Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 9


__ADS_3

Roberto berjalan mondar mandir sambil memikirkan sebuah cara. Sudah beberapa hari ini ia gagal mendapatkan hati Katterine. Padahal sudah banyak hal yang ia lakukan untuk meluluhkan hati wanita itu. Tapi, hingga detik ini Katterine tidak menunjukkan tanda-tanda membuka hatinya. Bahkan kehadiran Oliver kerap membuat Robert geram.


"Tuan, kenapa anda tidak mencuri wanita itu saja. Anda bisa melakukan apapun yang anda inginkan kepadanya. dia hanya seorang wanita pasti sangat mudah untuk menculiknya." Seorang pria yang sejak tadi melihat tingkah aneh Robert mulai bosan. dia sendiri tidak memiliki cara lain untuk membantu Robert. hingga akhirnya ia memberikan solusi yang tidak masuk akal.


"Aku tidak mau kalau Katterine sampai membenciku. Jika dia tau aku memiliki niat jahat terhadapnya dia pasti akan menghindar dariku dan aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan hatinya." Roberto masih belum mau menggunakan rencana jahat untuk mendapatkan Katterine. iya kenal betul Bagaimana karakter Katterine. sekali saja wanita itu membenci maka selamanya tidak akan termaafkan lagi.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Tuan?"


Robert yang geram dan dipenuhi emosi mengambil botol minum yang ada di dekatnya. Ia melempar botol itu ke arah pria yang menjadi bawahannya itu. Jika saja pria itu tidak menghindar mungkin botol kaca itu akan berhasil melukai bagian kepalanya.


"Bodoh! Jika aku tahu apa yang harus aku lakukan! Aku tidak akan memanggilmu datang ke sini!"


"Maafkan saya, Tuan." Pria itu menunduk dengan wajah bersalah. Ia sangat ketakutan mendapat perlakuan kasar dari Roberto.


"Bagaimana dengan bisnis kita? Apa semua berjalan lancar?" Roberto mengalihkan pikirannya dari Katterine ke bisnis milyarannya. Pria itu lelah terus-terusan memikirkan wanita.


"Ada kabar buruk, Tuan." Kedua tangan pria itu gemetar. Ia sudah berusaha keras agar Robert tidak membahas masalah bisnis obat terlarang tersebut. Namun, pada akhirnya pria itu kembali ingat.


"Kabar buruk kau bilang?" Robert bergegas mendekati bawahannya. Wajahnya memerah dipenuhi dengan api amarah. Ia mencengkram kerah baju pria itu dan menariknya agar bisa menatap wajahnya dengan jelas.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ada segerombolan geng mencuri kontainer kita, Tuan. Tapi Anda tenang saja. Kami masih dalam misi pengejaran. Saya tidak akan memberi ampun kepada mereka."

__ADS_1


"Geng? Geng mana yang berani mencari masalah denganku? Apa mereka tidak takut mati?" Robert benar-benar murkah ketika mendengar kabar tersebut.


"Sampai saat ini kami juga belum mendapatkan identitas mereka, Tuan."


"Cari secepatnya. Aku akan memberi pelajaran yang setimpal karena mereka sudah berani mengusik ketenanganku!"


***


Oliver memandang wajah cantik Katterine yang kini sedang terlelap. Sofa yang di duduki Katterine sangat nyaman hingga akhirnya wanita itu mencari posisi untuk tidur.


Oliver duduk di depan Katterine. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Bersandar sambil memandang wajah Katterine tanpa berkedip. Tidak di ragukan lagi kecantikan Katterine, Putri Cambridge itu memang memiliki paras yang bisa di bilang nyaris sempurna.


Bibirnya yang merah. Alisnya yang rapi. Hidungnya yang mancung. Matanya yang indah. Kulitnya yang bersih. Bahkan rambut gelombangnya membuat penampilannya semakin sempurna. Oliver semakin kagum dengan kecantikan wanita yang kini ada di hadapannya.


