Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Hanya Masa Lalu


__ADS_3

"Zeroun, dimana Jordan?" ucap Serena sambil menatap wajah Zeroun yang baru saja muncul di hadapannya. Sejak tadi, mereka semua sibuk mencari keberadaan Leona yang tidak tahu entah bersembunyi dimana. Istana itu sangat luas. Cukup sulit mencari keberadaan anak berusia 10 tahun yang selalu ingin tahu itu.


"Di taman belakang. Sepertinya tadi bermain bersama dengan Jordan," jawab Zeroun sambil menunjuk ke arah pintu samping yang menghubungkan ke arah taman belakang.


Serena menghela napas. "Anak itu. Dia seharusnya bersiap-siap untuk pulang," umpat Serena kesal. Ia berjalan cepat ke arah pintu samping. Zeroun mengikuti Serena dari belakang.


Leona dan Jordan bermain di taman belakang. Wajah mereka dipenuhi dengan cat lukis. Ada dua kanvas yang berisi coretan mereka berdua. Baik Leona maupun Jordan terlibat sangat menikmati permainan mereka.


Serena melipat kedua tangannya. Wanita itu menggeleng pelan sebelum meneriaki nama Leona. Tapi, belum sempat Serena berteriak, Zeroun sudah lebih dulu mencegahnya.


"Mereka hanya bermain. Jangan di marah." Zeroun berdiri di samping Serena. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku.


Serena berusaha tenang. Wanita memperhatikan Leona dan Jordan yang sesekali tertawa riang.


"Serena, dulu saat aku kecil. Aku bermain bersama seorang wanita. Seperti ini, kami saling melukis dengan gambar yang kami bayangkan. Terlihat aneh hasilnya, tapi sangat indah bagi kami," ucap Zeroun dengan bibir tersenyum indah.


Serena memandang wajah Zeroun. "Kau tidak pernah bercerita kalau kau memiliki sahabat di masa kecil."


"Untuk apa aku cerita, jika sahabat masa kecilku adalah kekasihku sendiri," jawab Zeroun cepat.


Serena tertegun. Wanita itu memandang wajah Zeroun tanpa berkedip. "Zeroun, itu tidak lucu."


Zeroun menghela napas. Pria itu menatap wajah Serena dengan saksama. "Serena, aku tidak bercanda. Kita sudah dekat sejak kecil. Ayahku dan Ayahmu adalah rekan bisnis," ucap Zeroun dengan wajah yang sangat serius. "Aku mengetahuinya setelah kita berpisah. Bagiku itu tidak penting lagi hingga aku tidak perlu menceritakannya padamu. Tapi, hari ini saat aku melihat kejadian ini. Aku kembali mengingatnya."

__ADS_1


Serena tidak lagi bisa berkata. Ia tidak menyangka kalau sejak kecil takdir sudah mempertemukannya dengan Zeroun.


"Maafkan aku," ucap Serena lirih. Tidak tahu kenapa, setiap kali mereka membahas masalah hubungan mereka. Serena selalu ingin mengucapkan kata maaf.


"Hei, jangan menangis." Zeroun menghapus tetes air mata Serena. Karena tidak tega melihat wanita itu bersedih, Zeroun menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.


Zeroun sayang, bahkan sangat sayang kepada Serena. Tapi tidak dengan rasa cinta. Karena bagi Zeroun, rasa sayang dan cinta itu berbeda. Kini cinta yang ia miliki hanya untuk Emelie seorang.


"Jika nanti anak kita saling mencintai, berjanjilah untuk tidak memisahkan mereka," ucap Zeroun pelan.


Serena menggeleng pelan. "Aku tidak akan mengatur jodoh anakku. Aku ingin kedua anakku menemukan cinta sejati mereka dengan sendirinya," jawab Serena pelan. Wanita itu segera melepas pelukannya. Ia mengukir senyuman kecil. "Jangan jodohkan mereka. Jika memang jodoh, mereka pasti bertemu."


