
Zean melirik jam di tangannya. Ia kembali memandang wajah Clara dengan tatapan tidak tertariknya. "Kau punya banyak waktu untuk menceritakannya. Satu lagi, jangan mengarang cerita layaknya kau bercerita dengan anak kecil."
"Sekarang?" tanya Clara kaget.
Zean menatap tajam wajah Clara. "Ceritamu menentukan keselamatanmu. Kau boleh ikut denganku pergi dari sini jika cerita yang kau katakan masuk akal. Jika kau berbohong." Zean melekatkan pistol miliknya di pelipis kanan Clara. Membuat wanita itu membisu dengan wajah ketakutan.
"Peluru panas di dalamnya bisa merenggut nyawamu dalam hitungan detik saja," ujar Zean dengan suara pelan namun berhasil membuat Clara gemetar ketakutan.
Clara mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan cerita, tapi … bisakah benda ini menjauh dariku?" Clara memegang senjata api Zean dan menurunkannya. "Aku takut kau kaget dan menekannya. Tidak lucu bukan jika kau menewaskan seorang wanita tidak berdosa seperti diriku hanya gara-gara kaget?" ledek Clara dengan tawa kecil. Sebenarnya ia takut, namun ia yakin Zean bukan orang yang jahat.
"Katakan segera!" ketus Zean sembari menyimpan senjata apinya. Ia memilih memandang pemandangan lain dari pada wajah Clara yang akan memulai ceritanya.
"Aku ini wanita kaya raya. Memiliki banyak uang. Cantik, menarik. Tubuhku yang proposional membuat para pria-"
Clara menahan kalimatnya ketika Zean menatap wajahnya lagi. Kali ini tatapan Zean semakin tajam.
"Ini awal ceritanya. Bersikap tenanglah sebagai pendengar," protes Clara yang seolah paham dengan jalan pemikiran Zean saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bisnis apa yang pernah terjadi di antara kedua orang tuaku dan mereka. Hingga saat kedua orang tuaku tiada, mereka muncul. Mereka bilang orang tuaku telah menjual ku kepada bos mereka. Ya, seperti itu kira-kira. Tapi aku tidak mau menikah dengan pria itu. Pria tadi yang memakai mantel cokelat. Apa kau sempat mengingat wajahnya? Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Dia tangan kanan pemimpin mafia di sini. Tadinya, aku berpikir untuk kabur saja dan menikah dengan pria lain. Tapi, sayang. Pria yang aku cintai mencintai wanita lain. Hingga akhirnya aku harus kembali ke rumah dan bertemu dengan mereka lagi. Aku tidak yakin kalau masalah ini semudah itu. Dari tatapan pria itu, ia seperti tidak menganggapku calon istri. Lebih ke musuh yang ingin di lahap habis. Kau tahu kan bagaimana kejamnya dunia seperti itu. Mereka sangat pandai berbohong. Membuatku percaya sebelum melakukan hal buruk terhadapku," ucap Clara sejelasnya. Karena memang seperti itu keadaan yang kini ia alami. Tidak ada niat sedikitpun untuk menutupi keadaan sebenarnya dari Zean.
Wajah Clara yang serius membuat Zean percaya. Tidak ada tanda-tanda kalau ia sedang berbohong.
"Wanita yang jauh lebih cantik darimu, di sini sangat banyak. Memilihmu menjadi istri?"
"Aku sudah bilang tadi itu hanya basa-basi saja. Aku pernah mendengar kalau mereka memiliki perlelangan wanita. Mungkin, aku akan bernasip seperti salah satu wanita yang ada. Di lelang dan di bayar oleh pria kaya. Tidak pernah mendapat status pernikahan karena aku hanya dijadikan pemuas ***** saja. Di sini tidak ada yang hidup dengan cinta. Pria jalanan seperti mereka. Apa lagi orang-orang yang sudah ada di lingkaran mafia, tidak akan memiliki perasaan lagi! Mereka memandang wanita sama seperti memandang boneka."
"Tidak semuanya!" sambung Zean cepat.
"Kau membela mereka karena sesama pria?" celetuk Clara kesal.
"Oh my God, alasan apa itu? Melindungi diri? Kita memiliki polisi dan ada banyak orang-orang tangguh yang bisa di bayar untuk menjaga kita. Tidak harus memiliki geng mafia." Clara menggeleng kepala. Alasan yang dikatakan Zean sangat tidak masuk akal bagi Clara.
"Kau salah, Clara. Orang yang dibayar dengan uang, akan berkhianat ketika ada yang memberinya uang lebih banyak. Di geng mafia, mereka melindungi kita seperti nyawa yang mereka miliki. Tidak ada bayaran. Kesenangan mereka adalah kesenangan semuanya. Susahnya mereka, adalah rasa susah semuanya."
"Kau banyak tahu soal mafia, apa kau pernah menjadi anggota mafia?" tanya Clara penuh selidik. Bahkan kedua matanya menyipit seperti sedang menuduh Zean.
__ADS_1
Zean terlihat berpikir dan diam sejenak. Ia tidak mau Clara tahu yang sebenarnya. "Tidak. Hanya tebakan saja," jawab Zean santai.
"Kau mengatakan sebuah pernyataan yang tidak memiliki dasar!" Clara menghela napas. "Apa aku sudah boleh ikut denganmu? Apa penjelasanku sudah bisa di terima akal sehat? Kau pria yang sangat teliti. Mau menolong saja harus ada syaratnya," protes Clara dengan suara pelan.
"Baiklah. Tapi menurutlah. Aku tidak suka dengan orang yang suka membangkang!" Zean berjalan ke arah mobil.
Clara menghela napas berat. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu pria seperti Zean. Bertemu dengan Zean sama saja mengajarinya menjadi wanita yang jauh lebih sabar. "Ya ya ya. Asalkan aku bisa ikut denganmu, aku akan mengikuti aturan yang kau buat."
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Tidak tahu entah pergi ke mana, karena memang setiap tempat yang akan mereka kunjungi pasti diketahui pihak musuh. Tapi Zean yakin kalau dia akan berhasil pergi meninggalkan kota tersebut. Ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap Clara sejak wanita itu berkata dirinya tidak lagi memiliki orang tua.
"Bisa-bisanya aku bertemu dengan wanita seperti dia. Dan bisa-bisanya aku setuju untuk membantunya. Padahal ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat," gumam Zean di dalam hati.
Pengawal yang melajukan mobil hanya bisa tersenyum. Ia berharap sejak putus dan merasa jatuh karena cintanya yang gagal bersama Leona. Kali ini Zean bisa membuka hatinya lagi. Walau memang semua mustahil. Mengingat, selama ini Zean sangat tertutup dengan wanita. Apa lagi wanita asing seperti Clara.
"Sepertinya Nona ini wanita yang baik. Aku berharap dia bisa berjodoh dengan Bos Zean. Walau memang karakternya sangat jauh berbeda dari Nona Leona, tapi semoga saja mereka memiliki sedikit persamaan agar bisa bersatu menjadi sepasang kekasih," gumam pengawal itu di dalam hati.
"Kenapa kau tersenyum? Apa yang kau pikirkan?" protes Zean ketika melihat pengawalnya tersenyum sendiri. Padahal tidak ada yang lucu di sana.
__ADS_1
"Saya tidak tersenyum, Bos," sangkal pria itu sebelum memasang wajah sangar lagi.