
Di sisi lain, Leona hanya diam mematung dengan ponsel di genggamannya yang melekat di telinga. Wanita itu bisa mendengar semua yang dikatakan oleh Kwan. Bahkan tahu apa rencana Jordan yang sebenarnya malam ini. Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena membuat Jordan gagal. Namun, jika hal itu berlangsung sesuai dengan semestinya. Leona juga tidak tahu harus menjawab apa kepada Jordan nanti.
Jordan memandang wajah Leona sekilas. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Leona. Wanita itu melamun tidak jelas dengan ponsel di genggaman tangannya. Hal itu membuat Jordan khawatir.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jordan pelan. Pria itu harus memberanikan dirinya untuk menanyakan keadaan Leona lebih dulu.
Leona memandang wajah Jordan sekilas sebelum mengangguk pelan. Ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas saat Kwan tidak lagi mendapat masalah. Setidaknya ia sudah tahu apa yang akan ia hadapi nantinya.
“Siapa yang menelepon?” ucap Jordan lagi.
“Kwan,” jawab Leona singkat.
“Kwan? Apa yang ia katakan? Kenapa kau diam saja?” sambung Jordan lagi, masih dengan wajah yang sangat penasaran.
“Tentang kita,” jawab Leona seadanya. Kali ini Leona membuang tatapannya ke arah jendela. Ia memandang pantulan lampu jalanan yang begitu indah. Akal sehatnya berusaha membayangkan apa yang sudah dipersiapkan Jordan untuknya malam ini. Walaupun sebagian hatinya berpikir kalau itu hanya akal-akalan Kwan saja untuk melengkapi dramanya.
“Jordan, apa kau bisa memberhentikan mobilnya sebentar,” ucap Leona pelan.
Jordan memandang Leona dengan tatapan bingung. Namun, pria itu segera melajukan mobilnya ke tepian jalan. Ia menghentikan mobilnya masih dengan mesin mobil yang tetap hidup.
Leona mengembuskan napasnya. Ia terlihat sangat gugup untuk mengatakan hal itu kepada Jordan. “Apa kau mau ikut denganku pergi?”
Jordan menaikan satu alisnya. Ia tidak percaya kalau ajakan itu berasal dari mulut Leona langsung. “Bukankah aku memang akan mengikutimu ke Jerman besok. Untuk apa kau menanyakan hal itu lagi?”
“Bukan besok, tapi malam ini juga. Aku akan memesan tiketnya sekarang juga. Jika kau ingin ikut, aku akan memesan tiket dua orang,” ucap Leona dengan bersungguh-sungguh.
“Kau ingin kabur dari rumah?” sambung Jordan dengan tatapan menuduh.
Leona mengangkat kedua bahunya. “Ya, anggap saja seperti itu.”
“Tidak. Aku tidak mau ikut apa lagi membiarkanmu untuk pergi,” jawab Jordan cepat. Pria itu tidak setuju sama sekali dengan rencana kabur-kaburan Leona. Ia juga tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah diberikan Serena kepada dirinya.
__ADS_1
“Jordan, kau-”
“Kenapa? Kau mau marah?” ujar Jordan dengan tatapan menantang. “Kau tidak akan bisa pergi kemanapun selama ada aku di sampingmu!” ancam Jordan dengan ekspresi dinginnya. Pria itu terlihat tegas dengan apa yang ia ucapkan. Ia tidak terlihat lembut dan lemah seperti biasanya. Hal itu membuat Leona bingung.
Jordan melajukan mobilnya lagi. Pria itu merasa tidak ada lagi yang perlu di bahas dengan Leona. Jordan ingin segera membawa Leona pulang agar wanita itu tidak lagi memikirkan rencana untuk kabur.
“Bagaimana ini ... aku tidak bisa pulang. Aku akan terperangkap lagi di rumah itu. Mama tidak akan mengizinkanku pergi. Mama akan menahanku dan menanyakan semua ini kepadanya. Tadi Kwan bilang kalau aku suka bergonta-ganti pasangan lagi,” gumam Leona di dalam hati dengan wajah bingungnya. Ia memandang wajah Jordan lagi. “Aku mohon ....” Leona mengatupkan kedua tangannya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Jordan hanya diam membisu tanpa mau menanggapi apa yang dikatakan Leona lagi. Pria itu terlihat cuek dan fokus dengan laju kemudinya. Kali ini ia tidak lagi menggunakan hati dan perasaan cintanya. Ia tidak ingin terpengaruh dan mengambil jalan yang salah. Jordan sangat yakin kalau ia bisa menyelesaikan semua masalah yang akan ia hadapi.
“JORDAN!” teriak Leona saat laju mobil mereka sudah semakin dekat dengan rumah.
Jordan menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba. Hal itu hampir saja membuat wajah Leona terbentur dengan dashboard mobil. “Apa yang kau lakukan?” umpat Leona kesal.
Jordan menatap wajah Leona lagi. “Katakan padaku, kenapa aku harus menuruti permintaanmu, Leona?” Kali ini tatapannya benar-benar sangat serius hingga membuat Leona sendiri merasa takut.
Leona membalas tatapan Jordan. Ia merasa napasnya terhenti. Apa yang telah ditanyakan Jordan, membuat pukulan keras di dalam hatinya. Leona sendiri yang biasanya selalu menang saat menghadapi pria kini kalah. Ya, dia kalah. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Jordan malam itu.