"Tidak! Anak kita tidak akan pernah berjodoh!" ucap Emelie tiba-tiba. Wanita itu sudah berdiri tidak jauh dari posisi Zeroun dan Serena berada. "Serena, jangan pernah temui kami lagi!" sambung Emelie dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan dekati aku." Emelie manatap tajam wajah Serena. "Serena, berjanjilah padaku untuk tidak mempertemukan Jordan dan Leona. Atau Katterine dengan Aleo. Mereka tidak boleh menikah!" ucapnya dengan suara serak.


"Kak, apa yang kakak katakan?" ucap Shabira dari belakang. Kenzo dan Daniel juga muncul di tempat tersebut. Mereka semua bingung saat mendengar perkataan dari Emelie.


"Shabira, jangan ikut campur!" Emelie memejamkan mata dan menahan rasa sesak di dalam hatinya. "Serena berjanjilah padaku."


Serena diam sejenak. Ia kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Wanita itu sadar, kalau Emelie telah salah paham dan cemburu.


"Ya, aku berjanji. Aku tidak akan mempertemukan mereka lagi," ucap Serena mantap.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Mereka sepupu? Mereka saling menyayangi. Untuk apa kita memisahkan mereka?" ucap Kenzo tidak setuju.


"Sayang," bujuk Zeroun lagi.


"Berjanjilah Zeroun, jika kau memang mencintaiku!" ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun.


"Ok. Jika itu maumu," jawab Zeroun dengan embusan napas yang mulai sesak. Ia menatap wajah Jordan dan Leona dengan senyuman kecil. "20 tahun Serena. Seharusnya 20 tahun lagi Leona sudah menikah dan memiliki kehidupannya sendiri. Aku dan Emelie yang akan menemuimu nanti."


"Baiklah. Jika mereka tidak berjodoh. Setidaknya hubungan persaudaraan kita jangan sampai terputus. Kita tidak bertemu hanya untuk menghindari rasa cinta di antara anak kita. Bukan untuk memutuskan persahabatan kita," ucap Serena sambil menatap wajah Zeroun.


"Aku ikut Kak Serena. Jika memang Leona tidak bertemu dengan Jordan. Kwan juga tidak akan pernah mengenal Katterine dan Jordan," ucap Shabira dengan wajah kesalnya.


"Baiklah, aku setuju," jawab Ratu Cambridge itu sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan taman belakang.


Serena dan yang lainya hanya bisa diam dengan pemikiran mereka masing-masing. "Daniel, jangan lupa hubungi aku ketika kau sudah tiba di Sapporo. Aku akan membujuk Emelie agar menarik perkataannya. Mungkin saja saat ini dia sedang bercanda dan mengerjai kita," ucap Zeroun sambil berjalan pergi.


"Jangan," cegah Serena. Zeroun menatap wajah Serena dengan tatapan bingung. "Emelie cemburu, Zeroun. Dia cemburu padaku. Mungkin, jika aku ada di posisinya. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Cukup sulit menjelaskan kepada orang yang cemburu. Apapun yang terlihat di depan matanya, ia hanya akan lebih mendengarkan pikirannya daripada hatinya. Keputusan ini sudah tepat. Emelie tidak ingin anak kita menikah, karena ia tidak ingin kita selalu bertemu bahkan sampai tua nanti. Jadi, sebaiknya jangan katakan apapun padanya."


Serena melepas genggamannya pada tangan Zeroun. Wanita itu berjalan mendekati Leona untuk membawa Putri tercintanya pergi meninggalkan istana tersebut.


Daniel mengukir senyuman. Pria itu menatap wajah Zeroun dengan tatapan penuh arti. "Anakmu harus menjadi pria tangguh baru bisa menikah dengan putriku, Zeroun."


"Daniel, aku percaya dengan jodoh. Jika memang mereka berjodoh, mereka tidak akan pernah bisa dipisahkan. Begitu juga sebaliknya." Zeroun memandang wajah Jordan yang bersedih karena Leona pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Hal itu sudah terjadi pada kehidupan kita bukan?" jawab Daniel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


__ADS_2