
Tamara memeriksa keadaan Leona. Wanita itu memandang ke arah camera cctv yang ada di dalam kamar. Wajahnya terlihat jelas kalau sedang tertekan. Kemanapun Tamara melangkah selalu saja ada orang yang mengawasinya dan mengancam dirinya. Tamara pucat hingga terlihat seperti orang yang sedang sakit. Ia bahkan tidak lagi berselera untuk makan ataupun minum. Tidur saja ia tidak pernah bisa nyenyak lagi.
Suara pintu terbuka. Aleo muncul di ruangan Leona sambil membawa bunga di tangannya. Pria itu ingin mengganti bunga yang ada di dekat tempat tidur Leona dengan bunga yang baru. Tatapannya matanya teralihkan ke Tamara beberapa detik sebelum berjalan ke arah meja kecil yang ada di dekat tempat tidur Leona.
"Di mana yang lainnya?" tanya Aleo sambil mengambil bunga yang sudah mulai layu dan menggantinya dengan yang baru. Aroma bunga mawar merah itu bisa di cium Tamara dengan jelas.
"Tante Serena belum datang. Tadi Paman Daniel bilang kalau Tante Serena kurang sehat. Mungkin hari ini, Tante Serena dan Paman Daniel tidak datang ke rumah sakit. Jordan dan Kwan sarapan di lantai bawah," jawab Tamara sambil memandang wajah Leona.
"Mama sakit? Setelah dari sini aku akan mengunjunginya." Aleo duduk di sebuah kursi yang ada di dekatnya. Ia memandang wajah Leona dengan tatapan berkaca-kaca. Aleo sedih melihat kembarannya, adik kandungnya tidak juga membuka mata seperti itu. Ia sudah sangat rindu keceriaan dan kebawelan wanita berusia 29 tahun itu.
"Tamara, biar aku saja yang menjaga Leona. Kau bisa meninggalkanku. Jangan ragukan aku," ucap Aleo dengan senyum mengembang.
Tamara mengangguk pelan. Ia terlihat kebingungan. Tamara sudah tidak sabar untuk memberi tahu soal pria jahat yang pernah mengancam dirinya. Tamara takut, semakin lama ia mengulur waktu maka akan ada kekacauan yang terjadi.
Aleo mengeryitkan dahi sambil memandang wajah Tamara. "Tamara, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali. Kau juga terlihat sangat gelisah," ucap Aleo dengan khawatir. Ia tidak ingin orang yang sudah menghabiskan banyak waktunya untuk menjaga Leona harus jatuh sakit.
__ADS_1
Tamara menggeleng pelan. "Aku hanya kurang istirahat saja. Tidur sebentar juga sudah kembali segar."
Aleo memandang kedua mata Leona dengan saksama. Tidak tahu kenapa, Aleo mulai merasa ada yang aneh. Ia melihat Leona seperti sedang tertidur saja, bukan seperti orang koma yang belum sadarkan diri.
"Kak Aleo, apa kau mau membelikanku beberapa barang dan makanan?" ucap Tamara tiba-tiba.
Aleo mengalihkan pandangannya. Ia kaget saat mendengar permintaan Tamara. Selama ini hubungan mereka tidak terlalu dekat. Aleo sendiri tidak menyangka kalau Tamara mau memintanya untuk melakukan sesuatu seperti itu.
"Aku akan menyuruh pengawal untuk membelikannya. Katakan saja, apa yang kau inginkan?" ucap Aleo sambil memegang ponselnya. Ia ingin menghubungi bawahannya untuk mencari barang yang Tamara inginkan.
Aleo merasa bersalah ketika melihat Tamara menunduk sedih. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi dan menghela napas.
"Baiklah. Apa yang kau inginkan? Katakan saja. Aku akan membelikannya untukmu," ucap Aleo dengan senyuman.
"Benarkah?" Tamara terlihat kegirangan saat itu.
__ADS_1
Aleo mengangguk pelan. "Kau sudah berjuang keras untuk menyelamatkan Leona selama ini. Aku hanya ingin membuatmu senang dan kembali bersemangat," ucap Aleo penuh senyuman. Ia tidak terlihat terpaksa saat ingin mengabulkan permintaan Tamara.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mencatat pesananku di kertas. Aku tidak ingin Kak Aleo salah membeli barang. Harus di toko yang sama dan merk yang sama ya," ucap Tamara sambil mengambil kertas yang ada di dekatnya. "Akhirnya, aku bisa menulis juga. Mudah-mudahan pria itu tidak paham dengan tujuanku saat ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kedua orang tuaku dalam bahaya nantinya," gumam Tamara di dalam hati.
Aleo tertawa geli saat melihat Tamara berubah semangat seperti itu. Ia menggeleng pelan dan menunggu Tamara selesai menulis.
"Apa makanan yang kau inginkan sangat banyak? Kau sangat kurus dan terlihat seperti wanita yang menjaga berat badan. Aku tidak yakin kalau kau suka makan," ledek Aleo.
"Kak Aleo, kau salah sangka. Tubuhku kecil seperti ini bukan karena aku diet. Mau sebanyak apapun makanan yang aku makan, maka berat badanku tidak akan naik," jawab Tamara sambil menyerahkan kertas yang ia tulis. Kertas itu terlipat rapi.
Aleo menerima kertas tersebut dan hendak membukanya. Sayangnya dengan cepat Tamara mencegahnya. "Jangan buka di sini. Aku malu!" teriak Tamara cepat.
Aleo menahan gerakannya. Ia mengangguk pelan dan memasukkan kertas tersebut ke dalam saku jas. "Baiklah. Aku akan pergi dan membeli semua yang kau inginkan. Jaga Leona dengan baik. Aku akan segera kembali." Aleo beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan pergi meninggalkan ruangan Leona.
Tamara menahan tawa saat itu. Ia terlihat sangat bahagia bisa melakukan hal itu kepada Aleo. "Semoga saja semua berjalan dengan baik dan mereka bisa mendapatkan solusinya," gumam Tamara di dalam hati.
__ADS_1
Tatapan Tamara kembali kepada Leona. Ia mengusap tangan Leona dengan tangannya yang berkeringat. Sebenarnya keputusannya saat ini cukup beresiko. Jika saja pria yang mengancam Tamara tahu akan rencana Tamara, maka habislah sudah. Tamara tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat kedua orang tuanya lagi.