
Miller menatap tajam wajah Oliver. "Kau mencintainya?" ucap Miller pelan. Saat pukulan Oliver sudah berjarak beberapa centi dengan wajah Miller, pria itu menahan gerakannya. "Kau cemburu hingga tidak suka melihat pria lain ada di dekatnya. Menyentuhnya! Oliver, kau harus menurunkan egomu. Sudah ada nama Katterine di dalam hatimu. Kau terbiasa dengannya. aku pastikan kau tidak akan bisa hidup tanpanya," sambung Miller dengan wajah yang serius. Sikap penuh canda pria itu tidak ada lagi. Kali ini Miller benar-benar serius dengan apa yang ia ucapkan walau tujuan awalnya hanya becanda.
Oliver melepas cengkeramannya. Pria itu tersadar dengan apa yang ia buat. Ia memandang wajah Katterine sejenak sebelum memutar tubuhnya. Pria itu pergi begitu saja tanpa mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Langkahnya cepat dan gusar.
Para pengunjung melihat ke arah Katterine dan Miller. Mereka terlibat berbisik dengan wajah bingung. Sekilas mereka merasa kenal dengan Katterine. Namun, saat Katterine kembali memakai maskernya dan kaca matanya mereka mulai ragu.
Katterine berjalan mendekati Miller. Ia terlihat bingung. Wanita itu memegang lengan Miller dengan wajah sedih. "Kenapa kau mau melakukan semua ini? Tidak harus seperti ini. Aku tidak mau kau celaka."
"Katterine, aku tidak suka kegagalan. Walaupun misi ini terbilang konyol, tapi aku ingin tetap berhasil." Miller membersihkan darah yang ada di wajahnya.
"Kita gagal! Oliver terlihat marah besar. Ia merasa telah dipermainkan." Katterine terlihat sangat sedih .
Miller hanya bisa mengukir senyuman. "Kita tidak gagal. Tunggu sampai dia selesai merenungi semua perkataanku," ucap Miller penuh keyakinan. "Sekarang cepatlah pulang. Aku juga akan ke bandara."
"Sekarang? Kau harus mengobati lukamu dulu," ucap Katterine dengan wajah panik.
"Tenang saja. Di dalam pesawatku selalu ada dokter. Aku akan baik-baik saja. Selamat tinggal." Miller mengusap lembut rambut Katterine sebelum melangkah pergi. Pria itu mengukir senyuman indah walau ada luka di wajahnya. Ia merasa sangat yakin kalau kini rencananya pasti akan berhasil.
__ADS_1
***
Katterine masuk ke dalam mobil. Berapa kagetnya Putri Cambridge itu ketika melihat wajah pria yang ada di balik kemudi bukan Oliver. Melainkan pengawal kerajaan.
"Kenapa kau ada di sini?" ujar Katterine tidak terima.
"Putri, saya diberi perintah oleh Tuan Oliver untuk membawa Anda kembali ke kerajaan dalam keadaan selamat," ucap pria itu apa adanya.
"Tidak bisa! Aku mau pulang di antar oleh Oliver. Sekarang juga, hubungi dia. Katakan padanya untuk mengantarkanku pulang!" teriak Katterine tidak terima.
Katterine mematung. Kedua matanya tiba-tiba dipenuhi dengan genangan air mata. Bibirnya gemetar sebagai mewakili rasa sakitnya saat ini. "Untuk pertama kalinya Oliver meninggalkanku. Untuk pertama kalinya ia pergi ke Hongkong tanpa mau izin dulu denganku. Untuk pertama kalinya ia menyuruh orang lain untuk mengantarkanku pulang ke Istana. Apa dia benar-benar tidak mencintaiku? Apa tidak ada sedikit saja namaku di dalam hatinya?" gumam Katterine di dalam hati.
Pria yang duduk di samping Katterine mulai melajukan mobil. Pria itu juga bingung dan tidak tahu harus bagaimana lagi ketika melihat Katterine menangis seperti itu.
***
Kau mencintainya! Kau cemburu hingga tidak suka melihat pria lain ada di dekatnya. Menyentuhnya! Oliver, kau harus menurunkan egomu. Sudah ada nama Katterine di dalam hatimu. Kau terbiasa dengannya. aku pastikan kau tidak akan bisa hidup tanpanya!
__ADS_1
Di dalam pesawat, Oliver terus saja memikirkan perkataan Miller. Pria itu terlihat bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Suasana hatinya berubah buruk.
"Itu tidak mungkin? Aku hanya ingin melindunginya saja. Aku tidak mau ada yang menyentuhnya sembarangan. Ini tugasku sebagai pengawal. Keselamatan dan kenyamanan Katterine adalah prioritas utama," ucap Oliver dengan gusar.
Ia memandang ke samping. Ada sepasang kekasih di sana. Mereka terlihat bahagia. Penuh canda tawa. Oliver semakin risih melihatnya. Pria itu meminta kepada pramugari yang ada untuk memindahkannya ke kursi yang lain. Ia terpaksa naik pesawat itu karena pesawat pribadi miliknya kini ada di Hongkong. Karena ingin cepat meninggalkan Cambridge, Oliver terpaksa naik pesawat itu.
Oliver pindah ke kursi yang berjauhan dari posisi sepasang kekasih tadi. Kali ini ia dikejutkan dengan rekan yang ada di sampingnya. Pria itu adalah Roberto. Teman sekelas Katterine yang pernah ia temui di lokasi pesta. Tapi, kali ini Roberto tidak melihat keberadaan Oliver. Pria itu tidak sendirian. Ada beberapa pria berbadan tegap yang sedang menjaga dan mengawasinya.
"Aku mau informasi mengenai Katterine. Apapun itu. Makanan kesukaannya, warna favoritnya, tempat-tempat yang ia sukai. Apa saja. Aku ingin tahu semuanya," ucap Roberto penuh semangat.
"Baik, Tuan."
"Satu lagi, atur waktu agar aku bisa berkunjung ke istana Cambridge. Aku ingin menemuinya dan mendekatinya. Kali ini aku yakin, aku tidak akan gagal lagi untuk mendapatkan hatinya," ucap Roberto penuh semangat.
Oliver menghela napas dengan napas terpejam. Topinya memang menutupi kedua matanya. Tidak ada yang bisa mengenali Oliver saat itu.
"Kenapa banyak sekali pria yang ingin mendekatinya! Semakin dewasa, semakin sulit saja untuk menjaganya," gumam Oliver di dalam hati. Pria itu terus saja menguping rencana-rencana yang ingin dipersiapkan Roberto untuk meluluhkan hati Katterine.
__ADS_1