Oliver beranjak dari sofa yang ia duduki. Pria itu berjalan mendekati sofa yang di tiduri Katterine. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa itu dengan hati-hati agar Katterine tidak terbangun. Setelah posisinya benar-benar nyaman, ia kembali bernapas lega. Oliver memandang wajah Katterine lagi dan tersenyum hangat.


"Katterine, apa yang kau pikirkan malam itu? Apa kau baru saja menonton film romantis hingga berani menciumku malam itu? Apa kau tahu kalau kau sudah membuat hidupku berhenti saat itu. Aku berpikir jantungku bermasalah karena dia berdetak dengan begitugiut kencang."


Sayangnya semua kalimat yang dikatakan Oliver hanya terucap di dalam hati saja. Katterine tidak bisa mendengarkannya dengan jelas walau sebenarnya siang itu ia pura-pura tidur.


"Dia duduk di dekatku. Apa yang ia lakukan? Aku ingin membuka mata agar bisa melihat apanyang dia lakukan. Tapi, aku takut ketahuan kalau sejak tadi aku hanya pura-pura tidur saja."


Oliver mengangkat tangannya ingin mengusap pipi lembut milik Katterine. Pria itu sangat ingin menyentuh pipi Putri Cambridge tersebut. Ia tidak akan berani jika saat ini posisi Katterine sedang terbangun dan menatapnya.

__ADS_1


"Tidurlah ... Aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan membiarkan satu orangpun melukaimu apa lagi menyakitimu. Percayalah padaku. Selama aku masih bernyawa, tidak ada yang bisa menyentuh dirimu."


Kalimat yang baru saja di katakan Oliver membuat Katterine melayang. Bukan hanya kalimat itu saja. Kini pipinya di sentuh oleh tangan dingin Oliver. Pria itu mengusap pipinya dengan sentuhan yang mesra.


Katterine yang sedang pura-pura tidur seakan tidak tahan dengan sentuhan itu. Ia ingin membuka kedua matanya dan memergoki apa yang sudah di lakukan Oliver. Namun, mengingat kalau pria itu sangat keras kepala membuat Katterine mengurungkan niatnya. Ia tahu kalau pada akhirnya mereka akan berdebat karena Oliver tetap tidak mau mengakui perasaannya saat ini.


Suara ketikan pintu membuat Oliver segera menjauhkan tangannya. Pria itu menatap wajah Katterine lagi dan beranjak dari sofa. Ia berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang sudah berani mengganggunya.


Katterine membuka kedua matanya secara perlahan. Bibirnya tersenyum bahagia. Ia kembali menyentuh pipinya yang baru saja di sentuh oleh Oliver. Betapa bahagianya Katterine saat itu. Tidak ada kata yang bisa ia ungkapkan untuk menggambarkan isi hatinya.


"Oliver membelaiku dengan lembut. Apa sekarang dia sudah mulai mencintaiku?"


Di sisi lain, Oliver menutup pintu dan berdiri di depan anak buahnya. Ia kembali memasang ekspresi dingin ciri khasnya. Tatapannya sangat tajam dan menakutkan.


"Ada apa?"


"Bos, kami sudah berhasil mengamankan kontainer tersebut. Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan?"


Oliver tersenyum puas ketika mendapat kabar gembira siang ini. Ia berjalan maju menuju ke sebuah lemari yang berisi senjata milik Gold Dragon.


"Aku ingin semua barang itu hancur tanpa sisa. Tapi, aku ingin benda-benda di dalamnya di hancurkan tepat di depan Roberto. Aku ingin lihat, apa yang akan ia lakukan setelah ia rugi milyaran rupiah. Pastinya dia tidak akan memiliki banyak waktu untuk mendekati Katterine lagi."


"Baik, Bos." Pria itu menunduk hormat dan berjalan pergi. Tugas sudah diberikan oleh Oliver. Selama pasukan Gold Dragon tidak memiliki masalah, maka Oliver tidak perlu turun tangan.

__ADS_1


Oliver memilih senjata api terbarunya. Ia tersenyum kecil sambil memandang wajah Roberto. "Senjata ini sangat pas untuk membuatnya lumpuh!"


__ADS_2