Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Hadiah Kedua


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Leona berjalan-jalan mengelilingi kota Meksiko. Beberapa bawahannya masih setia melindunginya secara diam-diam. Leona mengenakan kaca mata hitam agar wajahnya tidak terlihat jelas oleh orang-orang sekitar. Leona mengamati gedung tinggi yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Wanita itu bersandar di sebuah tiang besi dengan senyuman tipis.


“Apa semua aman?” ucap Leona pada beberapa bawahannya yang sudah tersebar ke seluruh penjuru.


“Sudah, Bos. Di dalam gedung hotel ini, pria itu tinggal,” ucap lawan bicara Leona dari dalam Handsfree.


Leona mengangguk pelan. Wanita itu memakai masker untuk menutupi indentitasnya. Ia berjalan dengan santai ke arah gedung yang memang sejak tadi ingin ia masuki. Kali ini orang yang ingin di bunuh Leona adalah pria tua yang selama ini memberi perintah kepada Zean untuk membunuh keluarganya. Penyelidik yang di kirim Leona berhasil mendapatkan identitas wajah pria itu dan mengetahui tempat tinggalnya. Pria itu adalah kakek Zean Wick.


Leona memandang gedung tersebut dengan saksama. Hanya sebuah hotel yang di jaga beberapa pria bersenjata. Leona memandang bawahannya yang sudah menyamar menjadi pelayan dan pengunjung gedung tersebut. Leona masuk ke dalam gedung tersebut dan berjalan mendekati meja resepsionis.


“Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” ucap resepsionis wanita yang kini ada di hadapan Leona.


Leona mengeluarkan kertas kecil dengan bibir tersenyum manis. Wanita itu membuka mantel merah yang ia kenakan sejak tadi. Tubuhnya yang hanya terbalut pakaian seksi itu terlihat dengan begitu indah. Leona sengaja memasang wajah sensual untuk memberi kode kepada resepsionis tersebut.


“Aku ingin menemui pelangganku,” ucap Leona dengan gerak-gerik yang sangat menyakinkan.


Wanita yang bertugas menjadi resepsionis itu paham dengan nomor kamar yang diberikan oleh Leona. Selama ini, memang selalu saja ada wanita berpakaian seksi yang datang untuk melayani pria tua tersebut.

__ADS_1


“Silahkan, Nona. Pria itu akan mengantar anda ke kamar ini,” ucap wanita itu dengan senyuman ramah.


Leona mengangguk pelan sebelum mengambil kembali kertas kecil tersebut. “Aku akan membawa ini sebagai barang bukti. Ia berjanji membayarku tiga kali lipat dari harga biasanya,” ucap Leona dengan kedipan mata. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang beberapa pria yang berjalan mendekatinya.


“Anda harus membuka masker anda. Kami juga harus memeriksa anda untuk memastikan kalau tidak ada senjata berbahaya yang anda bawa,” ucap salah satu pria dengan wajah yang sangat serius.


Leona mengukir senyuman. Wanita itu membuka ikat rambutnya dan menggerai rambutnya yang sangat indah. Ia membuka masker yang menutupi wajahnya dan kaca mata hitam yang ia gunakan untuk menyembunyikan penyamarannya.


“Silahkan. Tapi, setelah ini. Aku akan meminta kepadanya untuk memecat kalian. Aku masih original. Belum pernah bersentuhan dengan pria sebelumnya. Jika kalian berani menyentuh tubuhku, itu berarti tuanku adalah orang kedua. Bisa di bilang, bekas,” ucap Leona degan wajah yang sangat menyakinkan.


Dua pria itu saling memandang dengan wajah bingung. Mereka terlihat berpikir keras sebelum menatap penampilan Leona lagi. Dari pakaian terbuka yang dikenakan Leona saja sudah bisa di pastikan kalau tidak mungkin ada senjata berbahaya yang di bawa wanita tersebut. Selain itu, mereka juga sangat takut dengan ancaman yang baru saja diucapkan oleh Leona.


Leona mengedipkan sebelah  matanya sebelum memakai kembali kaca mata hitamnya. “Terima kasih, Tuan. Anda pria yang tampan,” ucap Leona sebelum berjalan pelan. Mereka bertiga berjalan menuju ke arah lift.


