Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 59


__ADS_3

Zeroun baru saja tiba di markas Gold Dragon. Ketika pesan singkat dari pasukan Gold Dragon muncul di ponselnya, Zeroun segera berangkat ke tempat tersebut. Hatinya semakin kesal dan dipenuhi rasa bersalah. Sudah separah ini masalah yang di hadapi anak-anaknya tapi ia tidak tahu. Justru dengan santainya ia bersenang-senang dengan sang istri di istana yang megah.


Setibanya di lokasi markas, Zeroun keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam. Kedatangannya di sambut penuh hormat oleh para pasukan Gold Dragon. Seorang pria berdiri di depan sana dengan wajah takut. Ia menunduk hormat dengan wajah yang bersalah.


“Bos, maafkan saya.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zeroun cepat. Ia tidak butuh basa-basi saat ini. Hanya penjelasan yang detail yang ingin ia dengar.


“Bos, kami sudah berjanji untuk bertemu di titik kumpul. Karena kendala, saya datang terlambat. Setibanya di sana saya melihat rumah itu sudah menjadi puing-puing. Saya melihat Pieter kabut ke arah hutan. Secara diam-diam kami mengikutinya dan berhasil menangkapnya.”


“Di mana Jordan dan Oliver?” ujar Zeroun dengan wajah memerah menahan amarah.


“Kami ... kami belum berhasil ....”


“DI MANA JORDAN dan OLIVER!” Kali ini suara Zeroun berhasil memenuhi ruangan luas itu. Semua orang yang ada di sana memilih menunduk dan pasrah. Apapun hukumannya akan mereka terima dengan lapang dada.


Pria itu berlutut di hadapan Zeroun. Ia menyodorkan sebuah belati berukuran panjang. “Bos, hukum saya. Saya memang tidak berguna. Maafkan saya. Saya sudah mengerahkan seluruh pasukan kita. Bahkan Nona Letty juga sudah membantu bersama dengan pasukan Queen Star. Tapi, kami tidak menemukan jejak apapun.”


Zeroun menggeram. Giginya saling beradu hingga rahangnya mengeras. Sudah lama pria tangguh itu tidak seemosi ini. Ia merebut belati itu dan melemparkannya ke samping. Zeroun berteriak sekuat mungkin melampiaskan rasa bersalahnya. Ia merasa menjadi ayah yang tidak berguna bagi Jordan dan Oliver. Kini kedua anaknya tidak tahu di mana keberadaannya. Bahkan lebih sakit lagi, ia tidak tahu masih hidup atau telah tiada.


“Di mana pria brengsek itu!”


“Ada di penjara, Bos.”


Zeroun berjalan begitu saja. Ia sudah tidak sabar melihat wajah Pieter. Si pria yang sudah berhasil membuat dirinya dan putranya terpisah seperti ini.


Zeroun memandang wajah Pieter dengan penuh dendam. Bukan hanya satu kali pria itu berulah. Sebelumnya nyawa Katterine juga hampir tidak terselamatkan karena ulahnya. Walau kini Pieter ada di tangan mereka, tapi tetap saja Zeroun yakin kalau orang yang bertanggung jawab atas hilangnya Jordan dan Oliver adalah Pieter.


“Sayang sekali ya. Di usiamu yang masih segini kau sudah membuat masalah di mana-mana. Padahal setahu saya, kau adalah pengawal terbaik dengan gaji yang lumayan besar di kerajaan Belanda. Bisa-bisanya kau memutuskan untuk menjadi seorang pembunuh hanya karena salah paham.” Zeroun masih menahan emosinya walau detik ini juga ia sudah tidak sabar untuk menyiksa Pieter.


Pieter tersenyum simpul seolah kalimat Zeroun hanya bualan semata. Ia berdiri karena kini memang Pieter sudah tidak di ikat hingga ia bisa bebas bergerak ke manapun. Namun hanya sekitar ruangan itu saja.


