."
"Aku juga tidak sedang bercanda." Oliver memandang wajah Katterine tanpa berkedip. Hal itu berhasil membuat Katterine diam membisu dan hampir salah tingkah. Sambil menyelipkan rambutnya di balik telinga, Katterine membuang tatapannya ke arah lain.
"Aku tidak ingin kau berada dalam masalah."
Oliver mengambil tangan Katterine dan mengusapnya dengan lembut. "Aku akan baik-baik saja. Kau bisa mempercayai perkataanku." Oliver melanjutkan laju mobilnya agar segera tiba di lokasi yang diinginkan Katterine.
Di sisi lain, Miller memegang stirnya dengan wajah kesal. Jalanan begitu ramai hingga tidak mungkin untuknya mengejar Oliver detik ini juga. Sambil mengumpat kesal pria itu menghidupkan musik di dalam mobilnya.
Memang masih belum jelas. Pihak kepolisian belum tahu siapa sebenarnya pria yang melakukan pembunuhan. Namun, jika benar itu adalah Oliver. Miller juga tidak akan menangkap pria itu. Ia hanya ingin Oliver pergi meninggalkan kota itu untuk menghilangkan jejak.
"Tapi buat apa Oliver membunuh pengusaha ternama yang ada di kota ini? Sebenarnya masalah apa yang ia alami? Dan kenapa dia tidak mau menceritakannya kepadaku."
Saat mobil depan mulai berjalan, Miller memutuskan untuk memutar arah. Ia lelah mengikuti Oliver. Jika pria itu tidak ingin ia temui maka akan sulit untuk menemui Oliver saat ini.
***
Roberto menghempaskan tangan perawat yang sedang memeriksanya. Setiap kali ia merasa sakit, ia selalu saja ingat dengan perbuatan Oliver dan menyalahkan pria itu. Memang pria itu yang sudah membuatnya menderita. Namun, dengan senangnya kini Oliver berduaan dengan Katterine. Seperti tidak adil.
"Tuan, lukanya belum selesai di obati," ucap perawat wanita itu dengan penuh rasa takut.
__ADS_1
"Pergi!" Roberto membuang tatapannya ke arah lain. Ia tidak suka dengan perawat itu ketika sedang menyentuhnya. Ketika tidak di sentuh lukanya baik-baik saja. Namun ketika sedikit saja di sentuh rasa sakit yang begitu luar biasa kian ia rasakan.
Tok Tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar Roberto. Karena tidak berani berurusan lagi dengan Oliver, Roberto memutuskan untuk pindah dari apartemen yang ada di samping kamar Katterine. Sepertinya ancaman Oliver saat berkata akan melempar kan tubuh Roberto dari atas apartemen cukup berhasil.
"Siapa lagi yang datang!" Roberto belum memiliki banyak pengawal apa lagi pelayan. Pelayan yang sebelumnya memutuskan Kabir dari rumah karena takut melihat penyerangan yang dilakukan Oliver. Sedangkan pengawal bayarannya sudah pada tewas. Sebagian yang luka-luka tidak lagi mau bekerja dengan Roberto.
Roberto memandang perawat yang sedang merapikan alat medisnya. "Hei kau! Bukakan pintu dan lihat siapa yang datang."
"Baik, Tuan." Perawat itu segera berjalan ke arah pintu. Ia membuka kunci yang membuat pintu itu sulit di buka dari luar.
Ketika pintu itu terbuka, perawat itu berusaha lari dengan wajah ketakutan. Namun karena langkahnya terlalu terburu-buru perawat itu terjatuh dan duduk di permukaan lantai.
Roberto memandang tamunya dengan tatapan yang serius. Ia tidak mengenalnya. Apa lagi tamu Roberto saat itu menggunakan topi dan kaca mata hitam. Ada masker juga yang menutupi wajahnya. Dengan santai dan tanpa beban, tamu misterius itu masuk ke dalam rumah. Perawat itu segera bangkit dan berlari dengan wajah ketakutan.
Roberto memandang kepergian perawat itu sebelum memandang wajah tamunya. "Siapa kau?"
"Aku tidak suka berkenalan dengan orang asing."
Roberto menahan napasnya. Bagaimana bisa ada orang yang bisa berbicara dengan suara yang sama dengannya. Tubuh Roberto mulai gemetar. Ia tidak menyangka kalau di saat kondisinya kritis ia kembali mendapat musibah
"Ada apa? Aku tidak akan mencelakaimu." Pria itu kembali berbicara. Namun kali ini menggunakan suara orang lain. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di dekat Roberto.
"Apa tujuanmu datang ke mari? Aku tidak memiliki musuh."
"Kita memang tidak saling bermusuhan. Tapi kita memiliki musuh yang sama." Pria itu membuat topinya. Di ikuti dengan kaca mata dan masker yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Ka ... kau. Bagaimana bisa kau."