Kedua mata Leona berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Jordan. Pria lembut dan penuh senyum itu telah marah pada Leona. Ia merasa sangat bersalah. Semua kalimat yang dikatakan Jordan memang benar adanya. Bahkan Leona tidak bisa menyangkal semua itu. Memang saat ini posisi Leona sedang memanfaatkan Jordan. Memanfaatkan perasaan cinta pria itu.
“Maafkan aku,” ucap Leona pelan. Ia tidak tahu harus mengatakan hal apa untuk membela dirinya sendiri.
Jordan tersadar kalau kata-katanya sangat kasar dan sudah melukai hati Leona. Pria itu memandang genangan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk mata indah milik Leona. “Leona, kau menangis?” celetuknya dengan suara pelan.
“Aku ....” Leona meneteskan air matanya. Bibirnya gemetar. Bahkan kedua tangannya juga gemetar. Leona seperti orang ketakutan. Kali ini memang air matanya tulus. Ia tidak sedang berakting atau mencari perhatian Jordan semata. “Aku yang salah. Tidak seharusnya aku melakukan hal ini padamu.”
Jordan semakin tidak tega saat melihat air mata Leona menetes semakin deras. Seharusnya malam itu Leona gantian memarahainya. Seperti itu yang diharapkan Jordan. Tapi, justru Leona terlihat seperti orang yang kalah dan terpojokkan.
“Leona, maafkan aku,” ucap Jordan penuh ketulusan. Pria itu menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya dan memberi wanita itu kehangatan.
“Dia pria yang sangat jahat. Dia menyentuh tubuhku sesuka hatinya. Dia ... menyisakan trauma yang begitu besar di dalam hidupku. Setiap malam aku memimpikan kejadian itu. Setiap malam wajah dia menghantuiku. Aku ingin membunuhnya. Aku tidak sanggup menceritakan semua ini kepada Mama. Mama sedang sakit. Aku tidak ingin membuat sakit mama semakin parah. Setelah aku berhasil membunuhnya, aku akan kembali untuk menjadi Leona yang dulu lagi. Aku berjanji padamu,” ucap Leona dengan isak tangis. Wanita itu memejamkan mata dan merasa sedikit tenang ada di dalam pelukan Jordan.
__ADS_1
Jordan hanya bisa diam menjadi pendengar. Ya, pria itu mulai membayangkan apa saja yang sudah dilakukan Zean kepada Leona. Mendengar kata menyentuh tubuhnya, membuat Jordan berpikir kalau Leona sudah pernah menjadi milik Zean. Namun, kali ini ia tidak ingin fokus di sana. Jordan ingin membantu Leona. Ia ingin membantu Leona mengobati hatinya yang terluka dengan cara membunuh Zean.
“Ayo kita pergi. Biar aku yang menyiapkan semuanya. Tenanglah, jangan menangis lagi. Aku akan membantumu menghilangkan namanya di pikiran dan di hatimu, Leona,” ucap Jordan dengan bersungguh-sungguh.
Leona mengangkat kepalanya ke atas untuk memandang wajah Jordan. “Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu Jordan. Aku sendiri tidak tahu, apa yang kini ada di hatiku.”
Jordan menggeleng pelan dengan ukiran senyuman kecil. “It’s ok, Baby girl.”
Leona mengukir senyuman saat mendengar Jordan memanggilnya baby girl lagi. Ia menjadi wanita paling di sayang setiap kali mendengar sapaan Jordan yang seperti itu.
“Jangan menangis lagi,” ucap Jordan sambil menghapus tetes air mata di pipi Leona. Tatapan pria itu turun kepada hidung Leona yang indah dan bibir merah yang begitu menggoda.
Jordan mendekatkan wajahnya. Pria itu ingin mencium wanita pujaannya. Ia tidak bisa menahannya jika kini wanita itu ada didekapannya seperti itu. Leona menatap kedua mata Jordan. Wanita itu mulai memejamkan mata saat Jordan ingin menyentuh bibirnya.
Jordan menahan gerakannya. Pria itu mengukir senyuman kecil sebelum mengecup dahi Loena. “Ayo kita berangkat.”
Leona membuka matanya. Ia memandang wajah Jordan dengan perasaan kagum yang luar biasa. Bahkan di saat ia dengan sadar merelakan bibirnya untuk di cium oleh pria tangguh itu. Jordan justru tidak lagi mengambil kesempatan emas itu. Jordan sangat menghargainya.
“Baiklah. Ayo kita berangkat,” ucap Leona dengan bibir tersenyum indah.
Jordan mengukir senyumnya sebelum memutar laju mobilnya. Pria itu ingin menemani Leona untuk kabur ke Jerman.
Mau lagi? Crazy up?
Ada syaratnya... kalian harus vote novel ini. Makin banyak yg dukung, author akan semakin semangat. Caranya, kalian update dulu versi Noveltoon yang terbaru. Vote kalian di versi lama gak akan terhitung lagi. dengan kata lain, sia-sia.
Ada hadiah ada Vote. Kalian bebas pilih yang mana... Setiap yang ngasih akan masuk ke laporan author, jadi saya skrg sudah tahu siapa siapa saja reader yang dukung. 🌸
Kita sama2 semangat ya reader... kalian semangat dukung, saya semangat ngetik.
__ADS_1