“Anda pria yang sok tahu. Sok bijaksana. Sok benar. Anda pasti tahu, Tuan. Dalam dunia ini selalu ada sebab sebelum akibat muncul. Saya tidak akan jadi seperti ini jika sejak awal kalian serahkan Oliver agar saya bisa membunuhnya. Dia harus mati di tangan saya.”


“Ck ck, Pieter. Walau tekadmu sangat kuat. Tapi saya cukup yakin jika kalian berduel, pasti Oliver yang akan menang. Di tambah lagi, sikap yang kau ambil di penuhi dendam. Hal itu akan membuatmu mudah kalah.”


“Saya tidak suka menentang orang tua seperti Anda. Sebaiknya suruh saja Oliver menemui saya agar saya bisa berduel dengannya. Walau mati saya rela asal saya bisa melampiaskan rasa sakit hati saya terhadapnya.”


Zeroun terdiam ketika mendengar kalimat terakhir Pieter. “Dia tidak tahu kalau kini Oliver dan Jordan menghilang?” gumam Zeroun di dalam hati.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa Anda diam? Anda takut Oliver kalah?” ledek Pieter dengan tawa di bibirnya.


Tangan Zeroun yang tadinya terkepal kini mulai meregang. Bahkan senjata api yang sudah ia persiapkan sepertinya gagal ia gunakan setelah ia mengetahui kebenarannya. Pieter bukan dalang dari hilangnya Oliver dan Jordan. Detik itu Zeroun semakin yakin kalau ada lagi dalang di balik semua ini. Namun, siapa?


“Sebaiknya kau jaga kesehatanmu. Makan yang banyak agar luka mu sembuh. Jika saatnya tiba, kau bisa bertarung dengan Oliver. Oliver adalah pria tangguh yang tidak suka bertarung dengan pria lemah. Apa lagi di penuhi luka seperti ini.” 


“Lawan Anda kali ini orang yang cerdas dan memiliki segalanya. Apa saja yang Anda miliki ia bisa memilikinya juga,” ucap Pieter dengan wajah penuh kemenangan.


Zeroun masih bersabar. Bahkan kali ini ia masih sanggup mengukir senyuman kecil. “Aku tidak pernah merasa kalau aku adalah orang hebat yang bisa melakukan segalanya. Siapapun berhak berada di atas kehidupanku. Tapi, satu hal yang aku yakin tidak bisa di dapatkan semua orang di dunia ini walau ia berjuang keras meraihnya. Apa kau tahu apa? Keluarga. Aku memiliki keluarga dan sejuta kasih sayang di dalamnya. Biasanya orang serakah yang gila kekuasaan tidak akan pernah bisa mendapatkan keluarga yang tulus menyayanginya. Karena yang ada di pikirannya hanya tahta!” Pieter membisu mendengar kalimat Zeroun. Tidak ada lagi  kalimat yang bisa ia katakan kali ini.


Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Ia memasang wajah setenang mungkin sebelum pergi meninggalkan penjara itu. Sedangkan Pieter hanya diam dengan wajah menggeram. Ingin melawan dan melampiaskan rasa kesalnya, tapi ia sadar kalau dia tidak akan menang. Kondisinya kini benar-benar lemah. Di tambah lagi karena gengsi ia tidak mau makan makanan yang telah di sediakan di sana.


“Sh*it! Kenapa harus dia yang muncul! Di mana Oliver? Aku ingin bertemu dengannya!” umpat Pieter di dalam hati.


Di sisi lain, Leona terlihat tidak bersemangat ketika sedang makan siang bersama dengan Serena, Daniel, Emelie dan Katterine. Wanita itu hanya mengaduk-mengaduk makanannya tanpa ingin melahapnya. Serena yang merasa aneh dengan tingkah putrinya semakin tidak tenang untuk kembali pulang siang ini.


"Sayang, apa kau sakit?"


Leona menggeleng dengan wajah tidak semangat. Ia tidak mau ibu kandungnya lagi-lagi terlibat. Maka dari itu sebisa mungkin ia tutupi masalah besar ini.


"Aku kurang tidur, Ma."


"Benarkah hanya karena itu?"


"Tante, kak Leona sedang program. Dia butuh banyak istirahat seharusnya. Tapi, justru banyak sekali masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Akhirnya Kak Leona kurang tidur."