Di dalam lift, Leona bersandar di dinding lift. Satu kakinya ia lekatkan di dinding lift sebelum tangannya mengikat kembali rambutnya. Sebuah handsfree yang sejak tadi ia selipkan di ikat rambut tersebut, kembali ia pasang. Leona juga tidak ingin kehilangan kabar dari pasukan yang telah ia sebarkan.


Pintu lift terbuka. Leona menatap tajam ke arah depan. Wanita itu berjalan dengan langkah yang sangat indah. Ia mengukir senyuman untuk menggoda beberapa pria berbadan tegab yang kini berdiri di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Sepanjang jalan. Sejak dari lift hingga ke pintu kamar yang ingin ia kunjungi. Ada pengawal di sana. Leona menghitung jumlahnya dan mengingatnya dengan kosentrasi.

__ADS_1


“Silahkan,” ucap seorang pria sambil membuka pintu kamar bernomor 8010 itu. Leona memandang nomor kamar tersebut. Berbeda dengan kamaryang di kirimkan oleh pengawal miliknya. Tapi, Leona tidak ingin terlihat kalau sedang bingung. Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar dan meninggalkan beberapa pengawal yang ada di sana.


Kamar itu berukuran luas dengan desain yang sangat elegan. Leona berjalan ke arah tempat tidur tempat seorang pria berbaring di sana. Leona mengukir senyuman licik sebelum memasang handsfreenya lagi.


“Mereka ada 50. Lantai 35, 8010.” Tidak peduli saat ini pasukan miliknya dengar atau tidak, yang terpenting bagi Leona. Kini ia bertemu dengan target yang ingin ia habisi.


“Baby, kau sudah datang. Kemarilah, sayang. Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ucap seorang pria paruh baya yang bersandar di tempat tidur.


Leona berjalan mendekat. Tapi, wanita itu tidak ingin memperlihatkan wajahnya. Ia sangat yakin, kalau benar pria itu adalah pria tua yang menjadi targetnya. Maka pasti pria itu sangat kenal dengan wajahnya.


Leona memutar tubuhnya dan berdiri menghadap jendela. “Aku tidak suka dengan pengawal-pengawal itu. Mereka menyentuhku dengan bebas,” ucap Leona dengan suara manja.


Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. Ia sangat suka mendengar suara Leona yang tersekan manja dan sangat lembut itu. “Sayang, kau marah pada mereka? Baiklah. Aku akan menghukum mereka nanti. Sekarang, kemarilah. Aku sudah tidak bisa menunggu dirimu,” ucap pria itu sambil mengacungkan tangannya. Ia berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan lekuk tubuh Leona yang sangat indah.


Leona mengukir senyuman. Wanita itu tetap berdiri pada posisinya tanpa mau memutar tubuhnya. Leona melepas kaca matanya. Ia meletakkannya di atas meja yang ada di hadapannya. Dengan pantulan kaca yang ada di kaca mata itu, Leona memeriksa wajah pria tua tersebut. Seperti apa yang ia harapkan. Wajah pria itu sama dengan wajah yang ada di foto. Leona merasa sangat bahagia pagi itu.


“Sayang, kau sangat suka mengulur waktu. Aku akan memberimu hukuman nanti,” ucap pria itu sambil berjalan pelan untuk mendekati Leona. Leona memejamkan mata. Ia menghitung langkah kaki pria itu. Jaraknya ia atur dengan sangat pas.

__ADS_1


Pada langkah ketiga dari pria itu. Leona memutar tubuhnya. Ia mengambil belati keci yang sejak tadi tersimpan di pahanya. Dengan cepat dan tanpa aba-aba lagi. Leona melempar belati itu ke arah pria yang berjalan mendekatinya. Dalam hitungan detik saja, belati itu menancap di leher pria tersebut. Menyayat urat nadinya hingga membuat darah segar berkucur dengan derasnya. Tidak ada suara yang bisa di keluarkan pria itu karena memang Leona mengincar lehernya.


Pria tua itu memandang wajah Leona dengan kedua mata melebar. Ia ingin protes dan berteriak. Namun, usahanya sia-sia. Hingga tidak lama kemudian, malaikat maut menjemputnya. Pria tua itu tergelatak di atas tempat tidur dengan nyawa yang telah tiada.


__ADS_2