Serena memandang wajah Emelie. "Selain penyerangan kemarin apa masih ada masalah lain, Emelie?"


Emelie meletakkan sendoknya. Ia tersenyum dengan wajah tenang. "Hanya masalah istana. Sejak menikah Leona mengambil alih masalah yang terjadi di istana. Mungkin dia belum terbiasa. Aku dan Katterine juga akan selalu membantu Leona."


"Benar, hanya itu saja?"


"Ya, Ma. Oh ya, apa mama akan berangkat setelah makan siang?"


"Ya, Leona. Kakakmu sudah tidak tenang di sana."


Leona mengangguk dan berusaha memasukkan. makan siangnya ke dalam mulut. Istri mana yang bisa makan dengan lahap ketika suaminya tidak ada kabar?


Ponsel Leona berdering. Tadinya Leona tidak mau mengangkat panggilan itu. Tapi, ketika Serena terlihat melirik Leona segera meraih ponselnya.

__ADS_1


"Ma, Leona angkat telepon dulu ya?"


"Leona, bukan seperti itu tata Krama yang mana ajarkan." Serena terlihat tidak setuju ketika anak perempuannya meninggal meja makan hanya karena panggilan telepon.


"Serena, biarkan saja. Mungkin sangat penting." Emelie memegang tangan Serena agar wanita itu bisa meredam amarahnya.


"Emelie, sepertinya dia bukan putriku lagi. Setelah menikah kenapa sikapnya menjadi seperti ini."


"Serena, kau harus segera menghabiskan makanan ini. Jaga kesehatanmu. Kau masih sakit."


"Sayang, apa yang dikatakan Emelie benar. Leona sudah menikah. Kini hidupnya sudah mengikuti aturan yang di buat suaminya. Tugasmu sebagai ibu telah selesai. Jadi, jangan mengaturnya seolah ia masih anak kecil."


Serena berusaha kembali tenang. Walau nafsu makannya telah hilang, tapi ia berusaha keras untuk tidak marah-marah lagi.


"Entahlah. Semakin tua aku semakin ingin marah-marah saja," ucap Serena sebelum melanjutkan makan siangnya.


Leona mengangkat panggilan telepon Queen Star. Ia memeriksa ke belakang lagi untuk memastikan tidak ada yang mengikuti sebelum berbicara.


"Apa ada kabar baik?"


"Bos, kami menemukan dua mayat di pelabuhan."


Leona tertegun. Namun ia tidak mau berpikir buruk. "Lalu, apa hubungannya denganku? Aku memintamu untuk mencari keberadaan Jordan dan Oliver. Tidak, lebih tepatnya di mana mereka saat ini bersembunyi."


"Bos, pakaian salah satu pria ini terdapat identitas Pangeran-"


Leona menahan tangis. Walau kini matanya terasa sangat perih. Ia masih berharap berita itu bohongan saja.


"Kau tidak memeriksa jenazahnya?"


"Bos, jenazahnya tanpa kepala dan organ yang tidak utuh. Polisi segera datang sebelum kami berhasil menyelidikinya. Tapi, kami berhasil membawa identitas Pangeran Jordan."


"Setelah mama berangkat aku akan segera menemui kalian. Bagaimana dengan Letty?"


"Nona Letty pergi ke luar kota untuk melakukan pencarian, bos."


"Baiklah. Aku akan memberi kabar setelah aku berhasil keluar dari istana ini. Aku yakin, Jordan dan Oliver masih hidup."


"Apa yang kau katakan Leona? Kau bilang Jordan dan Oliver pasti masih hidup? Sebenarnya apa yang terjadi?"

__ADS_1


Leona kaget bukan main ketika suara Emelie terdengar dengan begitu jelas. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Emelie, Katterine, Serena dan Daniel berdiri di sana. Katterine menunduk dengan wajah bersalah karena ia tidak berhasil memberi tahu Leona kalau Emelie dan Serena ada di sana.


"Mama, Mommy. Sejak kapan kalian ada di sana?"


__ADS_2